Human Desire
Setelah melewati seleksi di ruang kelas, setiap tim yang berhasil dibentuk diarahkan menuju asrama khusus melalui lorong dengan akses terbatas. Tidak ada petugas yang mengawal ataupun menjawab pertanyaan mereka. Begitu tiga orang terakhir melangkah masuk, pintu otomatis menutup di belakang mereka, lalu mengunci dengan bunyi berat yang tidak memberi ruang bagi keraguan.
Sebuah layar menyala pada salah satu dinding.
REWARD — AKSES RUANG INTIM
Ken, Luxya, dan Xandara
“Kita sekarang di sini,” ujar Luxya, membuka percakapan setelah pintu di belakang mereka terkunci.
Ia menyapu setiap sudut ruangan dengan pandangan tajam, tidak melewatkan pesan yang baru saja disampaikan Sistem. Semua yang dijanjikan memang tersedia: satu ranjang besar yang cukup untuk tiga orang, sofa, kursi, persediaan makanan, serta pencahayaan lembut yang membuat ruang itu terasa terlalu tenang.
Luxya mengambil tempat di tepi ranjang. Seperti biasa, kedua kakinya menyilang dengan anggun.
“Apa kalian tidak ragu soal ini?” tanyanya, memastikan tanggapan kedua rekannya.
Xandara menajamkan indra. Ia membiarkan kulitnya beradaptasi dengan udara asrama, lalu menyadari ketenangan yang memenuhi ruangan terasa serupa dengan suasana Dunia Simulasi.
“Suasana ini... sama seperti sebelumnya,” ucapnya pelan.
Perhatiannya beralih kepada Luxya, yang tampaknya sudah lebih dahulu memeriksa kamar.
“Ragu? Soal apa?”
“Meskipun ragu... apakah ada pilihan lain?” Ken menimpali dengan tenang.
Tanpa banyak ekspresi, ia menarik sebuah kursi dan duduk. Buku catatannya kembali terbuka di pangkuan, menerima baris-baris baru tentang kejadian yang dialaminya. Baik di Dunia Mimpi maupun Dunia Simulasi, ia terus ditempatkan bersama perempuan-perempuan yang banyak bicara. Kali ini jumlahnya bahkan menjadi dua.
“Bertahan di sini selama tiga puluh hari terdengar sederhana.”
“Ouh... kita terjebak di sini dalam suasana yang tidak asing,” ujar Luxya ringan, seolah semua itu perkara biasa.
Ingatan tentang Dunia Simulasi terpicu kembali di kepalanya. Ia lalu merebahkan tubuh di ranjang, menatap pencahayaan hangat yang menyelimuti asrama.
“Kita tergabung dalam tim campuran antara pria dan wanita. Bukankah tujuannya sudah jelas?”
Tawa kecilnya terdengar, tetapi ada getaran yang lolos dari suaranya.
“Haha, kalian sangat percaya soal ini, ya. Apa pun itu... pernahkah kalian berpikir sejak awal bahwa akan ada hubungan intim dengan seseorang yang asing?”
Hubungan intim dengan orang asing.
Pada akhirnya, benang persoalan memang mengarah ke sana. Di Dunia Mimpi, Xandara hanya mengamati. Di Dunia Simulasi, meski ia berhasil menekan pengaruh yang merayap ke dalam dirinya, suatu rasa terbiasa telah ditanamkan tanpa ia sadari. Ia melewati kedua pengalaman itu tanpa harus melakukan apa-apa.
“Tidak wajar,” jawab Xandara tanpa emosi. “Membiarkan keberadaan orang lain di sekitarku saja sudah cukup. Aku tidak tertarik membangun hubungan apa pun dengan orang asing.”
“Jika tidak mau, jangan dilakukan,” kata Ken.
Baginya, hidup semestinya sesederhana itu: lakukan apabila menginginkannya, jangan apabila tidak.
“Lagi pula, instruksinya adalah bertahan di sini selama tiga puluh hari.”
Ken beralih dari kursi menuju sofa, lalu berbaring sambil menutup wajah dengan buku catatannya.
“Aku meragukan kesederhanaan itu,” sanggah Luxya.
Ia merasakan sesuatu yang ganjil mulai memancing emosinya. Suhu kamar perlahan menghangat. Luxya segera bangkit duduk dan mengayunkan kaki, seolah hendak memastikan apakah kulitnya benar-benar menjadi lebih peka.
“Di sinilah kita. Aku bisa merasakan suhunya meningkat.” Ia menatap kedua rekannya bergantian. “Kalian yakin bisa menahan kebutuhan intim selama tiga puluh hari? Tapi di mana kesenangannya? Kebutuhan semacam ini tidak berarti akan menjadi akhir dunia.”
Luxya memang terlalu ekspresif untuk membiarkan ruangan tenggelam dalam kebisuan. Bahkan dalam keadaan semacam itu, ia masih berusaha menarik percakapan menjadi sesuatu yang setidaknya menghibur dirinya.
“Kalau saja memang sesederhana itu,” timpal Xandara skeptis.
Seseorang dengan tingkat kesadaran setinggi dirinya saja telah dipermainkan dalam dua dunia buatan tanpa mampu memberi perlawanan berarti. Sulit mempercayai bahwa tempat tinggal selama tiga puluh hari ini merupakan hadiah tanpa maksud lain.
Sementara itu, gadis berkucir dua di hadapannya justru tampak menikmatinya. Sikap tersebut tidak dapat Xandara pahami, tetapi menarik untuk diamati.
“Aku tidak mencari kesenangan. Jadi, lakukanlah sesukamu di ruangan ini.”
“Aku tidak ingin memikirkan sesuatu yang belum terjadi,” ujar Ken dari balik bukunya.
Apa pun yang menanti, cepat atau lambat akan datang pada waktunya. Ia terbiasa menerima kenyataan seperti itu.
“Entahlah soal menahan diri. Aku bisa menghapus dorongan itu. Namun, aku juga tidak akan menentang apabila kita memang sepakat melakukannya.”
Luxya mengembuskan napas dan beranjak dari ranjang.
“Aku sedang mencoba terbuka di sini.”
Langkahnya ringan, seolah tidak membawa beban. Keinginannya telah berputar menuju satu hal: mencari hiburan di tengah situasi yang tidak dapat ia ubah.
“Pernahkah kalian merasa perlu suatu dorongan untuk melampiaskan emosi?” tanyanya, berusaha membaca keduanya lebih dalam. “Mengenal kalian dalam waktu sesingkat ini membuatku ragu bagaimana kita akan melewati hari-hari membosankan tanpa satu pun luapan yang bisa dicoba.”
Keluhan tersirat jelas dalam kejujurannya.
“Aku biasa saja dengan peraturan tempat ini. Anggap saja beginilah takdirku.” Tatapannya kemudian jatuh kepada Xandara. “Namun, penolakanmu perlu dipahami. Ingin tips?”
“Langsung saja.” Suara Xandara terdengar berat.
Ia memandang entitas yang jauh lebih kecil di bawahnya tanpa menurunkan dagu. Ketika berkata bahwa Luxya boleh melakukan sesukanya, Xandara jelas tidak bermaksud mengizinkan gadis itu terus mengusiknya.
“Apa yang kau inginkan dariku?”
Ken memilih diam. Wajahnya masih tertutup buku catatan.
Apakah ia pernah terdorong untuk melampiaskan emosi? Rasanya tidak. Ia cukup stabil. Kalaupun suatu ketidakstabilan muncul, ia tinggal menghapusnya.
“Ho,” gumamnya singkat.
Ia tidak dapat melihat ekspresi keduanya dari balik buku, tetapi tekanan pada suara Xandara membuatnya penasaran apakah perempuan itu akhirnya akan menunjukkan kekesalan.
“Keinginan terdalammu,” jawab Luxya.
Ia berhenti melangkah, lalu mengarahkan tatapan kepada Ken yang masih menutupi wajah.
“Hidup. Bahagia. Senyum,” serunya sebelum kembali menatap Xandara. “Menghadirkan semua itu dalam diri seseorang dapat menjadikannya lebih hidup daripada biasanya.”
Dagunya terangkat. Senyum yang mengembang di wajahnya tidak menyembunyikan apa pun.
“Katakan, Xandara. Apakah kau akan menerima dirimu terlibat jauh dalam kehidupan orang lain? Seseorang yang peduli kepadamu, yang berbagi perasaan denganmu?”
