Diablo Voids
Chapter 10

Another Way

5,719 words · ~26 min read

Entah sudah berapa bulan berlalu. Zion bahkan mulai lupa bagaimana konsep hari bekerja di tempat ini.

Semuanya terasa seperti lingkaran setan yang tidak berujung: dikurung bersama seorang perempuan, dipaksa mengikuti dorongan yang bukan sepenuhnya miliknya, lalu diberi hadiah seolah itu dapat membenarkan semuanya. Namun Zion tahu permainan tersebut tidak mungkin terus sesederhana itu.

Tubuhnya masih limbung akibat perubahan gravitasi yang mendadak. Begitu kesadarannya benar-benar pulih, ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan serba putih—lebih menyerupai ruang isolasi pasien gangguan jiwa daripada fasilitas reproduksi.

Mungkin aku memang sudah gila kali?

Zion duduk bersila di lantai yang dingin. Luxya berada tidak jauh darinya bersama beberapa orang yang sempat ia lihat di sekitar reruntuhan. Sosok-sosok lain muncul melalui kilatan cahaya yang datang silih berganti, lalu berdiri atau terjatuh dalam keadaan sama bingungnya.

Sebuah layar di dinding masih menampilkan hitung mundur menuju isolasi penuh. Tiga puluh menit tersisa. Di sampingnya, daftar pasangan kembali berubah. Nama Zion kini tertera bersama Xandara. Nama seorang asing—Riven Kael—muncul di bagian lain, berpasangan dengan Leah.

Apa ancamannya terhadap dua aset bernilai tinggi tadi benar-benar berhasil mengubah susunan pasangan?

Kalau iya, hasil itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Setiap keberuntungan dalam hidupnya hampir selalu menjadi pembuka bagi bencana berikutnya.

Semakin banyak orang berkumpul di ruangan itu, semakin kecil Zion merasa. Malver pasti sedang merencanakan sesuatu lagi—pidato, mungkin. Dasar bajingan narsis. Atau ia sengaja membiarkan semua orang merenungkan eksistensi dan tujuan masing-masing sampai waktu habis.

Ucapan Leon masih terngiang di kepalanya dan memicu emosi yang tidak diperlukan. Zion tidak suka diajari. Ia sudah berusaha santai, bahkan terlalu santai untuk seseorang yang terus diperlakukan sebagai komoditas. Dasarnya memang begitu: menggampangkan hal yang salah dan terlalu cepat kegirangan hanya karena namanya kembali dipasangkan dengan Xandara.

Ia sudah berkali-kali merancang cara melawan Sistem. Semua berakhir sia-sia. Rencana Malver selalu berada satu langkah di luar pemahamannya.

Namun menyerah bukan sifat laki-laki—setidaknya begitulah yang ingin ia yakini. Ia masih harus mewujudkan keinginan seorang perempuan yang ingin kembali ke dunianya sendiri. Xandara tidak harus ikut terperangkap dalam eksperimen busuk ini bersamanya.

Pikirannya melayang kepada hal-hal sederhana: kucing jalanan yang biasa ia beri makan, orang-orang tua yang pernah dibantunya menyeberang jalan.

Mereka setidaknya merindukanku, kan?

Zion berdiri di samping Xandara, sosok yang terlalu besar dan terlalu tegar untuk sesuatu yang tetap ia sebut perempuan. Suaranya turun menjadi lirih.

“Sebenarnya masih nggak masuk akal buatku—seseorang yang ngaku nggak bisa ngerasain emosi bisa sampai berpikir kalau dia benar-benar menyukaiku juga. Kesannya malah aku yang manipulatif.”

Bahunya turun. Napas yang terlepas terdengar berat. Hanya dirinya sendiri yang benar-benar memahami maksud kalimat itu: tidak akan ada orang yang menyukainya apa adanya dan tanpa syarat.

“Apa yang sedang kulakukan, apa yang kuinginkan, dan apa yang kurasakan terasa begitu membingungkan, Xan.... Mungkin aku cuma tidak mau sendirian lagi.”

Ia menelan ludah, lalu menggigit bibir bawah. Nama singkat itu masih terasa asing di lidahnya.

“Lupakan. Aku cuma meracau. Aku cuma merasa gugup.”

Xandara memandanginya lama. Zion tampak lebih bimbang daripada sebelumnya, tetapi sebelum ia sempat menjawab, pemuda itu sudah menepis ucapannya sendiri dan berlalu.

Xandara tetap berdiri tanpa ekspresi. Sistem dan segala aturannya tidak mempunyai arti baginya. Sejak kehilangan The Origin, ia tidak lagi memiliki arah selain menjalani keberadaan sebagaimana adanya. Tugasnya telah selesai; sisa hidupnya hanyalah ketenangan tanpa ikatan.

Zion berbeda. Pemuda itu tampak lebih hidup.

Ia selalu bergerak dengan suatu tujuan. Bahkan di tengah keramaian, langkahnya pada akhirnya akan kembali kepada Xandara. Setelah terbiasa dengan kehadiran itu, Xandara sempat berpikir bahwa mungkin ia perlu memberikan sesuatu.

Ia dapat memberi setetes air kepada burung yang kehausan, tetapi tidak tahu apa yang harus diberikan untuk meredakan muram seorang manusia.

Di bagian lain ruangan, cahaya putih memudar dan meninggalkan seorang pria berambut hijau bersandar malas pada dinding. Riven Kael menghela napas panjang. Tempat itu bahkan lebih steril dan membosankan daripada laboratorium di Staircase.

Di sekelilingnya berdiri sekumpulan orang asing, beberapa dalam keadaan babak belur. Setidaknya kelompok sebelumnya mempunyai sedikit warna. Ia masih mengingat gadis berambut merah dengan senyum provokatif yang mulai menarik perhatiannya sebelum dirinya ditarik paksa ke tempat ini. Getaran resonansi yang mulai terbentuk di antara mereka terputus begitu saja.

Sangat mengganggu.

Zion menarik napas panjang, lalu melangkah ke tengah ruangan. Suaranya menyita perhatian.

“Siapa di antara kalian yang namanya Riven Kael?”

Matanya menyapu setiap wajah asing dan berhenti pada pria yang baru muncul itu. Nama Riven tertera secara misterius setelah Antares disingkirkan, sedangkan Caroline dan Lucerix tidak memperoleh pengganti.

“Dua orang yang disingkirkan itu... apa yang terjadi sama mereka? Mereka mati?”

