First Simulation
Antares dan Luxya
Guncangan kecil membuat Luxya Parhelion membuka mata perlahan. Bibirnya berdecak ketika pandangannya menyapu ruangan yang sama sekali tidak dikenalnya.
“Sepertinya ada yang berutang penjelasan atas semua ini,” desisnya.
Ia tidak sendirian. Di sebelahnya, seorang pemuda turut terbangun.
Antares tidak tampak terkejut. Ini bukan pertama kalinya ia membuka mata di rumah asing. Bedanya, tempat ini sama sekali tidak ada dalam ingatannya.
Semuanya sesuai code. Apa aku melupakan sesuatu?
Ia berbalik dan menemukan Luxya tengah menatapnya. Sebuah dugaan segera terbentuk di kepalanya.
Apa aku dalam masalah sekarang?
Luxya memutar mata. Kejengkelan tampak jelas di wajahnya, meski pembawaannya tetap penuh kebanggaan.
“Bagus. Sekarang aku bersama orang asing.” Ia menatap Antares dari atas ke bawah. “Hei, kau, kepala cantik. Jelaskan situasi sekarang!”
Sepertinya benar. Aku dalam masalah, simpul Antares.
“Aku tahu. Selama ini aku tinggal secara ilegal,” jawabnya.
Ia mengira gadis di sebelahnya merupakan anggota satuan khusus—mirip polisi yang lebih sering meminta penjelasan atas kesalahan seseorang daripada menjelaskan kesalahan itu sendiri.
Jawaban tersebut jelas tidak memuaskan Luxya.
“Aku tidak peduli dengan legalitasmu.” Ia mendekat. “Kau beruntung karena bisa berduaan denganku. Sebagai tawaran, bagaimana kalau kau menggunakan dirimu dan menjadi bawahanku?”
Arogansinya terasa begitu dominan tepat di hadapan Antares.
“Aku tidak masalah... tapi kamu tidak salah orang, ’kan?”
Antares tidak begitu peduli pada takhta atau kedudukan. Ia hanya bertanya-tanya, orang kaya macam apa yang menawarkan posisi kepada seseorang tanpa melakukan background check? Kecuali orang tersebut memang terbiasa membawahi orang lain.
Pandangan Antares kemudian jatuh pada meja di samping mereka. Sebuah kartu akses tergeletak di atasnya. Ketika ia mengambil kartu itu, permukaannya menyala, seolah sensornya mengenali pemilik akses tersebut.
Bagaimana caranya tempat ini menjadi milikku? Apa aku diterima kembali?
Antares segera menghentikan pemikiran itu.
Mustahil.
“Kamu,” katanya sambil menoleh kepada Luxya. “Tadi kamu bilang aku beruntung. Apa ada semacam tradisi atau sesuatu yang membawaku ke tempat ini untuk menemuimu?”
“Hm, kau mudah juga,” dengus Luxya.
Ia memperhatikan Antares yang memandangi kartu itu beberapa saat sebelum melemparkan pertanyaan kepadanya. Luxya lantas melirik sekeliling, terutama teleskop bintang yang selama ini hanya bisa ia impikan.
“Sekarang kau bertanya?” katanya. “Aku hanya bilang, cobalah menjadi anak baik mulai sekarang, karena aku akan memastikan hanya ada kita di area ini.”
Ia tidak benar-benar menjawab. Luxya pun tidak memiliki petunjuk mengenai keadaan mereka. Bagaimana ia bisa tahu? Untuk sementara, ia hanya merasa nasib sedang berpihak kepadanya.
“Aku tidak punya niat buruk,” balas Antares cepat. “Lagi pula, buruk itu relatif, tergantung dari mana asalnya.” Ia kembali menatap Luxya. “Kalau kamu tidak tahu apa-apa, tidak perlu memaksakan jawaban.”
“Aku hanya mengingatkanmu karena aku harus terjebak di sini bersamamu,” jelas Luxya sambil melirik tajam. “Huh? Aku bilang begitu karena saat ini aku belum mencoba mengintip tempat lain di luar sana.”
Sebenarnya, ia sendiri tidak tahu apa yang perlu dijelaskan. Sejak terbangun, Luxya merasa bingung dan sedikit terintimidasi. Menjadikan Antares bawahannya setidaknya terasa seperti cara yang lebih baik untuk menguasai keadaan.
“Peduli menyebutkan namamu?” tanyanya datar.
“Antares. Kamu?” Jawabannya singkat. Setelah itu, ia mengangkat kartu akses yang baru saja diambilnya. “Tapi kamu sadar, ’kan? Tempat ini milik kita. Sayangnya, tidak satu pun dari kita mengetahui kebenarannya.”
Ia tidak mengalihkan pandangan.
“Ada seseorang yang merencanakan ini,” lanjutnya. “Dan kalau kamu terjebak di sini bersamaku, itu bisa dianggap sebagai hukuman.”
Antares memiringkan kepala sedikit.
“Apa yang membuat gadis cantik sepertimu dihukum?”
“Luxya Parhelion. Akan kuperbolehkan kau memanggilku Luxya,” jawabnya, sejenak meredakan egonya.
Mereka berada dalam keadaan yang sama. Namun, Luxya tidak berniat melupakan kenyataan bahwa Antares akan menjadi bawahannya.
“Ya, ya. Ini jadi tempat kita dan...” Ia kembali mengamati ruangan. “Memang terlalu bagus dibandingkan tempat terakhir yang kuingat.”
Tidak ada nostalgia ketika ia mengingat jejak kehidupannya. Namun, begitu perkataan Antares akhirnya dipahami, alisnya terangkat. Kepanikan segera melanda, diikuti semburat merah tipis yang menjalar di wajahnya.
“BOD*H! KITA BARU KENAL DAN KAU SUDAH MULAI MENGGODAKU, DASAR TAK TAHU MALU!”
“Apa maksudmu, menggodamu?” Antares justru mempertanyakan kepanikan itu. “Kurasa itu ungkapan yang normal, kecuali...”
Ia kembali menyusun dugaan, seperti sedang memecahkan teka-teki.
“Apa selama ini kau sendirian?”
“Hah—hah?! Tidak masuk akal!” sanggah Luxya, emosinya belum mereda. “Kau meremehkanku!”
Ia menarik napas, lalu mendongakkan kepala dengan bangga.
“DENGAR! Aku bagian dari makhluk tertinggi, salah satu Angelic! Para pelamar mengantre untuk meminangku. Mereka datang dengan segala cara untuk merayuku. Aku tahu rasanya dirayu. Seharusnya kau bersyukur karena bisa berduaan denganku!”
Luxya berdecak dan mengalihkan pandangan. Namun, ia sadar bahwa dirinya tidak pernah berkencan. Tebakan Antares, sialnya, cukup tepat sasaran.
“Harus aku apakan dirimu yang lancang itu?”
“Aku tidak sedang merayumu,” jawab Antares. “Ucapanku fakta, kecuali kalau kamu tidak merasa cantik—atau itu terdengar berlebihan. Kamu berhak mengartikannya dengan cara berbeda.”
Ia membenarkan kerah bajunya yang sedikit miring, kebiasaan kecil untuk menjaga kerapian. Antares berusaha tetap tenang, tetapi pengakuan Luxya mengenai Angelic memiliki makna tersendiri baginya.
Overworld, ya?
“Bukannya kalian seharusnya tertutup?” tanyanya.
Di tempat asalnya, ras tersebut sangat jarang berinteraksi dengan ras lain, bahkan cenderung menghindar. Antares kembali menatap Luxya, mengamati detail wajahnya. Angelic memiliki ciri khas yang ia kenal: cahaya halus di sekitar tubuh, terkadang lebih jelas di bawah mata. Tanda bawaan itu hanya bisa dilihat dari jarak dekat ketika mereka berusaha menyembunyikannya.
Antares mendekat sampai hampir tidak ada jarak di antara mereka. Tangannya terangkat, menyentuh dagu Luxya dan mengangkatnya sedikit agar pandangan mereka sejajar.
“Aku tidak bisa menemukannya.”
“Pintar sekali kau memutar kata-kataku dan melawanku,” kesal Luxya. “Tanyakan itu kepada Angelic lain. Peraturan untuk hidup tertutup tidak berlaku padaku.”
Ia mendongak dengan sombong. Meski demikian, ada saat-saat ketika ia memilih menyendiri, terutama demi kepentingan pribadi.
“Dan juga—apa yang kau lihat?”
Nada tergagap nyaris lolos dari bibirnya. Diamati sedekat itu jelas mengganggu, terlebih ketika Antares bergerak tanpa diduga.
“Hyaa—hmph!”
Luxya refleks membungkam mulutnya sendiri. Rasa malu semakin meningkat dan pikirannya seketika kosong, sementara matanya hanya mampu membalas tatapan Antares.
Antares mengamati lebih teliti, tetapi tetap tidak menemukan tanda yang dicarinya.
“Apa mungkin karena cahayanya terlalu kecil?” gumamnya.
Tekanan kecil pada dagu Luxya belum lepas. Ia bahkan mendekatkan wajah sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
“Wajahmu terlalu dekat, b*doh!” gerutu Luxya.
Kedua tangannya segera menahan dan mendorong wajah Antares menjauh dari batas yang bisa ditoleransinya. Jarak itu terlalu intim untuk diterima.
“Aku tidak paham dengan tingkahmu. Jangan memancingku. Ini peringatan!”
Antares tidak melawan. Ia membiarkan dirinya terdorong sambil memperkirakan kekuatan yang diterimanya, meski pandangannya tidak beralih dari Luxya.
“Baiklah.”
Ia menjauh dari tempat peristirahatan tersebut. Sebelum melangkah lebih jauh, Antares menamatkan code yang telah menjadi rutinitasnya: membersihkan apa pun yang kotor. Ia sempat ingin menanyakan mengapa Luxya berbohong mengenai Angelic, tetapi itu bukan prioritas. Setiap orang mungkin menyimpan rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain.
Membahas tempat ini pun terasa sia-sia. Luxya tidak tahu kebenarannya, begitu pula dirinya.
Antares membuka pintu kamar perlahan. Di baliknya, terbentang ruangan yang jauh lebih besar. Kamar itu ternyata hanya bagian kecil dari sebuah rumah—seperti rumah keluarga—dengan ruang duduk, dapur, kamar mandi, serta berbagai fasilitas yang telah disiapkan. Hampir semua yang ia lihat menyerupai hal-hal yang pernah ia bayangkan. Hawa dan suasananya pun diatur sedemikian baik sampai membuatnya merasa nyaman.
Luxya mengembuskan napas kecil setelah rentetan kejadian singkat yang terus memancing emosinya. Ia sadar dirinya sedang defensif. Dari pengamatannya, Antares tampaknya mengetahui sesuatu. Angelic seperti dirinya memang tidak mudah ditemui, dan ia tidak merasa perlu menjelaskan apa pun kepada orang asing.
“Aku lelah dengan ini,” keluhnya.
Ia menjatuhkan diri ke sofa yang tersedia, tetapi rasa waswas masih membuatnya sulit benar-benar tenang.
Antares menelaah setiap sudut rumah yang kini mereka tempati, lalu kembali menghampiri Luxya.
“Luxya.”
Panggilan itu menarik perhatian gadis tersebut. Iris lapis lazulinya terfokus pada Antares.
“Apa kita bisa saling jujur?” tanya Antares.
Pertanyaan itu perlu diajukan untuk mengakhiri batas yang membuat mereka sama-sama tertutup.
“Aku bisa jujur, tapi tidak banyak,” jawab Luxya, sedikit melunak. “Aku juga tidak menawarkan lebih dari itu karena kau bawahanku. Jadi, sebagai awalan... aku ingin penjelasan mengenai tindakanmu sebelumnya.”