Pertanyaan itu datang bersamaan dengan langkahnya mendekati Ken. Luxya merendahkan posisi dan menyentuh bahunya terlebih dahulu, seolah meminta izin sebelum memberikan belaian ringan.
“Bukankah kau juga penasaran, Ken?”
Mata biru Xandara mengikuti pergerakan Luxya. Keinginan dan perasaan semestinya tidak penting bagi seorang pemuja The Origin. Ken sendiri telah menyatakan bersedia bertahan dan tidak menolak kemungkinan melakukannya apabila semua sepakat. Luxya tidak akan mendapatkan keuntungan pasti dari permainan ini.
Xandara juga tidak menemukan niat yang mengancam dirinya dari Luxya, meski niat itu bukan sepenuhnya dermawan. Gadis tersebut memang sedang mencari permainan dan berniat menyeret orang lain ke dalamnya.
Xandara tidak membenci keberadaan mereka. Hanya saja, dari mana pun dilihat, ia berbeda. Bahkan Ken—seseorang yang terasa serupa dengannya—masih memiliki sesuatu yang tidak ia miliki, begitu pula sebaliknya. Karena itu, Xandara berniat tidak terlibat terlalu jauh.
Lalu, mengapa mereka begitu bersikeras?
Pertanyaan itu mengetuk rasa penasarannya. Raut wajah Xandara sedikit melunak ketika perhatiannya beralih kepada satu-satunya lelaki di ruangan tersebut.
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Lagi pula, aku sudah setuju untuk bekerja sama,” ujarnya. “Jadi, ‘keinginan’ yang kau sebutkan itu hendak kau apakan?”
“Tidak,” jawab Ken.
Ia tidak terlalu penasaran, entah apa yang sempat memengaruhinya. Namun, ia juga tidak berniat memperdebatkan pilihan hidup orang lain.
“Tapi aku memang tidak pernah mengerti kalimat ‘terserah’. Bagaimanapun, kita bukan seonggok batu. Kita adalah sosok yang dikaruniai akal sehat. Sebagian memiliki kepekaan emosi. Hal-hal itulah yang membuat seseorang mengambil pilihan.”
Sejauh itu, Ken selalu memilih. Sebelumnya, ia memilih mengajak Xandara membentuk tim terlepas dari apa yang mungkin terjadi pada dirinya. Karena itulah ia tidak memahami bagaimana perempuan tersebut dapat begitu mudah berkata bahwa orang lain boleh melakukan apa saja.
“Sangat kaku,” dengus Luxya ringan.
Ia menarik buku dari wajah Ken, lalu mengapit rahang bawah lelaki itu dengan jemari. Jawaban Ken tidak benar-benar mengganggunya; Luxya hanya semakin tidak sabar.
“Beberapa orang memiliki keyakinan kepada sosok yang lebih tinggi, mempercayai dan menjadikannya sesembahan.” Matanya melirik Xandara. “Apa gunanya berdoa ketika kita bahkan tidak mengerti takdir yang dibawakan-Nya?”
Nada suaranya meninggi. Sindiran itu sebenarnya juga diarahkan kepada takdirnya sendiri.
“Ken sudah menerima keadaan meskipun reaksinya menyerupai sebatang kayu,” lanjutnya jenaka. “Aku hanya memberitahumu, Xandara. Kemarilah.”
Luxya mendekatkan wajah kepada Ken dan mengusap sisi pipinya dengan ujung hidung. Napas hangatnya berembus tipis.
“Pada akhirnya, semuanya kembali kepadamu. Tidak semua hal bisa kukendalikan sesuka hati... hm?”
“Itu tidak berarti apa pun lagi,” tanggap Xandara mengenai sosok yang pernah dipercayainya.
Ia mulai melangkah mendekat.
“Aku tidak mengingatnya dengan jelas. Apakah Dia yang memalingkan pandangan, atau justru aku yang meninggalkan-Nya? Semuanya sudah tidak berhubungan.”
Xandara pernah menjalani kehidupan yang sempit dan ketat, mengabdi kepada satu-satunya tujuan hidup. Kini ia terdampar di tempat asing, kehilangan arah, lalu terseret ke dalam berbagai pertemuan. Mereka semua terasa sama dan berbeda pada saat bersamaan. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui bagaimana orang lain menjalani hidup.
Mungkin karena itulah ia tergerak mempelajarinya.
Kaki jenjangnya segera memperpendek jarak. Xandara membungkuk, sebelah tangan berpegangan pada sandaran di samping Ken, berada di sisi berlawanan dari Luxya. Ia menatap keduanya dari atas.
“Sebanyak apa yang bisa kalian tunjukkan?”
“Ini baru hari pertama,” ujar Ken. “Kau ingin melakukannya sekarang?”
Pertanyaan itu tidak disertai penolakan. Tangannya terangkat menyentuh pipi Luxya, tetapi ia tetap memandang kedua perempuan tersebut bergantian.
“Sejauh apa kau ingin kita melakukannya hari ini, Luxya?”
Ken selalu mengambil keputusan mengenai dirinya berdasarkan pilihan pribadi. Akan tetapi, ketika keputusan tersebut menyangkut orang lain, batas-batas yang disepakati bersama harus jelas.
Ia menoleh sedikit kepada Xandara.
“Kau tidak perlu melakukan apa pun apabila tidak menginginkannya.”
“Seberapa banyak yang kauketahui?” Luxya membalas Xandara dengan pertanyaan bernada geli.
Ia bersandar santai pada sentuhan Ken. Kedua lengannya melingkari leher lelaki itu, sementara tangan kirinya turun perlahan hingga jemari mereka bertemu.
“Jangan pelit, Ken. Kita akan bergerak dengan kecepatan yang diperlukan.” Dagunya turun ke bahu Ken, diiringi senandung ringan. “Banyak sentuhan akan membuat seseorang terbiasa.”
Luxya melirik Xandara sebelum mengulurkan tangan Ken ke arahnya.
“Cobalah saling mengenal lebih dekat. Kita sudah saling melihat, tetapi sentuhan akan membuat semuanya terasa lebih intim.”
“Sejak awal aku tidak memiliki keinginan dan tidak tahu apa yang kuinginkan,” ucap Xandara kepada Ken.
Tatapannya mencerminkan kehidupan yang selama ini hanya diisi oleh hal-hal yang harus dilakukan.
“Yang kutahu, mereka semua berakhir ketika berhadapan denganku.”
Ia menjawab dengan serius, tidak menangkap nada bermain Luxya. Sebagai penjaga semesta, memang demikian tugasnya terhadap ancaman.
Perlahan, telapak tangannya bersentuhan dengan tangan Ken.
“Ini... terasa janggal.”
“Aku tidak tahu secepat apa yang kau maksud,” kata Ken kepada Luxya.
Ia mendekat, membiarkan wajahnya berada di sisi leher Luxya. Tangannya menyentuh tubuh bagian atas gadis itu di atas kain, tetapi gerakannya tertahan dan terukur, menunggu reaksi yang jelas.
“Katakan apabila kau merasa tidak nyaman.”
Tangan lainnya tetap bersentuhan dengan Xandara. Sejujurnya, Ken tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap seseorang yang bersedia bekerja sama meski tidak mempunyai keinginan pribadi.
“Aku juga tidak mengerti apa yang ada di kepalamu.”
Sentuhan itu cukup memancing reaksi Luxya. Tubuhnya sedikit tersentak dan napasnya tertahan sesaat.
“Uh... seberapa besar kau menginginkan ini?” desisnya sambil mengecup pelipis Ken.
Tangan yang terhubung dengan Xandara bergerak ke pergelangan perempuan itu, menariknya perlahan agar jarak mereka bertiga semakin pendek.
“Ini bukan kejanggalan. Rasakan, Xandara. Rasakan sentuhan yang kita bagikan.”
“Apa itu penting?” Xandara bertanya kepada Ken dengan nada datar. “Tim sudah terbentuk. Yang kulakukan hanya menjadi kooperatif.”
Tangannya mengikuti panduan Luxya. Kulit mereka berdua terasa seperti benda asing yang menempel pada telapak Xandara—begitu lemah dan tidak mengancam, hingga ia justru harus berhati-hati agar tidak melukai mereka.
Wajahnya mendekat. Dalam keheningan ruangan, Xandara masih dapat mendengar jantungnya sendiri berdetak stabil.
“Jadi, apa yang bisa dihasilkan dari semua ini?” tanyanya kepada Luxya.