Kalimatnya meluncur terburu-buru. Di balik nada menantang itu terselip keraguan—firasat bahwa tiga puluh menit terakhir tidak akan cukup bagi mereka untuk mengubah takdir.

Riven mengangkat alis. Senyum miring perlahan muncul di bibirnya.

“Kenapa denganku?” tanyanya santai. “Ada masalah denganmu?”

Kesantaiannya segera memudar ketika ia melihat daftar pasangan pada dinding. Ia tidak mengenal Leah. Yang lebih penting, mengapa ia dipindahkan dari kelompok sebelumnya tanpa penjelasan?

“Hentikan omong kosong ini.” Riven meluruskan postur. “Segera beri tahu aku di mana aku sekarang.”

Ini bukan lagi permainan yang menarik, hanya pemindahan paksa dengan alasan tidak jelas.

Ia mendecakkan lidah, mengingat kenyamanan sesaat yang baru saja direnggut darinya. “Dan kenapa aku tiba-tiba akan diisolasi bersama orang-orang miskin ini?”

Kilatan lain melemparkan Mikado ke lantai. Tubuhnya sempat terasa melayang dan diombang-ambingkan seperti serangga di dalam botol kaca. Begitu sinar yang menyilaukan mereda, ia mendesis dan membuka mata.

Ruangan putih. Sekumpulan orang. Pengumuman yang mengancam.

“Buset, simulasi akhir dunia, kah?” celetuknya tanpa beban.

Matanya memicing saat menemukan namanya pada daftar. Lalu ia melihat sosok yang dikenalnya.

“Loh? Ada Zhigal? Yoooo! Ketemu lagi akhirnya! Cassius mana? Kirain kau sama dia!”

Seolah hidupnya tidak berada di ujung tanduk, Mikado malah menyapa dengan riang. Ketika membaca nama Riven, ia mengernyit.

“Riven Kael? Siapa lagi tuh? Nggak pernah dengar.”

Ia menilai penampilan pria asing tersebut, lalu menyeringai.

“Dih, orang kaya tuh.” Mikado menepuk pundak Zhigalkovich dan menunjuk Riven. “Zhigal, geledah dia. Siapa tahu ada yang bisa dijual.”

Bagi Zhigalkovich, kilatan yang baru saja menyilaukan mata itu dapat menjadi cahaya cinta, kekuatan bulan, atau bagian dari simulasi keren yang terlalu bersemangat membuat mata sakit. Tidak ada yang perlu dipastikan selama ia masih dapat mengoceh.

“Hoh, inikah karakter yang ditakdirkan melakukan kombo konser duo?” katanya sambil bergaya.

Ratusan cara untuk merusak proyeksi naskah cerita mungkin sudah berseliweran dalam kepalanya.

“Hoi, kau di sini untuk menghancurkan mereka, kan? Itu loh yang di sana, yang katanya suka makan hamburger tengah malam.”

Tak seorang pun dapat memastikan siapa yang dimaksudnya.

Zhigalkovich menoleh kepada Mikado. “Kau memerintahkanku? Tidak salah dengar, hah?”

Namun perintah itu tampaknya cukup menguntungkan. Dalam sekejap, ia sudah berada di belakang Riven—atau, sebagaimana ia menyebutnya dalam hati, Kael Galauman—lalu menahan tubuhnya dengan kedua tangan dan mulai menggeledahnya tanpa izin.

“Seperti inikah? Aku menahannya, yagesya. Ini taktik untuk merundung seseorang. Pukul perutnya, hoi, Mikudis si wajah jerawat!”

Riven tidak menoleh. Ia dapat mengetahui posisi orang-orang di belakangnya hanya dengan mendengar. Ketika tangan Zhigalkovich mulai bergerak, ia menghela napas panjang, bosan.

Gelombang frekuensi yang tidak terdengar menyusup menuju organ keseimbangan di telinga perempuan itu. Vertigo dan mual menghantam seketika. Tubuh Zhigalkovich kehilangan tumpuan dan terhuyung tanpa mampu berdiri tegak.

Riven memiringkan kepala sedikit. Senyum tipis yang provokatif kembali muncul, lalu ia bergerak mendekati Zion.

“Hoh,” gumamnya datar. Ia tidak menyangkal ucapan Zion sebelumnya. “Jadi, daripada miskin, kalian ini kelompok bermasalah?”

Setidaknya itu menjelaskan mengapa Malver memindahkannya secara paksa.

“Padahal aku hanya mengacau sedikit. Sepertinya kalian mengalami hal yang sama.” Riven menaikkan volume suaranya agar dapat didengar semua orang. “Di kelompokku sebelumnya, kami bersenang-senang sepuasnya tanpa memikirkan apa pun.”

“Oh, ya?” Zion menyunggingkan senyum kecut. “Memang sekacau apa yang kau lakukan sampai dibuang ke sini, selain masturbasi?”

Ia masih berusaha menggali informasi dari lelaki bermulut menyebalkan itu tanpa sedikit pun memperhalus pertanyaan.

Zion mengangkat sebelah alis. Cara bicara orang itu benar-benar menjengkelkan. Kalau situasinya tidak terlalu serius, ia mungkin sudah ikut menggeledah Riven—sekalian mencuri apa pun yang ditemukan.

“Aku nggak pernah punya masalah denganmu, tapi sekarang kau punya masalah denganku.” Zion melangkah maju. “Dengar baik-baik, anak bawang. Bukan cuma kau yang ingin bebas dari semua omong kosong ini.”

Ia mengangkat dagu dan menyilangkan kedua tangan.

“Karena kau terjebak bersama kami, artinya kau nggak istimewa. Apalagi kaya. Ngerti, hah?!”

Sedikit ludah muncrat ketika ia berteriak. Zion tidak peduli; ia bahkan melakukannya dengan sengaja.

“Jawab aku.” Suaranya turun satu oktaf. “Bagaimana kau bisa tiba di sini? Apa bajingan itu juga nyuruh kau tidur dengan banyak cewek, lalu bilang otakmu habis diotak-atik, terus bilang kalau kau nggak berharga di dunia asalmu, begitu?”

Namun sebelum Riven sempat menjawab, perhatian Zion beralih secepat kilat.

Bagi Belze, ingatan yang terputus mendadak bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Sesaat sebelumnya ia masih berada di Ruang Karantina bersama Adarra; kini ia berdiri di ruangan putih yang luas. Cynthia berada di dekatnya, begitu pula Mikado. Lucerix tidak terlihat, dan namanya bahkan telah hilang dari daftar terbaru.

