Diablo Voids
Chapter 7

Don't Know How to Dance

9,362 words · ~43 min read

Tiga puluh hari setelah pembentukan tim, Sistem kembali mempertemukan para subjek di beberapa aula pesta. Pakaian formal telah disediakan untuk mereka. Meja-meja dipenuhi makanan dan minuman yang jauh lebih beragam daripada suplai harian di asrama ataupun apa pun yang tersedia di jalur hukuman.

Pada layar di setiap aula, dua hak istimewa ditampilkan: TRUTH dan TRUST. Melalui TRUTH, seseorang dapat mengajukan satu pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. TRUST hanya berlaku apabila diterima oleh pihak yang dituju; setelah itu, keduanya akan dibawa menuju ruang VIP dengan privasi penuh, sehingga percakapan mereka tidak dapat dilihat ataupun didengar dari luar.

Tidak ada penjelasan mengenai apa yang sebenarnya diinginkan Sistem dari pesta tersebut.

 

* * *

“Rame bangeet!”

Zion menjejakkan kakinya di aula dengan sepatu mengilap. Jas mahal membalut tubuhnya dengan presisi, membuatnya tampak lebih berkelas dan dewasa daripada biasanya. Matanya menilai kerumunan—beberapa wajah dikenalnya, sedangkan sebagian besar masih asing.

Yang paling penting, ia tidak datang sendirian.

Di sampingnya menjulang Xandara. Kehadiran gadis raksasa itu membuat wajah Zion lebih berseri, seolah seluruh penderitaan selama terpisah di ruangan misterius telah terbayar. Ia sudah terlalu nyaman dengan keadaan sekarang.

Zion melangkah ringan menuju bar di sisi aula. Alisnya terangkat ketika mendapati tidak ada bartender ataupun pelayan di sana. Tanpa banyak berpikir, ia melompat ke balik meja bak maling yang telah hafal medan. Beberapa botol berleher panjang diraihnya. Salah satunya ia kocok terlalu kuat sampai tutupnya terlempar dan cairan berbusa menyembur, membasahi jasnya sendiri serta pakaian beberapa orang di dekat bar.

“Sorry, sorry!”

Bocah kurang ajar itu justru tertawa sambil memukul-mukul meja. Bahkan dengan penampilan barunya, ia tetap bukan tipe orang yang mampu duduk manis sambil menyesap minuman secara elegan.

Setelah tawanya mereda, Zion menuangkan racikan mencurigakan itu ke gelas terbesar yang dapat ditemukannya, lalu menggesernya ke arah Xandara.

“Satu house special buat nona raksasa kesayanganku. Cepat cobain.”

Ia menopang dagu dengan gaya sok, tetapi tatapannya jauh lebih tulus daripada ketika dorongan seksual menguasainya. Karena itulah Xandara memiliki tempat tersendiri dalam pikiran dan hatinya.

“Entah sudah berapa banyak pria yang sekamar denganmu, tapi pasti karena belum ada yang seganteng aku ini jadi kau menolak mereka, kan?”

Zion menyisir rambutnya dengan jemari, menegaskan bahwa dirinya merupakan pria paling memesona di aula. Namun, sesungguhnya ia penasaran apakah perempuan bermuka datar seperti Xandara pernah tergoda oleh nafsu. Tidak seperti dirinya. Dua perempuan telah tidur dengannya selama rangkaian percobaan itu.

Lalu terlintas pertanyaan lain yang membuat Zion menggelengkan kepala: memangnya ada makhluk yang cukup besar untuk melakukannya dengan Xandara?

“Aku masih nggak terlalu paham aturan mainnya.” Ia kembali memandangi layar di sudut aula, kemudian berkacak pinggang dengan dahi berkerut. “Kalau aku melontarkan berbagai pertanyaan padamu, apa itu termasuk TRUTH dan artinya aku curang?”

Kaki jenjang Xandara melampaui tinggi rata-rata orang dewasa ketika ia memasuki aula. Sosok yang biasanya mengenakan pakaian pertapa itu kini tampil dalam gaun pendek berwarna hitam. Ia tidak memedulikan penampilan, tetapi sesuatu seolah bersikeras menyatakan bahwa gaun tersebut miliknya dan harus dipakai pada kesempatan ini.

Lampu serta kilau gelas terasa menyilaukan secara berlebihan. Di tengah kerumunan manusia yang tingginya hanya sekitar sepertiga tubuhnya, keberadaan Xandara semakin mencolok. Zion—yang semula ia sangka sekadar bayangan dari Dunia Mimpi—kini berjalan di sisinya. Dari ingatan yang mulai pudar, wujud pria itu terasa nyata.

Seperti biasa, Xandara hanya mengamati tingkahnya yang sembrono. Ia tidak memahami mengapa Zion dapat begitu cepat terbiasa dengannya, terlebih dalam pertemuan nyata pertama mereka.

Gelas besar yang disodorkan Zion tampak tidak lebih daripada secangkir kecil di tangannya. Xandara menangkapnya dengan mudah dan mengangkatnya perlahan. Ia tidak langsung meneguk, melainkan mengamati gelembung-gelembung halus pada permukaan cairan asing tersebut.

“Penampilan tidak berarti untukku,” jawabnya tenang, tidak termakan oleh celotehan Zion yang membanggakan diri. “Aku hanya mengikuti ke mana dunia ini membawaku.”

Ketika Zion mengungkit aturan permainan, Xandara langsung memahami maksudnya.

“Hanya satu kebenaran yang dikehendaki,” ucapnya. “Selebihnya kembali pada penilaianmu sendiri.”

Xandara akhirnya meneguk cairan berbusa itu. Letupan tipis menyentuh lidahnya, meninggalkan rasa asam getir yang tidak menyenangkan.

“Air ini seperti dapat memecah jiwa seseorang,” komentarnya tanpa perubahan ekspresi.

Tidak jauh dari mereka, Sonata memasuki aula setelah terbebas dari hukuman.

Setelah semua itu, mereka sekarang ditempatkan untuk berpesta? Hanya sekadar basa-basi?

Sonata bukan tipe orang yang bersosialisasi tanpa kebutuhan. Bukan berarti ia membenci pesta; ia hanya tidak suka harus bertemu terlalu banyak orang. Karena aturan busana hanya menyebutkan pakaian formal dan tidak mewajibkan perempuan mengenakan gaun, ia memilih kemeja hitam, celana panjang yang membungkus kaki jenjangnya, sepatu hak tinggi, dan jaket bulu untuk memberikan kesan bahwa ia setidaknya berniat menghadiri acara tersebut.

“Ugh.”

Ia mengernyit ketika melihat sosok yang tidak asing di sisi lain bar. Dengan segera Sonata membuang muka dan meneguk minumannya, berpura-pura tidak melihat Zion.

Antares datang beberapa saat kemudian. Ia merapikan dasinya sekali lagi—detail kecil yang terus mengusiknya—sebelum berjalan masuk. Musik mengalun pelan, sementara karpet merah menyamarkan langkah sepatunya. Setelan hitam yang telah disediakan melekat pas pada tubuhnya.

Ia memilih berdiri di sisi ruangan dengan punggung bersandar pada pilar. Netra birunya memindai kerumunan. Bagi orang lain, itu mungkin hanya kebiasaan biasa; bagi Antares, pengamatan seperti itu merupakan cara bertahan hidup.

Pandangan pertamanya jatuh pada Xandara. Sulit mengabaikan sosok raksasa tersebut. Melihatnya kembali setelah tiga puluh hari terasa ganjil, mengingatkan Antares pada drama pembentukan tim yang sengaja ia tinggalkan.

Aula itu bersih dan teratur, sangat berbeda dari karat serta polusi Distrik 303—Endless Labyrinth. Ironisnya, kedua tempat itu sama-sama berada di bawah kendali pihak lain. Antares tidak dibiarkan bebas ataupun benar-benar merasakan kenyataan.

Ia mengambil segelas air mineral. Dingin pada permukaan gelas menandakan bahwa ia sedang berada di dunia nyata, tetapi sensasi itu tidak mengubah apa yang telah dipelajarinya.

Hukumanku bisa dicabut hanya dengan kekayaan?

Pertanyaan itu kembali bergema di benaknya. Adarra mengatakan bahwa Malver telah “membeli” takdirnya. Para Heavyworlder membuangnya kembali ke Bumi dan menghapusnya dari sejarah. Antares mencoba meraih ingatan mengenai pelanggaran keluarganya serta saat dirinya dibuang, tetapi hanya menemukan kabut—data yang telah rusak.

Selama ini, ia menerima nasib sebagai hukuman sekaligus akhir dari sebuah cerita. Ia menjalani hukuman tersebut dengan kodenya sendiri, dalam keadaan yang statis. Kini takdir itu dikatakan telah dibeli oleh Malver, dan dirinya hanya menjadi subjek yang sedang dianalisis. Sekalipun keterangan Adarra masih berupa spekulasi, Antares tidak dapat mengabaikannya.

Matanya kembali menjelajahi ruangan dan menemukan Sonata, rekannya yang mampu berpikir cepat di bawah tekanan. Sebagai subjek yang telah menyadari permainan Sistem, ia tidak dapat bergerak sendirian. Apabila mereka kembali dipaksa berinteraksi melalui TRUTH ataupun TRUST, Antares membutuhkan orang yang efisien. Sonata merupakan pilihan paling logis.

Ia meletakkan gelas yang masih penuh pada meja yang dilewatinya, lalu berhenti tepat di sisi Sonata.

“Sedang menghindari seseorang?”

Sonata sedikit terperanjat. Tinju refleksnya hampir melayang kepada orang yang menghampiri dari belakang, tetapi ia menahan diri setelah mengenali Antares.

“...Tidak.”

Jelas-jelas bohong. Sonata langsung menghabiskan minumannya dalam sekali teguk.

“Kau masih memikirkan ocehan orang itu?” Ia mendelik. “Meski jujur saja, aku juga tidak berhenti memikirkannya.”

Di belakang mereka, Zion mendengus mendengar jawaban filosofis Xandara.

“Kalau jawab jangan singkat-singkat begitu. Kalau penampilan nggak penting, berarti kau bahkan mau tidur sama orang yang mukanya jelek kayak babi?” tuduhnya setengah bercanda, sengaja menggali reaksi lain dari wajah datar Xandara.

