NEMEA: Drynessia × Vier Gilden
Chapter 4

Ryuu Kuroya

4,907 words · ~23 min read

Sementara itu, tepatnya di negara seberang, para petinggi Vier Gilden dan ketua guild berkumpul dalam sebuah rapat. Genosida serta kemunculan energi tidak stabil menjadi pokok pembicaraan mereka. Sebuah keputusan besar menyangkut nasib para pemilik Jiwa, tanpa terkecuali, akan segera ditentukan.

Bertahun-tahun telah berlalu, perkembangan Vier Gilden semakin pesat. Negara yang dulunya memilih untuk mengisolasi diri kini mulai membuka diri kepada dunia luar.

Akan tetapi, keterbukaan ini justru memicu beragam praduga dan opini liar. Vier Gilden tidak hanya dipandang sebagai pahlawan, tetapi juga dicurigai sebagai negara yang berkemungkinan mengikuti jejak Tartaros. Beberapa pihak bahkan melihatnya sebagai calon penjajah baru. Menurut hemat Rando, absennya Vier Gilden dalam forum-forum antarnegara menjadi penyebab utama munculnya kecurigaan ini.

Vier Gilden, yang sebelumnya dipandang sebagai negara kecil, telah menjadi sorotan utama. Hal ini sejalan dengan tujuan yang diinginkan oleh para eksekutif.

Dalam penyelidikan kali ini, Vier Gilden menempuh prosedur yang mengarah pada perdamaian. Acertado—guild bernuansa alam—kurang menyukai pertikaian. Mereka adalah cerminan dari kebijaksanaan. Karena itu, Acertado dilibatkan dalam tim untuk menyelidiki kasus genosida yang pernah terjadi di Theia dan Lunaria. Kasus yang ditemukan oleh Lennox, tiga tahun yang lalu.

Rando Lannister turut menghadiri pertemuan, meskipun ia bukan pemimpin rapat. Sebagai pemimpin eksekutif, kehadirannya tetap menjadi pusat perhatian. Ia menyimak dengan saksama, terutama ketika pembahasan mulai mengarah pada kemajuan investigasi di balik genosida tersebut.

Thrift Holmes telah melaporkan temuannya kepada Rando sebelum menempati salah satu kursi sebagai perwakilan Guild Elysium, guild yang baru terbentuk tujuh tahun lalu. Ia duduk santai dengan sebatang rokok yang diapit di mulut, tanpa dinyalakan.

Ryuuga Makoto, Ketua Acertado, telah bersiap di tempatnya. Setelah dipersilakan membuka pembahasan, ia mengambil mikrofon yang tersedia. Berbeda dari rapat sebelumnya, Ryuuga tampak lebih percaya diri.

"Alasan mengapa selama tiga tahun kita tidak bisa menemukan identitas aktor di balik pembantaian itu, karena dia bukan sekedar Deust [Shaman] yang punya Dissimuler [Spirit] paling kuat. 𝘛𝘢𝘱𝘪, dia juga punya tempat untuk melarikan diri. Identitas aslinya adalah Ryuu Kuuroya—Last Warrior Standing. Dia pernah disebut sebagai pria paling kuat dalam sejarah. Namun keberadaannya menghilang saat keluarganya dibantai," lapor Ryuuga. Bersamaan dengan penjelasannya, ditampilkan sebuah artikel yang memberitakan pria terkuat dalam sejarah itu. Ia memberikan gambaran yang cukup detil.

Walau tidak membawa perwakilan lain dari Acertado, Ryuuga tidak datang sendirian. Dia membawa orang penting yang dapat menunjang kredibilitas informasi yang ia sampaikan.

"Aku bersyukur kalian menunjuk-ku sebagai orang yang ditugaskan untuk menggali informasi pada anak ini. Informasi yang diberikan cukup runtut, sampai aku bisa menyimpulkan."

Ia menoleh kepada anak muda yang dibawanya. "Anak muda, ada yang ingin kamu tambahkan tentang entitas bernama Ryuu Kuuroya?"

Anak muda itu makhluk asing. Sebutan untuk seseorang yang tidak terlahir di tempat tersebut, meskipun fisiknya tak jauh berbeda dari yang lain. Pandangannya mencerminkan ketenangan; kilauan biru yang dalam seakan menghanyutkan siapa pun yang membalasnya. Wajahnya tanpa cacat, dan kurva yang tercipta di sana memberikan rasa damai. Senyum tipis pun terbentuk.

"Sangat terhormat perjalanan yang saya tempuh dapat memberikan kesempatan hingga ke tempat ini," suaranya dalam nan tegas.

Pandangannya terangkat, diarahkan ke depan. Ia melangkah hingga posisinya sejajar tepat di samping orang yang membawanya, Ryuuga Makoto.

"Terima kasih Tuan Ryuuga, izinkan saya atas nama Charlesvin Karl Artagnan akan menambahkan pernyataan dari Tuan Ryuuga," ujarnya begitu yakin. Perhatiannya meluas kepada tiap pendengar.

"Ryuu Kuuroya, atau kalian akan memanggilnya The Butcher," ucapnya tenang. "Adalah bagian dari Ex Hoc Mundo yang akan menjadi pertanda kemalangan dunia," lanjutnya.

Matanya menyipit. Raut wajahnya menunjukkan emosi yang berbeda dari sebelumnya. Meskipun tidak ditujukan kepada siapa pun di tempat itu, pernyataannya telah memperlihatkan permusuhan yang nyata. Mungkin orang yang mengenalnya akan paham, tetapi mereka semua adalah orang asing. Orang asing yang harus diwaspadai, namun berpotensi untuk hubungan di masa depan.