Posturnya kembali rileks. Ia menyilangkan kaki, mempertahankan sisi anggunnya.
“Tindakan sebelumnya?” Antares mengulang, seolah tidak berdosa.
Ia tahu apa yang dimaksud Luxya, tetapi baginya hal itu bukan sesuatu yang penting untuk dipermasalahkan.
“Kamu... merasa nyaman di tempat ini?” tanyanya sebagai gantinya.
Luxya mendelik. Antares justru membalas dengan pertanyaan dan menghindari topik seolah kejadian sebelumnya tidak penting.
“Lupakan,” dengusnya sambil mengayunkan kaki. “Nyaman? Hm. Untuk ruang pribadiku, ini nyaman. Tapi tidak dengan keberadaan orang lain, terutama orang asing.”
Sindiran itu jelas ditujukan kepada Antares.
“Kau tidak suka di sini?” tanyanya balik.
“Aku merasa comfortable—atau mungkin biasa. Tapi itu masalahnya.” Nada Antares sedikit meninggi dari kedatarannya semula. “Dengan kehadiranmu, seharusnya aku enggan. Aku terbiasa menjauhi orang-orang, apalagi yang mencolok... rupawan.”
Antares pernah diasingkan dari rasnya. Itulah alasan utama mengapa ia menganggap siapa pun yang berada di dekatnya sedang dihukum.
“Itu yang mendasari tindakanku.”
Kenyamanan karena terbiasa, pikir Luxya sekilas.
Lengkung tipis terbentuk di bibirnya. Emosinya telah jauh lebih tenang.
“Kau tahu, aku akan terbiasa dengan ini.” Luxya melipat kedua tangan. “Maksudku, tidak ada yang tahu keadaan selanjutnya. Tempat ini bagus dan nyaman, tapi keanehannya adalah sesuatu yang harus kita terima.”
Ia memiringkan kepala.
“Jadi, apa kau akan tetap nyaman hanya dengan ini? Jujur saja, aku ini kreatif, loh.”
“Tentu. Sekarang... ini bisa diterima dan aku tidak masalah,” jawab Antares ringan.
Ia memilih duduk di sofa, cukup jauh dari posisi Luxya.
“Hal kreatif apa yang ingin kamu lakukan?”
Luxya tidak segera menjawab. Ia menahan senyum, lalu berdiri. Sekilas, iris matanya bercahaya dari balik bayang-bayang rambutnya.
“Aku mudah bosan,” katanya sambil berjalan pelan mengitari Antares. “Aku tidak bisa berdiam diri terlalu lama di satu tempat, dan pelaku kemalanganku tampaknya terlalu malu untuk muncul.”
Ia berhenti tepat di belakang Antares.
“Jadi, aku akan melakukan segala cara agar tetap terhibur. Misalnya...” Luxya menundukkan kepala di sisi telinganya, seolah hanya mereka berdua yang boleh mengetahui rahasia itu. “Bagaimana dengan uji coba pada peruntunganmu, Antares?”
Antares menggerakkan mata sedikit ke arahnya. Tangan kanannya terangkat dan menyentuh helai rambut Luxya yang jatuh di dekat leher, merapikannya dengan pelan. Ia memiringkan kepala ke arah sumber suara.
“Saat ada kesempatan... aku biasanya tidak pernah menahan diri.”
Kedua siku Luxya bertumpu pada sandaran sofa di belakang pemuda itu. Salah satu tangannya merapikan untaian rambut Antares yang menghiasi wajahnya. Dari jarak dekat, mata mereka bertemu.
“Itu jawaban ya atau tidak?” tantangnya dengan suara rendah.
Luxya hanya ingin memastikan. Baginya, ini termasuk taruhan pada takdir, dan ia ingin melihat hasilnya.
Antares tidak mengedip maupun membenarkan posisi. Napasnya tetap teratur—setidaknya tampak demikian.
“Ya.”
Ia masuk ke dalam permainan. Perubahan yang cukup besar itu membuatnya bertanya-tanya apakah suasana asing di tempat ini mulai memengaruhinya.
“Apa hasil yang akan kudapatkan?” tanyanya. “Maksudku, kesempatan hanya datang sekali. Aku hanya mengambil apa yang ada di depanku.”
Kali ini suaranya turun menjadi bisikan.
“Bagus,” desis Luxya.
Ia berpaling dan segera duduk di sofa kosong lain, dekat dengan Antares.
“Aku bisa memberikan barang bagus, menurutku.” Luxya menaikkan alis. “Aku akan memberimu ‘pandangan spiritual’ dengan syarat kau mengalahkanku.”
Senyumannya terlihat lucu, sementara penjelasan lebih jauh sengaja ia tahan sampai Antares bertanya.
“Pandangan spiritual?”
Antares menyadari ada perbedaan besar antara hal yang Luxya maksud dan pengetahuan yang ia miliki. Namun, pikirannya justru teralihkan.
“Kamu tahu siapa raja langit di Overworld sekarang?”
Luxya melirik langit-langit dengan tatapan bosan, seolah tidak ada hal yang benar-benar penting.
“Aku tidak mengenalnya secara pribadi, tapi mungkin aku bisa menebaknya,” jawabnya singkat.
Bagi Luxya, kekuatan adalah kunci. Trik kecilnya selalu berguna.
“Dia menyelamatkan rasnya dengan mengunci rakyatnya dari apa yang dianggap kotor,” ungkap Antares. “Tindakan protektif terhadap apa yang ia miliki sekarang. Itu buruk bagi mereka yang terkurung, tetapi dengan begitu mereka aman dari banyak sumber bahaya.”
Antares bangkit dan berdiri di hadapan Luxya. Tatapannya menajam.
“Kamu terkurung di sini bersamaku.”
Ia maju setengah langkah.
“Bagaimana kalau di dalam sangkar justru ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada semua yang ada di luar sana?”
Wajahnya mendekat ke wajah Luxya, tatapannya mengisyaratkan sesuatu.
“Kau menawariku sesuatu dengan syarat aku mengalahkanmu.”
Kedua tangannya terangkat, mengapit sisi wajah Luxya. Jempolnya menekan ringan pipi gadis itu, sementara jari-jari lain menempel pada rahangnya. Sentuhannya tidak kasar.
“Kau yakin?”
Intimidasi itu datang lagi. Kali ini Luxya tidak menunjukkan keterkejutan. Celotehan dan tindakan Antares membuatnya tampak seperti predator—terutama ketika semuanya diarahkan kepadanya.
Alis Luxya berkedut saat merasakan kehangatan dari pemuda di hadapannya. Antares berbicara seolah mampu memangsanya. Berbahaya? Luxya tidak tertawa. Bibirnya hanya membentuk senyum kecil.
“Jadilah tamuku,” tantangnya lembut, tetapi tajam. “Tunjukkan hiburan yang tidak terlupakan. Kalahkan aku seolah esok tidak akan pernah datang lagi.”
Arogansinya tidak hilang. Hasrat untuk melawan dan tidak kalah justru semakin menyala.
Luxya mengulurkan tangan. Jari telunjuknya menggambar pola halus pada tenggorokan Antares, merasakan denyut nadi pemuda itu di ujung jarinya. Ia mencondongkan kepala lebih rendah ke leher Antares, sementara senyumannya semakin lebar.
Bella dan Jeanny
Ketika Jeanny mulai menunjukkan tanda-tanda akan terbangun, Bella baru saja kembali dari menjelajahi rumah tempat mereka berada.
Satu kata terus melintas di kepalanya sejak tadi: asing.
Namun, yang membuat Bella bergidik bukan sekadar karena tempat itu tidak dikenalnya. Rumah tersebut menyerupai hunian impian yang dahulu ingin ia miliki sampai rela mati-matian mengumpulkan uang sebagai seorang Diva—sebuah vila. Setiap sudutnya seperti disusun untuk memenuhi keinginannya.
Dalam penjelajahannya, Bella bahkan menemukan sebuah ruangan besar yang memuat danau serta hutan tropis mini. Di sanalah Marin, naga pendampingnya, berada. Untungnya, anak itu baik-baik saja. Meski demikian, udara, iklim, dan atmosfer di tempat ini terasa berbeda. Sulit menjelaskan perbedaannya, tetapi Bella yakin ada sesuatu yang aneh.
Ia kembali ke kamar sambil mendorong troli berisi dua piring panekuk dan dua gelas teh kamomil. Semua hidangan itu diletakkannya di meja kopi dekat ujung ranjang dan sofa. Setelah duduk di salah satu kursi dengan kaki menyilang, Bella menikmati tehnya sambil mengamati pemuda yang sejak tadi terbaring di ranjang.
Saat tubuh pemuda itu mulai bergerak, Bella menoleh dan mengulas senyum.
“Morning, Mr. Stranger.”
Semburat cahaya yang menyilaukan mengakhiri mimpi Jean-Pierré Maximilian Desailly. Pemuda berperawakan tinggi dan tegap, dengan beberapa garis luka di wajah itu, perlahan memperoleh kesadarannya.
Ia berasal dari Semesta Staircase, tetapi eksistensinya nyaris tidak terasa—seolah seluruh dunia telah melupakannya. Sebagai remaja pelarian, Jeanny terbiasa menghadapi beragam keadaan, dari lingkungan yang nyaman sampai tempat yang mengancam nyawa. Namun, suasana kali ini sama sekali berbeda.
Di mana ini? Kenapa aku bisa berada di sini?
Tubuhnya terasa ringkih. Lebih buruk lagi, Jeanny tidak mengingat hal terakhir yang terjadi kepadanya sebelum tidur panjang tersebut. Iklim, atmosfer, dan keseluruhan vibe ruangan begitu kompleks hingga otaknya kesulitan mencerna keadaan.
Apa aku sudah mati? Koma? Atau ini gejala medis ketika seseorang bermimpi di dalam mimpi lain?
Selama beberapa menit, Jeanny tetap diam. Kehadiran Bella yang membawa makanan dan minuman akhirnya meruntuhkan dugaan bahwa ia tengah mengalami false awakening. Semua ini nyata.
Ia memaksa tubuhnya mengambil posisi duduk. Perhatiannya yang semula tertuju pada pertanyaan mengenai tempat itu kini beralih kepada perempuan cantik di hadapannya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi kebingungan membuat kata-kata sulit keluar. Jeanny hanya menatap Bella dalam diam, berharap perempuan itu kembali bicara.
Senyum Bella berubah menjadi raut bingung ketika sapaan tadi tidak mendapat balasan. Pemuda itu tampak lemah. Kekhawatiran kecil muncul di wajahnya.
“Ah, apa kau juga bingung kenapa ada di sini?” tanya Bella. “Sejujurnya aku juga sama. Saat bangun, aku terkejut karena ada orang asing di kasurku.”
Ia menunjuk sebuah kartu akses di atas meja.
“Melalui keycard itu, aku tahu rumah ini menjadi milik kita—milikku dan milikmu. Tapi aku masih belum paham maksudnya. Aku sempat berkeliling. Rumah ini sangat luas dan dipenuhi benda-benda yang familiar bagiku, juga beberapa benda asing yang sama sekali tidak kuketahui.”
Tanpa perlu ditanya, Bella menjelaskan semua yang telah ditemukannya.
“Omong-omong, namaku Belladonna, tapi kau bisa memanggilku Bella. Tubuhmu baik-baik saja? Kita bisa mengeksplorasi tempat ini bersama, tapi tidak perlu memaksakan diri. Aku juga memasak sesuatu untuk menambah energi. Sebaiknya makan dulu.”
Jeanny mendengarkan kata demi kata dengan saksama. Ia menyaring setiap informasi, termasuk hal-hal yang tampaknya tidak penting, lalu mencoba merangkainya menjadi petunjuk mengenai bagaimana mereka bisa berada di tempat ini.