Bahkan setelah perempuan itu mencicipi racikannya, hasilnya nihil. Zion menyunggingkan senyum miring—bukan senyum canggung seorang pemuda yang bingung mengendalikan keadaan seperti dahulu, melainkan senyum yang kini lebih percaya diri dan sedikit menyebalkan. Barangkali hanya Xandara yang menyadari perubahan itu.

“Masa nggak seenak itu?”

Zion mengambil gelas dari tangan Xandara. Jemarinya sengaja menyerempet jari Xandara yang jauh lebih besar. Ia kemudian menempelkan bibir pada sisi gelas yang sama dengan tempat Xandara menyesapnya, sebuah ciuman yang diperantarai benda bisu. Tatapannya tidak beralih dari mata sang gadis raksasa.

Begitu cairan tersebut masuk ke mulut, Zion langsung bergidik. Dahinya berkerut dan lidahnya terjulur seolah baru tersengat.

“Oke, ini memang buruk. Jangan diminum.”

Ia meletakkan gelas sambil tertawa ringan. Atensinya lalu tertangkap oleh perempuan berambut putih yang segera memalingkan wajah saat pandangan mereka bertemu.

Tidak salah lagi.

Mata Zion melebar. Dalam kegugupan, ia menjatuhkan diri dan bersembunyi di bawah meja bar. Jantungnya menggedor dada. Memori serta sensasi yang terlalu nyata dari Dunia Simulasi merasuk tanpa izin, membuat pikirannya gaduh seperti seseorang yang baru tertangkap berselingkuh.

Logika kemudian menamparnya.

Untuk apa aku bersembunyi? Pacaran saja nggak.

Zion kembali berdiri sambil berdeham. Ia menarik napas panjang dan melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Gelagatnya sudah cukup menunjukkan bahwa ia dan Sonata memiliki sejarah. Ia sempat berniat mendekati perempuan itu sebelum pria lain mengambil kesempatan, tetapi kemudian melihat Antares telah berada di sana.

Zion memutar bola mata dengan malas. Jiwa kompetitifnya kambuh; rasa kepemilikannya semakin serakah. Ia memusatkan perhatian kembali kepada Xandara.

“Aku cuma merasa melihat sekilas kenalanku di sana,” kilahnya sambil merapikan pakaian yang basah akibat alkohol. Setelah berpikir sejenak, ia bersandar pada rak botol dan menyilangkan tangan di depan dada. “Kalau sudah paham aturan mainnya, mau mencobanya langsung denganku? Ladies first, of course.

Sonata menangkap bagaimana Zion sempat bersembunyi, lalu gelagapan ketika menatapnya. Ia mengernyit.

Sial. Kenapa juga harus bertemu orang itu?

Setidaknya Zion tampak sibuk dengan perempuan raksasa di dekatnya. Sonata pun dapat berpura-pura sibuk bersama pria bersurai biru di sisinya.

“Sepertinya ada pasangan yang sedang kasmaran. Lebih baik kita menjauh.”

Ia mengambil gelas lain dan menarik Antares beberapa langkah dari bar. Itu hanya alasan, tentu saja, tetapi Antares tidak perlu mengetahuinya.

Xandara tidak menjawab tuduhan Zion. Lebih tepatnya, ia tidak memahami mengapa pria itu memusingkan perkara wajah dan penampilan. Menatap seseorang baginya tidak berbeda dari menatap batang kayu ataupun binatang liar. Ia tidak memberi label apa pun kecuali jika memang ada sesuatu yang mencolok.

Hal yang mencolok dari Zion justru perubahan ekspresinya. Bibirnya sempat merengut, kemudian tersenyum hanya karena Xandara meneguk minuman buatannya. Wajahnya berubah kacau saat mencicipi racikan sendiri, sebelum ia tertawa bebas seolah tidak terjadi apa-apa. Reaksi berikutnya selalu sulit diperkirakan. Semua itu bahkan dapat Xandara amati tanpa menyentuhnya.

Namun, tiba-tiba Zion bersembunyi seolah hendak luput dari sesuatu. Pada saat bersamaan, dari ketinggian tubuhnya yang memungkinkan ia melihat seluruh aula, Xandara menyadari sepasang mata lain memandang lurus kepadanya.

“Oh? Kebetulan sekali,” tanggapnya ketika Zion memberikan alasan.

Xandara tidak menyangkal ataupun bertanya lebih jauh. Ia juga menemukan seseorang yang dikenalnya. Matanya bersilangan dengan Antares sebelum pria itu mendekati Sonata.

“Entahlah,” jawab Xandara tenang kepada Zion. “Untuk sekarang... masih belum.”

Jemarinya menjepit dagu seolah menimbang. Di tengah kumpulan orang asing yang berbeda darinya, kejujuran dapat menjadi alat tukar yang berharga.

“Tetapi, di antara semua orang...”

Telunjuknya bergerak menuju permukaan bar yang basah oleh tumpahan alkohol. Seakan patuh kepada perintahnya, genangan itu terangkat, kehilangan bobot, kemudian menguap tanpa jejak dan hanya menyisakan aroma samar.

“Apa itu artinya kau membutuhkan jawabanku sebagai pertukaran yang setara?”

Antares membiarkan dirinya ditarik Sonata, tetapi tatapannya tetap tertuju pada sumber kegelisahan perempuan tersebut. Ia kembali melihat Xandara berdiri di sisi pria dengan gestur posesif. Interaksi itu segera ia abaikan setelah menangkap detail yang lebih penting: genangan alkohol lenyap tanpa sentuhan, sebuah pertunjukan kendali atas kekuatan yang sangat besar.

“Potensi yang sia-sia,” gumam Antares, mengulang istilah yang pernah digunakan Adarra.

Ia berhenti melangkah.

“Mereka tidak sedang kasmaran. Perempuan raksasa itu tidak punya opsi untuk merasakan hal seperti itu,” katanya kepada Sonata. Ia memahami bahwa Sonata hanya mencari alasan. “Kalau kamu merasa tidak nyaman, sebaiknya kamu menjauh.”

Antares berbalik dan kembali menuju Zion serta Xandara. Ia harus membuktikan spekulasi yang diperolehnya di Distrik 303. Langkahnya berhenti beberapa meter dari Xandara. Sebuah pilar air terbentuk di bawah kaki Antares dan mengangkatnya sampai tatapan mereka berada pada ketinggian yang sama.

Ia tidak menyapa. Wajahnya bahkan tidak menggambarkan apa pun.

Xandara mungkin bagian dari drama sebelumnya, tetapi bukan pelaku utamanya. Gadis raksasa itu menempuh rute reward dan memiliki data mengenai sisi lain eksperimen. Antares harus mengetahui apakah Sistem memberikan instruksi baru kepadanya.

“Apa kau mau tahu... alasan kenapa kau berada di tempat ini?” tanyanya. Nadanya menawarkan pertukaran setara, bukan sekadar percakapan biasa. “Aku memberimu TRUST.”

“Hah? Kalian ternyata saling kenal? Bilang dong dari tadi.”

Zion tersenyum kesal. Ia melirik Sonata seolah menuduh bahwa semua ini merupakan skenario untuk membalas dendam kepadanya. Sebelum ia sempat menjawab pertanyaan Xandara, satu kata dari Antares membuat darahnya mendidih.

TRUST.

Tanpa aba-aba, telapak tangan Zion melepaskan kilatan listrik. Sambaran itu menghantam lampu gantung dan menjatuhkannya ke lantai. Serpihan kaca berhamburan. Serangan sengaja meleset dari wajah Antares—hanya provokasi untuk memperlihatkan siapa yang lebih dominan antara air dan petir.

“Aku sudah lama menunggu momen yang tepat untuk melakukan ini. Kau tahu itu?”

Suara Zion turun beberapa oktaf, dibalut tawa mengejek. Matanya berkilat berbahaya dan taringnya terlihat. Ada hal yang membedakan seorang dhampir dari hama vampir: ia memiliki akal. Meski demikian, Zion tidak dapat sepenuhnya menolak insting haus darah.

Ia memahami tawaran Antares dan egonya menolak menerimanya begitu saja. Dunia ini telah memberikan kesempatan, fasilitas, serta kenyamanan yang belum pernah dirasakannya. Mengapa ia harus mendengar alasan Antares? Mengapa harus mempertaruhkan semua yang diimpikannya demi sebuah kebenaran yang mungkin merenggutnya kembali dan melemparkannya ke dunia asal yang tidak menganggapnya penting?

Karena Zion tahu, dirinya pun akan goyah apabila mengetahui kebenaran itu.

“Masih soal informasi kemarin, ya...” gumam Sonata. “Jadi, apa yang mau kau lakukan dengan itu?”

Ia memperhatikan Antares menawarkan TRUST dengan begitu mudah. Entah pria itu benar-benar memercayai Xandara atau hanya menginginkan jawaban. Barangkali Sonata juga harus melakukan hal serupa.

Matanya membulat saat kilat menyambar. Gelas di tangannya jatuh dan pecah ketika ia segera menarik Antares menjauh. Serangan Zion nyaris mengenai mereka, meski jelas sengaja diarahkan meleset.

“Dia tidak menawarkan apa pun kepadamu. Apa hakmu marah-marah?” Sonata mengernyit. Dilihat tanpa pengaruh apa pun, Zion memang tetap aneh.

Paras tenang Xandara akhirnya berubah menjadi sorotan tajam. Tawaran Antares memuat sesuatu yang sulit diabaikan.

“Kejujuran sebagai alat tukar,” ucapnya berat. “Dan kau menghendaki sesuatu dariku sebagai harga yang setimpal?”

Alasan dirinya berada di tempat ini. Itulah jawaban yang ditawarkan Antares. Sejak kehilangan satu-satunya hubungan dengan The Origin, Xandara hidup tanpa arah. Serpihan masa lalu terkadang menyeruak: dirinya sebagai pemuja setia dengan satu-satunya tugas dalam hidup, lalu ditinggalkan tanpa penjelasan.

Suara pecahan kaca menggema. Lampu gantung yang dijatuhkan Zion remuk di lantai dan pencahayaan aula meredup. Meski tidak seorang pun terluka, ledakan itu mencuri perhatian seluruh ruangan. Xandara tetap tidak bereaksi, seolah telah membaca bahwa serangan tersebut hanya gertakan. Namun, untuk pertama kalinya, ia melihat wajah Zion benar-benar diliputi murka.