"Saya tidak berasal dari tempat ini atau bahkan didaratan manapun yang kalian kira karna saya berasal dari dunia lain dimana kemalangan telah terjadi hingga rasanya membuat frustrasi setiap waktu," ujarnya dengan perasaan berat. Ia menghela napas. "Rhetoric Soul, itu adalah tempat saya berasal dan tempat dimana Ex Hoc Mundo bertingkah tidak masuk akal dengan maksud menyatukan dunia atau semesta," lanjutnya.

Hanya sedetik. Sedikit lonjakan kekuatannya sudah cukup memberikan tekanan pada pijakannya, mempertegas bahwa kekuatan yang ia miliki sangat berbeda dari orang-orang di tempat ini. Begitu asing, begitu menyedihkan dan putus asa bagi mereka yang menyentuhnya.

"Dan alasan kedatangan saya kesini? Seperti yang telah dijelaskan Tuan Ryuuga, bahwa Ryuu Kuuroya terlahir ditempat ini, dunia yang disebut Nemea sebelum dia menghilang dan saya sebagai salah satu yang memburunya.. Menginginkan setiap kematian dari Ex Hoc Mundo," tutup Charlesvin.

"Aku dapat menjamin kredibilitas yang anak ini katakan." Thrift angkat suara setelah Charlesvin selesai bicara. Nada bicaranya tenang, tanpa terburu-buru.

"Kita bertemu lagi, Charlesvin," sapanya kepada anak laki-laki yang mengaku bukan dari dunia ini. "Aku Riel Bathory—kita sempat bertemu di depan gerbang antar semesta Rhetoric Soul. Aku menggunakan identitas dan penampilan 'Thrift Holmes' di sini."

Thrift mengonfirmasi identitas yang pernah ia gunakan saat masih di Rhetoric Soul. Mungkin Charlesvin tidak mengenalinya, sebab penampilan Thrift Holmes lumayan berbeda dari saat Archangel ini menjadi Riel Bathory.

Salah satu privilege seorang shapeshifter adalah kemampuannya untuk membuat banyak 'wajah'. Namun, cons dalam hal ini membuatnya krisis identitas dan berisiko sulit dikenali orang-orang yang pernah ditemui dalam wujud lain.

"Justru kami yang merasa terhormat karena sudah dikunjungi, Charlesvin," tutur Ryuuga begitu lembut. "Jadi, kamu juga sudah mengenalnya selama di perjalanan, Tuan Holmes?" lanjutnya, menyambut dukungan Thrift.

Thrift hanya mengangguk. Perkenalannya dengan Charlesvin sudah cukup jelas tanpa memerlukan penjelasan lebih lanjut.

Ryuuga melanjutkan pembahasan. "Sekarang kita sampai di titik di mana pelakunya sudah ditemukan. 𝗘𝘅 𝗛𝗼𝗰 𝗠𝘂𝗻𝗱𝗼 jawabannya. Mereka yang melakukan genosida dan menciptakan energi yang tidak stabil sampai mengangkut beberapa dari kita menuju semesta lain. Melalui Senor Rando yang mendapatkan informasi dari Tuan Holmes. Kita tahu alasan dibalik adanya energi tidak stabil. Sekarang, apa alasan dibalik genosida yang dilakukan Ryuu Kuuroya? Itu terjadi setelah mereka mendapatkan identitas alam semesta kita."

Saat si pirang itu kembali mengangkat alasan di balik genosida Ryuu Kuuroya, Thrift tidak menanggapi apa pun. Ia masuk lagi ke dalam mode mengamati.

Mata Ryuuga menyapu para perwakilan yang hadir. "Ada yang bisa menjawab atau memberikan analisa?"

"Sepuluh tahun yang lalu. Ingat kasus `Dissimuler Liar` yang kita hadapi?" celutuk SHIN, seorang pengawas guild yang secara berkala mengikuti rapat. "Kejadian yang untuk pertama kalinya membuat guild yang bermusuhan dapat saling bekerjasama hingga memperoleh negara yang maju seperti sekarang."

Ia sedikit mengubah arah pembicaraan, tetapi tetap pada satu garis yang sama: tujuan dari Ryuu Kuuroya.

"Ryuu Kuuroya ingin menyatukan semesta karena kehilangan keluarganya. Pembunuhnya sampai sekarang tidak diketahui. Kita berasumsi bahwa dia tahu tentang pelakunya. Saya memberi peluang, bagaimana kalau pelakunya berasal dari Theia atau Lunaria? Dia ingin menghapuskan seluruh orang di sana karena menciptakan penjahat yang membantai keluarganya."

Melalui pikirannya, SHIN mengendalikan chip yang tertanam di tubuhnya. Sebuah kontrol jarak jauh untuk Exnologia—robot canggih hasil karyanya. Dalam sekejap, suara mekanis terdengar dari luar ruangan. Langkah-langkah berat bergema mendekat. Tak lama, pintu terbuka otomatis dan Exnologia masuk.

Robot itu berdiri tegap, ukurannya setara manusia. Exnologia mendekat dengan presisi, cahaya hijau halus bersinar dari celah-celah kerangkanya. Kemudian, bagian dadanya mulai terbuka. Sesosok pria muncul dari dalam, dengan tangan terikat dan wajah penuh dendam.

"Maaf sudah lancang. Sampai sekarang saya belum membunuhnya, dia begitu sempurna untuk menjadi sebuah sampel. `Dissimuler Liar` mengaku berasal dari Theia dan dia sepertinya tahu mengapa Ryuu Kuuroya melakukan genosida." SHIN melanjutkan.