“Entahlah. Aku penasaran,” jawab Ken.
Tubuhnya tetap memiliki reaksi biologis sebagaimana manusia lain, tetapi ia tidak akan bergerak melampaui batas yang telah ditentukan.
“Aku juga penasaran dengan rasanya.”
Untuk pertama kalinya, bibir Ken dan Luxya bertemu. Hanya sesaat, sebelum Ken melepaskannya kembali.
“Kau bisa melakukan sesukamu—menjadi egois atau pembangkang. Atau Tuhanmu melarangmu melakukan itu?”
Meski diapit dari dua sisi, ekspresi Ken hampir tidak berubah.
Kecupan singkat itu terasa lucu bagi Luxya. Setidaknya, ia kini mengetahui bahwa Ken dapat bersikap responsif di balik pembawaannya yang membosankan.
“Berikan bagian yang adil kepada Xandara juga, Ken,” bisiknya.
Ia bersandar pada rahang bawah Ken dan memberikan kecupan hangat lain.
“Atau kau hanya bereaksi kepadaku?”
Luxya mengerling kepada Xandara, lalu menuntun tangan perempuan itu untuk membelai wajah Ken.
“Wajah adalah bagian yang peka, tetapi maknanya lebih emosional. Dari sana akan terlihat seberapa responsif seseorang dalam berhubungan.”
Tangan Xandara menelusuri setiap detail wajah Ken dengan sangat halus, hampir tanpa tenaga, seperti sedang memeriksa relik antik.
“Pembangkangan adalah hal yang tidak termaafkan,” ucapnya, masih mengamati respons Ken. “Seperti apa rasanya hidup menjadi egois?”
“Dia tidak terlihat menginginkannya,” ujar Ken kepada Luxya.
Sulit baginya memaksa. Seseorang boleh saja tidak merasa terpaksa, tetapi tidak mempunyai keinginan tetap berbeda dari menginginkan sesuatu.
“Lalu, apa yang kaulihat dari wajahku?” tanyanya kepada Xandara.
Wajahnya tetap datar ketika disentuh.
“Entahlah. Aku tidak ingat pernah hidup seperti itu. Aku melakukan apa pun untuk diriku sendiri. Namun, apabila berkaitan dengan orang lain, aku hanya akan melakukan sesuatu yang sama-sama diinginkan.”
Kata ingat terasa penting. Fragmen masa lalu Ken tidak sempurna; sebagian telah hilang tanpa sisa.
Luxya mengecup pipi Ken lebih lama sebelum menarik diri dan bangkit. Tatapannya kepada dua orang itu sarat hiburan.
“Egois? Itu hanya gelar yang diberikan orang lain karena ketidakmampuan mereka,” kekehnya. “Aku egois demi kepentingan terbaik, bukan hanya demi keinginanku sendiri. Bahkan aku dapat menjanjikan kesetaraan yang adil di sini.”
Telapak tangannya mendarat di lengan Xandara, bergerak naik seolah sedang membandingkan proporsi tubuh perempuan itu dengan yang lain.
“Sekarang, jangan ragu, Xandara.”
Luxya mencengkeram sikunya dan menuntunnya mendekati Ken.
“Percayakah kalian pada makna delapan detik saling menatap?”
Ia menyingkirkan bayangan rambut dari mata Ken agar tatapan mereka tidak terhalang.
“Seperti gunung,” ujar Xandara.
Ia tidak melanjutkan perbandingan tersebut. Sentuhan terakhirnya tertinggal di bawah dagu Ken. Tidak menunjukkan respons pun tetaplah sebuah respons.
“Kalian membicarakan egoisme, tetapi tidak cukup egois untuk benar-benar melakukannya,” lanjutnya. “Tidak seegois seseorang yang tidak memedulikan siapa pun dan meninggalkan apa pun demi mencapai tujuannya.”
Tanpa sadar, bagian terakhir kalimat itu keluar nyaris sebagai bisikan.
Luxya masih menuntun Xandara sehingga ia dan Ken saling berhadapan. Xandara tidak memahami maksud delapan detik tersebut. Namun, bukankah mereka telah bertatapan lebih lama dari itu?
“Tidak,” jawabnya kepada Luxya.
Kemudian ia kembali menatap Ken.
“Dan, apa yang kaulihat dariku? Kau sudah mengalami tipu daya dua dunia ini. Di sekitarmu juga ada orang-orang yang ukurannya lebih serupa denganmu; tentu itu lebih menguntungkan. Namun, kau tetap mengajakku meski mengetahui aku tidak peduli kepada orang lain ataupun pembentukan tim. Mengapa?”
“Entahlah.”
Ken tetap menatapnya selama waktu yang diperlukan, meski tidak memahami makna permainan Luxya.
“Pada kenyataannya, aku memang egois terhadap diriku sendiri. Namun, dapatkah seseorang disebut meninggalkan sesuatu apabila ia tidak terikat dengannya?”
Baginya, hal itu serupa mengabaikan permata di jalan karena tidak memiliki kaitan dengan dirinya, atau tidak menghiraukan tangis anak kecil yang sama sekali asing.
“Hanya rasa penasaran pribadi,” tutupnya sederhana.
Lalu, perhatian Ken kembali kepada Luxya.
“Sekarang bagaimana? Haruskah kita berhenti sampai di sini, atau melanjutkannya sampai selesai seperti yang diinginkan siapa pun yang membuat tempat ini?”
Tangannya berada pada kain yang menutupi tubuh Luxya, tetapi tidak bergerak lebih jauh. Ia menunggu pilihan yang jelas.
Luxya tidak dapat menahan senyum melihat reaksi keduanya. Mereka terlalu padat untuk menangkap makna-makna yang berusaha ia pancing.
“Ternyata kalian masih membutuhkan penyesuaian.”
Ia menarik tangan Ken dan menempatkannya pada pengait kain di punggungnya. Setelah itu, Luxya menunduk dan memberi kecupan singkat pada bibir Ken.
“Namun, tidak apa-apa. Waktu dapat mengaturnya.”
Ia menarik Ken berdiri, lalu menuntunnya menuju ranjang besar.
“Untuk memastikan, ego pemilik tempat ini sudah menempatkan kita seperti ini. Apa salahnya aku memanfaatkan keadaan?” Luxya melirik Xandara dengan satu alis terangkat. “Aku tidak memahami konsep egoismu ketika aku bahkan dapat memanfaatkannya.”
Luxya duduk kembali di tepi ranjang dan melepaskan tangan Ken. Dagunya terangkat menatap mata gelap lelaki itu, kemudian pandangannya beralih kepada Xandara.
“Aku akan mengingatkanmu bahwa kau memilihku ketika sebelumnya kau telah memilih Ken. Aku sendiri sudah menyatakan akan menerima tim apa pun selama menguntungkan—bahkan ketika kita tidak lagi mempertanyakan apakah Antares layak berada di tempat ini.”
“Aku hanya memilihmu,” sanggah Xandara sambil menegakkan tubuh. “Sejak awal, aku tidak keberatan ditempatkan di mana pun. Namun, pemikiranmu sempat menyita perhatianku.”
Ia menatap telapak tangannya sendiri, merenungkan kontak fisik yang baru saja dilakukan.
“Aku melihatnya sebagai sesuatu yang... menarik. Kalian memiliki pandangan berbeda, tetapi juga sisi yang sama.”
Xandara tidak menimbang untung dan rugi. Setiap pertemuan baginya hanyalah sesuatu yang layak diamati—cara emosi dan pikiran kehidupan di luar dunianya bekerja. Kedua orang di hadapannya juga tampaknya memilih tidak mempersalahkan situasi tersebut.
“Jika demikian, lanjutkan saja,” katanya, seolah sedang menurunkan titah. “Ikuti ke mana alur ini mengarah.”
Ia memberi jeda, memastikan batas ucapannya tidak disalahartikan.
“‘Keinginan terdalam’ yang kaumaksud masih belum kupahami. Ini pun bukan bentuk keterpaksaan. Aku akan melihat sebanyak apa yang bisa kalian tunjukkan selama waktu yang tersisa.”
“Baiklah,” ujar Ken. “Mari kita selesaikan.”
Ia mengikuti Luxya ke atas ranjang. Ketika Luxya mempertahankan persetujuannya, Ken mulai melepaskan lapisan pakaian gadis itu dengan tenang, tanpa mengarahkan tindakan yang sama kepada Xandara. Ucapan perempuan raksasa tersebut memberinya izin untuk melanjutkan di hadapannya, bukan hak untuk melampaui batas yang belum ia pilih.