Belze bertukar pandang singkat dengan Cynthia. Tidak diperlukan penjelasan. Apa pun yang mereka lakukan berikutnya masih berkaitan dengan rencana menghentikan Konvergensi Alami Terarah. Teori “cinta sejati” mungkin hanya spekulasi buruk di tengah keadaan putus asa, tetapi itulah satu-satunya celah yang mereka miliki.

Ia bergerak lebih dahulu menuju objek paling mencolok di ruangan itu. Seorang pria bertubuh kekar dan berambut putih sedang berjalan menuju Xandara. Belze berhenti tepat di hadapannya, mendongak, lalu mengangkat telunjuk seolah menetapkan Xandara sebagai sasaran.

Ia tidak mengenal perempuan raksasa itu dan tidak tertarik kepadanya secara romantis. Malver tidak pernah mempertemukan mereka. Mereka hanyalah dua makhluk acak yang dilempar ke ruangan sama.

Tetapi apabila Xandara dapat menerimanya sebagai “cinta sejati”, akankah sesuatu berubah?

“Siapa?” tanya Xandara singkat.

Zion langsung bergerak. Ia mendorong Belze menjauh dengan kasar.

“Hei, hei, hei! Mau apa kau, hah?”

Belze memutar bahu dan menepis tangan Zion. Salah satu kakinya mundur setapak untuk memperkokoh pijakan, tetapi ia tidak membalas. Kedua tangannya justru terangkat setinggi dada sebagai isyarat agar Zion tenang.

Zion meraih bahunya, menariknya mendekat, lalu menunjuk papan pasangan di dinding.

“Lihat tuh. Pakai huruf besar-besar. Zi-on. Xan-da-ra. Kalau ada nama lain di sebelah Xandara, berarti papannya rusak.”

Ia melepaskan genggaman hanya untuk mendorong Belze sekali lagi.

“Aku nggak akan biarkan ada orang berdiri dekat-dekat pacarku dan mulai ngoceh, ‘Apa kau mau tahu alasan kenapa kau berada di sini?’ atau semacam itu.” Zion menirukan nada bicara Antares tanpa sadar. “Kecuali ada yang bisa kasih tahu aku cara keluar dari tempat sialan ini!”

Belze kini mengetahui nama mereka: Zion dan Xandara, pasangan yang juga ditetapkan oleh Sistem. Reaksi Zion membuatnya bertanya-tanya apakah semua orang di sana telah menerima takdir buatan Malver begitu saja.

Ia menyebutkan namanya, lalu menjelaskan sependek mungkin apa yang ia dan Cynthia temukan di Ruang Karantina. Adarra mengatakan bahwa Konvergensi Alami Terarah—K.A.T.—diam-diam membentuk perilaku serta hubungan para subjek agar mengikuti jalur tertentu. Satu-satunya celah yang mungkin dapat melawan kehendak itu adalah tindakan murni yang tidak dapat diarahkan: cinta sejati.

Masalahnya, semua hubungan di tempat tersebut telah direkayasa. Karena itu, menurut Adarra, pilihan sejati hanya mungkin ditemukan di luar Sistem.

Belze menatap setiap orang yang bersedia mendengarkan. Ia sendiri tidak sepenuhnya percaya pada hipotesis tersebut. Namun mereka tidak mempunyai banyak pilihan, dan ia harus keluar untuk mencari Lucerix.

Sebuah ingatan lain mendadak mencuat. Naluri posesif yang pernah ia limpahkan kepada seseorang seolah menolak untuk diabaikan lebih lama.

Benar juga. Kenapa aku bisa melupakannya?

Caroline juga menghilang.

Luxya mengamati konfrontasi itu sambil menahan gejolak dalam dirinya. Beberapa wajah yang dikenalnya kembali berkumpul, tetapi ia tidak mampu melihat arah situasi yang diinginkannya.

“Permainannya akan berakhir... kah?” gumamnya.

Matanya menyapu ruangan.

“Orang itu terobsesi menjodohkan seseorang dan mencoba bermain dengan takdir yang tidak seharusnya terjadi.” Nada suaranya sinis. “Ada yang ingin melihat sampai mana perjodohan ini berakhir?”

Di sisi lain, Axel berdiri sambil memperhatikan perubahan daftar. Tiga puluh menit kehilangan kendali atas tubuh dalam keadaan sadar bukan pengalaman yang ingin ia ulang.

“Ah, what a mess. Aku tidak ingin mengalaminya lagi.”

Ia menghela napas, kehilangan gairah untuk bercanda. “Tidak ada yang bisa ditulis. Writer’s block.”

Namanya kini disandingkan dengan Sonata, meski mereka tidak melakukan apa pun setelah perubahan terakhir selain bertahan di tengah kekacauan. Bella dan Luxya bahkan tidak sadarkan diri ketika daftar kembali bergerak.

“Benar,” gumam Axel kepada sosok yang tidak terlihat di balik Sistem. “Sepertinya kau sudah mengaturnya sejak awal.”

Zion mendengarkan penjelasan Belze dengan alis terangkat. Pria itu terlihat seperti seseorang yang lebih mengandalkan otot daripada otak; Zion bahkan meragukan Belze mampu menyusun kebohongan panjang tanpa tergagap.

“Aku nggak kenal Adarra. Kenapa aku harus percaya ucapannya?”

Ia mendengus.

“Lagian, kau bilang apa tadi—cinta sejati? Serius? Kayaknya orang itu sudah kebanyakan makan buku dongeng. Happy ever after? Jangan-jangan kau juga bakal nyuruh kita ciuman massal, terus secara ajaib kita bebas, gitu?”

Zion terus menyudutkan gagasan tersebut. Ia menolak percaya bahwa perasaannya kepada Xandara hanyalah manipulasi, sama seperti rasa kepemilikan yang dahulu ia rasakan terhadap Sonata. Kalau semua ini sekadar rekayasa, apa gunanya berbagai simulasi yang telah mereka lalui? Malver seharusnya tidak perlu repot memisahkan dan memasangkannya dengan orang lain.

Pada akhirnya, Zion tetap memilih Xandara.

“Semuanya nggak akan sesimpel itu, tahu?” Ia menggigit bibir bawah. Tangannya mengepal sampai uratnya menonjol. “Xan, kau percaya semua omong kosong itu?”

Suaranya kini lirih, hampir memelas. Zion mendekati Xandara dan meraih pergelangan tangannya. Sisi paling egois dalam dirinya ingin perempuan itu menyangkal penjelasan Belze—membuktikan bahwa segala sesuatu di antara mereka nyata dan Zion tidak keliru menafsirkannya.