Xandara mengulurkan tangan. Telunjuknya yang besar dan lentik menyentuh dahi Zion, lalu bergerak pelan menyibakkan rambut ungunya agar raut wajah pria itu terlihat jelas. Tiga puluh hari bersama Ken dan Luxya telah membuatnya lebih terbiasa dengan sentuhan.

“Untuk sekarang, pertanyaanku masih belum,” katanya, melengkapi jawaban yang tertunda. “Jadi, setelah aku kembali, aku akan mendengarkan pertanyaanmu.”

Ia mengayunkan tangan. Serpihan lampu gantung terangkat dari lantai dan berkumpul di atas telapak tangannya seolah gravitasi berpusat di sana. Dengan satu genggaman, kepingan-kepingan tersebut berputar rapat lalu memadat menjadi gumpalan kecil.

Perhatian Xandara kembali kepada Antares.

“Aku menerima TRUST.”

Cahaya menutup tubuh keduanya. Dalam satu kedipan, Antares dan Xandara lenyap dari aula menuju ruang VIP. Privasi aktif pada saat yang sama; apa pun yang terjadi di antara mereka tidak lagi dapat dilihat ataupun didengar dari luar.

Zion terpaku ketika jemari Xandara menyibakkan rambutnya. Perlakuan yang nyaris keibuan itu sempat meredakan amarahnya, walau juga membuatnya merasa diperlakukan seperti anak kecil.

Lalu Xandara menghilang bersama Antares.

Napas Zion kembali memburu. Ia meraih sebuah kursi dan melemparkannya ke rak botol. Kaca pecah, cairan berbusa menyembur dan mengalir ke lantai.

“BRENGSEK!”

Raungannya serak oleh frustrasi. Belum puas, Zion membanting gelas bekas minum Xandara lalu menginjak pecahannya. Jemarinya mengacak rambut sendiri. Ia memang telah menduga hal seperti ini akan terjadi—seseorang datang, meninggalkan kesan, lalu pergi—tetapi tidak pernah dibuat semarah sekarang.

Ketika Zion mulai merasa ada seseorang yang benar-benar memperhatikannya, ketika ia merasa memiliki tempat untuk berpaling, semuanya direbut begitu saja. Ia membenci ketidaktetapan tersebut. Sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih rumit daripada ketertarikan: obsesi untuk memiliki. Luka lama merembes keluar, menyamarkan bentuk aslinya di balik teriakan dan tawa sinis.

Cukup lama ia berdiri kaku, ditemani jeritan para tamu, detak jam, dan tetesan alkohol dari rak yang pecah. Setelah menghela napas kasar dan menutupi wajah dengan telapak tangan, Zion mendadak menerjang Sonata. Kedua tangannya mencengkeram pundak perempuan itu dan mendorongnya sampai punggungnya membentur bar.

“Aku akan memberimu TRUTH,” desisnya sambil mengguncang tubuh Sonata. “Apa maksud dari semua ini? Apa yang si brengsek itu tahu sedangkan aku tidak? Kenapa harus Xandara? Apa hubungan mereka? KATAKAN PADAKU!”

Ia mungkin telah melanggar ketentuan dengan melemparkan pertanyaan bertubi-tubi. Dalam pikirannya yang kacau, Zion tidak peduli.

Sonata sempat mengerjap ketika Antares dan Xandara menghilang.

Tunggu. Aku ditinggalin?!

Sialan.

Kalau dipikir-pikir, ia sendiri juga memanfaatkan Antares untuk terbebas dari hukuman. Anggap saja ini karma.

Ia berniat mengabaikan Zion dan pergi, tetapi pria itu terlanjur menarik pundaknya serta memaksakan TRUTH. Refleks Sonata bekerja lebih cepat daripada pikirannya. Tinju menghantam wajah Zion tanpa ampun.

“Tenangkan dulu kepala bodohmu itu, orang gila!” bentaknya, lalu mengembuskan napas. “Akan kujawab TRUTH-mu. Apa hubungan mereka? MANA AKU TAHU.”

Sonata mengernyit.

“Tapi soal apa yang dia tahu dan kalian tidak tahu... itu sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka yang dihukum saat itu.”

Zion terhuyung dan menabrak kursi hingga bergeser. Tatapan bengisnya kembali tertancap kepada Sonata. Kedua tangannya mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Dorongan untuk membalas dengan tinju menguasai tubuhnya, tetapi jawaban Sonata menahan langkahnya.

Sonata pasti mengetahui apa yang terjadi pada mereka yang dihukum. Antares lebih dahulu mendekatinya, dan perempuan itu langsung berdiri melindungi pria tersebut saat Zion menyerang. Apa yang begitu istimewa dari bajingan itu sampai merebut perhatian dua perempuan yang pernah bersamanya?

Zion mengertakkan gigi. Ia tidak sudi mengemis informasi yang mereka miliki.

Ia tahu Xandara ingin pulang. Dunia ini memang bukan tempat yang pantas untuk ditinggali. Cepat atau lambat mereka akan kembali dipisahkan, ditempatkan bersama orang asing, dan terus dipermainkan. Lalu apa bedanya dengan keadaan sekarang? Zion mulai meragukan dirinya sendiri. Apakah kehidupan seperti ini benar-benar yang diinginkannya?

Dengan berat hati, ia mundur dan duduk dua kursi dari Sonata. Bahunya bersandar pada bar. Ia mengusap pipi yang mulai membiru. Rasa menyengat menjalar sampai kepala, tetapi masih kalah dari kehampaan yang mencengkeram dada.

“Sial, lumayan sakit juga,” gumamnya serak, disusul tawa yang terdengar dipaksakan.

Kedua lengan Zion menopang tubuhnya pada meja. Kepalanya mendongak ke langit-langit seolah mencari jawaban. Setelah lama diam, ia mengembuskan napas.

“Dipikir lagi, aku bahkan nggak tahu namamu sampai detik ini. Lucu, ya.”

Sonata mengernyit. Mengapa pria itu kembali bertingkah? Sebegitunya hanya karena perempuan yang disukainya dibawa orang lain? Bukankah mereka semua memang dipindah-pindahkan sejak awal?

Bodoh amat.

Sonata berbalik hendak pergi, tetapi suara Zion membuatnya berhenti.

“Kuanggap itu pujian,” ujarnya santai. Ia melirik dan kembali menghela napas. “Itu bukan lucu namanya. Itu creepy. Lalu? Mau kenalan sekarang? Orang macam apa yang baru berkenalan setelah seenaknya memperkosa orang lain, hm?”

Menurut Sonata, kata itu agak berlebihan karena semuanya berlangsung di dalam simulasi. Ia tidak kehilangan apa pun dan seharusnya tidak menanggung konsekuensi setelahnya. Namun, itu tidak membuat cara Zion bertindak menjadi lebih masuk akal.

Pintu ruang VIP menutup tanpa suara di belakang Antares dan Xandara. Kebisingan aula hilang, digantikan keheningan.

Pencahayaan keemasan datang dari sumber-sumber tersembunyi. Udara membawa aroma kayu cendana dan sesuatu yang manis—kombinasi yang, menurut penilaian Antares, sengaja dirancang untuk menenangkan sistem saraf. Sofa merah tampak terlalu empuk dan diletakkan terlalu berdekatan. Ruangan itu bukan sekadar tempat bercakap, melainkan laboratorium psikologis yang mengurangi jarak personal, menurunkan kewaspadaan, dan memancing respons biologis.

Orang yang berada di sana dipaksa merasa nyaman.

Antares terakhir kali mengenali sensasi serupa di Dunia Simulasi.

Ia duduk di salah satu sofa. Kenyamanan ruangan mulai menaikkan hormon dalam tubuhnya, tetapi ia mengabaikannya dan mempertahankan kewaspadaan.

“Apa yang terjadi?” Antares langsung memulai. Tatapannya terfokus kepada Xandara. “Bagaimana bisa seorang gadis raksasa memicu insting protektif yang sama dari dua pria?”

Ia sedang membicarakan Ken dan Zion, tetapi segera memotong sendiri arah personal percakapan itu. Tidak relevan.

“Kamu menghabiskan tiga puluh hari di rute reward,” lanjutnya. “Aku berada satu hari di tempat entah berantah dan nyaris mati. Kita memiliki sudut pandang yang berbeda. Aku harus tahu apa yang terjadi padamu. Apa reward yang kalian terima? Apakah ada instruksi spesifik—secara eksplisit ataupun implisit—yang meminta kalian melakukan hubungan badan?”

“Apakah ini berkaitan dengan ‘alasan’ yang kau maksud?” tanya Xandara.

Ia tidak menunggu jawaban. Alih-alih duduk, Xandara mengurangi massa tubuhnya sendiri dan membiarkan tubuh jangkung itu melayang ringan. Atmosfer ruang privat tidak memancingnya. Ia terbiasa mempertahankan kestabilan jiwa tanpa bantuan semacam itu, dan ia tidak datang untuk kenyamanan.

“Bagaikan siklus yang tak berkesudahan...” Xandara mengawali, sekaligus merujuk pada atmosfer ruangan yang mencerminkan pengalaman sebelumnya. “Kau pun merasakannya sekarang, bukan? Perasaan yang lebih nyata dan lebih kuat daripada di Dunia Simulasi.”

Ia terdiam sesaat, menelusuri tiga puluh hari yang masih diingatnya dengan jelas.

“Itu... baru permulaannya.”

Xandara menjelaskan segala sesuatu yang terjadi di ruang reward: instruksi mengenai persetujuan sebelum kontak fisik, peningkatan stimulus secara bertahap, cara Luxya menginisiasi mereka bertiga, serta kulit dan indera mereka yang semakin sensitif pada setiap tahap. Sedikit demi sedikit, tubuh mereka ditundukkan dan kendali dikikis sampai mereka terlena serta melupakan diri. Pada akhirnya, hadiah tambahan berupa satu keinginan duniawi ditawarkan kepada mereka.

Semua dijabarkannya secara objektif, tanpa ditambah ataupun dikurangi.

“Itu bukan permintaan langsung,” tutup Xandara, “tetapi orang biasa tidak akan berdaya menghadapinya.”

Antares menyimak setiap detail—stimulus bertahap, indera yang makin peka, kendali yang menipis—sebagai data baru. Kesimpulannya tidak sulit: proses tersebut merupakan senjata biologis yang dijalankan secara sistematis. Rute reward bukan benar-benar hadiah, hanya metode reproduksi yang lebih halus daripada apa yang ia alami di Distrik 303.