Pencahayaan ruangan perlahan meredup. Di bawah aroma kayu manis yang kian pekat, Ken dan Luxya meneruskan keputusan yang telah mereka sepakati. Xandara tetap berada pada batasnya sendiri—mengamati, mempelajari, dan tidak disentuh lebih jauh.
Selebihnya ditelan oleh kesunyian kamar serta pintu yang masih terkunci.
Soraya, Leon, dan Zion
“Mereka semakin tidak kreatif,” komentar Zion datar.
Ia memilih duduk bersila di tepi ranjang besar. Tangannya sudah lebih dahulu mencomot makanan—permen atau apa pun yang tersedia dan dapat menggantikan rokok selama mulutnya mempunyai sesuatu untuk dikecap. Secara teknis, ia belum sempat benar-benar mengisi perut sejak berada di Dunia Simulasi.
Dari sudut mata, Zion melemparkan seringai tipis kepada dua teman sekamarnya.
“Padahal seks tidak membutuhkan ranjang.”
Ia menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Bukan berarti Zion tidak peka terhadap perubahan suasana. Justru sebaliknya, ia terlalu peka. Tubuhnya mengenali sensasi yang mirip dengan sesuatu yang pernah dirasakan di dunia asal, tetapi ia memilih mengabaikannya untuk sementara. Ia tidak ingin langsung kehilangan kendali sebagaimana yang terjadi sebelumnya.
“Tapi kalian pernah memikirkan tidak, kenapa orang seperti kalian dipaksa berkembang biak seperti binatang yang hampir punah?”
Pikirannya kembali kepada Xandara. Makhluk yang keterlaluan kolot itu mungkin juga dipaksa berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih kecil darinya. Zion bahkan tidak sanggup membayangkan caranya. Kemudian ada Sonata. Ia hanya mengenal reaksi tubuh perempuan itu terhadap sentuhannya, bukan sifat ataupun pikirannya. Sekarang, ia kembali ditempatkan bersama dua orang yang pada dasarnya masih asing.
“Kau saja bilang lebih khawatir tidak bisa menikah daripada melayani dua pria di ranjang.” Zion mengangkat dagu ke arah Soraya, kedua alisnya terangkat dalam godaan yang sarat sarkasme. Setelah itu, perhatiannya beralih kepada Leon. “Dan kau masih bertanya bagaimana caranya tiga orang berhubungan badan setelah menjelaskan teori berkembang biak panjang kali lebar. Kalian benar-benar tidak masuk akal, tahu?”
Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada, lalu mendengus kesal.
“Kalian berdua memang serasi. Sama-sama bodoh. Kenapa tidak kalian saja yang ngentot berdua? Aku tidak keberatan menonton.”
Seringainya melebar dan diikuti kekehan pelan.
“Masa aku harus turun tangan untuk mempraktikkannya langsung buat kalian?”
Leon sedang mengaduk cokelat hangat yang ditemukan di antara persediaan makanan. Seteguk cairan manis memenuhi indra perasanya. Ruangan ini mengingatkannya pada kamar di Dunia Simulasi. Seperti Zion, ia juga berusaha menahan diri agar insting tidak menguasainya, memilih mengalihkan perhatian kepada minuman dan ocehan teman sekamarnya.
Alih-alih tersinggung oleh sindiran serta sarkasme Zion, Leon justru terkekeh kecil.
“Kau sangat blak-blakan, ya. Apa yang kaukatakan memang tidak salah. Lagi pula, aku bukan pria polos. Namun, buku-buku yang kubaca hanya membahas praktik untuk pasangan suami istri, kau tahu?”
Ia bersandar di sofa, mengembuskan napas, lalu menyibakkan poni.
“Aku bahkan tidak punya waktu untuk menonton video porno ataupun menjelajahi genre yang ada. Bukankah wajar apabila aku bingung?”
Seluruh stimulus di ruangan membuat jalan pikirannya lebih sulit disusun. Otaknya terasa berkabut, sementara pertanyaan mengenai alasan dan tujuan penculikan itu terus memenuhi kepalanya.
“Siapa pun yang menculik kita tampaknya memang ingin kita berkembang biak. Namun, apabila disamakan dengan hewan dan tumbuhan, mungkin mereka sedang melakukan eksperimen crossbreeding.” Leon menatap layar yang sudah meredup. “Aku hanya memperoleh sedikit petunjuk tentang alasan kita berada di sini. Kita berasal dari dunia yang berbeda, bukan? Kalau begitu, ras dan budaya kita tentu juga bermacam-macam.”
Ia meletakkan cangkir, bangkit, kemudian berjalan menghampiri Soraya. Leon berlutut di hadapan gadis itu dan meraih tangannya dengan lembut.
“Dalam keadaan ini, pihak yang paling dirugikan adalah perempuan karena merekalah yang harus menanggung beban pembuahan. Aku yakin itu bukan tugas yang mudah.”
Tatapan Leon mengarah lurus kepada Soraya, serius meski rona malu belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.
“Karena itu, Soraya, aku berjanji akan bertanggung jawab.”
Soraya ingin tenggelam ke dalam tanah.
Sungguh.
Ia duduk di sisi lain ranjang sambil memeluk toples kaca berisi biskuit. Stress eating, begitu mungkin istilah kerennya. Kenyataannya, ia tidak mampu menentukan mana yang harus lebih dahulu dipikirkan: makanan yang terasa menyenangkan atau fakta bahwa dirinya ditempatkan dalam satu ruangan untuk berkembang biak.
Berkembang biak.
Memangnya aku sapi?
Pernyataan Zion dan Leon membuatnya hampir tersedak. Pipinya memerah nyaris menandingi warna selai stroberi dalam kemasan yang dipegangnya.
“T-tolong jangan terlalu blak-blakan begitu,” keluhnya kecil.
Ia terbatuk untuk menata suara.
“Aku hanya berkata jujur. Aku tidak tahu soal hal-hal... seperti itu.” Soraya menunduk, semakin erat memeluk toplesnya. “J-jadi, kalau memang harus... itu... aku akan... erm, menyerahkannya kepada kalian?”
Kesunyian jatuh setelah ucapan tersebut. Tidak ada gelombang pada layar yang berubah dan tidak ada penanda persetujuan yang menyala. Kalimat Soraya lebih terdengar sebagai kebingungan daripada pilihan yang benar-benar tegas—sementara aturan Sistem menuntut persetujuan eksplisit dari ketiganya.
Vespera, Belze, dan Lucerix
Hal pertama yang Belze sadari adalah jumlah mereka telah berkurang menjadi tiga orang. Ia bahkan belum sempat menanyakan nasib dua orang lain yang tertinggal ketika dirinya, Vespera, dan Lucerix sudah dipindahkan ke ruangan tertutup tersebut.
Reward: tiga puluh hari... hanya dengan berdiam diri?
Belze tidak menemukan perintah yang harus segera dikerjakan setelah penjelasan panjang di layar berakhir. Ia mencoba menghubungkan pelajaran tentang cara kerja dunia dengan dua pengalaman percobaan yang sudah dilalui. Semuanya terasa tidak normal. Yang paling membuatnya hampir bergidik adalah kenyataan bahwa rasa khawatir di dalam dirinya justru semakin tipis.
Ruangan itu menenangkannya secara tidak wajar.
Belze memandang dua orang yang harus tinggal bersamanya selama tiga puluh hari.
Jadi, sekarang mau melakukan apa?
Vespera juga tidak menyangka dirinya lolos tanpa menerima hukuman. Apakah hal itu terjadi karena ia menerima tawaran Lucerix di ruang kelas? Ataukah semuanya memang bagian dari takdir?
“Nampaknya kita lolos,” katanya sambil melihat sekeliling.
Seharusnya ia mengkhawatirkan dua orang lain yang tertinggal. Namun, ketenangan aneh dari kamar itu menyelimuti pikirannya dan meredam kegelisahan sebelum sempat tumbuh.
“Aku bingung,” lanjutnya kepada Belze.
Ia sungguh tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Video pada layar kelas masih diingatnya, dan penjelasan barusan jelas menunjukkan bahwa ini merupakan tahap berikutnya. Meski demikian, mengetahui nama sebuah percobaan tidak membuat tujuan mereka menjadi lebih mudah dipahami.