Sebab apabila ia menerima kebenaran sebaliknya, ia yakin tidak akan pernah menemukan cinta sejati untuk selamanya.

“Mematahkan kehendak buatan dengan kehendak murni,” simpul Xandara. “Apa itu yang ingin kau katakan?”

Ia tidak menelan informasi baru itu mentah-mentah. Jika penjelasan Belze benar, tujuan Malver tidak lagi sekadar pembiakan. Ia berusaha menulis ulang realitas berskala semesta melalui spesies baru.

Xandara kembali memandang Belze.

“Jika benar demikian, aku bukan orang yang tepat kau pilih. ‘Cinta’ yang kau maksud adalah sesuatu yang tidak dapat diukur. Aku tidak memahami konsep dasarnya, dan tidak bisa menumbuhkan sesuatu hanya karena diminta.”

Ia berhenti sejenak.

“Kalaupun maksudmu hanya menjauh sejauh mungkin dari pasangan yang ditetapkan, dalam ruang sesempit ini dan waktu sesingkat ini tidak ada jaminan Sistem akan membiarkannya. Itu hanya akan menimbulkan tindakan gegabah dan kekacauan lain.”

Ingatan setelah ledakan melintas kembali. Seseorang telah terbuang dari siklus dengan akhir yang mengenaskan.

“Aku tidak merasakan kebohongan darimu,” lanjut Xandara, “tetapi rencanamu belum memiliki bukti yang cukup. Yang bisa dipastikan hanyalah mereka yang dapat ‘bebas’ dari Sistem... menemui akhir tragis.”

Pergelangan tangannya merasakan sentuhan kecil dan rapuh. Xandara menggerakkan tangan itu, membiarkan Zion menggapainya.

“Melihat apa yang telah terjadi, tidak mengherankan jika dunia ini mampu mengambil kehendak seseorang dan menggerakkannya seperti kehendaknya sendiri.”

Ia tidak menyangkal ucapan Belze, tetapi juga tidak membenarkannya sepenuhnya. Xandara hanya bertemu Zion ketika mereka tidak sedang dibayangi dorongan yang menyusup ke pikiran. Setelah mendengar penjelasan itu, tidak ada jaminan sejak kapan gagasan mereka mulai direkayasa.

Apakah Zion yang kini memegang tangannya adalah Zion yang sebenarnya, atau hanya ketergantungan yang tumbuh dari kedekatan palsu? Tanpa semua campur tangan ini, apakah mereka masih menjadi orang yang sama?

“Apa pun yang kau yakini sekarang,” ujar Xandara apa adanya, “tidak mengubah bahwa kau masih ‘Zion’.”

Ia tidak bermaksud menenangkan. Ia hanya mengatakan apa yang berada dalam pikirannya.

“BE■L■UM M▇▇AT■I!”

Seruan Belze memotong percakapan. Suara beratnya terdistorsi, seolah dirinya dan monster di dalamnya berbicara bersamaan.

Ia telah melihat keadaan terakhir Lucerix. Tubuh pemuda itu memang hampir hancur, tetapi Belze menolak menerima bahwa itu adalah akhir hidupnya, bahkan setelah nama Lucerix hilang dari daftar Sistem. Lucerix masih berjuang di suatu tempat.

Kalau Xandara pernah menyaksikan seseorang yang dikeluarkan dari daftar menemui akhir tragis, Belze tidak sanggup membayangkan apa yang mungkin terjadi kepada Caroline.

Upaya pertamanya tidak berjalan lancar. Tidak seorang pun mempercayainya begitu saja, dan ia tidak berharap mereka dapat langsung menerima gagasan tentang cinta sejati. Namun bagaimana mereka akan mengetahui hasilnya tanpa mencoba? Bukankah itu satu-satunya celah yang mungkin tidak diprediksi Malver?

Percakapan di sisi lain ruangan kemudian menarik perhatiannya. Ucapan Riven tentang kelompok sebelumnya memberikan petunjuk yang lebih berharga.

Sembilan pasang dalam satu dunia terasa terlalu sedikit. Tentu terdapat kelompok lain di penjuru semesta ini. Kalau pilihan di ruangan tersebut terbatas, solusinya mungkin berada di luar.

Belze menerobos kerumunan hingga berdiri tepat di hadapan Riven.

“Di mana?” tanyanya tanpa basa-basi. “Kelompok lain itu di mana?”

Riven mengangkat kepala. Tatapannya malas, tetapi penuh provokasi. Sosok di hadapannya terlihat jauh lebih berbahaya secara fisik daripada perempuan yang tadi menggeledahnya. Ia tidak ingin dianggap dapat ditekan oleh orang asing.

“Sejak tadi apa aku terlihat seperti orang yang tahu?” Riven mendorong Belze untuk menciptakan jarak. “Jangan mencari masalah denganku.”

Ia mendengus dan menatap kerumunan.

“Yang pasti, seperti yang kau lihat, mereka tidak ada di ruangan ini.”

Mikado terkekeh sejak tadi. Semua orang tampak seolah baru menyaksikan akhir dunia—meskipun kemungkinan besar memang demikian. Ia bahkan sempat menjadikan bahu Riven sebagai tumpuan tangan, seakan frekuensi yang baru saja menjatuhkan Zhigalkovich bukan masalah berarti.

“Kalian semua tegang banget.”

Ia mengangkat bahu.

“Kalau memang orang yang kalian sebut-sebut itu terobsesi menjodohkan orang, kenapa banyak yang dibuat mati sebelum ini? Kalian sadar, kan, sudah banyak orang berkurang gara-gara hukuman sebelumnya?”

Mikado menunjuk Zion.

“Jadi aku setuju sama mas-mas panik itu. Memang ada jaminan kalau kita nurut, all will be well? Hahahaha! Nggak kali!”

Ia melirik Belze dan Xandara.

“Tapi kalau kalian mau kukuh dengan cinta sejati-cinta sejatinya, not a problem. Aku juga dapat bonus ngew—. Ya nggak, Zhigal?”

Mikado menepuk Zhigalkovich yang masih gemetar akibat serangan frekuensi Riven.

Belze tidak bergeser sedikit pun. Tatapannya memburu.

“Di mana... kelompok lain?” Suaranya semakin dalam dan menggelegar. “Di mana?!”

Akal manusiawinya menahan tindakan sebelum ia berubah sepenuhnya menjadi binatang. Riven memang menjawab setengah hati, tetapi terlihat benar-benar tidak mengetahui apa pun. Belze akhirnya melepaskannya. Ia bukan orang yang mudah memulai pertengkaran; keadaan yang tidak memberinya pilihanlah yang mendorong pemikirannya menjadi pendek.