Thrift terdiam. Entitas yang muncul dari dalam Exnologia bukanlah sosok yang ia duga akan dilihatnya di tempat ini.

"𝘜𝘩𝘶𝘬. Teknologi kalian bisa menangkapku saja sudah menjadi keanehan." Sang Dissimuler berbicara dengan suara sengau, seakan ia manusia yang sedang sekarat. "Aku tidak pernah berbohong saat mengatakannya, 𝗮𝗸𝘂 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮—setidaknya dulu, sebelum kekacauan menghancurkan pikiranku saat dunia mengutuk menjadi Dissimuler. Terserah kalian ingin percaya atau tidak, aku hanya ingin mengakhiri hidupku sendiri. Berkali-kali aku melakukannya."

Tanpa berniat melepaskan diri, Dissimuler itu menatap tajam penuh amarah kepada orang yang membawanya kemari. "Jangan ingkar dengan perjanjian kita, SHIN. Aku akan mengatakan semuanya. Setelah itu, kau harus membunuhku."

Baru setelah SHIN mengangguk, ia mengalihkan pandangan. Tatapan kosongnya beralih kepada para eksekutif dengan serius.

"Namaku, Ein. Seratus tahun yang lalu—atau lebih lama lagi—aku merupakan seorang ayah dengan satu putera. Aku bukan ayah yang baik, aku emosional, terus menyiksa anakku dengan kesalahan kecilnya. Rasa amarah itu terus bergerak semenjak kelahirannya membunuh satu-satunya orang yang aku cintai."

"Rasa sakit yang ku ciptakan padanya, membuatku terbunuh... di tangan anakku sendiri. Penyesalan akan perbuatanku, anehnya, membuatku harus menjadi budak kekuatan bagi anakku. Selama bertahun-tahun, aku melihat langsung apa yang ia lakukan karena perlakuanku."

Kilas balik mulai terputar di otak Ein. Anaknya menjadi hancur. Pemabuk berat, pelaku pelecehan; semua yang tersisa hanya kerusakan. Untuk mencari uang, anaknya terus membunuh orang-orang tak bersalah.

"Aku tidak bisa mencegahnya karena dunia terkutuk ini tidak membiarkan diriku untuk bicara. Sampai kekacauan terjadi."

Suasana terasa lebih berat dari sebelumnya. Ein mendongakkan kepala, mencoba lebih keluar dari dalam Exnologia. "Kekacauan tak terkendalikan, membuatku bisa semena-mena. Rasa ingin mati membuatku membunuh anakku sendiri. Inang mati, harusnya Dissimuler juga mengikuti ajal-nya. Aku berbeda, kekacauan membuatku tetap hidup. Parahnya, naluri alami sebagai Dissimuler tetap tidak hilang. Aku terus dipaksa untuk masuk ke tubuh Deust dan 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢."

"Sekarang masih sama," tegasnya sambil melirik Ryuuga. "Naluri ini ingin masuk ke tubuhmu. Menerkamnya dari dalam. Kekacauan itu akan terus datang. Jiwa yang tidak tenang, akan menariknya. Lama-kelamaan Dissimuler akan membunuh Para Deust—manusia akan punah. 𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢."

Ein tertawa dengan mata melotot. Mimik wajahnya menggambarkan betapa sulit ia mengendalikan naluri alami yang terus bergerak. Lalu, tiba-tiba tawanya berhenti.

"Genosida adalah pilihan, satu-satunya cara untuk mengakhiri siklus ini, membunuh seluruh Deust dan Dissimuler sekaligus."

"Terakhir. Saat aku mengitari dimensi, ada tiga tempat di mana kami—manusia mati yang dikutuk—terkurung. Theia, tempatku. Lunaria, dan Drynessia."

Ein tiba-tiba teringat sesuatu. Mulutnya terbuka lebih lebar, darah segar mengalir dari sana.

"Tidak, tidak, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬. AKU BAHKAN MERASAKAN ADA ORANG DI DEKAT SINI YANG SAMA. Keturunan dari tiga negara itu. Keturunannya juga akan menyebarkan kutukan! PADA AKHIRNYA MANUSIA AKAN SALING MEMBUNUH!!!" Ia berteriak semakin nyaring.

Thrift menghela napas setelah Dissimuler Liar itu selesai bicara.

"Jadi kau berhasil menghindar dari 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 juga, ya." Thrift bergumam.

"Izinkan aku bicara."

Begitu berhasil menyita perhatian, Thrift melepaskan rokok yang ia apit di mulut dan mulai menjelaskan.

"Kalian mungkin hanya tahu bahwa Shaman, Deust, atau Parewa itu adalah sosok yang sama—manusia yang memiliki kemampuan supernatural dari Spirit, Dissimuler, atau Jiwa. Namun, terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara Parewa dan Shaman atau Deust, yaitu sumber kekuatan mereka.

"Lebih dari seratus tahun yang lalu, ruh manusia yang mati dipenuhi oleh penyesalan tidak akan bisa tenang. Mereka tidak akan masuk ke alam kematian, melainkan terus bergentayangan di dunia ini. Ruh yang bergentayangan bisa mendapatkan kemampuan supernatural dan akan dipaksa untuk mengikat kontrak pada manusia yang masih hidup—itulah asal-usul kemampuan Jiwa tiap Parewa. Namun, sistem ini sempat dihapuskan karena ada sekelompok manusia yang enggan menjadikan kerabat mereka yang sudah mati sebagai budak. Di zaman ini sekelompok manusia penentang itu disebut sebagai Penyihir Ungu, mereka melakukan pemberontakan pada pencipta sistem yang rusak ini—Archangel Michael."

