Selama hidupnya, ia telah tinggal di sebuah gubuk kecil bersama banyak anak lainnya. Bukan di panti asuhan, tetapi di tempat di mana kekeluargaan benar-benar ada, seolah-olah mereka adalah saudara kandung sendiri. Banyak anak di tempat itu tidak tahu asal-usulnya. Ketika ia masih berusia 5 tahun, gubuk tempat mereka tinggal digusur oleh pemerintah dan orang-orang di dalamnya dikenakan hukuman mati karena terlibat dalam penjualan barang-barang terlarang di pasar gelap. Hal ini menyisakan dia dan satu teman lainnya (bukan saudara) sebagai orang yang selamat. Untuk bertahan hidup, Edo menjadi berandalan dan harus bertarung setiap hari.
Ketika ia berusia 6 tahun, ia mendapatkan kabar bahwa ayahnya adalah seorang tentara yang gugur dalam perang di luar batas wilayah, dan ibunya mengorbankan hidupnya dengan dibakar hidup-hidup hanya untuk memastikan Edo bisa hidup normal. Seharusnya, Edo akan mewarisi sihir dari keluarga Hildebrand, yaitu Defense Magic, namun ia menolak warisan itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyumbangkan warisan tersebut kepada sebuah panti asuhan terdekat dan tinggal di sana selama 10 tahun bersama anak-anak lain, termasuk sahabatnya yang sekarang.
Mereka menjalani kehidupan yang relatif normal di sana, sampai di SMP mereka diperkenalkan dengan beberapa metode sihir yang berkaitan dengan kecepatan oleh seorang guru terbaik. Temannya memilih untuk memperoleh kekuatan dari metode tersebut, sedangkan Edo sendiri memilih untuk mempelajari sistematika dari kecepatan itu. Guru mereka sangat baik dan bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri dengan menggunakan metode lain agar siswa yang diajar mendapatkan perkembangan yang baik dalam bidang sihir. Ingat akan pengorbanan ibunya, Edo menyetujui metode ini karena ia tidak ingin apa yang ibunya perjuangkan untuk hidupnya menjadi sia-sia, meskipun ia merasa berat.
Sayangnya, karena hasil dari metode itu, sang guru terbaik mereka meninggal. Dengan penuh rasa bersalah, Edo diberikan rekomendasi oleh sekolah menengahnya untuk bersekolah di Akademi The Hexe.
-
-