Ia berbalik dan menjauh dari kerumunan. Tidak ada gunanya menyeret orang lain ke dalam rencana yang bahkan belum pasti. Ia akan mencari jalan sendiri.

Pikiran Belze kalut karena dua orang yang pernah terhubung dengannya kini menghilang. Itu bukan kesalahannya, tetapi sebagian dirinya tetap merasa bertanggung jawab.

Ia berhenti di depan pintu besar yang dingin. Sejak awal ia tidak pernah menyetujui cara Sistem mempermainkan memori dan jalan hidup mereka. Ketika gagal, seseorang dibuang begitu saja, seakan orang yang telah dilupakan tidak berhak memilih jalan sendiri.

Uap tipis keluar bersama embusan napasnya. Keresahan dan penolakannya terpusat menjadi energi pada sigil di telapak tangan.

Belze menghantam pintu.

Dentumannya menggema ke seluruh ruangan.

Ia menghantamnya lagi. Kemudian sekali lagi. Setiap pukulan memperlebar retakan kecil pada permukaan yang sebelumnya tampak tidak mungkin ditembus.

Suara artifisial meledak dari pengeras suara tersembunyi.

PERINGATAN. ANOMALI STRUKTURAL TERDETEKSI DI SEKTOR ISOLASI. SUBJEK MENUNJUKKAN PERILAKU DESTRUKTIF TINGKAT-A.

MEMULAI PROTOKOL PASIFIKASI PAKSA. SELURUH SUBJEK HARAP TIARAP DENGAN TANGAN DI ATAS KEPALA. KETIDAKPATUHAN AKAN DIANGGAP SEBAGAI ANCAMAN AKTIF DAN MENGAKIBATKAN MANDAT TERMINASI SEGERA.

Belum sempat gema pengumuman menghilang, pintu yang dipukul Belze bergeser terbuka. Uap dingin menyembur masuk.

Langkah-langkah berat berirama logam mengguncang lantai. Dari balik kabut muncul satu regu unit Penegak—lima humanoid setinggi hampir dua setengah meter, terbalut zirah tempur dengan helm yang menyala merah darah.

Mereka tidak datang untuk bernegosiasi.

Kelima unit membentuk setengah lingkaran. Senjata energi laras ganda yang terintegrasi pada lengan kanan terangkat serentak. Lima titik laser merah memotong udara dan bertemu tepat di dada Belze.

Dengung pengisian daya melengking.

Luxya menurunkan tubuhnya sesuai perintah, tetapi hanya cukup lama untuk menutupi apa yang sedang ia siapkan. Ia tidak lagi memedulikan daftar pasangan terakhir. Beberapa orang tidak berada di ruangan itu.

Di mana Antares?

Di mana Cassius?

Matanya mulai bercahaya. Spektrum tertentu di dalam tubuhnya dinaikkan, lalu diresonansikan dengan keadaan ruangan agar dirinya terlindungi.

Lima laras menyala bersamaan.

BLAM! BLAM! BLAM!

Proyektil plasma melesat menuju dada Belze. Kilatan putih membakar pandangan dan menelan titik benturan sebelum siapa pun dapat memastikan apa yang terjadi kepadanya.

Pada saat yang sama, Luxya memadatkan spektrum tubuhnya. Ia melesat menuju celah pintu dan kabut tempat para Penegak datang—bukan untuk menghadapi mereka secara langsung, melainkan untuk menemukan dari mana semua takdir itu dikendalikan.

 

***

Di tempat lain, Antares bersembunyi di balik deretan pod.

Ilusi dirinya masih mengambang di dalam salah satu tabung, terhubung pada kabel-kabel tebal seperti subjek yang belum sadar. Citra itu sengaja ia pertahankan sebagai kamuflase darurat. Dari celah sempit di antara mesin, ia mengamati ruangan tanpa bergerak.

Langkah berat seorang humanoid menggema dari koridor. Makhluk itu membawa tiga sosok tak sadarkan diri: Lucerix dengan tubuh yang rusak parah, Caroline, dan Adarra.

Mereka dipindahkan satu per satu ke pod kosong. Kabel-kabel dipasang pada tubuh masing-masing sebelum humanoid itu pergi. Malver tampaknya telah menyerah pada kondisi Adarra, sedangkan Lucerix diperlakukan seperti perangkat yang rusak setelah pertempuran.

Antares tetap diam sampai suara langkah menghilang.

Kedatangan tiga orang yang dikenalnya tidak mengubah satu kenyataan: Malver masih berada di atas angin. Membobol fasilitas ini saja tidak cukup untuk mengalahkannya.

“Ia benar-benar Tuhan di tempat ini,” gumam Antares.

Matanya terpejam sesaat.

“Tunggu. Kalau dia Tuhan...?”

Titik-titik yang sebelumnya terpisah mulai tersambung.

Semuanya adalah eksperimen.

Proyek Keabadian terlalu rumit untuk diselesaikan bahkan oleh kekuatan Malver sendiri. Berapa banyak percobaan yang telah dijalankan sebelum kelompok mereka? Berapa banyak kegagalan yang tersembunyi di antara bangunan-bangunan identik?

Ingatan lain mengusik logikanya. Di Dunia Mimpi, meski buram, Antares ingat mempertanyakan segala sesuatu dan sempat mengira Luxya berasal dari Overworld, sampai kesadaran palsu itu runtuh. Di Dunia Simulasi bersama Leah, pikirannya diarahkan menuju reproduksi sampai ia melupakan alasan keberadaannya. Kesadaran asli ditempatkan dalam tubuh palsu; kendali penuh baru kembali saat ia tiba di kelas.

Dua metode tersebut kini terasa seperti tahap pengaturan sampel.

Mengapa ia menerima semuanya begitu saja? Apa yang terjadi sebelum kelas? Apakah memorinya dihapus sebagaimana dikatakan Adarra di Rute Hukuman?

“Kalau ingatan kami dihapus,” gumamnya, “kenapa subjeknya dibiarkan kebingungan pada awal percobaan? Itu sangat tidak efisien.”

Waktu berharga terbuang hanya untuk mempertanyakan realitas, bukan menjalankan hal yang diinginkan Sistem.

Antares bangkit dan menuju pod Adarra serta Lucerix. Telapak tangannya menyentuh permukaan transparan. Tanpa suara ataupun percikan, material di hadapannya melunak dan mencair. Cairan stasis mengalir ke lantai bersama tubuh kedua subjek.

