Diablo Voids
Chapter 3

Simplicity is Complex

9,810 words · ~45 min read

Antares, Luxya, Ken, dan Xandara

Kesadaran empat orang itu kembali hampir bersamaan. Kali ini mereka tidak terbangun di sebuah rumah atau kamar, melainkan di ruang kelas yang asing. Meja dan kursi tertata menghadap sebuah layar besar di depan ruangan. Pada layar itu, sebuah visual sinyal bergerak setiap kali suara statis terdengar dari pengerasnya.

Suara tersebut menjelaskan bahwa dua pengalaman yang baru saja mereka lalui merupakan contoh dari Dunia Mimpi dan Dunia Simulasi. Dunia Mimpi mampu memenuhi hampir seluruh imajinasi, tetapi menghasilkan pengalaman yang kabur. Dunia Simulasi terasa jauh lebih nyata, meski dibatasi sumber daya dan data. Keduanya hanyalah skenario untuk mengukur insting mereka.

Mereka kini mengikuti pelajaran tentang Cara Kerja Dunia. Dunia yang sedang mereka tempati dipenuhi hormon ketertarikan; rasa tertarik antarsesama individu merupakan sesuatu yang wajar di sana. Berdasarkan ikatan yang tanpa sadar telah mereka bangun di dua dunia sebelumnya, mereka diberi tantangan baru: membentuk sebuah tim yang hanya beranggotakan tiga orang dan memuat dua jenis kelamin. Dari empat orang di kelas itu, satu harus tersisih. Keberhasilan akan mendapat reward, sedangkan kegagalan akan dibalas dengan punishment.

Antares tersadar penuh setelah perjalanan di dua dunia itu. Pengalaman tersebut hampir mengganggunya karena dibumbui hal-hal yang tidak menyenangkan.

“Lain kali... berikan aku kesadaran saat memasuki dunia itu,” gumamnya pelan.

Tidak memiliki kendali dapat mengarahkannya melakukan sesuatu yang seharusnya masih bisa dipikirkan lebih dalam. Namun, mungkin semua itu merupakan pelajaran tentang betapa berbahayanya seseorang yang memiliki kuasa untuk mengendalikan sebuah dunia beserta peraturannya.

Mungkin orang itu ada di sekitar sini.

Di sisi lain, penjelasan layar mengonfirmasi kecurigaan Luxya bahwa dua percobaan sebelumnya memang mampu memengaruhi pikirannya. Wajahnya masam ketika kenangan samar itu kembali. Ia tidak banyak berkomentar selain memejamkan mata.

Pengalamannya benar-benar baru—menggelikan, tetapi sekaligus mendebarkan. Rona merah perlahan mengendap di wajahnya, sedangkan tengkuknya terasa dingin oleh keringat.

Dasar lonjakan hormon.

“Sekarang, apalagi?”

Ken memandang tiga orang lain di kelas tersebut. Setidaknya kali ini ia tidak kembali berhadapan dengan perempuan yang kemarin membuat gendang telinganya pedas. Akan tetapi, tugas yang diberikan layar tidak membuat keadaan menjadi lebih mudah.

“Ini sulit.”

Ia tidak ahli membangun hubungan, apalagi membentuk kelompok. Entah bagaimana nasibnya dalam tim ini.

“Hmp.”

Dengusan singkat terdengar dari Xandara tanpa ia perlu membuka mulut lebar-lebar. Segala sesuatu yang dialaminya sampai saat itu terasa seperti bagian dari meditasi panjang. Namun, alih-alih memperoleh ketenangan, suara kecil yang berdengung di sekelilingnya kini bertambah menjadi tiga.

Pengalaman pertama cukup membingungkan. Pada pengalaman kedua, sesuatu dijejalkan ke dalam dirinya di luar kendali. Sekarang pengaruh itu telah terlepas dan ia mulai memahami situasinya.

“Demi garis keturunan yang mereka butuhkan, mereka mengendalikan hasrat seseorang melalui penghargaan dan kejatuhan sebagai harga untuk bertahan hidup,” simpul Xandara dengan gamblang. “Sungguh ambisi yang pelik.”