Catatan berikutnya: Luxya merupakan inisiator. Antares tinggal di asrama yang sama dengan gadis itu, sehingga sesuatu yang berbahaya berpotensi terjadi. Di balik semuanya, Xandara hanya mengamati, sama seperti dirinya.

Keheningan memenuhi ruangan sementara Antares memproses informasi. Ia menyandarkan punggung pada sofa dan memandang ke arah lain.

“Mereka tidak memintamu,” tuturnya. “Mereka mengarahkanmu sampai kau sendiri yang memintanya. Aku tidak akan menyalahkan kalian apabila kalian telah melakukannya.”

Tatapannya kembali kepada Xandara, sedikit berubah.

“Orang biasa mungkin tidak berdaya,” katanya, mengulang ucapan perempuan itu. “Tapi kau masih berada di sini. Sadar. Kau menganggap dirimu bukan orang biasa?”

Antares berhenti sejenak.

“Berbicara tentang orang biasa, aku menemukan satu spekulasi. Kita adalah makhluk potensial yang hidup dengan sia-sia.”

“Kesadaran kami, para Enigmatron, tidak serupa dengan makhluk kebanyakan,” jawab Xandara tanpa menyangkal. “Aku tidak memahami apa yang kalian sebut sebagai keinginan duniawi, juga tidak pernah merasakan kebutuhannya. Jika mereka berdua telah bersedia, yang kulakukan hanya mengikuti sampai akhir.”

Dengan itu, ia menutup kesaksiannya dan menunggu Antares menghubungkan titik-titik yang ada. Sorot matanya mengeras ketika kembali memikirkan istilah makhluk potensial dan sia-sia.

“Jelaskan,” titahnya.

Udara terasa semakin pekat. Kehangatan tidak wajar menjalar dalam tubuh Antares—sensasi serupa dengan yang baru dijelaskan Xandara, meski dalam dosis lebih rendah. Ia menegakkan punggung agar tidak terlalu lama bersentuhan dengan sofa.

“Malver,” jawabnya dengan suara lebih rendah, “penguasa semesta ini. Dia tidak hanya menculik. Dia membeli peranmu di semesta asal.”

Antares memberi jeda sebelum melanjutkan.

“Peranmu di semesta asal sangat kecil, hampir tidak berpengaruh, walaupun dirimu memiliki potensi luar biasa. Kau adalah individu yang, apabila menghilang, tidak akan mengubah apa pun.”

Ia menjelaskan perlahan sementara tubuhnya terus dibujuk untuk tunduk kepada Sistem.

“Tempat ini merupakan fasilitas pembiakan. Mereka berusaha menciptakan ras baru dengan menyilangkan kita—para potensi yang sia-sia. Malver dapat memanipulasi segalanya agar programnya berjalan, termasuk ingatan.” Antares menatap lurus Xandara. “Apa kau masih mengingat masa lalumu? Apakah semuanya terasa jelas?”

Pandangan Xandara tidak pernah beralih darinya. Sejak awal percakapan, ia memperkirakan bahwa suasana ruangan mulai memengaruhi Antares dari perubahan posturnya yang terus menolak kenyamanan. Pertanyaannya hanya satu: dapatkah pria itu bertahan, atau pada akhirnya ia juga akan menyerahkan diri kepada sesuatu yang hendak menguasainya?

Tiga tahap telah Xandara lalui bersama orang-orang yang menerima keadaan. Setidaknya, kali ini ia memperoleh sudut pandang baru mengenai dunia tersebut.

Nama pihak yang bertanggung jawab akhirnya terungkap: Malver. Seluruh siklus, kendali atas hasrat untuk berhubungan dengan orang asing, serta iming-iming hadiah dan hukuman ditujukan kepada satu perkara—fasilitas pembiakan. Logika itu masih dapat diterimanya dan cukup dekat dengan spekulasi yang pernah ia susun sendiri.

Namun, keterangan lain justru menambah kerumitan. Potensi apa? Membeli peran? Memanipulasi ingatan—bahkan ingatannya?

“Itu... tidak masuk akal,” ucap Xandara skeptis. “Apa pun alasannya, tindakan tersebut terlalu berisiko bagi kestabilan yang telah ada. Jika ada seseorang yang berniat seperti itu, para Enigmatron pasti telah mengetahuinya lebih dahulu di gerbang antarsemesta.”

Enigmatron dianugerahi kemampuan membaca niat jahat—berkat langsung dari The Origin. Seharusnya tidak ada keraguan mengenai hal tersebut.

Namun, keraguan tiba-tiba menggerogoti benaknya.

Apa yang sebenarnya masih ia ingat tentang The Origin? Bagaimana ia kehilangan koneksi-Nya? Apakah semua ini merupakan ujian, atau justru dirinya yang telah berpaling dan meninggalkan-Nya?

“Kau bilang hanya menghabiskan satu hari di tempat itu,” lanjut Xandara. “Dari mana kau mengetahui semua ini?”

Antares memaksa diri kembali fokus dan menolak pengaruh ruangan.

“Informasi ini berasal dari subjek lain,” jawabnya tanpa menyebut Adarra. “Menurut pengakuannya, ia berhasil membongkar sebagian kecil Sistem. Aku tidak menerimanya mentah-mentah.”

Ia menatap Xandara.

“Selama tiga puluh hari kalian bersenang-senang di ruangan itu, aku membandingkan keterangannya dengan apa yang terjadi. Semuanya masuk akal, bahkan setelah penjelasanmu.”

Antares berdiri. Argumennya perlu penekanan.

“Ada satu hal yang belum kusebutkan. Kekayaan Malver berada pada tingkat konseptual. Jika ia dapat membeli peran seseorang, apakah menurutmu ia masih perlu melewati gerbang untuk memasuki sebuah semesta?”

Tatapannya lurus menuju Xandara.

“Para Enigmatron tidak akan mencarimu. Filosofi rasmu tidak berguna di sini.”

Xandara terdiam, seolah baru menemukan sendiri seutas benang untuk dihubungkan.

“Lagi pula, tidak pernah ada yang mencariku,” katanya.

Sekilas ia mengingat kehidupan lama yang terisolasi, bahkan dari sesama Enigmatron. Sekalipun kenangan itu telah dimanipulasi, kesendirian tersebut tidak terasa asing. Seluruh hidupnya dahulu diabdikan untuk bermeditasi seorang diri.

“Dan kurasa kau—juga semua orang yang terhimpun di sini—sama, bukan?” lanjut Xandara. “Individu-individu tanpa pengaruh yang tidak pernah dicari siapa pun. Mereka yang tidak memiliki tempat dan dianggap hidup sia-sia, selain menerima keberadaannya di sini. Dengan kata lain, takdir kita telah berpindah tangan.”

Ia menengadah ke langit-langit, seolah mampu menembus batas pandangan. Wajar saja bila Xandara tidak pernah merasakan niat pemilik dunia ini. Pada saat bersamaan, ia justru dapat mencium ambisi besar yang disembunyikan di balik semua percobaan.

Semuanya masih berupa spekulasi tanpa bukti dan berasal dari pihak ketiga yang tidak mereka kenal. Meski demikian, potongan-potongan itu perlahan saling bertaut.

“Sungguh keserakahan yang melampaui batas kosmik...” gumamnya datar, seperti merapalkan sebuah kodeks. Tidak ada kemarahan ataupun penyangkalan dalam suaranya. Ia hanya menyatakan apa yang dilihatnya.

Xandara kembali menatap Antares. Tidak ada instruksi yang mengikat mereka di ruang itu; keduanya dapat pergi kapan saja.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan informasi-informasi ini?”

Antares tidak mengalihkan pandangan. Iris birunya bening oleh pantulan cahaya, tetapi di baliknya ia menimbang sesuatu yang sebetulnya telah lama diputuskan.

“Entahlah.”

Kata tersebut keluar begitu saja dan terasa salah di lidahnya.

Normalnya, Antares tidak peduli. Ia hidup hanya untuk mencapai hari berikutnya. Kode yang digunakannya untuk mengekang diri bukan sesuatu yang diyakini, melainkan alat untuk memberi justifikasi. Kapan tepatnya ia mulai mematuhi aturan itu?

Serpihan memori menyusup. Jemarinya bergerak tanpa sadar merapikan lipatan samar pada kemeja—sebuah refleks. Ia kembali menerapkan kodenya.

Retak.

Kepingan ingatan menyusun diri: kilap lantai yang baru dipel, bau besi tipis, rambut yang tidak berantakan. Dahulu Antares mengira dirinya hanya terobsesi pada kebersihan. Ternyata kebiasaan itu tidak lebih daripada topeng. Di baliknya terdapat kode yang telah dilupakan.

Keteraturan—satu-satunya cara untuk memenuhi naluri tanpa menanggung penyesalan.

“Malver sudah membunuh,” ucap Antares datar. “Mereka yang gagal dibiarkan kehabisan napas.”

Ia mengingat orang-orang yang gagal membentuk tim di jalur hukuman. Sistem ini kotor. Ada sesuatu yang harus dibereskan.

Ingatan lain menyatu dan menimpa pemahaman lama mengenai kodenya. Suaranya sendiri terdengar dalam benak—rendah, menghitung satu, dua, tiga sebelum bertindak. Aturan yang membuatnya tetap tenang dan tangannya tetap bersih.

“Satu,” bisiknya, mengulang pelajaran lama. “Singkirkan tangan yang merusak keteraturan. Potong menjadi beberapa bagian.”

Bisikan itu berlanjut.

“Dua, ruangan sesudahnya harus lebih rapi daripada ketika dimasuki. Uapkan darah yang mengalir, hapus bau besi, dan jangan tinggalkan jejak.”

Kemudian aturan terakhir.

“Tiga, buat mereka seolah tidak pernah ada. Biarkan air mengikisnya sampai tidak bersisa.”

Antares mengangkat pandangan. Iris biru yang sebelumnya bening kini memancarkan fokus mematikan. Di tengah keheningan ruang VIP, ia merasa utuh kembali. Ia telah menemukan tujuan yang hilang.

“Orang-orang berbahaya yang patuh kepada Malver,” tuturnya tenang dan penuh kepastian.

Ia membayangkan seorang gadis yang memenuhi kriteria tersebut.

“Menurutmu... apa mereka harus dibersihkan?”

Antares tidak menunggu jawaban. Ia mengembuskan napas perlahan dan kembali merapikan kemeja—gestur kecil yang kini memiliki arti berbeda.

