Komandan satuan khusus unit 1, militer Nusantara, Drynessia berpangkat Mayor
Acidic Poison Manipulation
Pertahan militer Nusantara berencana untuk membuat sebuah senjata biologis sebagai pasukan yang nantinya akan menghadapi Tartaros. Mereka mulai mengumpulkan para gelandangan sebagai subject penelitian mereka. Keluarga Atmodjo dikenal sebagai ilmuan gila yang bekerja mengembangkan manusia menjadi senjata biologis ini. Mereka mengalami kesulitan, sebab tidak ada satupun dari para objek yang berhasil. Para pemerintah mulai mendesak kepala keluarga Atmodjo untuk memberikan hasilnya. Ditengah keputus asaan, ayah Kemuning menyadari ibunya mengandung. Sejak saat itu Kemuning yang masih berada di rahim ibunya dijadikan objek pengembangan. Ibunya meninggal setelah melahirkan Kemuning, dan Kemuning tumbuh berkembang di lab, di didik secara khusus hingga ia berumur 17 tahun.
Kemuning tumbuh besar tanpa emosional, sudah tidak terhitung lagi berapa kali ia hampir mati karena percobaan ayahnya. Hingga umur 20 tahun, Kemuning menjadi objek penelitian pertama yang berhasil. Salah seorang petinggi di Nusantara mengambil Kemuning dari lab untuk direhabilitasi selama 3 tahun lamanya sebelum dikirim ke akademi kemiliteran. Tidak memerlukan waktu lama untuk Kemuning bisa berbaur dengan masyarakat. Sebab dia adalah objek pertama yang difokuskan pada kekuatan fisik melebihi manusis umumnya dan juga pengembangan otak dalam akuratisasi.
Saat perang pecah, Kemuning yang baru menyelesaikan tahun ke-3nya di akademik. Mendapat perintah untuk terjun langsung dalam medan perang untuk melihat sejauh mana kemampuannya sebagai subjek pertama. Labotarorium di mana ayahnya bekerja juga ikut terkena dampaknya, hancur lebur tanpa sisa bersama sang ayah dan semua objek penelitian. Kemuning menjadi objek pertama dan terakhir dalam penelitian itu.
Beberapa tahun setelah perang meredup, Kemuning telah mendapatkan pelatihan yang cukup keras. Ia juga pernah dikirim ke negara dalam rangka latihan gabungan dan kembali dengan hasil yang memuaskan. Kemuning telah merampungkan akademinya yang sebelumnya tertunda karena perang. Kini ia bertugas di Nusantara sebagai Komandan Satuan Khusus unit pertama dengan pangkat Mayor.