Ex Hoc Mundo
Tiga kunci yang rusak kembali ke satu tangan. Kunci merupakan jantung dunia, simbol yang menandai keaktifan dunia di semesta. Dua entity besar memulai dengan menandai semua kontrak ke dalam kunci. Kepemilikan kunci mewakili kekuatan satu dunia. Kini, tiga kunci—chaos, destruction, creation—dipegang oleh satu entity yang ingin memastikan satu hal: mengapa diciptakan kunci kalau tidak ada gembok yang harus dibuka?
Sebuah masalah baru dari multiverse mulai terbentuk. Di baliknya, mereka berencana dan hidup sebagai profesional. Tujuan yang sama mempersatukan. Mereka menamai diri sebagai Ex Hoc Mundo.
Di sebuah ruang khusus, masih di Semesta Nemea, Kolektor berdiri dengan tiga kunci melayang di udara. Ruang itu terlihat redup, diselimuti hawa dingin. Sebatang rokok menemani mulutnya dengan nuansa nikotin. Tidak ada perubahan dalam penampilan Kolektor. Ia masih kental dengan fedora khas yang identik dengan gaya Eropa. Kita tidak diminta membicarakan penampilannya lebih jauh. Tiga kunci dan keutuhan tubuhnya justru menimbulkan pertanyaan.
"Kunci ini datang sendiri padaku," ujar Kolektor.
"Aku telah menunggu kedatangan orang —mereka yang punya kunci— yang mengetahui tentang kuatnya kunci ini."
Kolektor adalah entity di level berbeda. Ia satu langkah lebih maju dalam pengetahuan. Terlihat dari bagaimana ia mengacaukan waktu, identitas, dan pergerakan. Kekacauan yang dibuatnya sudah membuka celah semesta. Di masa lalu, Kolektor pernah berkata, "Crack, crack. There's no reason to delay." dan "I will accept the offer." Ia telah menerima rencana Tuan Pemarah untuk membunuhnya. Alasannya satu: kekacauan itu sudah memberinya peluang untuk mengambil alih kunci semesta.
Sekarang ia berada di tempat untuk memulai tujuannya. Kolektor tidak sendirian. Ia bersama beberapa "Jackie", orang-orang yang menjadi bagian dari banyak koneksi yang diam-diam telah dimilikinya.
"Jackie" adalah sebutan Kolektor untuk orang-orang di Ex Hoc Mundo. Ia menyebut mereka semua dengan nama yang sama demi menyembunyikan identitas, seolah-olah hanya ada satu orang di sekitarnya. Kolektor sudah mengantisipasi penggunaan sebutan itu semenjak Tuan Pemarah dan Surai Hitam mendatangi rumahnya di semesta Q.
Lebih unik, cara Kolektor berkomunikasi di tengah ancaman dan tugas dari Tartaros adalah melalui koleksinya. Tiap koleksi yang dibawa merupakan trigger untuk kelompoknya bergerak. Trigger terakhir adalah rancangan kematian Kolektor itu sendiri, yang menandai permulaan sebenarnya.
"Berikan pusaka itu, Jackie!" tagih Kolektor. Ia memerlukan lembar demi lembar pusaka untuk menciptakan pintu yang akan dibuka menggunakan kunci di dekatnya. Pusaka yang dicarinya merupakan satu-satunya yang bisa dibawa dan bereaksi dengan semesta lain.
"Makhluk telah didustakan oleh banyak kepercayaan yang mengatasnamakan Tuhan Semesta. Mirip bagaimana Archangel yang memulai konflik karena mengatur sistem sesuka-nya. Aku ingin menghancurkan batasan itu, para makhluk harus tahu kalau tidak ada Tuhan Semesta, semesta lebih luas dari apapun! Tuhan harusnya berada lebih tinggi untuk mengurus Multiverse, crack! crack!"
Sang Kolektor mulai menyampaikan gagasannya. Ia tidak setuju kalau ada hierarki manusia tertinggi yang mengklaim diri sebagai Tuhan hanya karena punya potensi yang lebih kuat.
Kepulan asap lewat di sekitar Kolektor, menandakan ruang itu masih bercahaya di tengah gelapnya malam. Ruang itu bercahaya bukan karena ada energi yang menciptakannya. Selama bertahun-tahun, Kolektor berhasil mengendalikan kekacauan, menciptakan realitas baru yang akhirnya mengundang cahaya masuk ke hadapannya. Penantiannya hampir terbayarkan. Suaranya menggema di tengah keberhasilan rencana.
"Semuanya dimulai dari misi kita, penggabungan semesta menjadi satu—Ex Hoc Mundo!"