Lucerix berdiri diam di tengah ruangan. Matanya menyipit ke arah layar yang baru saja menyampaikan peraturan dingin tersebut. Bibirnya melengkung dan tawa pelan merembes keluar—cukup untuk menyamarkan kegelisahan yang mencuat di baliknya.
Ia mengitari ranjang besar. Jarinya menyapu permukaan seprai, seakan yang sedang dinilai bukan kelembutan kainnya, melainkan niat terselubung di balik seluruh fasilitas itu.
“Ruangan ini bukan hadiah,” ujarnya. “Ini sangkar emas.”
Tatapannya singgah pada kedua rekannya dengan sorot yang memperingatkan. Setelah itu, Lucerix mendekati Belze. Tangan dinginnya terangkat, menyentuh ruas pipi lelaki bertanduk tersebut tanpa lebih dahulu meminta izin.
Lucerix menatapnya lekat-lekat, mencari sisa jejak makhluk buas yang pernah menguasai tubuh Belze.
“Apa semua proyeksi di ruangan ini mampu menjinakkanmu,” bisiknya, “atau justru membuatmu semakin... liar?”
Tubuhnya condong ke depan. Jari yang semula mengusap pipi bergerak turun menuju leher, menekan denyut nadi yang masih stabil, seolah misteri dalam diri Belze dapat digali dari balik kulitnya.
“Apa kau percaya kepada suatu ikatan, atau kau akan membiarkan nalurimu mengendalikanmu?”
Jarinya akhirnya melonggar. Lucerix sempat menatap Vespera sebelum pandangannya kembali kepada Belze. Senyum tipis masih menempel di wajahnya, sedangkan tarikan napasnya bergetar seperti seseorang yang berdiri di ambang kegilaan yang tidak diundang.
“Tenang saja. Kita masih punya banyak waktu. Aku ingin kau menunjukkan jawabannya kepadaku nanti.”
Belze menggeleng kepada Vespera. Ia juga tidak memiliki penjelasan. Seperti gadis itu, pikirannya dipenuhi kebingungan. Bedanya, kali ini ia tidak dikuasai hasrat kepemilikan seperti dalam pengalaman sebelumnya.
Kalau hanya tiga puluh hari, mungkin aku bisa bertah—
Sekujur bulu kuduknya berdiri saat jemari Lucerix bergerak dari pipi menuju lehernya. Tubuh Belze masih tegak, tetapi pandangannya segera beralih. Keningnya berkerut dan ia berusaha keras menghindari tatapan intens lelaki tersebut.
Isi kepalanya menjadi benang kusut. Ketika mengharapkan hubungan pertemanan yang sehat, Belze sama sekali tidak membayangkan dirinya akan ditatap seolah tubuhnya hendak dibedah. Mungkin setiap orang memang terlahir unik. Atau mungkin hanya Lucerix yang benar-benar salah memakai sesuatu.
Namun, bagaimanapun juga, Belze sudah menyetujui pembentukan tim dengannya.
Ia menggenggam pergelangan tangan Lucerix dengan erat dan menghentikan sentuhan itu. Tulisan Sistem tentang persetujuan eksplisit masih jelas dalam ingatannya; kerja sama di ruang kelas bukan izin untuk menyentuh tubuhnya sesuka hati.
Ralat. Tiga puluh hari mungkin tidak akan terasa sesingkat itu.
Vespera memperhatikan keduanya. Belze tampaknya tidak lebih tahu daripada dirinya, sedangkan tindakan Lucerix seakan sudah menjawab bagaimana stimulus ruangan mulai bekerja.
“‘Sangkar emas’?”
Ia menyentuh dinding. Memang benar mereka terkurung, tetapi Vespera tidak memahami apa yang membuat sangkar tersebut layak disebut emas.
“Saya tidak paham.”
Baginya, tempat itu lebih menyerupai perbudakan di sebuah rumah bordil yang disamarkan sebagai eksperimen sosial.
“Apa kita bisa keluar dari sini?” tanyanya kepada Belze dan Lucerix.
Mungkin masih ada kesempatan untuk bebas dari penculikan tersebut.
Keluar dari sana—Belze juga mempertanyakan hal yang sama. Ia pernah membuka jalan dalam Dunia Mimpi. Apakah hal serupa dapat dilakukan sekarang?
Berbeda dari kamar terdahulu, pintu yang membawa mereka masuk telah menyatu kembali dengan dinding setelah mengunci. Tidak ada celah ataupun gagang yang tersisa. Dari dalam, seolah ruangan itu memang tidak pernah memiliki jalan keluar.
Bagaimana kalau aku menciptakan pintu sendiri?
“Open, the seal.”
Energi berkumpul di telapak tangan Belze. Ia mengatur kekuatannya hingga setara dengan bola penghancur yang dapat meruntuhkan sebuah rumah. Satu pukulan seharusnya cukup untuk membuka dinding tersebut.
Namun, sesaat sebelum serangan dilepaskan, energi dalam tubuhnya menguap begitu saja.
Belze membeku.
Atmosfer kamar menguat bersama aroma yang membuat tubuh semakin rileks. Bisikan-bisikan tipis memenuhi pikirannya, mendorong hasrat yang selama ini ditekan untuk terlepas. Lehernya memanas. Napasnya memendek dan kegelisahan mulai merambat tanpa arah.
Ia merasa dapat menanggalkan topengnya lagi kapan saja—membiarkan insting liar mengambil alih sebagaimana pertanyaan Lucerix.
Tapi tidak mungkin aku melampiaskannya sembarangan kepada orang lain, bukan?!
“RRRRAAHHH!”
Belze menghantamkan kepalanya sendiri ke dinding.
Bunyi benturan keras menggema, tetapi permukaan kamar tidak retak dan kepalanya tidak meninggalkan luka berarti. Bagi Belze, sedikit pusing jauh lebih baik daripada kehilangan kendali dan menyentuh seseorang yang bukan haknya. Lagi pula, Vespera dan Lucerix tampak sudah saling mengenal sejak ruang kelas. Ia hanyalah orang asing di antara keduanya.
Belze menoleh. Wajahnya tidak terluka, hanya menyisakan tatapan tajam di tengah keheningan. Lalu ia mengangkat satu ibu jari kepada mereka.
Gesturnya jelas: Aku tidak akan mengganggu pertemuan kalian. Silakan lanjutkan.
Namun, layar tetap tidak berubah. Tidak ada persetujuan yang tercatat, tidak ada tahap yang dinyatakan selesai, dan pintu masih menyatu rapat dengan dinding.
Axel, Bella, dan Althea
“Tiga puluh hari terdengar mudah,” ujar Axel setelah layar meredup, “tetapi aku yakin tidak akan sesederhana itu.”
Berdasarkan penjelasan sebelum pembentukan tim, mereka memang ditempatkan di sebuah ruang intim. Sistem telah menguraikan tahap-tahap yang akan dijalankan, tetapi tidak memberikan tugas yang harus mereka kerjakan saat itu juga. Axel menduga dalang di balik semua ini mengharapkan kedekatan berkembang dengan sendirinya—atau setidaknya tampak seolah berkembang secara alami.
Ia memilih membicarakan hal yang dapat mereka kendalikan terlebih dahulu.
“Pertama, tempat tidur. Apa kalian berdua tidak keberatan tidur bersama seorang pria?”
Axel memandang Bella dan Althea bergantian, memastikan ucapannya terdengar jelas.
“Aku berjanji tidak akan melakukan hal aneh tanpa persetujuan. Namun, apabila kalian merasa tidak nyaman, aku akan mengalah dan tidur di sofa, meski mungkin tidak terlalu nyaman bagiku.”
Ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada hari-hari berikutnya. Justru karena itulah batas awal perlu ditentukan demi kenyamanan mereka bertiga.
“Berikutnya, penggunaan kamar mandi, pembagian tugas rumah, dan hal-hal semacam itu.” Axel menyilangkan tangan di depan dada. “Ada yang ingin kalian tambahkan?”
“Aku!” Bella langsung mengangkat tangan. “Aku bisa memasak!”
Mengenai tempat tidur, ia dapat tidur di mana saja. Setelah menjadi Helden dan mengasingkan diri, Bella bahkan tinggal di sebuah gubuk tua dengan kasur keras, alih-alih kembali ke rumah mendiang orang tuanya.
Ia menatap layar, kemudian wajah kedua rekannya, seolah baru menghubungkan semua petunjuk yang tersedia.