Ia menjeda penjelasan, raut wajahnya masih tampak tenang. Namun, bila diperhatikan lebih detil, ada perasaan tidak nyaman yang terpancar dari gerak-gerik minimnya. Thrift—atau Gabriel—memang pernah bergosip tentang Michael, Jiwa, serta pendapatnya mengenai hal itu dengan Nameless—atau Nadricka—saat peperangan tujuh tahun lalu. Waktu itu, ia bisa menyebutkannya secara kasual. Hanya saja, saat ini Gabriel sudah mempelajari apa yang namanya 'kemanusiaan'. Menyebutkan kesalahan Michael sama saja seperti melucuti tindak kriminal para Archangel dengan mulutnya sendiri. Hal yang jelas membuatnya merasa tidak karuan.

"Sebagai alternatif, kami secara kompak memutuskan menciptakan entitas baru untuk menggantikan ruh manusia. Spirit yang digunakan para Shaman memang diciptakan untuk melayani manusia dan hanya loyal pada kontraktor, selain itu kontraktor juga dapat membatalkan kontrak kapan saja. Namun, ada sesuatu yang kami abaikan, yaitu keegoisan Michael. Dia mempertahankan sistem penggunaan ruh manusia sebagai Spirit di beberapa negara, termasuk Theia, Lunaria, dan Drynessia. Dalam pandangan kami, hal ini tidak akan menjadi masalah besar selama Golden Key masih ada, tetapi dengan hancurnya Olympus dan menghilangnya Golden Key, anomali ini dapat mengancam keseimbangan semesta.

"Cepat atau lambat, kami memang harus membereskan masalah ini sebelum terjadi kekacauan berlanjut. Oleh karena itu aku mencari keberadaan Archangel Rafael selama empat tahun terakhir sebelum melakukan perjalanan ke Rhetoric Soul. Pengetahuanku mengenai multisemesta dan hal-hal penting lain sempat terkunci—mungkin akibat efek samping upaya Ex-Hoc Mundo untuk menggabungkan semesta sehingga pencarian tidak membuahkan hasil apapun. Ini adalah kesalahan kami, dan permintaanku hanya satu. Aku ingin meminta satu kesempatan lagi untuk mencari Rafael. Mengingat apa yang terjadi padaku mungkin juga terjadi padanya—dia bisa saja lupa statusnya sebagai salah satu Archangel dan berbaur dengan manusia normal. Ada tiga alternatif untuk menyelesaikan masalah Jiwa, dan membawa kembali Rafael adalah salah satunya."

"Aku benar-benar berharap Archangel Rafayel bisa ditemukan, kalau begitu."

Suara Lilith Evelyn Lannister memecah pembicaraan para pria, hampir segera setelah Thrift selesai. Meski raut wajahnya masih begitu tenang, alisnya sedikit menekuk. Nada bicaranya seperti menuduh; sedikit menyindir. Bukan hal aneh Lilith tidak menyukai rencana ini. Ia menghabiskan waktu dan, hampir secara harfiah, masa kanak-kanaknya untuk mencegah korban jiwa masif timbul karena perang.

Dan mereka ingin melakukan hal yang, bisa dikatakan, jauh lebih buruk dari perang sendiri? Ia ingin tertawa kalau saja situasinya tak seserius ini.

"Maafkan ketidaksopanan saya untuk memotong, tuan-tuan yang terhormat, saya berharap kita disini bisa mendiskusikan rencana tengah," lanjut Lilith.

Matanya beralih kepada tahanan di dalam Exnologia yang dibawa SHIN. Pandangannya tajam sekaligus siaga. Ia tak menyukai bagaimana orang itu bicara. Perilakunya mengingatkan Lilith kepada orang yang sebenarnya ingin ia lupakan selama tujuh tahun ini.

"Selain menemukan sosok yang hilang dan membumihanguskan satu negara- negara yang baru saja kita kirimi orang untuk memulai jalinan kerja sama."

Gadis itu separuh mengingatkan bahwa orang-orang Vier Gilden sedang menuju Drynessia. Salah satu negara yang mereka bahas dan akan dijadikan papan target.

"Apa ada jalan tengah yang bisa kita tempuh. Aku yakin Ran- ah, bukan, Ketua Guild, juga tidak ingin konflik berkobar dan mata ke arah Vier Garden setelah usahanya untuk mulai merapat ke Benua utama melalu Elysium, bukan?"

Keterangan Ein masih mengusik Ryuuga. Namun, sebagai Ketua Acertado yang dikenal tenang dan bijaksana, ia tidak boleh kehilangan fokus dan membiarkan pikiran negatif memengaruhi daya pikirnya. Tugasnya di tempat ini adalah membahas Ryuu Kuuroya, pelaku genosida itu.

"Jadi, kamu ingin mengatakan bahwa Ryuu Kuuroya melakukan itu demi menyelamatkan kalian, Para Dissimuler liar yang ingin mati?" tanyanya, mencoba menyimpulkan.

"Apa dia begitu sayang dengan semesta asalnya? Sampai mau mencegah kekacauan terjadi." Ryuuga mempertanyakannya sambil melirik Charlesvin, tamu yang berasal dari semesta lain.

"Dibalik kesannya sebagai penjahat nomaden yang bisa berpindah semesta. Dia masih menginginkan tempat untuk kembali. Tempat untuk mengenang kehadiran orang yang dia cintai—keluarganya sendiri. Tidak peduli berapa nyawa yang dia korbankan untuk mempertahankan semesta ini."