Sesekali matanya melirik kartu akses yang Bella tunjuk. Setidaknya, perempuan itu tidak sedang mengarang.
“Ah, iya. Panggil saja aku Jeanny.” Suaranya akhirnya keluar. “Dan tenang saja, aku hanya sedikit... kebingungan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, setidaknya untuk saat ini.”
Ia bangkit seperti remaja jompo yang baru lama tidak bergerak, lalu meregangkan tubuh sampai bunyi sendi terdengar cukup keras. Setelah memindai setiap sudut ruangan, Jeanny kembali menatap Bella. Tatapannya lebih intens, tetapi ekspresinya tetap tenang agar perempuan itu tidak merasa terintimidasi oleh perawakan dan luka-luka di wajahnya.
“Kembali ke ucapanmu tadi. Apa kau mengingat kejadian terakhir sebelum kita terbangun di tempat ini?”
“Ah, baiklah... Jeanny.”
Bella masih meragukan pengakuannya bahwa ia baik-baik saja. Bunyi sendi pemuda itu terdengar seperti milik seorang kakek. Ia cepat-cepat menggeleng untuk membuang pikiran tersebut, lalu kembali berfokus pada pertanyaan.
“Hm... seingatku, aku sedang memancing ikan di tengah laut bersama Marin. Karena badai hendak datang, aku segera kembali ke gubuk di pesisir. Setelah itu, aku tidak ingat apa pun lagi.”
Bella berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Oh, Marin adalah naga pendampingku, kalau kau ingin tahu. Aku tidak mengerti bagaimana caranya, tapi siapa pun yang membawaku kemari juga membawa Marin. Dia ada di salah satu pantai buatan di dalam rumah ini. Aku tidak tahu seberapa besar ruangan itu karena sangat luas. Aku baru sadar pantai tersebut berada di dalam rumah setelah Marin bilang dia tidak bisa menemukan jalan keluar.”
Ah, sial.
Bella ternyata mengalami nasib yang sama dengannya. Jeanny mulai menyimpulkan bahwa mereka sengaja ditempatkan di rumah entah-di-mana ini. Jalan pikirannya kembali menemui kebuntuan, tetapi ia belum berniat berhenti mencari jawaban.
“Kalau begitu, bukankah kita harus menemui Marin sekarang?” katanya, setengah memotong penjelasan Bella.
Iris matanya kembali menyapu ruangan. Dengan penglihatan istimewa sebagai penghuni asli Semesta Staircase, Jeanny menangkap sesuatu yang tidak kasatmata bagi kebanyakan orang. Partikel, molekul, dan energi penyusun tempat ini berbeda dari dunia asalnya.
Satu fakta akhirnya terungkap: ia tidak lagi berada di semestanya.
Jeanny memilih menyimpan kesimpulan itu untuk sementara.
“Jadi, bagaimana, Bella?” tanyanya lagi.
Jika Bella bersedia membawanya menemui Marin, mereka mungkin bisa memperoleh petunjuk lain.
“Tentu. Ayo pergi!”
Bella beranjak dari sofa, menghampiri Jeanny, lalu menggenggam tangannya.
“Biar aku tunjukkan jalannya.”
Ia menuntun Jeanny dengan antusias, meski langkahnya tetap hati-hati karena khawatir pemuda itu masih kesulitan bergerak.
Beberapa waktu kemudian, mereka sampai di ruangan besar yang tadi diceritakan Bella. Sebuah danau membentang di tengah hutan tropis mini, seluruhnya berada di dalam rumah. Di permukaan air, seekor naga sepanjang sekitar sebelas meter dan selebar lima meter tampak berenang dengan tenang.
Bella menunjuk ke arahnya.
“Itu Marin. Dia anak yang jinak.”
Belze dan Cynthia
Pandangan Belze menyisir seluruh ruangan. Ia tidak menunjukkan keterkejutan berarti sampai menemukan seorang gadis terbaring di sampingnya.
“....”
Ujung jarinya menyentuh pipi gadis itu. Hangat. Bukan mayat.
Gadis tersebut tidak juga terbangun, meski pipinya telah disentuh. Air mata justru mengalir di wajahnya. Dalam tidurnya, Cynthia memimpikan wilayahnya yang sedang dihancurkan oleh anomali.
“...”
Keadaan itu terasa semakin rumit bagi Belze. Gadis di sebelahnya hidup, tetapi tetap tidak bangun bahkan ketika menangis. Ia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan dalam situasi seperti ini.
Ketika kembali mengamati kamar, Belze menyadari adanya berbagai peralatan kerajinan yang persis seperti miliknya di dunia asal. Sebuah kartu akses juga tergeletak di atas meja, tetapi tak ada penjelasan lain yang bisa membantunya memahami tempat tersebut.
Ia mengambil segulung kain serta alat jahit. Belze tahu wajahnya tidak ramah. Daripada membuat gadis itu terkejut saat membuka mata, ia memutuskan menunggu sambil menyiapkan sesuatu. Tangannya mulai menggambar pola pada kain.
Beberapa saat kemudian, Cynthia membuka mata.
Ruangan asing menyambutnya. Tidak ada sesuatu yang ia anggap istimewa selain seorang pemuda bertubuh besar yang tengah menyiapkan sesuatu di dekatnya. Cynthia tidak tampak panik. Tatapannya justru menyiratkan kepasrahan.
Mungkin dirinya dijadikan bahan percobaan atau semacamnya. Setelah kehilangan segalanya, kemungkinan itu tidak terdengar mustahil.
“...”
Setelah cukup lama terpaku pada benda di tangannya, Belze menoleh. Gadis itu sudah bangun. Kebetulan, pekerjaannya juga telah selesai.
Dengan hati-hati, ia menyerahkan sebuah boneka kain berbentuk kura-kura kecil kepada gadis yang masih muram itu. Belze sendiri tidak tahu apa maksud tindakannya. Mungkin sebuah bentuk sapaan. Hanya itu yang terpikir olehnya.
Cynthia sedikit terkejut. Di balik penampilan Belze yang besar dan tidak ramah, pria itu ternyata mampu membuat boneka sekecil dan selucu itu.
“Cynthia Talia...” katanya pelan. Menurutnya, saling mengetahui nama mungkin dapat memperbaiki suasana. “Biasanya dipanggil Cynthia.”
Belze mengangguk singkat, berusaha mengingat nama tersebut. Setidaknya, gadis itu memahami maksudnya dan tidak tampak ketakutan.
“Belze.”
Suara rendah yang jarang didengar siapa pun itu menjadi perkenalannya.
Belze kembali ke meja kerja. Kali ini ia mengambil beberapa plushie dalam berbagai bentuk yang telah dibuatnya. Kura-kura tadi ternyata hanya salah satunya. Ia berharap benda-benda itu dapat membuat keadaan sedikit lebih baik.
Cynthia menatap boneka-boneka tersebut dengan heran. Bukan rasa senang yang pertama kali muncul, melainkan pertanyaan mengenai alasan Belze membuat dan memberikan semuanya kepadanya. Namun, jumlah boneka itu membuktikan bahwa pria tersebut telah terbangun jauh lebih awal.
“...Ini di mana?”
Cynthia meletakkan boneka-boneka itu, lalu memperhatikan beberapa pot bunga di dekatnya. Tempat ini seperti sengaja menyediakan sesuatu yang sesuai dengan bakatnya menumbuhkan bunga. Pikiran mengenai eksperimen mental kembali terlintas.
Belze menggeleng pelan. Seperti Cynthia, ia juga terbangun tanpa memahami keadaan. Tak ada petunjuk selain kamar yang dipenuhi barang-barang yang cocok bagi mereka—setidaknya begitulah asumsinya.
Ia kemudian menunjuk pintu kamar, mengajak Cynthia mencari tahu lebih jauh.
Belze bergerak lebih dulu. Dengan waspada, tangannya memutar kenop, bersiap menghadapi ancaman apa pun di balik pintu.
Klik.
Tidak ada ancaman. Mereka masih berada di dalam sebuah bangunan. Lebih tepatnya, kamar itu terhubung dengan rumah berinterior normal.
Cynthia mengikuti dari belakang. Tanpa sepengetahuan Belze, ia mengalirkan sedikit darah dari ujung jarinya untuk memastikan kekuatannya masih dapat digunakan jika kemungkinan terburuk terjadi. Hasilnya melegakan. Ia masih bisa melawan, sehingga darah itu segera dihilangkannya.
Keheranan semakin tampak di wajah Cynthia ketika melihat rumah biasa di balik kamar tempat mereka terbangun.
“...Apa kau yakin bukan kau yang menculikku?”
Belze melirik dari sudut mata. Alis peraknya yang tipis terangkat. Ia mengerti mengapa Cynthia mencurigainya. Belze sendiri tidak mengingat apa yang terjadi sebelum tersadar di rumah itu. Terlebih lagi, Cynthia terbangun hanya bersama lelaki yang tidak dikenalnya.
Ia menggeleng dengan yakin. Belze menyayangkan ketidakmampuannya memberikan informasi lain, tetapi begitulah keadaan mereka. Ia pun korban dari peristiwa ini.
Mereka terus menyusuri rumah. Belze membuka pintu, lemari, kabinet, dan apa pun yang mungkin menyimpan jejak orang lain atau petunjuk mengenai lokasi mereka. Dengan mengikutinya, Cynthia perlahan mampu memetakan bangunan tersebut.
Satu pintu besar yang tampaknya mengarah keluar akhirnya mencuri perhatian Cynthia.
“Apa kau sudah memeriksa yang di sana?” tanyanya sambil menunjuk.
Belze mengikuti arah tatapannya. Di rumah yang memberi mereka akses penuh pada segala kebutuhan—bahkan keinginan—hanya pintu itu yang belum diperiksa.
Ia menggenggam kartu akses miliknya. Kartu tersebut telah membebaskannya mengitari seluruh rumah, tetapi Belze masih terlalu curiga untuk menyentuh banyak benda selain peralatan kerajinan yang dipakainya membuat boneka bagi Cynthia.
Jika pintu itu benar-benar jalan keluar, apakah mereka bisa pergi semudah ini?
Klik.
Kenopnya dapat diputar, tetapi Belze belum mengayunkan daun pintu. Ia melirik Cynthia, lalu mengulurkan satu tangan ke belakang.
Di dunia asing ini, menurutnya, mereka akan lebih aman jika tidak berpencar.
Sekarang keputusan berada di tangan Cynthia: ikut atau tetap tinggal.
Ken dan Zhigalkovich
Ken terbangun di sebuah ruangan asing dan mendapati seorang gadis cantik masih tertidur di sampingnya. Ia segera berdiri tanpa banyak memedulikan keberadaan gadis itu, lalu menelaah keadaan sekitar.
Beberapa barang miliknya berada di dalam kamar—termasuk benda-benda yang pernah hilang maupun sengaja dikorbankannya. Saat merasakan sesuatu di balik pakaian, Ken merogoh saku bagian dalam dan menemukan buku hariannya.
Ia membuka buku tersebut. Ingatan terakhir yang tercatat adalah ketika ia menyempurnakan sebuah teknik dengan menghapus identitasnya sendiri sebagai bayaran. Kini, bahkan nama asli pun tidak lagi melekat dalam ingatannya. Hanya satu nama yang tertulis di penghujung catatan itu: Ken.
Di belakangnya, gadis yang tadi tertidur mulai bergerak.
Terbangun di akhir dunia. Di dalam bingung, tersisa tanya: hari ini apa yang berbeda? Di samping sini ada seseorang yang tidak dikenal.