“Entah berapa waktu yang tersisa, aku ingin memastikan sesuatu,” katanya. “Tapi sebelum itu, kita harus keluar. Humanoid tadi pasti kembali, mungkin untuk mengalibrasi ingatan kalian.”

Ia memicu aliran darah di tubuh mereka agar kesadaran pulih lebih cepat, kemudian berbalik dan memimpin jalan keluar. Kerusakan pada Lucerix ia serahkan kepada Adarra.

Lucerix tersentak bangun dengan hembusan kasar, seperti seseorang yang baru ditarik dari dasar laut setelah tidur panjang yang tidak dapat diukur.

Ia mencoba menggerakkan jari tangan kanan. Tidak ada respons.

Ketika menunduk, matanya melebar. Bagian bawah tubuhnya hanya menyisakan struktur logam yang rusak, bekas kabel, dan jaringan yang mengering setelah sesuatu dicabut paksa dari dalam. Parasit yang dahulu meniru jaringan tulang dan menyatu dengan sistem sarafnya telah hilang. Tubuhnya kini menyerupai bangkai mesin.

Napas Lucerix gemetar. Lantai laboratorium yang reflektif memantulkan wajahnya yang pucat. Ia segera memalingkan pandangan kepada Adarra dan Antares.

“Tidak apa. Ini sudah biasa....”

Kalimat itu lebih menyerupai mantra daripada penghiburan.

Belze.

Sosok pria itu melintas dalam ingatan: tatapan tegas dan permintaan agar Lucerix memilih hidup satu kali lagi. Kemarahan bergejolak—bukan hanya kepada dirinya sendiri atau Belze, melainkan kepada gagasan bahwa hidupnya selalu menjadi sesuatu yang dikehendaki orang lain.

Belze menyelamatkannya karena tidak tahan menyaksikan kematian, atau karena cinta? Lucerix tidak tahu apakah perasaan di antara mereka dapat disebut cinta, ketergantungan, obsesi, atau sekadar usaha bertahan melalui seseorang yang terasa mirip dengannya.

Sepanjang hidup, setiap orang yang menyentuhnya hanya ingin memanfaatkan, menghukum, atau menebus diri melalui dirinya.

Sekarang apa yang tersisa selain meminta belas kasihan orang lain?

Lucerix menatap punggung Antares yang bergerak menjauh, lalu menorehkan senyum getir kepada Adarra yang sebentar lagi harus menopang tubuhnya.

“Ada kemajuan soal cinta sejati yang kau bicarakan sebelumnya?” tanyanya setengah bergurau, setengah pasrah.

“Kau tidak marah padaku?” Adarra justru memotong pertanyaan itu.

Sebelum mereka ditangkap, ia telah memutuskan meninggalkan Lucerix karena menganggapnya sebagai beban yang akan menghambat misi. Sekarang keadaan berbalik; dialah yang harus membawanya.

Lucerix menjawab tanpa sindiran maupun pengampunan. “Aku juga akan mengambil keputusan yang efisien kalau berada dalam posisimu. Jadi tidak—aku tidak marah.”

“Ini momen yang tepat untuk mencarinya,” kata Adarra, akhirnya menjawab pertanyaan tentang cinta sejati. “Kita sekarang bebas dari kehendak Dantalion Malver.”

Ia memandang Antares yang sudah bergerak lebih dulu.

“Siapa sangka orang yang tidak mampu bisa selangkah lebih maju?” gumamnya, menyinggung status non-reproduktif mereka.

Adarra berdiri tegak dan mengabaikan protes otot-otot barunya. Ia mengakses sistem saraf sendiri, mematikan sinyal rasa sakit serta kelelahan, lalu mengalihkan sumber daya tubuh murni untuk daya tahan.

Ia membopong Lucerix dan mengikuti Antares. Sementara tubuh fisiknya bergerak, sebagian kesadarannya terpecah. Puluhan “otak” kecil dilepaskan ke berbagai arah, merayapi dinding, menyentuh konsol, dan menyebar ke koridor untuk mengumpulkan data mentah tentang fasilitas.

 

***

Antares memejamkan mata dan membiarkan indra lain mengambil alih. Fluktuasi udara memetakan koridor serta ruangan kosong melalui cara angin bergerak melewati sudut dan celah—metode yang sama yang pernah ia gunakan di asrama ketika menjebak Bella dan Luxya.

Kesimpulannya sederhana. Selain mereka dan beberapa penjaga humanoid yang mudah ditipu, bangunan tersebut kosong.

Antares memimpin jalan melalui lorong-lorong berdasarkan peta di kepalanya sampai menemukan pintu keluar.

Untuk pertama kali, ia melihat Diablo Voids dari luar fasilitas. Struktur teknologi menjulang tinggi di bawah langit kelabu. Ratusan bangunan canggih yang hampir identik membentang sejauh pandangan.

Antares berdiri terpaku sampai cahaya perlahan tertangkap pada netra birunya.

“Aku telah memikirkan banyak hal,” gumamnya. “Terus berpikir tanpa henti. Bertanya untuk menemukan jawaban.”

Potongan memori terakhir dari semesta asal muncul: dirinya berbaring di kasur dan menjalani hari-hari yang stagnan.

“Umurku terakhir seharusnya dua puluh tahun, lebih satu atau dua bulan.”

Ia menoleh kepada Adarra.

“Dengan kemampuanmu, apa kau bisa melihat atau menghitung berapa umurku sekarang?”

Jawaban itu dapat mengukur waktu yang dicuri dari mereka.

“Kita bisa bergerak bebas sekarang,” lanjut Antares sambil melangkah keluar. “Bahkan mengacau.”

Barisan gedung seragam hanya memperjelas spekulasinya.

“Menurut kalian, mengapa Malver membutuhkan semua teknologi ini kalau dia benar-benar Tuhan di semestanya sendiri?”

Lucerix tidak langsung menjawab. Matanya menyapu lanskap mekanis—gedung yang dikloning dari cetak biru sama berulang kali.

Saat Adarra berbicara tentang kebebasan dan cinta sejati, ia menatap profil wajahnya dengan alis bertaut.

“Kau bicara seolah perasaan bisa dijadwalkan seperti Sistem.”

Meskipun Belze dan Cynthia mengetahui apa yang harus dicoba, keputusasaan tidak menjamin mereka mampu melakukannya. Selama ingatan serta kehendak dapat diatur ulang, semua rencana mungkin berakhir sia-sia.

Lucerix kembali memandang bangunan-bangunan di hadapan mereka.