Lilith mengangguk, simpatik kepada sosok yang mereka bicarakan. Ia tentu tak mengenalnya, apalagi pernah bertemu tatap. Namun, dari cerita yang ia dengar, orang ini mungkin hanya satu dari sekian korban keganasan takdir. Ia bisa bersimpati, kalau saja sosok itu tidak menyebabkan masalah untuk semestanya kini.

Mata Ryuuga kembali kepada tahanan. Ein tampak sulit dikendalikan. Kekacauan itu masih berkecamuk di dalam dirinya.

"Kelakuan Ryuu Kuuroya dapat dimengerti. Tapi seperti yang disampaikan oleh Tuan Holmes, kalau kekacauan ini berlangsung, Dissimuler liar akan tercipta dan kekacauan semesta terjadi. Malaikat agung sudah kehilangan cara untuk menghentikannya. Kami tidak ingin ada banyak orang seperti kalian yang tersakiti karena dampaknya. Aku harus tahu, kapan kami tahu kekacauan itu akan terjadi?"

"Kalian. Para Archangel bertingkah layaknya Tuhan. Menghancurkan kehidupan atas nama kemuliaan. HARUSNYA KALIAN SEMUA MUSNAH!! MANUSIA DAPAT HIDUP LEBIH BAIK TANPA KALIAN!"

Teriakan penuh dendam dan amarah itu ditujukan kepada sang malaikat agung. Ein berteriak sekeras mungkin sampai kerongkongannya kering. Batuk pun menyusul, disertai darah yang terus mengalir dari mulutnya.

Ein mengerahkan seluruh kekuatannya untuk keluar dari besi yang mengikat tubuhnya. Bukan karena ia sengaja ingin melarikan diri, melainkan reaksi alami tubuhnya. Sekali lagi, naluri itu menginginkan manusia sebagai inang.

"Aku sekarang semakin mirip manusia."

Rasa sakit dan cucuran darah membuatnya seperti makhluk yang masih hidup. Perlu beberapa menit sampai ia tenang kembali.

"Berapa tahun sudah berlalu semenjak Theia dan Lunaria dihilangkan? Kalau lebih dari dua tahun, Drynessia sudah memulainya. Sebentar lagi—atau sudah terjadi, kekacauan akan menghancurkan negara itu. Kemudian, negara di sebelah, sebelah lagi. Tinggal menunggu waktu sampai semesta akan dimakan oleh kekacauan. Terlambat mencari alternatif lain, genosida jawabannya."

Ia memberi jeda.

"Tapi 𝘗𝘦𝘳𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯. Jangan berlagak kalian peduli. AKU SUDAH MENGATAKANNYA BARUSAN. Kau melihatnya 'kan, Archangel? Gadis bodoh di sana." Ein menatap Lilith—gadis yang menginginkan jalan tengah—dengan tatapan campur aduk. "Kenapa kau tidak memberitahu semua orang yang ada di sini?" tanyanya kepada Thrift, berniat menghakimi. "Meskipun kekacauan bersemayam lebih lama di tubuhnya, tapi dia juga—MENGGUNAKAN JIWA ORANG YANG SUDAH MATI! BUNUH DIA!"

"Jangan membawa makhluk suci dengan mulut yang menghina Tuhanmu."

Lilith berucap, tidak begitu senang dengan kata-kata Jiwa yang dijadikan tahanan oleh SHIN. Ekspresi gila dan mulut sampah, entah kenapa, menjadi campuran pasti pada sosok itu. Mau tak mau, Lilith menunjukkan ekspresi jijik. Inilah Jiwa yang terkorosi sistem yang Thrift sebutkan, bersumber dari keputusan Archangel Michael.

Ini bisa disebut hukuman agung, kalau saja yang terikat hanyalah orang-orang seperti ini.

"Gadis bodoh? Perhatikan dengan siapa kau bicara, jiwa pendosa." Lilith membalas. Nadanya manis, namun menusuk tajam. "Kau bilang hanya orang-orang dari tiga negara yang kau sebut, bukan? Theia, Lunaria dan Drynessia. Aku bukan dari tiga negara itu; aku penduduk asli dan murni berdarah Elysium. Kalaupun memang spiritku mengambil bentuk sebagai orang yang mirip dengan sosok bersejarah dalam keluargaku, itu bisa jadi hanya manifestasi, aku yakin spirit lainnya juga bisa berbuat demikian."

Lilith melirik Thrift.

"Benar begitu, bukan? Archangel Gabriel?"

Thrift tidak segera menanggapi ejekan Ein tentang berpura-pura menjadi Tuhan ataupun tuntutannya untuk membunuh Lilith. Ia malah menyalakan rokok tanpa peduli sedang berada di ruangan tertutup. Api memercik sekejap di ujungnya sebelum bara mengambil alih. Isapan pertama terasa kasar di tenggorokan, tetapi setelahnya mulus, seperti ritual yang sudah dipelajari bertahun-tahun. Ia mengembuskan asap perlahan. Matanya menerawang, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Tangan kanannya menyibak poni ke atas sebelum ia menatap Ein dengan malas.

"Kau sendiri yang sudah bilang, bahwa kekacauan yang bersarang di tubuh Lilith masih jauh untuk bisa terpicu. Kau pikir untuk apa aku mengawasinya sejak masih kecil hingga ke titik ini?"

Kalimat itu secara tidak langsung membantah asumsi Lilith bahwa yang ia miliki adalah Spirit, bukannya Jiwa.