Zhigalkovich membuka mata setelah malam panjang yang dipenuhi mimpi-mimpi mengerikan. Yang lebih mengerikan lagi, ada seseorang di sebelahnya—seorang karakter sampingan, mungkin. Bagi Zhigalkovich, siapa pun yang tidak dikenalnya akan langsung masuk ke dalam kategori tersebut.
“Hah?! Aku terbangun?!”
Ia mendadak berdiri ketika menyadari banyak hal aneh di sekitarnya.
“Woi! Kau siapa?!”
Tatapannya tertuju pada Ken.
“Kau pakai skincare apa, bajingan? Kenapa kulitmu nggak hitam? Kamu orang Ebony, kan?!”
Baru bangun, Zhigalkovich sudah berbicara kasar dan nyaris membentak. Perbedaan warna kulit membuat rasa penasarannya meledak tanpa kendali.
“Bajingan! Kau beli banyak skincare sampai seluruh kulitmu putih? Pasti kamu orang kaya, ya, brengsek?!”
Ken tidak banyak merespons maupun berekspresi. Pikirannya masih sibuk mencari alasan mengapa ia bisa berada di tempat tersebut.
“Entahlah. Aku tidak tahu apa yang kau maksud dengan skincare. Aku juga bukan orang kaya,” jawabnya tenang sambil memungut barang-barang penting miliknya—pedang, kunai, dan perlengkapan lain.
Ia kembali memindai ruangan, seolah bentakan Zhigalkovich tidak lebih penting daripada benda-benda yang harus diamankannya.
Ocehan gadis itu terus meledak dan mengganggu telinga.
“Brengsek, kau nggak tahu apa-apa soal dunia ini? Apa kau beban negara Ebony, bajingan?!”
Zhigalkovich sengaja mempertahankan suara lantangnya, seakan ingin menjatuhkan mental lawan bicara.
“Kau bukan orang kaya? Berarti kau orang miskin?! Ternyata aku bertemu orang miskin yang cuma nyolong skincare, makanya kulitnya putih begini! Bahkan dia mengaku nggak tahu-menahu soal skincare!”
Ia belum berhenti.
“Dasar miskin! Lantas bagaimana kulitmu bisa putih? Kau nyolong di daerah mana?!”
Ken tetap tidak terlalu menghiraukannya. Aroma daun teh yang familiar dari atas meja justru lebih menarik perhatian. Ia mencicipi minuman tersebut, lalu mulai menulis sambil menikmati tehnya—seolah gadis di belakangnya tidak lebih menarik daripada kertas dan minuman di tangannya.
“Aku tidak pernah mendengar negara Ebony. Planet lain?” tanyanya tanpa menoleh.
Sesaat kemudian, ia menjawab pertanyaan yang sejak tadi diteriakkan kepadanya.
“Begini sejak lahir.”
Zhigalkovich menatapnya tidak percaya.
“Kau menyebutku alien, brengsek?!”
Ia kembali membentak.
“Dari wajahmu, kau itu pria gagal ngajak cewek buat berkembang biak! Kau kira aku nggak tahu ekspresi wajah orang-orang ngenes, brengsek?!”
Zhigalkovich bahkan mulai mengomentari wajah Ken tanpa diminta.
“Dari lahir, biji kau! Jangan belagak pintar sampai merasa bisa membodohiku. Aku curiga alat kelaminmu kecil sampai-sampai cara bicaramu kayak orang kekurangan gizi dari sayuran!”
Kata-katanya semakin melantur.
“Atau jangan-jangan kau nggak punya alat kelamin?!”
Ken tetap duduk di depan meja dengan buku harian dan tehnya, membiarkan suara Zhigalkovich memenuhi ruangan asing tersebut.
Leah dan Lucerix
Lucerix terbangun lebih dahulu daripada pasangan ranjang misteriusnya yang masih terlelap. Enam tangan mekanik yang meliuk dari punggung membantunya duduk di sisi ranjang. Semuanya bergerak mengikuti perintah otak—menyapu seisi ruangan, menggeser tirai, memeriksa lemari, sampai menyentuh permukaan dinding.
Lensa optik di sisi mata kanannya berkedip, memproses setiap detail. Namun, layar kecil yang menutupi mata kirinya hanya menampilkan deretan tanda tanya merah.
ERROR. Anomali di sekitar tidak dapat diidentifikasi.
Di atas sebuah meja, Lucerix menemukan kartu akses yang seolah sengaja diletakkan untuk mereka. Salah satu tangan mekaniknya membolak-balik kartu itu, tetapi tidak ada petunjuk lain yang dapat menjelaskan siapa pemilik rumah atau bagaimana mereka sampai di sana.
Ia kembali menatap gadis yang belum terusik dari tidurnya. Deretan manekin di sudut ruangan membuat Lucerix menduga kamar ideal ini mungkin disiapkan untuk gadis tersebut.
Salah satu tangan mekaniknya menyibak selimut, sementara tangan lain membuka kelopak mata dan mulut gadis itu untuk memeriksa kondisinya. Ketika tubuh di hadapannya mulai bereaksi, keenam lengan tersebut segera kembali bersembunyi di balik punggung.
Dengan senyum ramah yang telah terlatih, Lucerix menyapa, “Selamat pagi.”
Sejak awal, Leah sebenarnya tidak berniat tidur lebih lama di tempat yang ia sadari asing. Pergerakan dan sentuhan yang mengusik akhirnya membuatnya memutar tubuh, lalu membuka mata perlahan. Kantuk masih mengaburkan pandangannya ketika sepasang netra safir itu menyapu keadaan sekitar.
Di hadapannya berdiri seorang lelaki yang sama sekali tidak ia kenal.
Kesadaran Leah berangsur terfokus. Mengapa ia berada dalam satu kamar—bahkan satu ranjang—dengan lelaki asing? Keterkejutannya semakin besar ketika melihat enam lengan mekanik serta modifikasi pada mata pria tersebut.
“.....”
Dengan gerakan yang diusahakan sesopan mungkin, Leah menggeser tubuh ke belakang hingga punggungnya hampir merapat pada dinding. Ia harus memilih: marah demi harga diri dan martabatnya, atau tetap tenang sambil mencari tahu apa yang sedang terjadi.
“Selamat pagi,” balasnya pada akhirnya. “Di mana ini? Kenapa aku bisa berada di sini?”
“Ah.” Lucerix mengangguk maklum dengan tatapan simpatik.
Senyum tipisnya tidak berubah. Ia justru menemukan hiburan tersendiri dari kebingungan Leah yang mulai menciptakan jarak di antara mereka.
“Sayangnya, aku juga tidak berada dalam posisi untuk memberikan jawaban yang memuaskan.”
Tanpa banyak basa-basi, ia mengulurkan tangan kanannya—anggota tubuh yang masih berfungsi secara normal.
“Lucerix Vayne, dari Aurevex Dynamics Tech.”
Ia memperkenalkan diri sekaligus perusahaan tempatnya bekerja sebagai perancang prototipe augmentasi, terkenal karena mengubah alat bantu khusus menjadi alat tempur.
“Familiar, tidak?” tanyanya dengan penekanan tertentu.
Lucerix ingin memastikan kecurigaannya bahwa mereka berada di dunia yang bertolak belakang dari tempat asalnya—dunia tempat mereka yang bertubuh utuh dapat berkeliaran tanpa dicemooh atau diperlakukan sebagai tikus percobaan. Sebuah fantasi yang terlalu indah untuk berada dalam genggamannya, dan yang dengan senang hati akan ia hancurkan demi semua orang.
Jawaban itu membuat Leah menyimpulkan bahwa Lucerix mungkin juga korban penculikan. Setidaknya, itulah penjelasan paling masuk akal. Namun, ketika kembali mengamati ruangan, ia mulai meragukan asumsi tersebut.
Tempat ini terlalu bagus dan nyaman untuk menjadi ruang kurungan. Tidak ada tali yang membatasi pergerakan mereka. Perabotan, hiasan, lukisan, dan karya seni langka yang selama ini diidamkan Leah memenuhi kamar, seolah ruangan itu diciptakan khusus agar ia betah.
Selembar kertas di atas meja mencuri perhatiannya. Leah mengambil dan memeriksanya.
“Apa maksudnya ini?”
Ia tetap tidak beranjak jauh dari posisi semula. Ketika Lucerix mengulurkan tangan, Leah melirik telapak itu, lalu kembali menatap wajah pemiliknya. Tatapannya menghakimi—sebuah kebiasaan yang sulit ia kendalikan.
“Tidak pernah dengar,” jawabnya mengenai nama Lucerix maupun Aurevex Dynamics Tech.
Ia juga tidak ingin berjabat tangan dengan pria berfisik tidak sempurna yang memasang begitu banyak lengan besi penuh kuman. Namun, alasan sesungguhnya terlalu kasar untuk diucapkan. Leah memilih alasan yang lebih masuk akal, setidaknya menurutnya.
“Maaf, aku tidak berjabat tangan dengan orang yang baru kukenal.”
Pada dasarnya, Leah malas berurusan dengan orang yang tidak dianggap selevel dengannya. Ia berusaha menutupinya demi pencitraan, meski tatapan merendahkan di wajahnya mengatakan hal yang berbeda.
Lucerix menatap Leah agak lama, seolah menelusuri celah pikirannya sambil menghitung detak jantung yang mulai meningkat. Senyum tipisnya tidak memudar, tetapi pupil mata modifikasinya menyempit.
Tatapan itu membuat Leah tidak nyaman. Berada serumah—bahkan sekamar—dengan pria aneh seperti ini sama sekali tidak masuk dalam daftar keinginannya.
“Aku pergi saja,” katanya sambil mengambil posisi berdiri.
Namun, sebelum ia sempat melangkah, keenam lengan mekanik Lucerix bergerak serempak. Suara logam bergesekan memenuhi kamar. Dalam sekejap, lingkaran-lingkaran logam membelit tubuh Leah, menahan kedua tangannya di sisi tubuh serta melilit pinggang dan bahunya dengan tekanan yang nyaris meremukkan tulang.
Leah mengerang. Rasa sakit terlihat jelas di wajahnya. Ia berusaha meronta, tetapi gerakannya terbatas.
Lucerix mengangkat tubuhnya setinggi mata. Napas pria itu terdengar berat, sementara tawa patah-patah lolos dari tenggorokannya.
“Dasar perempuan cacat yang tidak tahu sopan santun.”
Nada suaranya turun beberapa oktaf, sarat ancaman. Tatapan predatorisnya tidak berkedip ketika ia membawa Leah lebih dekat, memastikan gadis itu merasakan setiap embusan napas pada kulitnya.
Satu jari menyentuh helaian rambut Leah. Punggung tangannya membelai pipi gadis itu dengan perhatian palsu.
“Ah!”
Leah menggeliat sebisanya, tidak mampu menyembunyikan kesakitan.
“S-singkirkan tangan-tangan berkaratmu dari tubuhku....”
Ia mendongak dan membuang wajah, berusaha menjauhkan pipinya dari sentuhan Lucerix. Leah membenci ketidakberdayaan yang kini terlihat begitu jelas.
“Aku bisa membuat setiap insan tidak mampu mengalihkan mata darimu sampai mereka lupa bernapas,” ujar Lucerix.
Tatapannya nyaris terlihat peduli. Jarinya turun ke leher Leah dan merasakan denyut nadi yang berusaha meronta di bawah kulit. Ia terkekeh, menikmati setiap detik yang seolah berjalan lebih lambat.
“Bersediakah kau meladeni pria malang ini barang sebentar saja?” bisiknya.
“Tidak sudi! Lepaskan aku!”
Leah kembali meronta. Suaranya berubah menjadi perintah tegas, menolak mentah-mentah, sementara tekanan lengan-lengan mekanik itu membuat tulangnya terasa remuk.