Dari balik bayangan gelap, terdengar suara lain. "Gelar Tuhan Semesta itu nampak tak ada artinya bila dia tidak bisa menentukan isi takdirnya sendiri. Kenapa menjadikan diri sendiri sebagai Tuhan, bila dia tak mampu menyelamatkan diri. Sang Archangel itu tak lebih sama seperti makhluk lain yang juga dapat bertemu dengan kematian."
Sosok pria berotot yang tengah berbicara itu keluar dari balik bayangan gelap. Ia memiliki rambut hitam runcing dengan poni yang disisir ke kanan, mengenakan blazer hitam. Orang-orang memanggil pria ini sebagai Stealer.
"Misi itu harus segera kita wujudkan agar tak ada lagi semesta yang bermain Tuhan Tuhan-an. Hapuskan hierarki antar-semesta yang membelenggu semua kehidupan."
Stealer kemudian menyodorkan pustaka berbentuk buku itu kepada Kolektor. Pustaka yang ia curi memiliki banyak lembaran. Bukunya sangat tebal.
"Kabar buruk, Collect. Salah satu lembaran pustakanya ada yang hilang. Keberadaan lembaran itu juga sudah tidak ada di semesta ini."
Kolektor menerima pusakanya. Peringatan tentang hilangnya satu lembar Pusaka Archeis membawa kemungkinan bias pada hasil. Tapi, Sang Kolektor tidak perlu khawatir. Ini bagian dari eksperimen; sudah pasti akan ada matriks error yang harus diterima.
"Tidak masalah, Jackie. Kita butuh waktu panjang untuk membangunnya. Untuk tahu substansi, kesalahan kecil perlu dipelajari," balasnya tanpa kehilangan ambisi. Selama masih bisa diperbaiki, Sang Kolektor berniat mengembangkannya dari awal.
"Selagi Xuan Dynasty dan The Anonymous menjadi fokus perbincangan. Persiapkan orang-orang dari belahan semesta, kita butuh mereka untuk merangkai rencana," ungkap Kolektor.
"Jackie" sepertinya tidak cukup untuk menyelamatkan kelompoknya di level multiverse. Ia perlu orang-orang kuat dari tiap belahan dunia yang punya satu visi dengan mereka. Kalau sudah mengetahui bahwa semesta ini lebih dari sekadar satu, sudah dipastikan mereka pernah terlibat hal-hal berbahaya. Atau minimal, berasal dari semesta yang berada di puncak.
Stealer menjawab dengan yakin. "Mereka akan ku-perkumpulkan secepatnya. Akan kucari sekutu yang dapat melancarkan misi ini."
"—2104, waktu di mana sang kolektor telah menandai kekacauan. Chaos is ours."
Seruan Kolektor memberi tanda untuk memulai semuanya. Lantas, ia melempar pusaka itu ke udara dan membiarkannya mengapung. Aksi-reaksi ditandai dengan buku pusaka yang membuka lebar. Lembar demi lembar saling berbalik seakan sedang terkena angin.
"Dan ini adalah kesalahan pertama, kurangnya kunci, pengetahuan dan hilangnya selembar pusaka. Percobaan satu—"
Lembaran pusaka itu berhenti bergerak, lalu mengeluarkan materi yang tidak biasa. Kolektor memanfaatkan kekuatan kunci chaos untuk membuka potensi besar pusaka itu, membuatnya menjadi sebuah pintu besar penghubung semesta.
"—Experiment!"
Kolektor terbiasa dengan kunci chaos. Ia menganggapnya sebagai primary key di antara kunci lain. Percobaan pertama itu menyatukan isi pusaka, yang dianggap sebagai gembok, dengan tiga kunci di tangannya.
Stealer mengamati bagaimana Kolektor memadukan entitas kunci-kunci dari semesta Q dengan pustaka yang ia curi. Penggabungan itu menciptakan Materi Tuhan—sebutan untuk meta materi yang sangat langka—yang lama-kelamaan membesar.
Materi itu tidak terlihat di depan Kolektor atau Stealer. Tata letaknya tersebar di kepala masing-masing. Jadi, di mana Materi Tuhan itu berada?
Gelembung antar-semesta.
Kini Ex Hoc Mundo telah maju satu langkah. Namun, dengan kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan Kolektor tadi, pasti bakal ada kecacatan dalam eksperimen pertama ini.
Stealer kembali angkat suara. "Multiverse sangatlah luas. Dari percobaan ini, kita tidak tahu efeknya berpengaruh pada semesta yang mana. Entah kita gagal atau berhasil. Aku bakal menelusuri keberadaan semesta yang tampak ganjil setelah kau melakukan eksperimen ini."