Kurang lebih sama seperti Ein, Thrift juga menahan diri untuk tidak segera maju memusnahkan kekacauan di depan mata. Hal itu telah menjadi insting tersendiri bagi seorang Archangel sepertinya, yang bertugas mengirimkan ajal kepada mereka yang melenceng dari peraturan semesta.

"Selain itu aku juga tidak akan tenang sebelum memastikan anak-anak mereka merupakan Shaman dengan Spirit artificial, bukannya Jiwa. Meski anak-anak Rando dan Lilith memiliki darah campuran, bila Ibunda mereka dibunuh begitu saja, ada kemungkinan salah satunya mewarisi Jiwa sang Ibunda hingga sejarah akan terus berulang. Aku tidak sekejam itu untuk membunuh anak-anak tak bersalah yang masih punya kesempatan untuk menikmati kehidupan."

Meski mencintai Lilith merupakan salah satu hal yang membuat Gabriel tidak segera membunuh anak itu, ia masih memiliki alasan kuat untuk menunda.

"Bukan hanya Theia, Lunaria, dan Drynessia. Dengan sejarahnya sebagai kontraktor Jiwa, beberapa keluarga bangsawan Elysium juga masuk ke dalam daftar. Dracker, Panteros, Hans, Seleniorel, Thonblance, Leublau, Holmes, dan ... Antoinette."

Thrift menyebutkan satu per satu keluarga bangsawan yang pernah hadir di Elysium sebelum negeri itu menjadi bagian dari guild Vier Gilden. Lagi-lagi ia menamparkan fakta kepada Lilith dengan mulutnya sendiri. Perasaannya menjadi rumit, tetapi ia tidak bisa berhenti.

"Eve mengutuk keluarga Antoinette sebelum kematiannya, dan Jiwa dari keluarga itu hanya bisa bersemayam dalam tubuh wanita. Seharusnya keluarga itu berhenti pada Adam Antoinette, tapi Lilith merupakan variabel tidak terduga. Identitas asli Lilith merupakan Alice Katagiri, keluarga Katagiri tak memiliki darah Parewa. Namun, karena Lilith tinggal di kediaman Antoinette ia berakhir menjadi Parewa. Lilith merupakan darah campuran, oleh sebab itu kekacauan dalam tubuhnya masih jauh untuk bisa menimbulkan efek negatif."

Ia memang sudah berencana mengeliminasi keluarga Antoinette, selain Victoria yang berasal dari keluarga Roosevelt. Kedatangan Lilith merupakan variabel yang tidak pernah ia duga akan muncul.

"Keluarga Holmes sendiri berakhir pada Auriga Holmes, yang sudah dieliminasi bersamaan dengan keluarga-keluarga lain yang berpotensi memicu kekacauan lebih cepat 7 tahun yang lalu. Lenka dan Rinea Holmes merupakan darah campuran selayaknya Nobume Katagiri, mereka terlahir sebagai Shaman, jadi keturunannya di masa depan tidak akan mewarisi darah Parewa."

Darah seorang Parewa dapat terputus secara natural pada keturunan yang terlahir sebagai Shaman. Namun, keadaan Lilith berbeda.

"Berbeda dengan keturunan Lilith. Sebelum terkonfirmasi bahwa darah Shaman dalam tubuh anaknya lebih dominan, maka persentase mereka menjadi Parewa setelah kematian Lilith menjadi lebih tinggi. Karena Jiwa yang belum memiliki inang tidak dapat ditangkap, apa pihak Vier Gilden akan menjadikan salah satu anak Rando sebagai umpan untuk memancing Jiwa Lilith dan mengeliminasi keduanya secara bersamaan? Ah, tentu. Sangat 𝙍𝙖𝙣𝙙𝙤 sekali."

Thrift mengucapkan tiga kalimat terakhir sambil tertawa kecil tanpa emosi. Sarkasme. Tirani tak bermoral tanpa belas kasih, begitulah sosok Rando di mata Archangel ini.

Bila Lilith mati dengan tidak tenang, mungkin Rando akan membiarkan anak-anaknya tumbuh terlebih dahulu untuk memancing Jiwa Lilith, kemudian mengeliminasi keduanya secara langsung. Seperti melemparkan satu batu kena dua burung. Namun, bila Gabrielle terlambat menjadi Parewa dan sudah memahami cara dunia ini bekerja, ada kemungkinan ia juga berakhir menjadi Jiwa. Dan kutukan Antoinette itu 𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢. Mungkin kutukan ini akan beralih kepada keluarga Lannister seterusnya bila rencana eliminasi dilakukan dengan cacat.

Hanya saja, bila kedua anak laki-lakinya menjadi Shaman dan Rando tidak berencana menikah lagi, mungkin kutukan tersebut akan berakhir sampai di situ. Semua ini hanya asumsi masa depan yang samar. Thrift tidak merasa perlu mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya.

Terkejut tidak cukup menjelaskan ekspresi Lilith setelah mendengar penjelasan Thrift. Yang ia yakini sebagai Spirit ternyata bukan seperti milik Shaman pada umumnya. Keluarganya memiliki sejarah sebagai kontraktor Jiwa, serupa dengan yang terjadi di Drynessia.

Ia melihat ke arah Thrift. Ekspresinya nyaris tak terbaca, banyak emosi bercampur menjadi satu: keterkejutan, amarah, dan rasa terluka. Jika ia benar, berarti sang Archangel datang ke kediaman mereka hari itu untuk mengawasi Antoniette sejak awal. Berniat menghabisi mereka hingga ke akar, memasang target di punggungnya. Selama ini, dia tahu?

Lilith tidak bisa menahan kekehan.