Hanya dari rangkaian kalimat itu, kehangatan artifisial ruang VIP seolah berubah menjadi dingin yang merayap hingga sumsum tulang Xandara. Antares terus berbicara sambil berhitung tenang, tetapi aroma manis ruangan seperti ditelan bau anyir yang menyengat.

Manusia ataupun bukan, bagi Xandara semua penghuni tempat itu hanyalah makhluk kecil. Tinggi mereka sepertiga tubuhnya, mudah diabaikan dan dipelajari. Mereka emosional, fana, serta mudah dihancurkan. Karena itu, ia jarang mencurigai kehadiran mereka.

Namun, Antares berada pada tingkat lain.

Sebuah perasaan asing yang telah lama terkubur bangkit kembali: kewaspadaan. Sesuatu yang begitu familier sekaligus buruk, seolah pria itu merupakan sumber kehancuran yang telah direncanakan.

Kulit Xandara memucat. Gradasi pada kedua tangannya menghitam dan nadi-nadi pekat menonjol seperti tinta beracun di bawah permukaan. Rambut pirangnya yang biasanya menyerupai cahaya matahari luruh menjadi kelabu pucat. Wujud sejatinya muncul bersama kekuatan yang jauh lebih besar.

Ruang VIP bergetar. Gravitasi mengental, menekan segala sesuatu sampai udara seakan membatu dan menusuk paru-paru. Lampu kristal bergoyang berat. Kaca pecah berhamburan, sedangkan karpet mengeras serta mendingin seperti baja.

Xandara menengadahkan telapak tangan. Pecahan kaca terhisap dan memadat menjadi bola hitam yang menelan cahaya. Ukurannya hanya sebesar bola tenis, tetapi keberadaannya melipatgandakan gravitasi ruangan.

Hanya Xandara yang tetap ringan. Dengan massa hampir nol, ia melesat seperti angin dan tiba di depan Antares dalam satu kedipan. Tubuh pria itu ditekan menuju pintu masuk.

Kemudian Xandara merebut kembali massanya.

Bola hitam tersebut meledak.

Gelombang energi tak kasatmata merobek ruangan. Perabotan hancur, lampu pecah, dan pintu di belakang Antares retak terbuka. Xandara, terlindungi oleh massanya yang nol, tetap tidak menganggap semuanya selesai.

“Kau... berbahaya.”

Tatapannya mengintimidasi. Suara yang keluar dari bibirnya berat dan bergema.

“Aku bisa mencium bau niat jahat darimu.”

Ia hendak bertanya, lalu membatalkan kalimatnya sendiri.

“Apa yang kau—tidak. Aku akan memberimu TRUTH, dan kau harus menjawabnya.”

Gravitasi yang memberat tidak menjatuhkan Antares. Ada alasan rasnya disebut Heavyworlder. Tekanan tersebut familier baginya, dan tubuhnya tetap berdiri tegak.

Namun, hantaman langsung Xandara mendorongnya ke belakang. Punggung Antares menghantam sisa pintu yang telah retak sampai pecah seluruhnya. Pada saat cengkeraman dingin Xandara menahan kerahnya dan bola hitam mulai berdenyut tidak stabil, ia melihat bibir perempuan itu membuka, membentuk suku kata pertama dari perintah yang mungkin absolut.

TRUTH.

Antares telah memiliki perhitungan sendiri.

Air menjadi pusat segalanya. Kelembapan ditarik paksa dari atmosfer sampai udara berubah kering dan panas. Dalam sekejap, massa air yang sangat besar berkumpul di hadapannya menjadi gelombang cekung yang siap ditembakkan.

Ketika energi Xandara melesat, Antares melepaskan gelombangnya.

Benturan kedua kekuatan tidak menghasilkan ledakan biasa, melainkan semburan uap yang memekakkan. Gelombang kejut menyapu ruangan dan membawa awan panas yang menelan cahaya. Penglihatan lenyap. Pendengaran tertutup denging tajam.

Ketika uap mulai menipis, Antares sudah tidak berada di sana.

Perintah TRUTH harus terdengar agar mampu mengikat subjek. Di tengah ledakan uap, tidak ada siapa pun yang dapat mendengar apa pun. Antares telah memastikan perintah tersebut tidak pernah sampai kepadanya.

Puing-puing kecil masih berjatuhan ketika Xandara kembali ke wujud sebelumnya. Gaun hitam formalnya tetap melekat pada tubuhnya.

Bahkan setelah serangan sebesar itu, Antares berhasil luput tanpa memberikan jawaban. Jadi ini yang ia maksud dengan potensi istimewa, pikir Xandara. Mungkin terdapat lebih banyak penghuni yang menyimpan kekuatan setara dengannya.

Lalu sesuatu terpicu setelah ia menggunakan wujud bertarung. Ingatan masa lalu menyerbu seperti badai dari dalam: kriminalitas di berbagai tempat, bencana alam, kekuatan yang terus melemah, serta pertanyaan semua orang mengenai keberadaan The Origin.

Kemudian semuanya hening. Diam seperti air yang tenang. Xandara merasa kosong.

“Ah, begitu rupanya,” gumamnya lirih.

Jawaban atas pertanyaannya akhirnya terlihat jelas.

“Kristal Kehidupan telah dicuri dan dilebur. The Origin—bisikan para leluhur—tidak terdengar lagi sejak saat itu.”

Ketika Xandara membuka mata, ia telah kembali ke Aula Pesta I. Pandangannya menyusuri seluruh ruangan. Seperti yang diduganya, Antares tidak berada di sana.

Kewaspadaan yang tadi meledak perlahan mereda, tetapi gambaran niat Antares untuk “membersihkan” orang lain terlalu nyata untuk dianggap sebagai omong besar. Meski pria itu tampak minim bereaksi, impresi berbahaya tersebut tidak dapat diabaikan. Bisa jadi ia benar-benar akan menargetkan seseorang.

Saat mereka bertemu lagi, Xandara akan menuntut jawaban yang tadi gagal diperolehnya.

Ia menyandarkan punggung di pojok aula dan menatap datar orang-orang yang bersenang-senang. Tidak ada apa pun dalam pikirannya—kekosongan yang berbeda dari ketenangan.

Lagi pula, apa yang sedang ia lakukan seorang diri di antara begitu banyak orang?

Ah, benar. Ada seseorang yang hendak menanyakan sesuatu kepadanya.

Di dekat bar, Zion masih berhadapan dengan Sonata.

“Hah.” Ia mendengus mengejek dan menoleh malas dengan tatapan menyipit. “Kau terdengar seperti sedang menagih pertanggungjawaban dariku.”

Tubuhnya condong mendekat. Bisikannya hanya dapat didengar mereka berdua.

“Jangan-jangan kau benar-benar hamil lagi?”

Tuduhan itu meluncur begitu saja. Zion segera menarik tubuhnya kembali untuk berjaga-jaga apabila pukulan kedua datang. Setelah membiarkan hening menggantung, ia kembali mencibir dan menunjuk tepat ke dada Sonata dengan tatapan menantang. Lidahnya terulur.

“Jangan buat seolah kau nggak menikmatinya. Kita melakukannya nggak cuma sekali karena kau juga serakah.”

Pada saat itulah pandangannya menangkap sosok raksasa yang kembali muncul di antara keramaian. Ia sempat mengira sedang berhalusinasi dan mengucek mata. Barangkali ia benar-benar harus membeli kacamata setelah semua ini berakhir.

Zion berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser. Belum sampai setengah jam sejak Antares dan Xandara menghilang. Berbagai prasangka muncul bersama perasaan lega. Senyumnya perlahan merekah ketika ia berlari menghampiri Xandara.

“Kau kembali!”

Ingatan segera menamparnya. Xandara telah memilih pergi meninggalkannya di aula. Ia tidak seharusnya menunjukkan kegembiraan dengan begitu naif—tidak setelah semua yang terjadi.

Posturnya menegang. Ekspresinya menjadi kaku dan nyaris tidak terbaca. Ketika berbicara lagi, suaranya terdengar datar.

“Sudah mendapatkan apa yang kau cari?”

 

* * *

Ken berada di Aula Pesta II dengan ekspresi yang sama seperti biasanya, seolah ia tidak pernah dikurung selama tiga puluh hari ataupun melakukan hal-hal yang tidak semestinya terjadi di sana.

Ia mengambil banyak makanan, memilih sebuah tempat duduk, lalu mulai makan tanpa terlalu memedulikan aturan TRUTH dan TRUST. Setidaknya, belum.

Tiga puluh hari.

Soraya berdiri di depan deretan makanan dengan perasaan bimbang. Sayur dan buah pada meja salad masih terlihat segar seakan baru dipetik. Daging, nasi, roti, serta berbagai hidangan lain terbentang sepanjang pandangan.

Dalam keadaan normal, ia pasti telah mencicipi semuanya satu piring demi satu piring. Namun, nafsu makannya kali ini terganggu. Perutnya masih terasa penuh—meski bukan makanan yang memenuhi mulutnya sekitar sebulan lalu.

Ketika melihat saus salad, Soraya bergidik. Ia berusaha menghapus bayangan tidak senonoh dari kamar sebelumnya, lalu mengambil buah-buahan ke dalam dua piring. Salah satunya tentu saja untuk Leon.

Soraya duduk setelah itu. Baru satu potong semangka yang dimakannya ketika matanya mulai mencari ke seluruh aula.

Seharusnya Leon datang sebentar lagi...

Leon memang datang tidak lama kemudian. Sebelumnya, ia menghabiskan cukup banyak waktu di kamar karena mendadak terlepas dari kenyataan. Orang biasanya membiarkan peristiwa yang telah berlalu tetap berada di masa lalu, tetapi Leon masih memikirkannya.

Setidaknya sekali setiap minggu, ia menanyakan kondisi fisik Soraya—apakah ada perubahan atau tidak. Ia khawatir karena keadaan gadis itu tampaknya belum benar-benar baik.

Pakaian formal telah menjadi sesuatu yang hampir biasa bagi Leon. Ia dapat berdandan berdasarkan insting walaupun pikirannya melayang ke mana-mana. Saat memasuki aula sambil memperbaiki sarung tangannya, netranya menelusuri ruangan hingga menemukan gadis yang dicari.

Leon segera menghampiri Soraya. Dalam perjalanan, ia mengamati jumlah makanan yang diambilnya.