“Kita berada di sini untuk melakukan... itu, ya?” tanyanya blak-blakan. “Kalau begitu, tujuan pelakunya berarti sampai aku hamil, bukan? Kyaaah, aku akan menjadi ibu~”
Axel terdiam dengan senyum canggung.
Althea jauh lebih terbuka menunjukkan keterkejutannya.
“Lho, kamu tidak keberatan dengan itu?!”
Normalnya, orang akan panik ketika ditempatkan dalam situasi seperti ini. Bella justru menyambut kemungkinan tersebut dengan semangat yang hampir tidak masuk akal.
“Uhh... aku tidak begitu nyaman tidur bersama seorang pria,” lanjut Althea setelah berhasil menata pikirannya. “Namun, apabila Bella tidur di tengah sebagai pembatas, kurasa tidak akan menjadi masalah.”
Ia mengalihkan pembicaraan kepada hal yang terasa lebih aman.
“Mengenai pekerjaan rumah, aku juga bisa merapikan ruangan atau membersihkan. Untuk kamar mandi, mungkin kita bisa melakukan suit lagi agar urutan pemakaiannya ditentukan secara adil?”
Axel baru pertama kali mendengar seseorang membicarakan hubungan badan dan kehamilan seterbuka Bella. Ia mempertahankan senyum canggung sebelum menjawab.
“Aku tidak tahu pasti. Mereka hanya mengatakan bahwa kita harus tinggal di sini bersama selama tiga puluh hari. Namun, mungkin memang tidak akan sesederhana itu.”
Ia memandang Althea.
“Aku tidak keberatan menggunakan kamar mandi paling akhir. Kalian berdua bisa lebih dahulu.”
Kemudian ia mengamati ruang asrama yang tampaknya memang dirancang agar tidak membutuhkan terlalu banyak perawatan.
“Sepertinya tidak banyak pekerjaan rumah yang tersisa. Aku akan membantu menyiapkan bahan makanan dan membersihkan tempat ini. Aku cukup ahli menggunakan tangan. Jadi, apabila ada pekerjaan berat, jangan ragu menyerahkannya kepadaku.”
Yang dimaksud Axel tentu saja kemampuan memainkan alat musik, mengolah bahan makanan, dan melakukan pekerjaan teknis lain. Namun, setelah ucapan Bella sebelumnya, kalimat tersebut terdengar cukup mudah disalahartikan.
“Yah, daripada memikirkannya terlalu dalam, bukankah lebih baik dinikmati saja?” kata Bella. “Aku tidak mau berakhir depresi hanya karena menebak tujuan penculik yang tidak jelas dan bahkan tidak diketahui batang hidungnya.”
Naif dan ceroboh memang hanya dipisahkan garis tipis. Namun, Bella memang tipe orang yang mudah mengikuti arus dan memilih mempertahankan keceriaan meski berada dalam keadaan sulit.
Matanya lalu berbinar seakan baru mendapat gagasan hebat.
“Ooh! Kalau begitu, aku dan Althea bisa mandi bersama agar lebih efisien. Semuanya sudah ditentukan!”
Ia segera meraih tangan Althea.
“Ayo, Thea. Kita mandi bersama. Aku tidak tahu sudah berapa lama kita disekap di sini. Lebih baik tetap menjaga kebersihan.”
Apa yang Bella katakan sejauh itu memang tidak sepenuhnya keliru. Namun, menurut Althea, gadis tersebut memiliki naluri bertahan hidup yang nyaris nol. Orang normal seharusnya lebih waspada terhadap sesuatu yang tidak diketahui. Ia sampai bertanya-tanya bagaimana Bella dapat bertahan selama ini.
Pemikiran tersebut segera lenyap saat ajakan mandi bersama benar-benar diproses oleh kepalanya.
“Mandi bersa—wha...?!”
Sebelum sempat memberikan jawaban utuh, Althea sudah ditarik menuju kamar mandi. Ia hanya dapat mengikuti langkah Bella sambil berseru dengan wajah memerah.
“Bella~!”
“Iya, lakukan senyaman kalian,” ujar Axel.
Ia tersenyum dan membiarkan keduanya membangun kedekatan dengan cara mereka sendiri.
Hari-hari awal kemudian bergerak dalam pola yang nyaris konstan. Mereka berbagi ruangan, mengatur urutan menggunakan fasilitas, menyiapkan makanan, dan menjalani rutinitas yang telah disepakati. Tidak ada tahap yang diumumkan selesai secara terang-terangan. Perubahan justru datang perlahan, hampir tak kentara.
Pencahayaan yang semula lembut terasa semakin hangat. Aroma kayu manis mulai tinggal lebih lama di udara. Ruangan belum sampai mengganggu kemampuan mereka berpikir, tetapi rasa ingin tahu yang asing tumbuh di dada Axel—dorongan untuk mengetahui siapa sebenarnya dua perempuan yang hidup bersamanya.
“Apa kalian merasakan suasana ruangan ini berubah?” tanyanya suatu ketika.
Axel menarik napas. Wangi kayu manis mengisi paru-parunya.
“Apa yang kalian lakukan sebelum berada di sini?”
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Sistem telah mendorong ketiganya menuju kenangan yang menenangkan, tetapi jawaban Bella dan Althea belum tersedia dalam peristiwa yang tercatat. Untuk sementara, asrama hanya menunggu mereka membuka kisah masing-masing.
Cassius, Zhigalkovich, dan Mikado
“Hah? Tiga puluh hari? Gila, lama banget!”
Mikado terdengar mengeluh, tetapi tubuhnya justru sudah menyamankan diri di atas ranjang. Ia berbaring dengan kaki bersila, seolah ruangan terkunci itu hanya kamar penginapan yang kebetulan mempunyai aturan aneh.
“Terus kita mau melakukan apa di sini? Diam saja? Apa harus kumpul kebo?” Ia terkekeh. “Kalau melihat simulasi-simulasi sebelumnya, sepertinya memang disuruh begitu.”
Tatapannya berpindah dari Zhigalkovich kepada Cassius.
“Eehh, tapi kalian memang bisa, ya? Wajah kalian bukan tipe orang yang bisa mesum begitu.” Mikado dengan santai menunjuk Cassius. “Apalagi kau.”
Zhigalkovich memandangi mata merah lelaki itu. Di dalam kepalanya, penjelasan yang tidak diminta siapa pun segera berputar: mungkin Mikado meneteskan Insto terlalu banyak, mungkin ia bagian dari klan Utchiha, atau mungkin matanya hendak membangkitkan Sharing-an. Seharusnya begitu, sebab mata lelaki itu memang merah-merah.
“Are you kidding me, fucking idiot?!” bentaknya.
Kemarahan itu, menurut imajinasinya sendiri, hampir saja membangkitkan mata Sharing-an miliknya. Kenyataannya, tidak ada teknik istimewa yang muncul. Matanya hanya memerah, sementara ocehannya kembali mengalir seperti radio rusak yang tidak dapat dimatikan.
“Kau bercanda denganku, anak babi berkudis? Kau pikir aku tertarik memegang bijimu yang besar sebelah itu?”
Mikado baru saja berbicara seolah paling tampan dan paling berpengalaman. Zhigalkovich tidak berniat membiarkan kesan tersebut bertahan.
“Tidak ada yang tertarik membangun hubungan intim denganmu! Anumu pasti kecil seperti jari kelingking. Amit-amit, benda begitu wajib dipotong sampai hilang! Sadar diri, wajahmu penuh kudis dan kurap. Tidak ada yang mau ngeseks denganmu!”
Penolakan itu dilontarkan dengan begitu spektakuler hingga keberadaan Cassius nyaris terlupakan. Seluruh amarah Zhigalkovich telah diarahkan kepada lelaki berwajah “kudisan” yang menurutnya terlalu bernafsu dan terlalu percaya diri.
Cassius sendiri tidak terlalu memedulikan kapan tiga puluh hari itu akan berakhir. Namun, berada sekamar dengan seorang perempuan dan seorang lelaki seperti Mikado merupakan perkara lain.
Ia segera mengitari ruangan, mencari celah, alat, ataupun mekanisme yang mungkin dapat membawanya keluar. Di sudut-sudut asrama terdapat perangkat yang tidak dikenalnya, tetapi tidak satu pun tampak seperti pembuka pintu.
Apa ini yang dimaksud Kakek sebagai pertengkaran suami istri?