"Begitu rupanya," kata Lilith sambil mengangguk. Kepalanya berusaha merasionalisasi semua informasi yang ia terima, tetapi ia akan berbohong jika mengaku tidak merasa sedikit kecewa. Atau terkhianati.

"Saya mengerti anda ingin mengamankan dimensi kita dengan berbagai cara, dan aku adalah bagian anomali berbahaya yang harus dimusnahkan- itu yang sedang anda sampaikan disini, Archangel Gabriel?"

Gadis itu memilih tersenyum menanggapi perkataan Thrift. Senyum yang sama seperti sebelum mereka dekat. Hanya seorang kenalan, tak lebih dan tak kurang. Ia berusaha tenang, kembali mengatur emosi.

Lilith tak pernah suka identitasnya dikorek dan dilempar sebagai konsumsi umum. Semua yang Thrift katakan, beberkan, dan terangkan di meja perundingan ini adalah rahasia. Selain Thrift, yang tahu hanya Nobume, Goldia, dan Nyonya Victoria. Sisa saksi mata lainnya telah mati, entah terbakar dalam bara api ketamakan Edward Gray Antoniette di masa lalu, atau di tangan sang Archangel sendiri pada malam kelam itu.

"Ah tentu, kutukan Antoniette, hal yang paling kutakutkan sendiri dulu, bukan? Hal yang sama yang engkau bilang tak perlu ditakutkan?" Ia terkekeh. Tawanya terdengar lebih tenang, meski tidak ada ketulusan sedikit pun pada wajah ataupun nada suaranya.

"Saya cukup yakin tuan-tuan disini bisa berpikir dengan baik dan bijak, tapi saya hanya menganggap, demi kemaslahatan bersama, penekanan jumlah korban jiwa seminimal mungkin dan usaha sedamai mungkin adalah cara terbaik." Ia menoleh kepada Thrift. "Dan mungkin meminimalisir penipuan ke pihak lain? Rasanya akan sangat awkward kalau sampai ketahuan, seperti perang sebelumnya, misal."

Eve Antoniette juga adalah "korban." Sebuah penipuan, bisa Lilith bilang. Dalam kisahnya, ketika perang bersaudara berkobar, Eve diangkat sebagai anak. Merasa menjadi bagian dari keluarga yang besar dan berkuasa, berjuang bersama. Namun, pada akhirnya Eve dan Mary tertipu. Dianggap hanya bidak-bidak tak berguna di mata keluarga, dipisahkan, saling diadu domba. Eve mati dengan dendam, menghantui tempatnya mati dan mengutuk nama keluarga Antoniette. Mengutuk kakak yang ia sayangi. Mary mendapatkan kabar bahwa adiknya berkhianat, memilih tak percaya, lalu terbunuh tak lama setelah menemukan tubuh adiknya yang telah tewas.

Antoniette dibangun oleh tragedi demi tragedi. Sebuah kutukan di dalamnya hanya sekadar tambahan ironi.

"Menurutku, tidak banyak manusia yang bisa sepenuhnya menerima diri mereka dijadikan sebagai pengorbanan, apapun alasannya."

Senyum itu masih terpatri, bahkan ketika suhu ruangan perlahan menurun. Sosok yang familiar muncul, serupa dengan Lilith. Rambut hitam panjangnya beradu dengan rambut putih milik gadis itu, bersanding dengan kepingan es.

"Dan untuk itu, saya akan memperingatkan kalian semua dalam kesempatan ini"

Pandangan Lilith Evelyn Antoniette menajam.

"Jangan coba menyentuh, apalagi menyeret anak-anakku dalam apapun yang kalian rencanakan. Aku tidak perduli apa masalahnya; sampai ada sesuatu terjadi pada mereka, akan kuburu kalian semua, mati atau hidup, sebagai jiwa atau hal lain."

Rando telah menyimak seluruh pembahasan itu. Dissimuler liar yang tercipta dari roh orang mati seharusnya dapat dikendalikan melalui kontrak. Namun, kekacauan membuat mereka mampu melepaskan diri, bahkan membunuh penggunanya tanpa terikat dampak perjanjian tersebut. Kini, setelah tuduhan Ein dan penjelasan rinci Thrift, ancaman itu tidak lagi hanya menyangkut negara di seberang.

Perkataannya justru diarahkan kepada Thrift. "Tepat sekali. Awasi Lilith sebelum terlambat."

Kalimat itu bukan sekadar permintaan. Rando memberi Thrift tugas mutlak. Semua orang di ruangan ini dapat menebak apa yang mungkin ia lakukan, termasuk Lilith sendiri.

"Karena Aku pernah berkata bahwa tugas kita adalah membersihkan dunia ini dari mereka yang merusak. Negara Drynessia berpotensi menjadi ancaman semacam itu. Maka, saya memutuskan, Vier Gilden akan membersihkannya."

Rando mendeklarasikannya dengan tegas. Setelah mengetahui kebenaran di balik peristiwa tersebut, ia menganggap genosida yang dilakukan The Butcher sebagai bentuk kebajikan. Siapa pun yang bertindak demi kebaikan layak mendapatkan pertimbangan, tak peduli seberapa kejam metode yang digunakan.

"Kita yang akan menggantikannya. Pola pikir mereka telah tercemar oleh kerusakan."

* * *

Di ruang latihan, Caine masih meningkatkan refleks dan memperkuat kemampuannya sebagai petarung kickboxing. Dia mempersiapkan diri untuk ajang pertandingan yang tinggal sepekan lagi. Dia enggak mau melewatkan kesempatan itu dengan bersantai. Waktu adalah aset berharga.