Luxya membuka mata perlahan dan mengamati setiap penghuni kelas setelah selesai mencerna perkataan layar. Ia segera menemukan dua kenyataan.

Pertama, selain dirinya terdapat tiga orang lain. Salah satunya seorang perempuan yang bahkan jauh lebih tinggi daripada mereka; menatapnya terlalu lama saja terasa dapat membuat leher remuk. Seorang lainnya memiliki aura kelam. Kedua, Luxya kembali bertemu Antares, meskipun ingatan tentang pertemuan mereka terdahulu berasal dari Dunia Mimpi.

Hal itu merepotkan. Luxya masih bisa mengingatnya.

“Kalian sudah mendengar instruksi benda itu,” ujarnya sambil bergerak ke tengah ruangan. “Kita dikumpulkan dan... diseleksi secara tidak langsung.”

Ia menelaah beberapa ketentuan yang baru saja mereka terima.

“Sebagai permulaan, karena kita akan membentuk tim, kalian bisa memanggilku Luxya. Luxya Parhelion.”

Ada empat orang di sana dan salah satunya harus disisihkan. Keadaan itu menyedihkan: seseorang akan menerima punishment hanya karena tidak terpilih.

“Antares,” ujar Antares, mengikuti perkenalan Luxya.

Satu hal yang membuatnya cukup tertegun adalah perempuan raksasa di ruangan itu. Bukan karena ukuran tubuhnya, melainkan kesimpulan yang baru saja diucapkannya.

“Demi garis keturunan? Dari mana kesimpulan itu berasal?”

Xandara mengembuskan napas sebelum menjawab. Rasanya ia belum pernah memperkenalkan diri sebanyak ini.

“Xandara.”

Ia memandang Antares dengan tenang.

“‘Ikatan’ antara seseorang dan orang lain seharusnya menjadi sesuatu yang suci,” tuturnya, mengawali jawaban. “Dunia ini sepertinya memanfaatkan ‘ikatan’ itu secara kotor melalui dorongan keinginan terdalam seseorang dan tekanan dari hukuman. Kurasa hasil yang hendak dipetik dari sana adalah sebuah ‘keturunan’.”

Xandara berdiri dari kursinya—atau lebih tepatnya menegakkan tubuh dari posisi mengambang rendah yang dipertahankannya sedari tadi. Ia kembali memikirkan instruksi ruangan tersebut. Bekerja sama dengan sesamanya saja belum pernah, terlebih membentuk tim dengan orang-orang asing.

Ia tidak lagi berada di bawah pengaruh kedekatan batin yang ditanamkan secara paksa. Meski demikian, Xandara juga tidak merasakan bahaya dari orang-orang di sekitarnya. Keadaan ini tampaknya memang berada di luar kemampuannya.

“Kalian bisa menentukan sendiri,” ucapnya, merujuk pada pemilihan tim. “Mau mengikutsertakanku atau tidak, terserah kalian. Menjadi kawan ataupun lawan tidak berpengaruh bagiku.”

Xandara tidak berniat memalingkan mata. Seperti biasa, kali ini ia hanya akan melihat.

“Ken,” ujar lelaki berkesan kelam itu singkat.

Ia mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku dan mulai mencatat kejadian-kejadian yang telah dialaminya.

“Entahlah... Kemungkinan siapa pun di balik semua ini ingin melihat interaksi antarjenis, dilihat dari apa yang terjadi sebelumnya. Reward dan punishment kemungkinan juga tidak akan jauh berbeda.”

Nada dan tempo bicaranya datar, tanpa emosi. Yang dimaksud Ken tentu saja kejadian di Dunia Mimpi dan Dunia Simulasi.

Mereka tampaknya harus beradaptasi. Dari kesan pertama Luxya, orang-orang di kelas ini terdengar cukup bebal.

“Wow... kalian sudah berpikir sejauh itu,” kekehnya pelan. “Apakah kalian sudah berpikir untuk membangkang? Sudah berapa lama? Faktanya, apa pun yang kalian percayai di dunia asal tidak akan berguna saat berada di sini.”

Seringai tipis terbit di wajahnya. Luxya masih ingat betapa tidak berdayanya dirinya dalam dua percobaan sebelumnya. Sekarang ia memang memiliki kendali penuh, tetapi ia tetap ingin melihat bagaimana para penghuni lain berusaha mempertahankan kehendak mereka.