Leon dan Soraya
“....?!”
Hal pertama yang Leon lihat ketika membuka mata adalah seorang gadis di sampingnya.
Ia terkejut bukan kepalang. Saat buru-buru bergeser, tubuhnya malah jatuh dari ranjang. Leon segera bangkit dan terus mundur sampai punggungnya menempel pada dinding, dengan posisi nyaris seperti laba-laba. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
AKU GAK NGAPA-NGAPAIN CEWEK ITU, KAN?!
Soraya membuka mata setelah merasakan gerakan di sampingnya. Sudah bertahun-tahun ia tidak tidur bersama neneknya, dan tempat ini jelas bukan kamar mereka. Udara di ruangan tersebut jauh lebih hangat daripada rumahnya yang hampir sepanjang tahun tertutup salju.
Matanya membelalak ketika melihat seorang pria asing jatuh berguling di dalam kamar yang sama sekali tidak dikenalnya. Berbagai peralatan aneh memenuhi sekeliling mereka.
Soraya ikut turun dari ranjang—tanpa ikut terjatuh—lalu menyambar tongkat yang berada di dekatnya. Ia menodongkan benda itu kepada Leon dengan alis berkerut.
“Siapa kau? Di mana ini?!”
“Lho, mana aku tahu?! Harusnya aku yang tanya kenapa kau ada di kamar—”
Leon menghentikan ucapannya. Setelah melihat furnitur di sekeliling, ia baru sadar bahwa ini bukan kamarnya. Ruangan tersebut bahkan jauh lebih luas daripada kamar di rumahnya.
Kepanikan Leon hanya bertahan sampai pikirannya kembali bekerja. Matanya menangkap sebuah benda asing di atas meja samping ranjang.
“Aku hanya ingat, terakhir kali aku hendak menghadiri upacara pembukaan untuk personel militer baru. Tapi aku tidak ingat bagaimana bisa sampai di sini....”
Ia berjalan ke meja dan mengangkat kartu yang tergeletak di sana.
“Ini... kartu akses rumah?” Leon memeriksanya. “Kau yakin ini bukan rumahmu? Rumahku tidak sebesar tempat ini.”
Soraya mendekat dan menatap kartu di tangan Leon dengan semakin heran. Mana ada kunci pintu setipis itu? Bentuknya justru mirip kartu ATM milik neneknya untuk menabung di bank kota atau menaiki kereta.
“Benda ini kunci pintu?” tanyanya. “Dan bukan, ini bukan rumahku. Aku tinggal di Desa Oymyakon, Rusia. Seharusnya jauh lebih dingin. Di sini terlalu hangat.”
Matanya kembali menyapu meja. Soraya membuka salah satu laci dan menemukan beberapa bungkus kecil berwarna mencolok.
“Oh, mereka punya permen.”
“....”
Gadis ini tampaknya tidak mengenal sistem kartu akses. Leon sendiri mungkin juga tidak akan tahu tanpa pernah mengunjungi hotel atau jika teknologi di negerinya tidak cukup maju.
Namun, ada satu hal lain yang mengusiknya.
“Rusia? Apa itu nama kota?”
Kalau sebuah benua atau negara, seharusnya Leon pernah mendengarnya. Dalam peta Gaia yang dipelajarinya, wilayah dingin berada di Arcadia, Chronos, dan beberapa kawasan lain. Ia tidak bisa menebak Rusia berada di mana.
Leon menghampiri Soraya ketika gadis itu menyebut permen. Ia memandang benda yang baru saja dikeluarkan dari bungkus.
“Itu benar permen? Kenapa bentuknya aneh?”
“Rusia itu negara. Kau tahu—The Motherland? Presiden P?”
Soraya menaikkan alis. Seprimitif apa pun seseorang, seharusnya ia pernah mendengar Rusia. Negara itu sangat besar, dan dari acara-acara yang ditangkap televisi tua milik neneknya, Soraya tahu presiden serta militernya termasuk yang terbaik di dunia.
Ia kembali memeriksa benda dalam bungkus. Warnanya merah muda dan tertulis strawberry flavor. Tanpa berpikir panjang, Soraya memasukkannya ke mulut.
Leon menggeleng.
“Aku tidak pernah mendengar negara Rusia. Aku yakin nama itu juga tidak ada dalam pelajaran geografi yang kupelajari.”
Ia cukup kutu buku demi sang kakak dan selalu meraih nilai tinggi di sekolah. Mustahil dirinya melupakan nama negara sesederhana itu.
Raut Leon berubah penuh tanda tanya ketika melihat Soraya sembarangan memakan benda asing.
“Apa fungsi benda itu cuma punya wangi enak seperti permen, tapi tidak bisa dimakan?”
Ia teringat masa kecilnya, ketika pernah membeli benda bergambar buah yang dikira permen, tetapi ternyata sabun mandi.
Wajah Soraya berubah masam. Benda itu sama sekali tidak terasa seperti permen. Teksturnya aneh, kenyal, dan elastis. Rasa stroberinya pun tidak menyerupai buah, selai, atau produk lain yang pernah dicobanya.
“Ini bhukan makhanan....” katanya dengan mulut masih terisi.
Soraya memalingkan wajah, mengambil beberapa lembar tisu, lalu mengeluarkan benda itu tanpa memperlihatkannya kepada Leon.
“Rasanya seperti karet.”
Ia mengembuskan napas dan mengembalikan sisa bungkusnya ke dalam laci.
“Aneh.... Seharusnya negara kami cukup besar untuk diketahui orang.”
Soraya akhirnya kembali menatap Leon.
“Omong-omong, siapa namamu, orang asing?”
Leon hanya mengamati tingkahnya. Gadis ini memang agak lucu karena terlalu polos, tetapi juga mengkhawatirkan karena begitu gegabah mencoba benda asing. Untung saja benda tersebut bukan racun.
Ia mengambil satu bungkus lain, mengeluarkan isinya, lalu meniupnya sampai mengembang.
“Lho, ini balon?!” katanya heran.
Leon lalu menoleh kepada Soraya.
“Namaku Leon. Bagaimana denganmu?”
Mikado dan Priscilla
Priscilla terbangun lebih dahulu di tempat yang sama sekali tidak dikenalnya. Ia bergerak dengan hati-hati, tetapi berusaha tetap terlihat tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan jika ada orang lain yang mengawasi.
Di dekat ranjang terdapat sebuah bangku dan meja kecil. Sebuah teko berisi teh hangat telah tersedia di atasnya, seolah seseorang baru saja menyiapkannya. Priscilla menuangkan teh ketika pemuda yang berada di ranjang mulai terbangun.
Saat membuka mata, Mikado langsung tahu bahwa tempat itu bukan dunianya. Sebenarnya, berpindah ke dunia lain bukan sesuatu yang terlalu aneh baginya. Ia sering memasuki komputer orang lain yang, secara teknis, juga bukan dunianya. Namun, ruangan ini bahkan tidak menyerupai dunia “asli” miliknya.
Ia duduk di atas ranjang, mengerjap sambil menoleh ke kanan dan kiri. Pandangannya berhenti pada gadis berkepang dua di dekat meja.
“Wah, anjay, ada cewek!”
Mikado bersiul, lalu segera bangkit dan mulai menjelajahi kamar. Banyak benda menarik tersedia di sana: laptop yang dapat dengan mudah ia masuki menggunakan kekuatannya, berbagai perangkat elektronik, kamera, serta teropong. Tempat itu hampir menyerupai ruang yang pernah dimilikinya, hanya saja terdapat beberapa barang yang terasa lebih “kecewekan”.
Mungkin punya anak ini?
Priscilla refleks menoleh ketika Mikado bangun dan langsung bergerak ke sana kemari seperti baterai yang baru terisi penuh.
“Selamat pagi. Sudah bangun, ya....” sapanya ragu.
Pikirannya mencoba menentukan kemungkinan paling masuk akal. Barangkali pemuda itu juga diculik. Atau jangan-jangan justru orang gila inilah yang menculiknya?
“Oh... hai? Apa kau punya informasi tentang tempat ini?”
“Hm? Informasi mah gampang. Bisa dicari kalau niat.”
Mikado mengutak-atik beberapa perangkat, berdecak ketika melihat spesifikasinya, lalu menemukan sesuatu yang mencolok di atas meja.
“Ada kartu, nih.” Ia mengangkat benda tersebut. “Jangan-jangan ini kartu kredit orang? Wah, lumayan, nih!”
“Kau terlihat tenang. Tidak panik sama sekali,” gerutu Priscilla pelan, tetapi cukup terdengar.
Ia menatap benda di tangan Mikado dari kejauhan.
“Itu bukan kartu kredit, tapi kartu akses....”
Priscilla mendadak tersentak.
“Heh?! Tunggu! Apa mungkin ada orang lain juga?”
Ia bergerak mendekat.
“Mau coba kabur? Uhum! Maaf, maksudku, mau coba jalan-jalan mencari yang lain?”
“Kenapa harus panik?” Mikado memiringkan kepala dengan senyum iseng. “Harusnya kau yang panik karena dikurung di sini denganku, kan, Nona Kecil?”
Sambil terkekeh, ia mengusap dagu Priscilla sedikit untuk melihat reaksinya.
“Ah, ya, kartu akses!” Mikado mengibaskan kartunya. “Eeh, harus banget, ya. Tapi dicoba juga nggak ada ruginya, sih.”
“Hei, jangan begitu!!”
Priscilla segera mundur dengan panik. Gerakan itu terlalu berbahaya dan menakutkan baginya. Ia mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu kembali memusatkan perhatian pada apa yang ditemukan Mikado.
“Uhum... apa yang tertulis di sana?”
Mikado tertawa keras melihat reaksinya. Ia mengibaskan kartu kecil itu dengan senyum lebar.
“Kenapa? Kepo, ya?”
Ia tetap memeriksa benda tersebut dan menemukan secarik kertas di baliknya.
“Apa ini? Panduan?”
Mikado membaca beberapa baris dengan cepat.
“Hm. Katanya semua properti dan fasilitas di sini milik kita.” Ia mengangkat kepala. “Properti? Berarti bukan cuma kamar ini. Mau lihat?”
“Diculik untuk diberi properti?” Priscilla tampak semakin bingung. “Apa dia konglomerat tua yang nggak punya keturunan?”
Meski demikian, ia mengangguk kecil. Tentu saja dirinya penasaran dan ingin melihat keadaan di luar kamar.
“Tapi kau yang jalan di depan, ya! Tempat ini asing. Sangat menakutkan.”
“Bwahahaha! Beneran penakut banget!” Mikado tertawa lepas. “Nanti kalau aku jalan di depan lorong, akan kutinggal, loh.”
Ia hanya menggoda. Mikado tetap membuka pintu tanpa meninggalkan Priscilla.
“Hm? Kayak apartemen normal.”
Di balik kamar terbentang ruang tengah, dapur, serta kamar mandi yang bersih dan nyaman. Tidak ada sesuatu yang langsung tampak mengancam. Mikado mendekati jendela, tetapi pemandangan di luar terhalang lapisan buram seperti kaca film.
“Kelihatannya normal,” gumamnya. “Eh, mau coba keluar lewat pintu atau ancurin jendela, nggak?”
Priscilla mengikuti dari belakang dengan langkah cepat. Walaupun Mikado tidak benar-benar meninggalkannya, perbedaan tinggi badan dan panjang langkah membuatnya harus sedikit berusaha mengimbangi.
“Hei... kau siapa? Dan dari mana?” tanyanya sambil berbisik. “Asal kau tahu, kau terlalu tenang untuk seseorang yang diculik ke tempat asing lalu mendadak mendapat properti.”
Matanya berkeliling sebelum kembali terpaku pada jendela.