Terlalu sedikit dibandingkan biasanya.

Tanpa rasa malu, Leon memeluk Soraya dari belakang dan berbicara lembut di dekat telinganya.

“Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu? Nafsu makanmu tampak berkurang drastis.”

Sambil bertanya, ia menyomot sebuah apel dari piring lain yang tersedia. Leon tidak tahu apakah piring itu memang disiapkan untuknya atau untuk Soraya sendiri.

“Hii—!”

Soraya bergidik ketika merasakan embusan napas pada belakang leher. Ia nyaris tersedak, andaikan gigitan terakhir kentang goreng keriting benar-benar telah masuk ke mulut. Sebagai respons, piring di tangannya justru terangkat tinggi di atas kepala.

“Oh... ternyata Leon.”

Ia tertawa kikuk dan celingukan, berharap tidak seorang pun memperhatikan perilaku memalukannya.

“Mn, aku tidak apa-apa, kok. Tadi aku sudah mencicipi yang lain sebelum kamu datang.”

Itu bohong, walaupun Soraya memang berniat melakukannya. Mungkin setelah dua atau tiga teguk alkohol, agar ingatannya sedikit kabur.

“Duduk di sini.” Ia menepuk kursi di sebelahnya dengan senyum tipis. “Aku memang membawakan piring yang satu itu untukmu.”

“Pfft.”

Leon terkekeh melihat reaksinya. Untung piring yang terangkat tadi tidak mengenai wajahnya karena ia sempat menarik kepala ke belakang secara refleks.

Ia masih tidak percaya bahwa Soraya telah mencicipi banyak makanan. Namun, Leon juga tidak dapat memaksa apabila gadis itu memang belum sanggup makan lebih banyak.

“Terima kasih.”

Ia melepaskan pelukan dan duduk di samping Soraya. Porsi yang telah disiapkan segera disantapnya. Sambil mengunyah, Leon menatap layar Sistem yang menampilkan hak istimewa pesta.

“Tampaknya kali ini tidak ada paksaan ataupun sistem eliminasi.”

Tidak terdapat ketentuan khusus yang menjelaskan kegunaan ruang VIP, walaupun namanya terdengar menjanjikan. Jika hadiah tantangan sebelumnya saja berupa ruang intim, apakah ruang VIP ini tidak jauh berbeda? Atau, barangkali, tempat tersebut memiliki kegunaan lain.

Pikiran itu bertahan di kepala Leon.

Pada saat hampir bersamaan, Bella memasuki aula dengan langkah anggun.

Sudah cukup lama ia tidak berpenampilan seperti ini: setelan modis yang mencolok dan sama sekali tidak ragu memamerkan parasnya yang jelita. Pantas bagi seorang diva. Putih menjadi tema pilihannya—terlihat polos, meskipun Bella sendiri jauh dari kata tersebut.

Ia berjalan sambil bersenandung lembut. Wajahnya cerah dan segar, seolah tiga puluh hari terakhir tidak menguras mental, melainkan justru memuaskannya. Iris kecubung Bella mengitari ruangan. Makanan dan minuman yang tersedia jauh lebih banyak daripada suplai harian mereka.

Kemudian ia melihat seorang pria yang dikenal: Leon.

Bella sempat hendak menyapa, tetapi mengurungkan niat setelah melihat gadis yang sedang dipeluknya.

“Oh. Apa musim semi datang di tempat ini?” gumamnya kepada diri sendiri.

Ia mengambil segelas anggur dan sepotong kue stroberi, kemudian berjalan menuju meja Ken.

“Halo, tampaknya ini pertama kalinya kita bertemu. Perkenalkan, namaku Bella. Kalau tidak keberatan, aku duduk di sini, ya?”

Bella menyapa, memperkenalkan diri, sekaligus meminta izin. Namun, ia telah duduk di kursi kosong bahkan sebelum Ken memberikan jawaban.

“Tentu saja. Kursi itu bukan milik siapa pun.”

Ken menjawab tanpa ekspresi. Bukan berarti ia tidak ramah; memang begitulah dirinya. Lagi pula, kursi itu sungguh tidak dimiliki siapa pun—mungkin sebenarnya ada pemiliknya, tetapi orang tersebut tidak pernah terlihat hingga sekarang.

“Ken.”

Ia mengingat Bella baru saja menyebutkan nama, sehingga memberikan namanya sendiri sebelum ditanya. Lebih baik begitu daripada harus mengulang percakapan.

Tampaknya pria di depannya bukan tipe yang banyak bicara.

Bella tiba-tiba teringat kepada seseorang yang muncul dalam mimpinya. Orang itu juga tidak banyak bicara, bukan? Ke mana kira-kira ia pergi?

“Terima kasih,” ujar Bella sambil menyendok kue yang dibawanya. “Bagaimana pengalamanmu selama berada di sini?”

Di meja lain, Soraya mengangguk pelan mendengar pengamatan Leon mengenai Sistem.

“Untungnya...”

Ia menarik napas sambil melihat sekeliling aula. Selain mereka, baru dua orang lain yang terlihat datang.

Soraya mengambil dua mangkuk kosong di dekat tempat duduknya. Setelah menjentikkan jari beberapa kali, salju dengan tekstur menyerupai es serut memenuhi kedua mangkuk. Satu diletakkannya di sisi Leon.

“Dan, urm... terima kasih sudah menemaniku beberapa minggu ini,” imbuhnya. “Terutama setelah... erm, itu. Dengan Zion juga—ah, mungkin aku harus meminta maaf kepadanya nanti kalau bertemu.”

Leon mengamati kemampuan Soraya dengan kagum. Ternyata kekuatan supernatural dapat digunakan untuk hal seperti itu. Karena kemampuannya sendiri tidak berhubungan dengan es—dan jelas tidak dapat dimakan—kemungkinan tersebut tidak pernah terpikir olehnya.

Ia menerima mangkuk dengan senang hati, lalu menuangkan sedikit jus stroberi sebagai pengganti sirup. Potongan buah ditatanya di atas es sebelum ia menyendok dan mencicipinya.

“Hng? Sudah sewajarnya kita saling menemani, bukan? Lagi pula, kita tidak dapat keluar sebelum waktunya habis, jadi sebenarnya tidak perlu berterima kasih.”

Leon menatap Soraya dengan heran.

“Tapi kenapa harus meminta maaf kepada Zion?”

Ia tidak habis pikir. Bukankah Soraya justru menjadi pihak yang paling tidak diuntungkan? Mengapa gadis itu yang merasa perlu meminta maaf?

 

* * *

Luxya jarang terlihat mengenakan pakaian seperti malam itu. Gaun panjang menutupi tungkainya dan memberikan kesan formal, tetapi ciri khasnya tetap tidak mungkin hilang: warna putih, ornamen emas, serta gradasi galaksi yang memukau.

Dua uraian rambut biru tertata manis di sisi wajahnya. Riasannya cantik sekaligus provokatif, dan gaun tanpa punggung memperlihatkan kulitnya yang nyaris tanpa cacat.

Aula tersebut cukup luas bahkan bagi selera Luxya. Namun, ia lebih penasaran mengenai berapa banyak orang lain yang mengalami nasib serupa.

“Kali ini, apa lagi yang akan dilakukan orang itu?” gumamnya sambil menilai setiap suguhan di ruangan.

Di salah satu meja, Zhigalkovich tidak tertarik untuk berdansa. Menurutnya, menari hanya membuang tenaga—kegiatan bagi para cecunguk yang hendak bergaya seperti pujangga penunggu senja. Tidak ada alasan memedulikan orang-orang biadab yang berdansa, apalagi laki-laki yang menurut imajinasinya memiliki biji besar sebelah.

Ia berjalan menuju meja dengan makanan terbanyak dan langsung duduk.

“Bangsat, rasa laparku makin membeludak. Sialan, kenapa anjing-anjing pesta ini bisa menyiapkan makanan sebanyak ini?”

Zhigalkovich mulai makan. Tidak perlu satu demi satu; seluruh hidangan pada bagian meja di hadapannya telah ia anggap khusus untuk dirinya.

“Jangan sampai ada babi-babi idiot yang duduk di sini. Kutendang nanti dari sini.”

Walaupun terus mengomel, matanya memandang makanan dengan takjub. Ia hanya memilih yang enak dan melahapnya tanpa jeda.

“Ah, makanan ini mantap banget. Seharusnya naskah kita waktu terjebak di dunia sampah itu punya adegan begini—makan besar. Malah cuma ruangan tolol yang isinya bajingan-bajingan banyak gaya kayak si Mikudis. Cuih.”

Bahkan sambil makan, Zhigalkovich masih mengingat Mikado. Dendamnya belum reda; keinginan untuk menyunat pria itu juga belum terlaksana.

“Bagus, bagus. Woi, pelayan bajingan! Makanan di mejaku habis. Tambah lagi, brengsek!”

Dalam waktu singkat, hampir semua hidangan di hadapannya telah lenyap. Meja lain masih menyediakan makanan, tetapi Zhigalkovich terlalu malas berpindah tempat.

Leah memperhatikannya dari kejauhan.

Gadis itu merupakan satu dari sekian banyak tamu yang diundang ke pesta indah tersebut. Ia mengakui sentuhan dekorasi di aula cukup cantik. Selera penyelenggara tidak buruk, meskipun selera Leah tentu sedikit lebih tinggi daripada hiasan dinding ataupun lampu gantung yang dipamerkan di sana.

Namun, tidak ada pemandangan yang lebih buruk daripada perusak pesta yang makan seolah belum pernah menyantap apa pun sepanjang hidup.

Tatapan Leah menjadi datar. Ketukan langkahnya terdengar teratur, mantap, tetapi tetap lembut saat ia mengitari meja penuh makanan dan piring kotor. Penampilannya anggun serta modis seperti biasa. Sebelum diculik, Leah bekerja sebagai desainer pakaian sekaligus seniman, dan kebiasaan menjaga penampilan tidak hilang hanya karena dunia di sekelilingnya tidak masuk akal.

“Kau makan seperti seekor b*bi,” sambarnya setelah berdiri di hadapan Zhigalkovich.

Leah mulai memahami bahwa berbicara dengan perempuan berkuncir kuda itu harus menggunakan bahasa kasar agar pesannya sampai ke kepala.

“Ah, bahkan saat aku jauh darimu, di pikiranmu masih ada aku, ya?”