Ia melirik Mikado yang sangat santai, lalu Zhigalkovich yang tampak siap membunuhnya hanya dengan kata-kata.
“Memangnya kita harus melakukan hal seperti itu?” tanyanya kepada keduanya. “Tidak ada cara lain untuk bertahan?”
“Ooucchh! Kalimatmu jahat bangeeet! Rasanya mau bunuh diri saja mendengarnya!”
Mikado memegang dada dan menjatuhkan tubuh secara dramatis ke ranjang. Sedetik kemudian ia tertawa keras dan kembali duduk.
“Bercanda~ Hidupku yang begini-begini saja masih terlalu asyik untuk diakhiri gara-gara makian perempuan hormonal seperti kau.” Seringainya terangkat. “Lagi pula, kalau terus bicara begitu, aku malah makin terangsang, loh~ Aahh~”
Pada titik itu, sulit menentukan apakah Mikado sadistis, masokistis, atau sekaligus keduanya.
“Kau sendiri?” balasnya kepada Zhigalkovich. “Memangnya ada yang mau naik ke ranjang denganmu? Yaahh, tubuhmu bagus, sih, meski kelihatan kotor. Oops, maksudku bukan warna kulitmu, ya!”
Ia tertawa lagi, sama sekali tidak menyesali ucapannya.
“Biasanya lelaki suka perempuan pendiam dan penurut. Yang seperti kau paling-paling cuma dianggap teman. Ahahahaha!”
Setelah itu, Mikado melirik Cassius yang masih mencari jalan keluar dan menumpukan wajah pada satu tangan.
“Kita diberi tiga puluh hari. Mungkin memang ada cara lain, dan kita harus menemukannya sebelum waktunya habis.”
Zhigalkovich sempat memasuki mode waspada ketika pujian tentang tubuhnya terlontar. Barangkali, pikirnya, si brengsek itu sedang memakai gombalan untuk meruntuhkan pertahanannya. Akan tetapi, melihat mata merah Mikado di bawah pencahayaan kamar justru melahirkan bahan ejekan baru.
“Matamu seperti kelilipan, ya, bangsat? Kelilipan daging anjing sampai begitu? Apa pencahayaan itu sedang menegaskan bahwa kau tokoh utama?!”
Wajahnya mungkin telah kembali “normal”, tetapi mulutnya tidak pernah dirancang untuk sopan.
“Kau menemukan karakter sampahmu dari mana sampai sok jago dan sok pujangga? Kau pikir dengan banyak gaya akan ada perempuan yang membuka baju lalu menepuk-nepuk kepala bapakmu supaya kau bisa menyusu di gunungnya?!”
Cassius yang berusaha diam pun mungkin akan sakit telinga mendengarnya.
“Sudah kuduga. Kau anak babi yang ingin menyusu, mendesis seperti anjing gunung yang hendak menggigit sasaran.”
Di tempat asal Zhigalkovich, makian adalah bunyi sehari-hari. Tata krama dan keanggunan upacara minum teh tidak lebih dari sampah apabila dibawa ke Ebon.
“Evolusi monyet akhirnya terbukti. Kau seperti campuran anjing dan babi yang penuh nafsu.” Ia mendadak menunjuk Cassius. “Kurasa punya Cassius lebih besar daripada punyamu. Kenapa? Karena sesepuh dengan kelamin besar biasanya lebih diam. Ocehanmu yang tidak berhenti justru membuktikan bahwa p*nis-mu kecil, dasar brengsek!”
Ia menoleh beberapa kali kepada Cassius, menjadikan sikap diam lelaki itu sebagai bahan pembanding.
“Karakter yang diam adalah mereka yang p*nis-nya besar. Yang banyak mengoceh sepertimu adalah karakter dengan p*nis kecil, Mikado bajingan.”
Cassius berhenti sejenak. Wajahnya memerah karena tidak tahu bagaimana harus menanggapi percakapan sebarbar itu.
“Itu cukup kejam untuk Mikado,” katanya akhirnya. “Dan memangnya kau tahu ukuran punyaku?”
Ia kembali mencari sesuatu yang berguna di antara peralatan ruangan.
“Kalau kalian melakukan hal itu, mungkin kita akan lebih cepat keluar. Jadi, lakukan saja. Abaikan aku.”
“Hahaha! Baru bertemu sebentar saja sudah tahu apa yang kumau!” Mikado tertawa keras.
Makian apa pun yang dilemparkan Zhigalkovich tampaknya tidak berpengaruh sedikit pun kepadanya.
“Hmmm... dari tadi kau bilang ukuranku kecil dan punya dia besar. Memangnya sudah pernah lihat?” Ia menyeringai. “Atau sejak kita masuk, yang kaulihat cuma selangkangan kami? Waahh, mulutmu kotor dan matamu juga kotor, yaa~”
Mikado lalu melompat turun dari ranjang dan berhenti di depan Cassius.
“Waahh, aku dibela, loh. Senang, deh.” Ia menyamakan tinggi dengan lelaki itu sebisanya. “Tapi tidak adil. Kita ditempatkan di sini bersama. Masa kau cuma menonton?”
Seringainya semakin lebar.
“Oh, jangan-jangan itu memang fetish-mu? Melihat orang melakukannya sementara kau tidak bisa berbuat apa-apa? Ahahaha! Keren juga! Aku suka yang begini!”
Tangannya menepuk punggung Cassius—lebih dekat kepada pukulan daripada sapaan ramah.
Pertanyaan Cassius mengenai ukuran tubuh rupanya menarik perhatian Zhigalkovich. Untuk sesaat, kewaspadaannya turun. Rona tipis muncul di wajahnya sementara otaknya menyusun kembali kalimat-kalimat yang tidak kalah aneh.
“Ah, kau memberikan pertanyaan menarik, Kassius si penuh luka di wajah.”
Ia mengamati bekas luka Cassius seolah baru menyadari daya tarik yang selama ini tersembunyi.
“Bagian luka di wajahmu membuatmu melampaui ketampanan Dis Jockey Bear yang diberitakan membuntingi Erika Hardware. Kau lebih tampan daripada DJ Bear. Kurasa batangmu besar dan bijimu tidak besar sebelah seperti si babi Mikado kudisan itu. Hehe.”
Dalam imajinasi Zhigalkovich, dugaan selalu dapat melampaui kebenaran.
Namun, Mikado kembali mengoceh. Ketertarikan singkatnya kepada Cassius pun segera tenggelam oleh kemarahan baru.
“Mikado adalah nama orang berkudis di wilayah yang pernah kutinggali, dan kudisnya mirip wajah jelekmu!” bentaknya. “Kau juga mendengkur seperti babi. Rasanya aku ingin menyunat habis batangmu yang kecil itu!”
Sebilah pisau muncul di tangannya.
“Buka celanamu, Mikado brengsek! Akan kuhabisi batangmu sampai tidak tersisa!”
Zhigalkovich memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tangan kiri, membayangkan cara melaksanakan ancaman tersebut. Pisau di tangan kanan bergerak-gerak mengikuti imaji yang semakin liar.
“Akan kuputus sampai menjadi sosis, lalu kuberikan kepada anjing. Dasar Mikado! Aku semakin tertarik menjadikan batangmu makanan anjing!”
“Berhentilah bicara omong kosong,” ujar Cassius kepada Mikado, menolak dugaan bahwa dirinya tertarik menonton.
Kemudian ia menyentuh luka di wajah ketika mendengar pujian ganjil Zhigalkovich.
“Aku masih tidak memahami ucapanmu, tetapi kau punya selera yang aneh.”
Begitu melihat pisau, Cassius mendekat dengan hati-hati.
“Kurasa itu terlalu berlebihan. Namun, aku memahami perasaanmu.”
“Eeehhh? Jadi aku dirundung sekarang? Curang banget, deh!”
Mikado masih tertawa, seolah ancaman pisau tersebut sama sekali tidak serius—atau seolah tidak ada satu pun bagian dari situasi mereka yang pantas dianggap serius.
“Kalau kau memang bisa melukaiku, silakan saja,” ujarnya santai. “Kau boleh memotongku atau melakukan apa pun~ Aku menerima diperlakukan seperti apa pun~”
Entah ia sungguh-sungguh atau hanya terus memancing reaksi, tidak ada yang dapat memastikan.
Zhigalkovich segera mengaktifkan cheat mode dalam pikirannya. Kedua tangannya bergerak seolah membentuk segel seorang shinobi dari manga Narto Syarifuddin, meniru jurus milik Sasule Utchiha.