“Kau mau merusak properti orang? Eh, tapi suratnya bilang ini milik kita, kan?” Priscilla mulai terdengar bersemangat. “Gas ledakkan, nggak, sih? Siapa tahu ada seseorang yang muncul.”
“Ah, beneran kepo, ya!” Mikado kembali tertawa. “Kalau nama, panggil saja aku Mika. Atau Mikado juga boleh. Tidak penting aku berasal dari mana, dan semua ini menurutku tidak semenakutkan atau semengejutkan itu.”
Ia menunjuk dua kemungkinan jalan.
“Ya, pilihan kita antara buka pintu, yang jelas lebih aman, atau langsung hancurin jendela.”
“Ah, Mikado, ya. Akan kuingat!”
Priscilla menimbang kedua pilihan tersebut, lalu kembali teringat pada kartu akses yang ditemukan di kamar.
“Kita pakai kartu aksesnya, nggak, sih? Kalau nggak bisa, mari ledakkan tempat ini! Kelihatannya seruuuuu!”
Mikado mengangkat alis. Sebelum menuju pintu, ia berdiri di hadapan Priscilla dan mendekatkan wajah.
“Kau sendiri? Tidak niat kenalan, gitu?” tanyanya. “Ya, aku bisa cari informasi tentangmu dengan gampang. Tapi kita sudah di sini dan kayaknya kau gampang diajak bicara. Jadi, kau mau kasih tahu namamu? Nggak mungkin kupanggil ‘kau’ terus, kan?”
Senyumnya berubah menjadi seringai.
“Oh? Atau kau mau kuberi nama? ‘Milikku’, misalnya?”
“Kalau kau sepercaya diri itu, ayo temukan lebih banyak informasi tentangku,” balas Priscilla sambil tersenyum kecil, sengaja menjahilinya.
Namun, ia tahu keadaan mereka tidak terlalu baik untuk terus saling menutupi dan bermain rahasia. Pemuda besar, nakal, dan tampaknya cukup tangguh ini bisa menjadi rekan yang berguna di lapangan.
“Panggil aku Priscilla. Sisanya? Rahasia,” bisiknya.
Ia kembali melihat kartu dan pintu yang hendak mereka lewati.
“Bagaimana? Apa bisa? Ada kata sandi khusus? Atau kita benar-benar ledakkan saja?”
Mikado menyeringai. Tantangan seperti itu justru membuatnya semakin bersemangat.
“Baik, Priscilla~”
Ia mengeluarkan kartu akses dari kantong dan menempelkannya pada mesin pembaca. Mekanisme semacam itu semudah membalikkan tangan baginya.
Akses diterima.
“Oh? Kebuka, nih, kebuka!” Mikado terkekeh senang. “Wah, di baliknya ada apa, ya?”
Tanpa banyak basa-basi, ia mengayunkan pintu.
“Hehh!! Ada apa di sana?! Mau lihat! Mau lihat!!”
Priscilla tidak langsung maju. Ia mengintip dari balik tubuh Mikado, terjebak antara rasa penasaran dan kewaspadaan.
“Wah.... Kok entah kenapa aku nggak kaget, ya....”
Axel dan Sonata
Tanpa sadar, tangan Axel berada di tempat yang tidak seharusnya. Sensasi empuk yang terasa di telapak membuat kesadarannya kembali dengan cepat.
Ia membuka mata dan mendapati dirinya tidur berdampingan dengan seorang wanita.
Tunggu. Apa aku mabuk semalam?
Begitu menyadari posisi tangannya, Axel tersentak dan buru-buru menjauh. Gerakan itu membuatnya jatuh dari kasur dengan wajah lebih dahulu membentur lantai. Pagi baru dimulai, tetapi mukanya sudah babak belur.
Ia bangkit dan berdiri tegak, meski pikirannya dipenuhi kepanikan.
Bagaimana kalau aku melakukan hal yang tidak-tidak? Bagaimana kalau aku akan menjadi ayah?
Sonata mengerjap ketika merasakan sesuatu menyentuh bagian tubuhnya. Baru saja ia hendak menyingkirkan siapa pun yang mengusik, orang tersebut sudah meringsek menjauh dan jatuh terjerembap ke lantai.
Orang bodoh dari mana lagi ini?
Axel berdeham dan menunggu sampai Sonata benar-benar terbangun sebelum berbicara.
“Aku tidak mengingat apa pun yang terjadi tadi malam. Mungkin efek alkohol?” Wajahnya serius. “Meski begitu, aku minta maaf. Aku akan bertanggung jawab kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.”
Sebagai seorang pria, Axel merasa harus berani mengakui kesalahan. Urusan ditampar dapat dipikirkan belakangan.
Padahal, tidak ada apa pun yang terjadi di antara mereka. Keduanya hanya dibawa ke tempat itu tanpa sadar.
Sonata mengernyit. Efek alkohol? Ia ingat betul telah pulang dan langsung tidur setelah lembur. Tidak ada waktu untuk minum, apalagi mabuk bersama makhluk aneh seperti ini.
“Kau coba tenangkan dirimu dan pikir,” katanya sambil menyilangkan tangan. “Mana mungkin kita melakukan sesuatu kalau pakaian kita masih utuh?”
“Hm, masuk akal.”
Axel langsung merasa lega. Syukurlah ia masih perjaka—meski ia sendiri tidak yakin apakah itu sesuatu yang patut disyukuri.
“Berarti ada seseorang yang meletakkan kita di sini, ya?”
Ekspresinya cepat berubah menjadi lebih santai. Sebagai orang yang terbiasa memainkan peran melalui lagu, perubahan pembawaan semacam itu datang dengan mudah.
Ia kemudian menyadari sebuah kartu di atas meja dan mengambilnya.
“Kartu? Kunci?”
“Hm... mungkin,” jawab Sonata sambil mengangkat bahu.
Penculikan bukan pengalaman yang pernah dibayangkannya. Namun, ada satu sisi yang terdengar cukup menyenangkan: jika diculik, berarti ia bisa bersantai dan tidak perlu bekerja.
“Gak buruk juga.”
Sonata kembali membaringkan tubuh di ranjang. Meski begitu, instingnya tetap mengatakan ada sesuatu yang salah.
“Apa itu?” tanyanya ketika melihat benda di tangan Axel. “Kartu akses? Jadi kita sebenarnya bisa keluar-masuk?”
“Sepertinya.”
Axel melemparkan kartu tersebut kepada Sonata, lalu mulai menggeledah barang-barang di sekeliling seolah kamar itu miliknya sendiri.
“WHOA! UNDANGAN TAMPIL DI VELDROME? INI MIMPI?”
Wajahnya langsung berseri-seri. Bagi musisi yang tidak pernah benar-benar bersinar seperti dirinya, undangan tampil di Veldrome merupakan sesuatu yang luar biasa. Acara itu termasuk program musik terkenal di semestanya dan merangkul hampir semua genre, meski musik pop lebih sering mendominasi.
Sayangnya, undangan tersebut tidak akan berarti banyak jika Axel berada di luar semesta asalnya.
Sonata menangkap kartu akses yang dilemparkan kepadanya. Ketika membolak-baliknya, ia menemukan secarik kertas di balik kartu.
“Panduan? Kita punya panduan di sini?”
Ia mengernyit, lalu mengerang ketika Axel memekik kegirangan.
“Veldrome apa lagi, coba?”
Sonata tidak pernah mendengar nama itu.
“Daripada itu, baca ini. Ada semacam panduan untuk kita. Sepertinya semua barang di sini boleh digunakan tanpa batas.”
“Hah? Kau tinggal di pelosok mana sampai gak tahu Veldrome?” Axel menatapnya penuh keraguan.
Di dunianya, hampir semua orang menyukai musik. Rasanya tidak wajar ada seseorang yang tidak mengenal Veldrome.
“Simpan saja.”
Axel tidak tertarik pada buku panduan. Membaca terasa melelahkan. Menurutnya, hampir semua hal bisa diselesaikan dengan trial and error.
“Nama Veldrome itu aneh. Aku tidak yakin ada nama itu di dunia ini,” balas Sonata.
Ia mengabaikan Axel dan membaca sebagian isi kertas, lalu hanya menggumam, “Hm.”
Sonata memutuskan tidak menjelaskan lebih jauh. Axel sendiri sudah mengatakan tidak tertarik.
“Hah, serius? Memangnya kau tinggal di kota mana?” Axel mulai penasaran. “Omong-omong, siapa namamu?”
Meskipun melontarkan pertanyaan, tangannya tetap sibuk memilah barang-barang antik yang tampak berharga, terutama benda-benda berkaitan dengan musik. Jika berhasil keluar, mungkin semuanya bisa dibawa pulang.
“Hm? Di pusat kota,” jawab Sonata dari tepi ranjang.
Ia mengangkat alis. Mereka sudah berbicara cukup lama, dan baru sekarang pemuda itu teringat menanyakan namanya. Namun, berdasarkan isi panduan, sepertinya ia tidak bisa begitu saja pergi. Memberi tahu nama seharusnya bukan masalah.
“Sonata. Kau sendiri? Punya nama, atau mau tetap kusebut ‘orang aneh’?”
“?” Axel menatapnya bingung. “Aku bertanya kota mana, bukan tinggal di bagian mana.”
Ia tetap menjelaskan dengan sabar.
“Aku tinggal di [xxx]. Veldrome itu program musik di [yyy].”
Axel menoleh sebentar. Sonata benar-benar menjawab hal yang berbeda dari pertanyaannya.
“Axel.”
“Huh? Tidak pernah dengar nama kota itu,” kata Sonata. “Dan masa kau tidak tahu pusat kota? The Capital tidak tahu?”
Beberapa titik segera terhubung di kepalanya. Sonata menutup mulut dengan tangan, lalu bangkit.
“Oke, Axel.”
Ia tidak mengatakan kesimpulannya. Sonata hanya membuka pintu kamar dan menemukan bahwa mereka sebenarnya berada di dalam sebuah rumah. Ada dapur, ruang makan, serta jendela yang hanya memperlihatkan kabut di luar.
“...”
Tatapannya kemudian tertuju pada satu pintu lain yang kemungkinan besar merupakan jalan keluar.
“Mau coba buka?” tanya Sonata sambil menunjuk.
“Hah? Tempat apa pula itu, seolah ada di dunia lain saja.”
Axel terdiam begitu mendengar kata-katanya sendiri.
Dunia lain.
Itu mungkin kuncinya. Tubuh Axel tidak terlalu sensitif terhadap perubahan iklim dan lingkungan, sehingga ia baru menyadari bahwa atmosfer di tempat ini memang terasa berbeda.
“Tunggu.”
Ia memberi isyarat agar Sonata tidak bergerak, lalu membuka sarung gitar dan menyandang instrumen yang tampak seperti gitar listrik, meski tidak membutuhkan aliran listrik.
“Oke. Biar aku yang membukanya.”
Axel mengambil kartu akses dari tangan Sonata. Ia harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Berdiam di tempat bukan pilihan, dan dirinya sudah tidak tertarik menjelajahi rumah luas itu lebih jauh.
Sonata melangkah mendekat. Dari tulang punggungnya, ia menarik sebilah pedang. Mungkin terlihat berlebihan, tetapi tidak ada salahnya berjaga-jaga.
“Perlu kuberi tahu,” bisiknya. “Apa pun yang ada di balik pintu ini, bisa saja setelah melihatnya tidak ada jalan kembali.”
Axel menempelkan kartu pada pemindai.
Akses diterima.
Tanpa banyak basa-basi, Sonata mengayunkan pintu sambil menyiapkan pedangnya, sementara Axel berdiri di sampingnya dengan gitar tersandang dan tubuh waspada.