Mikado muncul dengan santai, menyapa Zhigalkovich yang masih melahap makanan.

“Sudah, akui saja. Kau tidak bisa melupakanku setelah kita berada di ranjang.”

Ia mengenakan setelan jas merah marun yang serasi dengan bagian merah pada rambutnya. Penampilan itu jauh berbeda dari gayanya yang biasanya urakan. Ornamen perak menahan dasinya tetap rapi. Di tangan Mikado terdapat segelas sampanye yang hanya sesekali diminum.

Mendengar komentar Leah, ia tertawa.

“Ah, dia memang seperti itu, kok, Nona.”

Mikado kemudian melirik perempuan anggun berkuncir dua di dekat mereka. Matanya membelalak.

“Lho, kau kalau tidak salah—”

Ia menyipitkan mata, meletakkan tangan di dagu, lalu mendekatkan wajah kepada Luxya.

Sementara itu, Zhigalkovich baru menyadari ada orang yang mengejek saat ia sedang asyik makan. Entah perempuan tersebut ingin kepalanya dihantam atau justru berharap Zhigalkovich berubah menjadi El Cekek dan mencekik lehernya.

“?==£=£°;3;47! #? @9?!”

Ucapan tidak jelas keluar karena mulutnya masih penuh. Ia meneguk air sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan rasa sakit di tenggorokan, kemudian berteriak kepada Leah.

“Lu siapa, bangsat?! Lu mau gue cekik, bajingan, hah?!”

Zhigalkovich berdiri, mendekati Leah, lalu mencengkeram lehernya.

“Mau kuhajar, hah?!”

Tekanan tangannya tidak terlalu kuat. Ia sedang malas membuat seseorang benar-benar berpulang dari dunia.

“Cielah, si kerempeng dari grup empat orang. Tiga orangnya idiot, cuma aku yang waras. Mau apa sih, kerempeng? Orang lagi me time kau ganggu. Mau kulempar ke lubang buaya?!”

Setelah mengenali Leah, Zhigalkovich melepaskan cekikannya dan kembali duduk.

“Sudah, jangan ganggu. Kau ke sana saja. Aku harus sendirian kalau makan, nggak boleh ada biadab lain. Hus, hus, sana kau, Heli Leahguk-guk-guk. Ini belum waktunya bermain.”

Ia kembali menyantap hidangan.

“Aku hanya ingin makan tenang sekali lagi. Ganggu nanti, habis nasibmu.”

Kalimat terakhir bahkan dinyanyikannya sambil mengunyah. Untuk saat ini, Zhigalkovich belum sepenuhnya berubah menjadi El Cekek. Ia hanyalah manusia tidak sempurna yang terkadang salah, tetapi memiliki satu kepastian dalam hati: makanan enak diciptakan untuk perut, dan itu luar biasa.

Kekacauan tersebut menjadi pemandangan pertama yang disaksikan Axel ketika memasuki aula.

Ia menghadiri pesta setelah serangkaian kejadian yang sulit diputuskan menyenangkan atau tidak. Bagaimanapun juga, setiap detik harus dinikmati. Axel mengenakan setelan oriental dengan jubah kulit—pilihan yang tidak biasa ketika ia sebenarnya dapat memakai jas aman seperti orang lain. Namun, bagi seorang musisi, penampilan semacam itu terlalu hambar.

“Aku sudah bertemu Soraya, Sonata, Belladonna, dan Althea, baik secara langsung maupun tidak,” katanya. “Ternyata masih ada malaikat-malaikat cantik lain di tempat ini. Aku mulai curiga penyelenggaranya sebenarnya hendak mengumpulkan istri untuk dirinya sendiri.”

Candaan Axel disertai senyum ringan.

“Sebelum kisah di tempat ini bergulir lebih jauh, sudikah kalian memberiku kehormatan untuk mengetahui nama kalian?”

Bukan satu orang, melainkan tiga perempuan langsung diajaknya berkenalan. Axel tentu menyadari keberadaan Mikado, tetapi untuk apa mengenal lelaki lain dalam sebuah pesta? Hubungan antarlaki-laki berkembang melalui duka dan darah—yang dimaksud tentu perjuangan menghajar dunia dan dihajar kembali olehnya, bukan perkara lain.

Luxya menyaksikan keributan Leah dan Zhigalkovich dengan raut terhibur. Karena tampak dipicu konflik pribadi, ia memilih menjadi penonton. Namun, perhatian itu terputus oleh kemunculan seseorang yang mengganggu ingatannya.

“Oh... apakah kau terkejut melihat kemunculanku, Mikado?”

Nada Luxya menggoda. Ia mendongakkan kepala agar arah tatapan mereka sejajar dan tidak berusaha berpura-pura tidak mengenalnya.

Kemudian ucapan Axel menarik atensinya. Alis Luxya terangkat saat menemukan pria lain dengan surai putih yang tinggi badannya hampir sepantar.

“Berbicara tentang nama,” katanya santai, meski sindiran tetap tersirat, “memperkenalkan diri terlebih dahulu diperlukan sebelum meminta balasan, bukan? Hm?”

Leah menoleh kepada Mikado. Lelaki gila itu tampak sedikit berbeda dalam pakaian formal. Leah tidak begitu mengenalnya, tetapi kesan pertamanya hanya satu: liar. Entah mengapa malam itu Mikado terlihat lebih terkendali, atau mungkin kegilaannya belum kambuh.

Pria itu juga berbicara seolah mereka belum pernah bertemu.

“Kau laki-laki yang rencananya hendak kueliminasi, tetapi gagal,” kata Leah. “Pada akhirnya justru aku yang dieliminasi. Tidak kusangka kita bertemu lagi di sini.”

Kemudian Zhigalkovich mencekiknya.

Leah terpaksa mendongak. Cengkeraman tersebut tidak cukup kuat untuk melukainya, tetapi tetap membuatnya tidak nyaman dan terkejut. Wajahnya meringis jijik ketika jari-jari kotor serta berminyak itu menekan lehernya.

Setelah Zhigalkovich melepaskan tangan dan kembali kepada makanannya, Leah diam beberapa detik. Ia memejamkan mata sambil melepas sarung tangan kanan.

Plak!

Telapak tangannya menghantam pipi Zhigalkovich. Suara tamparan keras terdengar di antara kebisingan aula.

“Mungkin itu dapat membantu mengembalikan kewarasanmu,” ujar Leah sengit.

Tidak ada orang waras yang tiba-tiba mencekik seseorang tanpa alasan. Perilaku itu terlalu barbar dan sama sekali tidak pantas.

Baru setelah itu Leah memperhatikan Axel. Ia merasa prihatin karena lelaki berambut putih dengan sisiran ke belakang tersebut harus menyaksikan ketidakkondusifan mereka.

“Itu tadi pasti bukan kesan yang menyenangkan untuk Anda lihat.”

Leah kembali mengenakan sarung tangannya. Sisa keangkuhan masih terpancar di wajah meski ia berusaha menghapus jejak emosi.

“Aku Leah Pereshati.”

Tidak jauh dari mereka, Lucerix menyesap minuman dalam diam.

Pesta di aula tersebut lebih menyerupai pasar di perkampungan terpencil—penuh makian dan tingkah konyol. Keenam lengan mekaniknya menopang tubuh seperti singgasana yang spektakuler. Ia enggan menoleh dan tidak berniat memberikan sekadar kehormatan kepada para pembuat keributan.

Wajah Lucerix tertunduk. Rambut panjang menutupi sebagian parasnya. Pakaiannya tetap rapi dan tidak jauh berbeda dari keseharian. Ia datang bukan untuk merayakan keputusasaan ataupun menjadi hiburan bagi pihak yang membawanya kemari.

Alkohol bening membakar bibirnya yang sobek, lalu turun dengan panas yang menyesaki kerongkongan dan seolah melubangi lambung. Wajah Lucerix tidak berubah. Kepahitan diterimanya sebagai pengingat bahwa setidaknya rasa sakit tersebut masih berada di bawah kendalinya sendiri.

Tiga puluh hari telah berlalu—tiga puluh hari penuh rasa jijik terhadap diri sendiri, ketika hasrat yang tidak diinginkan membutakan dan tidak dapat dihentikan. Ia pernah menggigit bibir sampai berdarah demi menjaga kewarasan dalam tubuh yang tidak lagi dianggap sebagai miliknya.

Sepiring canapé berwarna-warni tersusun di hadapan Lucerix. Terlalu menggoda untuk sebuah tempat yang pasti menyimpan jerat. Ia mengambil roti tipis bertabur keju, lalu menghabiskan sisa minumannya dalam kekosongan batin.

Dari suaranya, Lucerix mengetahui Leah berada di antara kerumunan. Mereka tidak banyak bicara walaupun telah ditempatkan di rumah yang sama. Diamnya kali ini merupakan bentuk penghargaan sekaligus permintaan maaf atas agresi yang ia tunjukkan pada pertemuan pertama.

Jemarinya menyelipkan rambut ke belakang telinga. Lucerix cukup mendengarkan percakapan mereka, melirik penuh simpati kepada orang-orang yang dianggapnya cacat—seperti seseorang yang mengamati sekawanan kera sedang bercengkerama.

“Ah, maafkan ketidaksopananku,” ujar Axel kepada Luxya dengan tawa kecil. “Anggap saja aku sedang terpana oleh keindahan.”

Ia mengulurkan tangan kepada gadis itu.

“Perkenalkan, namaku Axel Morfain. Cukup panggil Axel. Sekarang, bolehkah aku mengetahui namamu, Nona?”

Perhatiannya lalu kembali kepada Leah yang baru menyelesaikan persoalannya sendiri.

“Tidak apa-apa, sungguh. Either way, kamu tetap menawan, Leah.”

Axel kembali mengulurkan tangan.

“Namaku Axel Morfain. Senang bertemu denganmu.”

Senyumnya tulus.

 

* * *

Tidak seorang pun terlihat di koridor. Hal itu wajar; hampir seluruh penghuni sedang menikmati pesta di aula masing-masing.

Cassius justru memilih meninggalkan keramaian. Keinginannya untuk menikmati jamuan lenyap setelah melihat dua sosok yang dianggapnya sebagai mimpi buruk membuat kekacauan di salah satu aula. Untuk sementara, suasana bangunan yang sepi sudah cukup menenangkan pikirannya.