“Segel Kutukan: Eyes of the Red!”
Mata merahnya tampak semakin tajam karena kemarahan.
“Sudah waktunya serius! Kau ingin kubinasakan, Mikado kudisan?!”
Ia memandang kedua lelaki di ruangan itu, yang sama-sama memiliki mata kemerahan.
“Kalian pikir hanya kalian yang boleh punya efek mata merah dan berlagak jago?!”
Dalam kepalanya, mereka resmi menjadi trio mata merah. Zhigalkovich jelas tidak mau kalah dalam urusan pamer.
“Si brengsek Mikado ini tidak mengerti bahwa aku selalu serius ingin memotong habis p*nis-mu!”
Ia mengambil ancang-ancang yang lebih dramatis.
“Katon: Gokakyu no Jutsu!”
Tidak ada api yang keluar. Tentu saja, Zhigalkovich bukan bagian dari klan Utchiha.
“Ah, brengsek! Jurusku tidak dapat digunakan. Lisensinya berat! Kau selamat kali ini, Mikado bajingan!”
Kegagalan itu tidak menghentikan makiannya. Ia hanya mengalihkan sasaran kepada Cassius.
“Kau juga bodoh, ya? Wajahmu tampak sangar, tetapi tidak paham soal batang besar. Jangan-jangan anumu sudah dikebiri dan tidak bisa ngaceng lagi, Kassius?!”
Tuduhan tanpa dasar kembali mengalir.
“Kalau diberi majalah dewasa, kau cuma bisa sedih karena tidak bisa ereksi, ya? Kau tidak memperoleh pendidikan yang baik? Tidak tahu pendidikan seksual?”
Ia menggeleng dengan keprihatinan palsu.
“Sudah kuduga, kau tidak bisa ngaceng. Ini bahkan lebih parah daripada Mikado yang kelaminnya kecil dan bijinya besar sebelah! Mengapa kalian berdua tidak ada yang normal? Brengsek sekali pihak yang memberi simulasi ini. Mengapa aku ditempatkan dengan dua orang idiot yang tidak bisa diharapkan?!”
“Lanjutkan yapping-mu,” ujar Cassius dingin. “Nanti aku sendiri yang akan menebasmu.”
Kesabarannya akhirnya menipis. Ia menarik katana dari pinggang dan melepas jaketnya. Tidak ada satu pun orang yang serius mencari jalan keluar—hanya lelaki mesum yang terus memprovokasi dan perempuan barbar yang tidak berhenti mengucapkan hal-hal tidak masuk akal.
“Sudah cukup bicara tidak senonoh, Nona. Aku juga memiliki batas kesabaran.”
“Eehh? Apa itu? Jurus pamungkas? Keren, kereen!” Mikado malah bertepuk tangan.
Zhigalkovich tadi tampak hendak menghajarnya dengan sihir. Bagi seseorang yang bisa keluar masuk perangkat komputer, pemandangan seperti itu tidak cukup aneh untuk membuatnya takut.
“Mataku sudah merah sejak lahir, loh,” lanjut Mikado. “Memang hanya berbeda sebelah. Tapi begini malah membuatku semakin tampan.”
Ia terbelalak, lalu tertawa terbahak-bahak ketika baru benar-benar mencerna tuduhan kepada Cassius.
“HAHAHAHA! Kau serius baru saja menyebutnya impoten?”
Cassius jelas sudah marah, tetapi hal itu hanya menambah hiburan Mikado.
“Hei, hei, tidak perlu emosi~”
Dengan santai, Mikado menahan tangan Cassius yang hendak menarik pedang lebih jauh.
“Jangan mudah tersulut. Jelas sekali dia cuma bocah sok jago. Orang seperti itu jangan ditanggapi serius~”
Ia kemudian menoleh kepada Zhigalkovich.
“Lagi pula, kami juga seharusnya protes, tahu. Masa kami ditempatkan bersama perempuan yang hanya bisa bicara? Kau sendiri mungkin tidak pernah melakukan hal aneh. Jadi kalau memang mau melakukan sesuatu, kami juga yang harus bergerak~”
Zhigalkovich mengeluarkan bunyi tsk-tsk-tsk. Dalam pikirannya melintas Tuskuru dalam legenda, Utawarerumono dalam topeng palsu, dan berbagai permainan peran yang sama sekali tidak membantu siapa pun keluar dari ruangan.
“Oh, jadi kau tersinggung?” katanya kepada Cassius, kini justru terdengar lebih santai.
Anehnya, Zhigalkovich dapat bersikap lebih dewasa ketika lawan bicaranya lebih dahulu marah. Meski demikian, kedewasaan itu hanya bertahan selama satu tarikan napas.
“Kalau tidak impoten, seharusnya kau tidak tersinggung. Berarti bijimu memang kecil kalau mudah marah seperti itu. Sama saja dengan si babi Mikado. Kalian ini kembar?”
Ia mengamati mereka bergantian.
“Sudah kuduga. Yang satu bermata merah dan punya luka. Yang satu lagi bermata merah dengan wajah kudisan. Kembar yang menarik.”
Tatapannya jatuh kepada Cassius.
“Raut wajah kurang ajarmu mengingatkanku pada kartun yang memakai teknik pernapasan. Kau karakter tiruan dari Kingmetsu no Kaiba, ya, Kassius?”
Kemudian ia kembali menoleh kepada Mikado.
“Hahaha, bagus, Mikudis! Kau harus memuji teknik terhebatku tadi. Sayangnya, jurusnya harus ditunda secara grafik dan animasi karena takut terkena copyright. Lisensinya harus dibayar, sedangkan tempat ini seperti penampungan hewan—apalagi ada yang wajahnya seperti babi sepertimu.”
Tawanya terdengar puas.
“Cassius jelas seperti orang yang gemar merokok. Pada bungkus rokok ada tulisan bahwa merokok dapat menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan, dan janin. Jadi sudah terduga ia impoten. Untung bukan hipotermia; nanti p*nis-nya menjadi es batu. Lucu, bukan?”
Mikado sempat menuduhnya hanya pandai bicara. Tuduhan tersebut kembali menyulut amarahnya.
“Kau pikir orang yang memahami anatomi tubuh tidak tahu hal semacam itu? Kau kira aku tidak bisa mengubah genre ini menjadi romansa dengan female domination? Namaku saja memiliki ‘Romance’ di dalamnya! Terlalu cepat seratus tahun bagimu untuk menuduhku tidak bisa begituan. Aku sudah berpengalaman seribu tahun menghina seseorang berwajah babi sepertimu, brengsek!”
“Tentu saja tidak. Punyaku normal!” Cassius akhirnya membela diri.
Keningnya berkerut saat menahan emosi. Ia teringat nasihat Kakek: ketidakmampuan mengendalikan amarah hanya akan membawa akibat buruk.
“Terserah apa katamu.”
Cassius menjauhi Zhigalkovich dan kembali memeriksa ruangan. Emosinya masih berada di puncak, tetapi ia tidak ingin terus dikendalikan oleh ocehan dua orang di belakangnya.
“Tempat ini membuatku frustrasi.”
“Ahaha! Katanya punyanya normal!” Mikado terbahak-bahak.
Ia lalu memprotes anggapan bahwa dirinya dan Cassius kembar.
“Eehh, mana mungkin. Kami tidak mirip. Lagi pula, aku lebih tampan.”
Kepercayaan dirinya tetap tidak tergoyahkan. Ia kembali duduk bersila di atas ranjang, tampak semakin terhibur karena Zhigalkovich terus merespons setiap pancingannya.
“Wah, Nona ini memang banyak membicarakan hal aneh, ya.” Mikado menopang wajah dengan tangan. “Baiklah, baiklah. Tapi bicara saja mudah, apalagi sejak tadi kau hanya menghina.”
Prinsip hidupnya selalu sama: fuck around and find out.
“Tidak apa-apa. Memahami anatomi belum tentu tahu apa yang harus dilakukan. Aku juga tidak yakin kau pernah memuaskan dirimu sendiri—atau bahkan tahu caranya. Ahahaha!”
Suara tawa Mikado menutup percakapan sementara. Pencahayaan lembut yang seharusnya menenangkan tidak berhasil meredam kekacauan mereka. Tidak ada gelombang persetujuan yang menyala pada layar, tidak ada satu pun tahap yang dinyatakan selesai, dan pintu asrama tetap terkunci rapat.