Fokus latihannya ada pada pergerakan kaki. Dia merasa kaku waktu menggunakan kakinya sebagai senjata menyerang. Setelah beberapa kali percobaan, Caine sadar kalau kekuatan alaminya bukan terletak pada tendangan, melainkan kecepatan gerakan. Dia mutusin buat memaksimalkan peran kakinya sebagai alat penggerak. Melatih refleks supaya lebih gesit menghindari serangan dan memanfaatkan celah untuk mempercepat pukulan. Kekuatannya ada pada pukulan yang cepat dan mematikan.

Keringat membasahi tubuhnya, tetapi fokus Caine tetap terjaga.

* * *

Di ruang rapat, layar memperlihatkan hasil pemantauan satelit luar angkasa. Proyek esensial itu telah dikembangkan Vier Gilden selama beberapa tahun terakhir. Awalnya, misi utama satelit adalah meneliti dan memantau energi tidak stabil yang berpotensi mengganggu keseimbangan dunia. Akan tetapi, apa yang tertangkap kali ini melampaui sekadar fluktuasi energi.

Visual yang terekam menampilkan sosok-sosok dari Elysium. Mereka seharusnya menjalani program pelatihan di bawah persetujuan Lilith, tetapi justru terlihat dikepung dan dibajak oleh pasukan Prajurit Drynessia. Tindakan itu tak hanya melanggar batas, melainkan juga dianggap sebagai pengkhianatan besar terhadap Vier Gilden.

Rando menatap layar dengan saksama. Wajahnya tenang, tanpa menunjukkan amarah. Meski matanya berkata sebaliknya: tajam dan penuh perhitungan.

"Aku membiarkan Lilith mengirim mereka karena Elysium hanyalah guild baru. Tidak ada kerugian jika kehilangan mereka. Itu hanya akan mengecewakan sedikit orang."

Sementara itu, latihan Caine terputus ketika sekelompok orang masuk ke ruangannya. Mereka datang seperti ada hal darurat yang lagi terjadi. Caine langsung berhenti. Tanpa banyak tanya, dia bergegas menuju gedung utama, mencari ruang rapat meski sebenarnya enggak tahu persis lokasinya.

Sambil berlari, dia membuka pintu satu per satu. Banyak ruangan yang dia buka, tetapi semuanya kosong. Sampai akhirnya, suara diskusi samar terdengar dari balik sebuah pintu. Orang-orang yang dikirim sama Lilith ternyata terjebak di Drynessia.

Caine langsung mendorong pintu itu dengan keras.

"Chloe juga ada di sana?" Caine mengatur napas supaya tidak berantakan. Kecemasan terdengar dalam pertanyaannya.

Rando mengalihkan pandangan dari layar ke pintu ruangan. Kehadiran sosok yang tak diundang itu telah diperhitungkannya.

"Melanggar prosedur dan masuk tanpa izin ke ruangan ini. Tindakan yang cukup berani." Kata-kata itu meluncur seperti sapaan kecil. Ada keputusan penting yang harus diambil, dan kehadiran sosok itu diperlukan.

Sudah lama Caine enggak merasakan kecemasan seperti ini. Terakhir kali adalah saat perang besar dulu. Dia sadar, tersandung masalah di negara tetangga bukan hal sepele. Mereka pasti sudah menyiapkan banyak hal buat menundukkan yang datang. Situasi ini jelas bisa memicu konflik yang lebih gede, kayak perang baru.

Namun, Caine cepat-cepat mengendalikan pikirannya. Dia melemaskan sendi-sendi tangan supaya ketegangannya hilang.

"Kirimkan aku ke sana." Caine minta dengan serius.

Dia enggak peduli apakah permintaannya bakal ditolak atau diterima. Kalau itu melibatkan orang yang dia kasihi, dia enggak akan tinggal diam. Keputusannya bulat untuk berangkat. Perang sudah banyak merenggut orang-orang berharga di sekitar. Tidak boleh ada lagi yang berjatuhan.

Dia ingin dilibatkan. Dia ingin menjadi penyelamat dan pelindung. Semua latihan kerasnya selama ini bukan cuma buat bertarung di ring, tetapi juga menghadapi momen seperti ini. Dia siap. Kalau ini berarti dia harus melibatkan diri dalam risiko besar, biar saja.

"Setelah banyak kehilangan, aku mendapatkan banyak penggantinya." Caine mengatakannya dengan sungguh-sungguh.

Yang pergi akan selamanya menjadi bagian dari masa lalu, sesuatu yang enggak akan bisa benar-benar tergantikan. Caine kembali mengingat semua yang telah terjadi sampai dia bisa bertahan sekarang. Dia berterima kasih atas semua kesempatan yang sudah diberikan. Karena rasa terima kasih itulah, dia enggak akan membiarkan semua yang dimilikinya hilang begitu aja.

"Kirimkan aku ke sana. Ada banyak yang ingin ku lindungi di sana. Aku tidak ingin kembali ke masa itu. Kalau bisa semuanya harus selamat."

Caine mengulang kata-katanya sambil mengingat semua yang berharga baginya.

"Semuanya tanpa terkecuali."

Rando terdiam sejenak di tengah ketegangan yang memuncak. Kemudian, ia berdiri dengan tatapan tajam dan penuh otoritas, memberikan instruksi terakhir.

"Mereka telah meruntuhkan kepercayaan. Bersiaplah sekarang. Pembersihan akan segera dilakukan."

Tidak ada ruang untuk keraguan. Penghakiman telah dimulai.

About Roleplayverse

This website tells the universes (up to omniverse) of each story that have been developed together since 2014, collected solely as part of a hobby.

© Roleplayverse. All rights reserved.