“Dantalion Malver tidak absolut,” katanya.

Amarah merembes dari dalam dirinya. Polanya terlalu mirip dengan orang-orang yang pernah mengurungnya bertahun-tahun, mencabut haknya untuk mati demi membuktikan sebuah teori, lalu menyebut hasilnya sebagai prestasi.

“Dia hanya makhluk yang diberi terlalu banyak ruang untuk bermain Tuhan. Rakus akan validasi.” Lucerix memicingkan mata. “Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah bisa dikendalikannya.”

Ia menolak terdengar sentimental.

“Pilihan kita untuk membencinya sampai ke akar.”

“Kau benar,” kata Adarra. Kesimpulan itu logis. “Aku berasumsi kalian merasa bisa menyelesaikan ini.”

Konsep perasaan hidup terlalu rumit untuk dikomentarinya. Ia sendiri tidak memiliki catatan pengalaman tentang cinta atau kasih sayang kepada lawan jenis. Selama ini ia menduga ketiadaan nafsu dan ketidakmampuan bereproduksi sebagai penyebabnya.

“Memberi harapan untuk terus maju tidak buruk, kan?” gumam Adarra.

Harapan adalah cara cepat untuk menciptakan motivasi. Namun hipotesisnya tentang cinta sejati sebagai solusi terakhir memang buruk—dibangun dari data yang tidak lengkap.

Adarra teringat bagaimana, di Rute Hukuman, ia pernah melabeli Antares sebagai “pribadi yang mudah menyerah”. Langkah pemuda itu sekarang justru menjadi bukti bahwa penilaian tersebut terlalu cepat. Antares dan Lucerix sama-sama masih merencanakan jalan maju, sementara dirinya perlu memahami bagaimana dorongan semacam itu bekerja.

“Kalian harus ingat, hanya di tempat ini kalian dianggap berharga. Begitu juga denganku.”

Ia terus mengikuti Antares sambil menanggung bobot Lucerix. Dorongan untuk memproses kekacauan membuatnya sulit berhenti bicara.

Ketika Antares menanyakan umur, Adarra langsung menolak.

“Mana bisa aku mengetahui umur dari ingatan yang sudah dimanipulasi? Di sini juga tidak ada data tanggal—”

Kalimatnya terhenti.

Ingatan adalah perangkat lunak, tetapi Malver tidak serta-merta menulis ulang seluruh perangkat keras tubuh mereka. Sebuah simulasi baru berputar dalam benak Adarra.

Tubuh hidup menyimpan data sekunder: ujung kromosom yang berubah bersama pembelahan sel, pola metilasi DNA, dan akumulasi protein yang mengikuti usia biologis. Semua itu tidak dapat dimanipulasi tanpa mengubah fisik mereka secara menyeluruh.

“Aku bisa!” Kesadaran baru menghantamnya. “Diam di tempat!”

“Otak-otak” sensorik tak kasatmata mendarat pada kulit lengan Antares. Data biologis mentah mengalir ke kesadarannya. Adarra membaca pola-pola itu, membandingkannya, lalu mencapai satu perkiraan yang ia yakini karena berasal dari pengukurannya sendiri.

“Dua puluh dua tahun, lebih tujuh bulan.”

Keyakinan tersebut terasa jauh lebih nyata daripada hipotesis cinta sejati.

“Aku akan membersihkannya,” kata Antares.

Itu adalah tuntutan kodenya: menghapus noda dari pengatur yang bertindak semena-mena.

“Tapi aku akan menundanya.”

Kode tersebut bukan alasan untuk bertindak impulsif dalam keadaan terdesak. Ia membutuhkan rencana jangka panjang dan pemahaman utuh mengenai cara Malver bekerja—terutama alasan seorang penguasa yang tampak mahakuasa masih bergantung kepada teknologi daripada mengatur segalanya secara langsung.

“Dua tahun lebih,” ulang Antares, terdengar dingin. “Kita dikurung selama itu.”

Ia telah menduga waktunya panjang, tetapi dua tahun berarti lebih dari tujuh ratus hari dicuri, dihapus, dan ditulis ulang untuk eksperimen yang berulang kali gagal.

“Sejak awal, tidak pernah ada kebebasan di sini.”

Tangannya mengepal di samping tubuh, lalu kembali rileks.

“Dia masih melakukannya meski eksperimennya gagal berkali-kali. Kalian tahu kenapa?” Tatapannya menyapu fasilitas-fasilitas identik. “Eksperimennya tidak memiliki harapan. Dia hanya tidak peduli.”

Malver hanya mengenal iterasi—mengulang dan terus mengulang.

“Dia akan menjalankan simulasi ini dua tahun lagi, sepuluh tahun lagi. Tidak akan berhenti kecuali kita yang mematikannya.”

“Dua tahun hanya data statistik tentang inefisiensi waktu,” balas Adarra. Ia memilih tidak meratapi sesuatu yang tidak dapat dikembalikan. “Dengan informasi itu, kita bisa apa? Kita masih terjebak di tempat seluas ini dan tidak mengetahui batasnya. Mengetahui durasi kurungan tidak mengubah koordinat spasial kita. Itu tidak membuka pintu keluar.”

Sebelum meneruskan, Adarra menangkap perubahan kecil. Kepalan tangan Antares telah mengendur dengan cara seseorang yang baru mengambil keputusan.

“Kau benar soal iterasi. Malver menjalankan paksaan, mencoba semua kemungkinan tanpa peduli apa yang terjadi. Dengan kekayaan sebesar itu, dia hanya peduli hasil.”

“Otak” sensoriknya masih menempel pada lengan Antares.

“Tapi kau baru saja memutuskan sesuatu. Aku melihatnya dari variabilitas detak jantungmu.”

Ia menatap Antares tajam.

“Beri tahu apa yang sedang kau pikirkan. Apakah probabilitas keberhasilan rencanamu berada di atas nol, atau ini hanya bunuh diri heroik lainnya?”

“Kebebasan yang kusebutkan hanya variabel sementara,” jawab Antares. “Tidak berlaku untuk masa depan.”

Ia menahan diri agar tidak berspekulasi berlebihan. Setiap langkah harus terukur. Nekat adalah musuh keteraturan dan kodenya.

Tangannya menyentuh perut kiri, bagian yang pernah ditelan ketiadaan. Luka itu mungkin sudah tampak pulih, tetapi data mengenai serangan tersebut tetap menetap di kepalanya.