Cassius dan Vespera
Cassius terbangun di sebuah tempat asing. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari pedang pemberian ketua sukunya. Setelah menemukan dan mengamankan senjata tersebut, ia baru menyadari ada seorang gadis yang masih tidak sadarkan diri di dekatnya.
“Ini....”
Ia tidak mampu melanjutkan kata-kata, hanya berdiri sambil mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa saat kemudian, kelopak mata Vespera bergerak. Begitu benar-benar terbangun, ia mendapati dirinya berada di ruangan yang tidak dikenal bersama seorang pria bersenjata. Vespera segera duduk.
“A-Anda siapa?” tanyanya dengan rasa takut dan curiga. “Di mana aku?”
Cassius mempererat pegangan pada gagang pedang. Ia waspada, tetapi gadis di hadapannya tampaknya sama-sama tidak memahami keadaan.
“Aku juga punya pertanyaan yang sama.”
Sesuatu di atas kepala Vespera kemudian menarik perhatiannya. Bentuknya menyerupai telinga hewan. Cassius belum pernah melihat maupun mendengar manusia memiliki telinga seperti itu.
“Dan juga... apa itu gaya rambutmu?”
Tatapannya mengarah tepat ke telinga Vespera.
Vespera berdiri dan menjaga jarak. Sikap Cassius yang terus memegang senjata membuatnya merasa harus berhati-hati.
“Maaf, aku belum memotong rambutku.”
Ia tidak menangkap maksud sebenarnya dari pertanyaan tersebut dan mengira Cassius benar-benar membicarakan rambutnya.
“Apa kita diculik...?”
Kesalahpahaman itu membuat Cassius berasumsi bahwa bagian menyerupai telinga tadi memang rambut. Setelah mendengar pertanyaan Vespera, ia sedikit menurunkan kewaspadaan dan melonggarkan pegangan pada pedangnya.
“Sepertinya begitu....”
Ia menunduk singkat sebagai permintaan maaf atas sikapnya.
“Maaf sudah mengagetkanmu. Aku Cassius dari Suku Pygmy.” Ia terdiam sejenak. “Apa kau tahu sekarang kita berada di mana?”
Vespera merasa lega ketika melihat tangan Cassius tidak lagi mencengkeram gagang pedang sekuat sebelumnya.
“Tidak apa-apa. Saya Vespera, dari wilayah tropis Agriche,” katanya, turut menyebutkan tempat asal karena Cassius melakukan hal yang sama.
Ia kembali mengamati sekeliling dengan waspada.
“Saya merasakan atmosfer di sini sangat... asing. Tampaknya kita benar-benar diculik ke tempat yang mencurigakan.”
Namun, rasa takut dan curiganya seketika luntur ketika menemukan sebuah cangkir berdiameter sekitar dua puluh lima sentimeter berisi lima liter kopi.
“Wah, kopi.”
“Agriche?” gumam Cassius.
Nama itu asing baginya. Mungkin termasuk suku kecil seperti Pygmy. Namun, memikirkannya lebih jauh tidak akan membantu. Ia jauh lebih mengkhawatirkan kakeknya yang sudah renta dan dapat meninggal jika tidak segera dirawat.
“Aku akan mencoba keluar. Apa kau ikut?”
Cassius berjalan hati-hati menuju pintu kamar dan membukanya. Anehnya, pintu itu tidak terkunci. Di baliknya bukan lorong penjara atau tempat berbahaya, melainkan bagian lain dari sebuah rumah biasa.
Sementara itu, Vespera meneguk habis kopi lima liter tersebut. Secara ajaib, cairan di dalam cangkir kembali penuh, persis seperti impian yang selama ini diinginkannya.
“Wahhhhh....”
Matanya berbinar kagum. Saat melihat Cassius sudah membuka pintu, Vespera mengangkat cangkir besar itu seperti benda kesayangan dan segera menghampirinya.
“Tentu.”
Cassius semakin heran melihat kelakuan gadis tersebut. Kopi sebanyak itu dihabiskan begitu cepat, dan sekarang ia membawa cangkir raksasa tersebut ke mana-mana.
“Apa itu enak?” tanyanya.
Pandangannya tidak tertuju kepada Vespera, melainkan pada isi rumah di hadapan mereka. Tempat tersebut sangat mewah jika dibandingkan dengan rumah tempatnya tinggal dahulu.
Vespera berhenti minum ketika mendengar pertanyaan itu.
“Tentu saja. Kopi adalah hal terbaik yang ada di dunia ini.”
Matanya masih berbinar. Ia ikut melihat ruangan luas dan mewah tersebut, lalu membandingkannya dengan tempat tinggalnya.
“Tampaknya kita diculik orang kaya.”
Orang kaya, ya....
Cassius teringat ucapan kakeknya bahwa orang kaya hanya memikirkan diri sendiri. Lalu untuk apa seseorang menculik mereka dan meninggalkan keduanya sendirian di rumah semewah ini?
Ia kembali menggenggam pedang untuk berjaga-jaga jika ada orang yang muncul. Namun, langkahnya justru membawa mereka ke dapur. Cassius membuka lemari pendingin untuk memastikan ada makanan di dalamnya.
“Apa kau lapar?” tanyanya.
Ia tidak tahu berapa lama mereka telah diculik. Menurut kakeknya, mencoba kabur dengan perut kosong adalah tindakan buruk.
Vespera menoleh sambil kembali meneguk kopi.
“Tentu.”
Ia menerima ajakan makan itu. Rumah tersebut tampaknya menyimpan banyak hal, termasuk persediaan makanan dan minuman. Cangkir kopi yang tidak pernah kosong di tangannya sudah menjadi buktinya.
Xandara dan Zion
Xandara menghentikan meditasinya ketika menangkap pergerakan dari sosok yang telah berada di dekatnya sejak ia terbangun.
“Kau terbangun.”
Mata Zion mengerjap beberapa kali. Cahaya ruangan yang terasa berbeda membangkitkan kecemasan dalam dirinya. Seingatnya, kasur kecil di kamar lamanya tidak pernah senyaman ini. Biasanya, kedua kakinya bahkan menggantung di ujung ranjang.
Tangannya meraba-raba meja nakas, mencari ponsel yang semestinya berada di sana sejak semalam. Namun, sekujur tubuhnya mendadak menegang ketika mendengar suara dari sisi lain ranjang.
Zion meneguk ludah. Lehernya berputar perlahan dengan gerakan kaku.
Ia seharusnya sudah terbiasa menghadapi anak-anak lain yang suka menyelinap ke kamar untuk mengganggunya. Namun, suara tadi jelas bukan suara tengil seorang anak kecil.
Mulut Zion menganga. Tatapannya bergerak dari atas ke bawah, memastikan sosok di hadapannya bukan patung yang sengaja diletakkan untuk menakut-nakuti orang yang belum sepenuhnya sadar.
Makhluk itu bernapas. Matanya hidup. Ia bahkan baru saja menyapa Zion.
Zion belum pernah melihat manusia, dragonborn, ataupun dhampir dengan ukuran tubuh sebesar itu. Genetik langka? Alien? Hantu?
Bukan. Masalah terbesarnya adalah mengapa ranjang mereka bersebelahan.
Pakaiannya masih melekat. Ia juga tidak sedang demam. Namun, semua itu tidak membuat keadaan menjadi lebih masuk akal.
“...Apa-apaan ini?!”
Suaranya pecah. Zion bangkit terlalu cepat dan mundur tanpa perhitungan sampai punggungnya menabrak rak. Isi rak berhamburan ke lantai. Sebuah tongkat bisbol jatuh menimpa kepalanya.
Ia mengusap bagian yang berdenyut sambil meringis.
Sakit. Berarti ini bukan mimpi.
Zion kembali menatap wanita raksasa itu. Ia menarik napas dalam, mencoba menerima kenyataan yang ada di hadapannya.
“Aku yakin agak tidak sopan bertanya seperti ini setelah entah apa pun yang terjadi sebelumnya—karena aku juga tidak bisa mengingatnya dengan jelas—tapi...” Ia mendesis, masih tidak habis pikir. “Kau itu siapa, dan sebenarnya APA kau ini?!”
Xandara tidak menunjukkan reaksi berarti, bahkan setelah melihat makhluk kecil di depannya bergerak tidak beraturan dan sembrono. Ia pun baru pertama kali menyaksikan ras selain rasnya sendiri.
Xandara berdiri dan berjalan mendekat. Perbedaan ukuran mereka menjadi semakin jelas. Bagi Xandara, pemuda berambut lembayung itu terlihat sangat kecil dan rapuh. Ia bahkan takut tubuh tersebut akan hancur jika disentuh. Meski begitu, Xandara tidak merasakan niat mengancam darinya.
“Aku telah melayani The Origins selama bertahun-tahun untuk menjaga semestaku,” jawabnya, seolah mengabaikan sebagian pertanyaan Zion. “Dan kini aku tidak dapat merasakan keberadaan-Nya.”
Dengan gerakan tangan yang ringan, barang-barang yang berserakan di lantai terangkat seakan kehilangan massa. Xandara mengembalikan semuanya ke tempat semula tanpa menyentuh satu pun.
“Mungkin pertemuan ini juga termasuk dalam kehendak-Nya.”
“H-hah?!”
Zion tidak tahu aliran kepercayaan apa yang menyembah The Origins. Ia bahkan belum pernah mendengar nama itu. Secara naluriah, ia kembali hendak mundur ketika Xandara berdiri. Sial, tiang listrik pun mungkin merasa rendah diri jika melihat tinggi wanita tersebut.
Barang-barang yang tadi jatuh kini kembali pada tempatnya tanpa sentuhan. Berarti Xandara juga memiliki kekuatan aneh. Cara bicaranya yang terdengar seperti sumpah jabatan sama sekali tidak membantu Zion merasa tenang.
Ia enggan mengakui bahwa dirinya sedikit terintimidasi oleh sosok asing yang mengaku sebagai penjaga semesta. Jangankan menjaga kedamaian dunia, Zion masih jungkir balik mencari pekerjaan stabil untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Ia tidak bisa selamanya tinggal dan menikmati fasilitas rumah transisi.
Zion sudah dewasa.
Otaknya berusaha menyangkal keadaan absurd ini. Namun, keberadaan Xandara terlalu nyata untuk diabaikan. Zion semakin yakin wanita itu memang tidak berasal dari dunianya. Entah untuk tujuan apa, seseorang telah menjebak mereka berdua di tempat mencurigakan tersebut.
Ia bukan orang religius, tidak selalu menjalani hidup dengan pikiran positif, dan tidak percaya pada hal-hal mistis atau tak kasatmata seperti takdir. Namun, ada satu hal yang harus segera diperbaikinya: berhenti terlihat bodoh di depan orang lain.
Terlepas dari tinggi badannya, sosok raksasa itu tetap seorang gadis. Suaranya lembut, parasnya jelita, kulitnya seperti porselen, dan rambutnya tampak sangat terawat. Zion masih punya harga diri.
Ia mengatupkan rahang dan menyilangkan tangan di depan dada.
“Jadi... maksudmu, kau juga tidak tahu kenapa akhirnya bisa berada di sini?” tanyanya dengan lebih pelan, mencoba menyamakan persepsi. “Kau tampaknya tahu lebih banyak dariku. Boleh sedikit, er, jelaskan kenapa kau bisa begitu... sangat santai dalam situasi seperti ini? Aku belum terlalu menangkap ucapanmu soal The Origins dan hubungannya dengan keadaan kita.”
Zion meringis dan berhenti bersikap sok tegar untuk sesaat.
“Jujur, aku hanya ingin pulang sekarang. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau bisa menunjukkan caranya.”
Lirikan mata Xandara berkilat tajam, seolah mengkritik kelancangan Zion yang menyebut The Origins tanpa mengetahui apa pun.