Ia duduk pada ambang salah satu jendela. Sikap itu mungkin tidak sopan, tetapi Cassius tidak memedulikannya. Di bawah malam yang tenang, ia mengeluarkan pedang dan mulai mengasah bilahnya.

Saat itulah ia menyadari sesuatu yang sebelumnya luput.

Selama berada di tempat ini, tidak seorang pun selain dirinya membawa senjata dari unobtainium.

“Apa mereka bukan pejuang?” gumamnya sambil menatap pedang.

Aneh bila orang-orang itu diculik seperti dirinya, tetapi bukan merupakan pejuang. Mungkinkah mereka penting untuk perkara lain? Cassius masih tidak memahami tujuan penculik yang terus mempertemukan dan mengelompokkan orang secara acak.

Ketukan langkah ringan serta teratur kemudian menggema di koridor.

Luxya berjalan dalam balutan gaun putih yang memeluk tubuh. Senyum manis terbentuk di wajahnya, sedangkan mata seindah lapis lazuli menangkap keberadaan seseorang di ambang jendela.

Memberikan sapaan rasanya cukup sebelum ia melanjutkan perjalanannya.

“Sendirian ketika pesta sedang berlangsung bukankah tidak sopan?” tanyanya setelah berhenti tidak jauh dari Cassius.

Cassius segera menyarungkan pedang. Ia tidak menduga ada orang lain yang memilih melewatkan pesta dan berjalan melalui koridor.

Bukankah itu juga berlaku untuknya?

“Kurasa ini lebih baik daripada keadaan yang tidak terkendali di ruang pesta.”

Ia turun dari ambang jendela dan mendekati Luxya. Sorak kerumunan masih terdengar samar dari aula, menandakan bahwa pesta tetap berlangsung meriah tanpa mereka.

“Kau sendiri tidak ikut menikmatinya?”

“Kau salah paham.”

Luxya mengaduk anggur di dalam gelasnya perlahan.

“Aku sudah cukup menikmati pesta.”

Ia mengembuskan napas halus dan menyesap sedikit minuman. Sensasi menyengat yang kurang menyenangkan mengingatkannya pada sesuatu. Alih-alih mengernyit, Luxya termenung sejenak sebelum mengembangkan senyum lega.

“Jadi, kau bukan orang yang menyukai pesta?” tanyanya ketika jarak mereka telah menyempit.

 

* * *

Althea datang mengenakan pakaian yang sama seperti ketika pertama kali dibawa ke tempat itu. Alih-alih memilih gaun, ia memakai seragam dinas sebagai apprentice Dayang Suci—setelan yang entah mengapa tersedia lebih dari satu di rumahnya.

Aula tersebut belum dipenuhi banyak orang. Mungkin sebagian besar tamu memilih aula lain. Bagi Althea yang tidak menyukai keramaian, keadaan itu justru lebih baik.

Ia mengambil segelas sampanye dari bar, kemudian duduk pada meja yang telah dipenuhi sajian. Minumannya disesap perlahan sambil mengamati sekeliling.

Belze datang tidak lama kemudian. Ia kembali merapikan dasi oranye yang tergantung di leher, senada dengan setelan hijau pekat bernuansa formal. Setelah memasuki aula, Belze mengulurkan tangan kepada perempuan vampir yang berangkat bersamanya.

Selama tiga puluh hari terakhir, ia terus memikirkan orang-orang yang menerima hukuman. Kini mereka dipertemukan lagi di sebuah ruangan seperti dalam Dunia Mimpi.

“Kau... tidak apa-apa?” tanyanya canggung.

Cynthia telah menemukan sebuah biola di aula. Irama yang dimainkannya mengalun memenuhi ruangan, sementara ia seolah tenggelam dalam dunia musik ciptaannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, alunan itu berhenti. Cynthia mengenali orang yang mengajaknya bicara—pria yang pernah ditemuinya saat pembentukan kelompok, dan yang samar-samar juga terasa hadir di dalam mimpinya.

“Lama tidak berjumpa,” katanya.

Berbeda dari para penerima reward yang menghabiskan tiga puluh hari bersama kelompok, Cynthia menjalani keseharian di jalur punishment yang menyerupai ruang kelas.

“Cukup baik. Bagaimana denganmu? Apa kau puas?”

Kata puas terasa berat bagi Belze.

Ia memang memperoleh tempat bernaung selama tiga puluh hari, tetapi dorongan aneh di dalam ruangan bukan perkara mudah. Sebagian besar waktunya bahkan dihabiskan dalam wujud Primalis. Apakah selama itu ia telah melakukan sesuatu yang tidak termaafkan? Ia sendiri tidak tahu.

Belze belum lama mengenal Cynthia. Namun, membiarkan perempuan itu menanggung hukuman tidak pernah menjadi niatnya. Cynthia merupakan orang pertama yang ditemuinya di dunia tersebut, sedangkan Belze tidak mampu berbuat apa pun ketika ia mengalami kesulitan.

“Maaf,” ucapnya, membawa penyesalan sekaligus simpati.

Pada saat itu, Althea mengenali kehadiran yang familier. Ia meletakkan gelas sampanye di atas meja, berdiri, lalu menghampiri Cynthia.

“Kita bertemu lagi... Cynthia.”

Setelah menyapa, Althea menoleh kepada Belze.

“Um... selamat malam, Tuan. Namaku Althea. Senang bertemu denganmu.”

Belze menyadari kedua perempuan itu saling mengenal. Ia melipat tangan di belakang punggung, kemudian sedikit membungkuk.

“Belze,” katanya, menyebutkan namanya kembali.

“Tidak perlu meminta maaf,” jawab Cynthia. “Hal seperti itu wajar di sini.”

Ucapan tersebut mungkin terdengar kasar, tetapi ia hanya menyampaikan kenyataan. Belze maupun orang lain tidak bersalah atas pembentukan kelompok. Cynthia hanya tidak beruntung pada seleksi pertama, walaupun masih cukup beruntung dapat membentuk kelompok saat menjalani hukuman.

Perhatian Cynthia lalu terarah kepada Althea. Perempuan itu terasa familier dengan cara yang berbeda—seakan mereka pernah sangat dekat selama simulasi. Hal tersebut membingungkan karena tujuan pemilik dunia adalah menghasilkan keturunan, sedangkan saat itu ia justru dipasangkan dengan perempuan.

“Kurasa takdir menuntun kita untuk bertemu lagi.”

Atau, lebih tepatnya, Dantalion mungkin telah merencanakan pertemuan tersebut. Cynthia dihadapkan kepada dua orang yang dikenalnya: satu dari Dunia Simulasi dan satu lagi dari Dunia Mimpi, meskipun ingatannya mengenai Belze belum sepenuhnya pasti.

Tidak ada lagi rasa takut ataupun kepemilikan seperti dalam simulasi. Karena itu, ia dapat sedikit lebih tenang berada di dekat Althea.

“Apa kau sudah menemukan pasanganmu, Althea?”

Pertanyaan tersebut merujuk pada tugas TRUTH dan TRUST yang sedang mereka hadapi. Cynthia tidak melihat Althea di jalur punishment, jadi perempuan itu pasti memperoleh reward bersama kelompoknya.

Althea mengangguk singkat menanggapi perkenalan Belze, lalu kembali memandang Cynthia. Wajahnya seketika merona saat kata pasangan disebut. Ia teringat pada segala sesuatu yang terjadi di ruang intim—terlebih karena saat itu ia lebih memilih melakukannya dengan sesama perempuan, dan bayangan kebersamaannya dengan Cynthia dalam simulasi kembali muncul.

“A-ah, itu... aku masih belum yakin.”

Panas menjalar di wajahnya.

“Rasanya hawa di sini juga panas, ya? Aku... aku permisi dulu.”

Terlalu malu membahas hal tersebut lebih jauh, Althea segera beranjak menuju meja prasmanan.

Belze tidak menyangkal apa pun. Ia masih tidak mengetahui cara kerja dunia ini ataupun siapa yang bertanggung jawab atas atmosfer aneh di sekeliling mereka.

Percakapan Althea dan Cynthia berakhir lebih cepat daripada perkiraannya. Belze tidak sempat menahan Althea, padahal ia berniat memberi keduanya waktu berbicara sambil mengambilkan minuman. Sesuatu mengatakan bahwa topik mereka cukup berat.

Ia menunjuk bar minuman yang sepi dengan ibu jari dan mengayunkannya dua kali, mengajak Cynthia ke sana apabila perempuan itu tidak memiliki urusan lain.

Cynthia memperhatikan Belze. Sikapnya menunjukkan bahwa pria tersebut masih sama seperti sebelum menerima reward. Ia teringat saat Belze tidak mampu mengendalikan diri setelah berubah menjadi sosok menyerupai Carians. Mungkinkah selama tiga puluh hari ia sepenuhnya berada dalam wujud tersebut? Itu hanya spekulasi.

“Kau masih tidak berubah, ya,” ucap Cynthia pelan.

Ia meletakkan biolanya, lalu mengulurkan tangan agar Belze dapat menggandeng serta membawanya ke tempat yang ditunjuk.

“Tidak ada salahnya aku ikut denganmu.”

Senyum tipis muncul di wajahnya. Tidak ada tujuan lain; Cynthia hanya menganggap sudah waktunya menikmati pesta.

Belze tertegun. Ia tidak menyangka Cynthia akan lebih dahulu mengulurkan tangan. Perempuan itu berkata bahwa dirinya tidak berubah, padahal dalam pandangan Belze justru Cynthia yang terlihat berbeda. Ia tidak lagi tampak sesedih ketika pertama kali mereka bertemu.

Belze tidak memperlihatkannya, tetapi perasaan lega tumbuh dalam benak.

Dengan genggaman canggung, ia menggandeng Cynthia menuju bar. Belze tidak mengetahui apa yang dialami perempuan itu selama ia sendiri menjalani tiga puluh hari yang aneh. Untuk malam ini, ia memutuskan hanya menikmati jamuan yang diberikan.

Belze membisikkan pesanan kepada bartender. Setelah pertunjukan meracik singkat, dua gelas koktail diletakkan di hadapan mereka. Satu gelas semerah ceri diserahkannya kepada Cynthia.

Ia tidak tahu minuman kesukaan perempuan tersebut. Belze hanya memilih sesuatu yang menurutnya cocok untuk Cynthia.

About Roleplayverse

This website tells the universes (up to omniverse) of each story that have been developed together since 2014, collected solely as part of a hobby.

© Roleplayverse. All rights reserved.