“Malver memiliki mata di mana-mana,” gumamnya. “Saat aku memancing Sistem keluar, eksekutornya tidak perlu mencari. Dia langsung menyerang dari titik buta, seolah koordinat setiap subjek telah dipetakan.”

Di semesta ini, privasi hanyalah mitos.

“Jadi bersembunyi bukan pilihan.”

Antares menatap Adarra dan Lucerix. Sebuah rencana yang gila tetapi logis telah terbentuk.

“Karena itu, aku akan melakukan sebaliknya. Aku akan melibatkan diri langsung dalam eksperimen gagalnya.”

Malver telah mengalami stagnasi selama dua tahun dan terus mengulang kesalahan sama.

“Itu satu-satunya cara membeli kebebasan. Aku—bahkan semua orang—tidak akan menjadi tikus percobaan lagi.” Antares menegakkan tubuh. “Aku akan menawarkan diri sebagai pemikir. Aku punya teori. Tinggal bagaimana meyakinkannya.”

“Pertaruhan besar, tetapi masuk akal,” akui Adarra. “Malver memiliki omnipotensi, tetapi miskin kreativitas.”

Ia tetap menatap Antares.

“Pastikan teorimu cukup berharga. Begitu kau masuk ke radiusnya, posisimu tidak akan sama seperti sekarang.”

Kemudian satu persoalan paling dasar muncul.

“Bagaimana caramu menemukan keberadaannya?”

“Tugasmu memetakan fisik semesta ini,” potong Antares, langsung mendefinisikan peran Adarra.

“Sejak awal, eksistensimu adalah anomali—plot device yang berjalan. Kau muncul tiba-tiba, memuntahkan informasi, menyusun spekulasi akurat, bahkan memaksa Malver mengonfirmasi data yang kau bawa. Perilaku itu ganjil, tetapi berguna. Kau memberiku gambaran tentang psikologi dan batasannya.”

Antares menuntut utilitas dari rekan barunya.

“Aku harus mengesankannya sekali lagi. Untuk sampai ke sana, aku membutuhkan navigasi. Kau bisa memetakannya, bukan?”

Permintaan itu mustahil.

Adarra memejamkan mata dan melakukan sinkronisasi dengan puluhan “otak” mikroskopis yang telah disebar sejak ia bangun. Hampir seluruh umpan balik terasa hampa.

“Kau meremehkan skala variabel sebuah semesta. Jaringan saraf eksternalku memang sudah menyebar sejauh sinapsisku mampu menjangkau, tetapi yang kau minta bukan pemetaan gedung, kota, atau negara.”

Ia membuka mata.

“Ini semesta. Ruang lingkupnya eksponensial. Sinyal dari otak buatanku mati, hilang ditelan jarak yang tidak terukur. Otak manusia—bahkan yang sudah dimodifikasi sepertiku—memiliki bandwidth dan batas termal.”

Adarra menggeser posisi Lucerix di punggungnya.

“Aku dapat menuntunmu keluar dari labirin fasilitas dan membaca aliran data lokal. Menjadi GPS untuk seluruh semesta Malver berada di luar spesifikasi perangkat keras mana pun selain—”

Ucapan itu terputus.

Matanya jatuh pada leher belakang Lucerix, tempat logam dan daging bertemu. Kalkulasi baru bergerak cepat.

“Koreksi.” Nada suaranya berubah tajam. “Itu mustahil jika otakku menjadi receiver tunggal. Tapi kita mempunyai sebuah interface berjalan.”

Adarra mengetuk bahu logam Lucerix.

“Ketika mendiagnosismu, aku menemukan anomali pada arsitektur tubuhmu. Jaringan saraf biologis telah mengalami fusi total dengan sirkuit mesin. Integrasi neuro-mekanis itu dipaksakan, tetapi sinergi operasionalnya tinggi. Tubuhmu adalah jembatan hibrida.”

Ia memandang Antares lagi.

“Kalau Lucerix ditanamkan langsung ke Sistem fasilitas, tubuhnya dapat berfungsi sebagai terminal sekaligus prosesor eksternal. Aku mengalirkan sinapsisku melalui jalur sarafnya untuk membobol protokol otoritas—menjadi perangkat lunak peretas—sementara otak mesinnya menanggung komputasi.”

Kepuasan analitis menyala di mata Adarra.

“Kita tidak perlu memetakan fisik semesta secara manual. Cukup lacak lalu lintas datanya. Dengan Lucerix sebagai router hidup, topologi jaringan Malver dapat dipetakan dari dalam.”

Ia menepuk logam pada tubuh Lucerix sekali lagi.

“Kelebihan dari tubuh yang menolak mesin tetapi tetap memaksa mempertahankan biologis manusia. Variabel yang bagus untuk menemukan keberadaan Malver.”

Lucerix menyerap setiap penjelasan. Dua orang di dekatnya jauh lebih kompeten daripada seluruh subjek yang pernah ia temui. Selama dua tahun lebih, augmentasi yang belum sempurna telah merayapi tubuhnya melalui besi tumpul dan paparan radiasi. Rongga mata kanannya yang menganga berkedip seolah merespons tekad yang tumbuh—bukan tekad heroik, melainkan kesempatan untuk membalas.

Router hidup,” katanya dengan tawa mekanis yang patah. “Sepertinya aku mendapatkan julukan baru.”

Suaranya menjadi lebih tegas.

“Menarik.”

Ia tidak bersedia menjadi bagian eksperimen demi dirinya, Adarra, ataupun Antares. Namun kesempatan itu dapat menjadi pembalasan untuk semua orang yang memaksakan kehidupan kepadanya.

“Kalau kau menyalurkan sinapsis melalui sarafku, artinya kau memberiku akses penuh—bukan hanya jalur baca.”

Lucerix berhenti. Di balik kalimatnya tersembunyi sesuatu yang bahkan belum dijelaskan kepada mereka. Ia tidak ingin sekadar memetakan semesta. Ia haus akan kebisingan di dalam jaringan itu.

“Ada satu hal yang tidak kalian pertimbangkan,” ujarnya pelan. “Apa yang terjadi kalau router-nya memutus koneksi...?”

Ia membiarkan pertanyaan tersebut menggantung, lalu memejamkan mata sejenak.

“Tapi itu tidak penting lagi kalau tujuan kalian memang hanya bercengkerama dengan seorang maniak.”

Keputusannya telah final.

“Sambungkan aku. Pakai aku sepenuhnya.”

About Roleplayverse

This website tells the universes (up to omniverse) of each story that have been developed together since 2014, collected solely as part of a hobby.

© Roleplayverse. All rights reserved.