“Kami, ras Enigmatrons, hidup untuk menambatkan jiwa menghadap The Origins.”
Ia mendongak ke langit-langit, mencari sesuatu yang hilang di atas sana.
“Aku tidak merasakan kehadiran The Origins di dunia ini. Artinya, Ia tidak berada di sini—atau aku terlempar ke tempat yang sangat jauh hingga tidak lagi terjangkau oleh-Nya. Jauh dari lingkup semesta.”
Xandara kembali memandang Zion.
“Dan bisa jadi engkau pun bernasib sama, orang asing.”
Di balik pembawaannya yang tenang, alis Xandara mengernyit. Selama ini ia terbiasa hidup seorang diri, terlupakan oleh peradaban demi menunaikan tugas. Kini, seluruh tujuan itu mendadak menghilang. Ia berakhir di tempat asing bersama seseorang yang sama bingungnya.
Segalanya merupakan hal baru.
“Apakah aku sedang diuji?” gumamnya kepada diri sendiri.
Portal antarsemesta. Tentu saja.
Bagi Zion, penjelasan itu terdengar seperti alur klise dari cerita fiksi. Namun, itulah satu-satunya alasan yang mampu menjelaskan keterasingannya.
Ia mulai merangkai teori-teori liar dari berbagai kasus yang pernah didengar: hilangnya satu keluarga dari kalangan terpandang, penampakan serta fenomena alam tidak wajar, sampai perubahan karakter seseorang dalam waktu sangat singkat seolah baru dicuci otak. Semua peristiwa itu berada di luar batas hukum kosmik yang dipahaminya.
Zion mendenguskan tawa getir di sela napas.
Tadi ia mengatakan ingin pulang. Namun, did he really, though?
Kapan lagi ia bisa bebas dari seluruh tanggung jawab? Kejadian ini seperti undangan untuk menghilang sepenuhnya dan memulai hidup baru, jauh dari citra sebagai seseorang yang mudah dilupakan.
Zion tahu setiap dunia pasti memiliki masalah. Namun, apa pun mungkin lebih baik daripada terus terikat pada masa lalu. Tidak ada lagi tuntutan untuk berbakti kepada orang dewasa yang tidak benar-benar peduli kepadanya. Tidak ada aturan birokrasi, tidak ada kecemasan mengenai wabah vampir yang merayapi setiap kota.
Ia tidak harus menjadi Zion yang dibiarkan kelaparan oleh ibunya sendiri. Ia tidak perlu lagi mengubur seluruh mimpi hanya demi membaur dengan masyarakat umum.
Mungkin inilah kejutan yang diberikan semesta kepadanya.
“Kalau Tuhanmu tidak ada di sini, kenapa kau masih tunduk kepada-Nya?”
Zion berjalan mendekati Xandara dengan alis terangkat dan seringai tipis. Kini ia tampak jauh lebih percaya diri, seolah tengah mengambil alih panggung.
Ia yakin butuh seharian penuh untuk mengitari rumah seluas ini. Di salah satu meja, Zion menemukan kartu yang tampaknya sengaja disiapkan: kartu akses penuh untuk rumah tersebut. Senyumnya melebar. Ia segera menyimpan kartu itu di saku celana, nyaris melupakan wanita setinggi lima meter di dekatnya.
Di sudut kamar terdapat dua pintu dengan ukuran berbeda. Salah satunya lebih kecil dan jelas disediakan untuk Zion. Ketika membukanya, ia disambut ruang tamu yang membentang luas. Di sisi lain terdapat dapur dan bar kecil, sementara musik jazz mengalun sebagai latar.
“Lihat sekelilingmu,” katanya. “Rumah ini menyesuaikan diri dengan kebutuhan kita, bukan kita yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Mantap, kan?”
Mata Zion terpaku pada deretan botol berlabel asing. Sebagian menggunakan huruf yang tidak pernah dilihatnya, sementara beberapa mencantumkan tahun pembuatan yang lebih tua daripada usianya sendiri.
Ia mengambil salah satu botol, menggoyangkannya di bawah cahaya lampu gantung, lalu membuka tutupnya dengan bunyi renyah. Aroma alkohol menusuk hidung. Zion meneguk cairan itu dan membiarkan panasnya membakar tenggorokan serta dada.
Langkahnya sedikit goyah ketika menuju sofa. Ia merebahkan diri sampai tubuhnya seolah tenggelam dalam busa empuk. Udara sejuk menerpa kulit dan perlahan membuat otot-ototnya yang tegang menjadi rileks.
Sudut matanya akhirnya kembali melirik Xandara. Mereka bahkan belum bertukar nama karena Zion terlalu sibuk menikmati segala hal yang tersedia.
“Tidak perlu terus tegang begitu. Aku Zion. Bagaimana aku harus memanggilmu?”
Pertanyaan Zion sebelumnya terasa seperti pukulan telak bagi Xandara. Mudah saja baginya menghancurkan pemuda itu karena meragukan kesetiaannya kepada The Origins. Namun, ia sendiri tidak menemukan argumen untuk membantah.
Ia tidak dapat terhubung dengan The Origins. Tidak ada tanda bahwa The Origins tengah mengujinya.
Ia... telah dilupakan oleh semesta.
Melihat Zion yang mendadak bersemangat meski keadaan mereka sama-sama tidak jelas, rasa penasaran muncul dalam benak Xandara. Ia mengikuti Zion menyusuri rumah dengan langkah-langkah kecil yang disesuaikan. Dari sudut pandang ras lain, pemandangan itu mungkin menyerupai manusia yang menemani seekor anak kucing berlari ke sana kemari.
Xandara mengamati Zion menggunakan barang-barang yang belum pernah disentuh maupun dipahaminya. Tidak satu pun benda di rumah ini terasa sebagai miliknya. Xandara tidak pernah memiliki atau menginginkan apa pun.
Berbeda dengan Zion, yang tampak menikmati kebebasan memiliki semuanya.
Bagi Xandara yang terbiasa dengan kesendirian, ocehan Zion yang terus berdengung di sekitarnya ternyata tidak terlalu buruk.
“Xandara,” jawabnya.
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali seseorang menanyakan namanya. Namun, satu pertanyaan lain masih mengganggu pikirannya.
“Katakan. Jika seseorang kehilangan satu-satunya tujuan hidupnya, untuk apa ia tetap bertahan?”
Zion sudah beranjak dari sofa. Ia mendekati meja makan dan mengambil sepotong piza dengan lelehan keju yang masih mengepul. Sambil makan, ia meraih pengendali televisi dan menekan beberapa tombol.
Layar menampilkan siaran ulang drama picisan yang sedang populer, lalu berita terkini, acara ragam, dokumenter, pertandingan olahraga, dan akhirnya program musik. Semua saluran itu berasal dari dunia Zion—cukup untuk membuatnya lupa bahwa ia sedang berada jauh dari rumah.
“Kalau tidak punya tujuan, tinggal cari tujuan baru,” jawabnya acuh tak acuh.
Ia kembali meneguk alkohol. Zion tidak akan semudah itu mabuk karena memiliki toleransi tinggi. Sejak belum berusia enam belas tahun, ia sudah terbiasa mencuri minuman keras milik pengurus panti, bersamaan dengan tumbuhnya kebiasaan merokok.
“Aku tidak tahu seperti apa duniamu,” lanjutnya. “Tapi pasti ada hal lain yang ingin kau lakukan selain merapalkan doa dan pasrah pada hidup. Coba pikirkan hal-hal yang menyenangkan—sesuatu yang ingin kau rasakan atau pertahankan. Tidak peduli kalau cuma kesenangan sementara atau dianggap egois oleh orang lain.”
Senyum jahil muncul di wajahnya.
“Mungkin kau pernah naksir seseorang yang tingginya dua kali lipat darimu dan terlibat hubungan terlarang?”
Zion berusaha melucu, tetapi perhatiannya segera tertuju pada sebuah bingkai foto di ujung rak. Ia mengangkat bingkai kaca yang sedikit berdebu.
Foto itu menampilkan sepasang suami istri. Seorang pria berambut pirang tersenyum ke arah kamera sambil memeluk pinggang istrinya yang sedang hamil tua. Warna rambut dan mata wanita dalam foto itu mirip dengan milik Zion.
Ia menatap foto tersebut cukup lama sampai sesuatu yang ingin dikuburnya kembali muncul ke permukaan. Zion akhirnya meletakkan bingkai itu dalam posisi terbalik.
Kemudian ia mengambil dua pengendali permainan dari bawah televisi dan melemparkan salah satunya kepada Xandara.
“Pernah main ini, kan? Aku perlu lawan yang bisa kubantai habis-habisan.”
Zion duduk bersila di sofa dan menyalakan konsol. Layar berubah menjadi menu permainan penuh warna.
Xandara tidak segera bereaksi. Ia bahkan tidak memahami setengah dari kata-kata yang keluar dari mulut Zion. Naksir? Kesenangan sementara? Semua itu asing baginya.
Dalam kehidupan yang sempit dan terbatas, memang apa lagi yang dapat dilakukannya? Dan sebanyak apa hal yang telah dilakukan orang asing ini?
“Kalau begitu, teruslah bergerak di hadapanku,” kata Xandara.
Ia menurunkan tubuh dan berlutut untuk menyamakan tinggi. Karena masih belum cukup rendah, Xandara membungkuk sampai kedua tangannya menyentuh lantai, mengikis jarak besar di antara mereka hingga pandangan keduanya sejajar.
“Aku akan melihatmu.”
Setelah itu, Xandara kembali menegakkan punggung dan menangkap benda yang dilempar Zion. Pengendali tersebut tampak sangat kecil di telapak tangannya.
Ia menatap benda itu dengan datar. Xandara tidak mengetahui kegunaannya, tetapi kalimat mengenai “lawan untuk dibantai” terdengar seperti ancaman serius.
“Kau hendak membunuhku menggunakan benda ini?” tanyanya, tenang tetapi waspada. “Percuma saja.”
Zion meneguk ludah ketika Xandara berlutut di hadapannya. Tatapannya sempat turun tanpa kendali sebelum buru-buru dialihkan. Panas menjalar dari pipi sampai telinga, sementara sensasi aneh menggelitik perutnya.
Mungkin pengaruh alkohol, ia mencoba meyakinkan diri.
Zion mengibaskan pengendali di depan wajah untuk mengusir pikiran yang tidak seharusnya. Punggung tangannya mengusap keringat yang mengalir dari pelipis.
“K-kau beneran hidup di zaman batu, ya?” Suaranya terdengar serak meski ia berusaha santai. “Ini cuma permainan, seperti menggerakkan boneka. Tidak ada yang benar-benar akan mati!”
Ia berdeham untuk mengabaikan jantung yang terasa hampir melompat keluar. Setelah menggeser tubuh lebih dekat, Zion menunjuk tombol-tombol pada pengendali Xandara.
“Jadi begini caranya. Kau tekan tombol ini buat bergerak, yang ini buat memukul, dan—”
Ia menghentikan penjelasan dan menyeringai lebar.
“Ah, kayaknya tidak perlu dijelaskan. Lebih seru kalau kau belajar sambil dihajar.”
Zion memulai permainan. Layar menampilkan dua karakter animasi yang saling bertarung. Jarinya bergerak lincah di atas stik analog dan tombol-tombol, membuat karakter miliknya menyerang karakter Xandara bertubi-tubi.
“Kalau kau mau membuatku terus ‘bergerak’, kau harus mengalahkanku lebih dulu. Deal, nggak?”
Jika tempat ini memang dirancang khusus untuk menjebaknya, Zion sudah terperangkap sejak awal—dan, untuk pertama kalinya, ia merasa tidak keberatan terjebak di dalamnya selamanya.