“Tolong jangan menjadi membosankan~” godanya.

Antares hanya menatap tanpa mengangguk. Ia mengabaikan pembicaraan yang berbau filosofi, sebagaimana mestinya. Kesucian hanyalah perspektif—pandangan yang tumbuh pada orang-orang yang terlalu terikat dengan entitas tidak nyata.

Xandara tidak akan pernah cocok dengan sistem yang dibangun dunia ini, pikirnya.

Berbeda dengan Antares yang tidak memiliki tujuan, perempuan raksasa itu masih mempunyai sesuatu untuk diikuti—setidaknya tugas untuk menjadi babu bagi sosok yang ia anggap sebagai Tuannya.

“Langsung saja. Aku akan mengikuti apa yang mereka minta,” jawab Antares.

Ia hanya mengikuti alur yang diberikan, tidak lebih. Antares juga tidak berniat menebak bentuk reward dan punishment karena data yang tersedia belum cukup.

“Perempuan raksasa itu meminta kita menentukannya sendiri,” lanjutnya kepada Ken dan Luxya. “Kalian mau membentuk tim? Dengan begitu masalah selesai.”

Usulan itu meluncur seperti bom. Persoalannya memang dapat berakhir dengan mudah, tetapi tim tersebut akan meninggalkan Xandara.

Entah mengapa, Ken tidak ingin melakukannya. Perempuan itu terasa familier. Ia seolah melihat dirinya sendiri dalam sosok orang lain. Meninggalkan Xandara terasa sama seperti meninggalkan dirinya sendiri.

“Namamu Xandara, bukan?” Ken berhenti menulis dan bangkit dari kursinya. “Mau membentuk tim denganku?”

Ia mengulurkan tangan ke arah Xandara. Keputusan itu dapat menghasilkan kebuntuan dua lawan dua sehingga seluruhnya menjadi korban. Bisa pula Ken sendiri yang tertinggal apabila Xandara memilih bergabung dengan orang lain. Kemungkinan lainnya, salah satu dari Antares atau Luxya bersedia masuk ke tim mereka.

Apa pun hasilnya, Ken telah melepaskan bom keputusan yang menentukan nasibnya sendiri.

Sepasang alis Xandara sedikit terangkat ketika Ken secara tak terduga mendekat dan memberinya penawaran.

“Hoo?”

Rasa familier yang tipis mengusiknya. Xandara menerima uluran itu—lebih menyerupai meraup telapak tangan Ken yang kecil dengan satu genggaman seperti tangan seorang bayi. Ia menariknya sedikit agar dapat memandang mata yang setenang gunung tersebut.

“Aku pernah melihat dua reaksi saat seseorang pertama kali melihatku. Ada yang berbeda darimu, ada pula yang seperti dirimu,” ujar Xandara sembari mengingat pengalaman-pengalamannya. “Di antara entitas-entitas yang lebih serupa denganmu... kau yakin tidak takut?”

“Haruskah aku takut kepadamu?” balas Ken dengan senyum tipis.

Ia berjalan melewati Xandara.

“Aku sudah lupa caranya.”

Deskripsi Ken lebih dekat kepada sosok yang ditakuti. Namanya sendiri merupakan kutukan—nama yang telah hilang bersama rasa takut, baik ketakutannya terhadap orang lain maupun ketakutan orang lain kepadanya.

Luxya menyaksikan perbincangan itu dengan senyum yang semakin mengembang. Semua tampak normal jika kenyataan lain tidak diperhitungkan.

“Kita tidak bisa membentuk tim hanya dari dua orang, Antares,” tanggapnya tenang.

Pandangannya beralih kepada Antares. Ia berjalan memutari lelaki itu, seolah melakukan pengamatan ulang setelah percobaan yang pernah mereka hadapi.

“Aku menerima pembentukan tim... tetapi aku harus melihat keuntungannya.”

Luxya mengalungkan kedua lengan ke leher Antares dan merangkulnya dari belakang. Dengan kekuatannya, ia membuat tubuhnya melayang agar dapat bertumpu dengan nyaman. Wajahnya tersembunyi di balik bahu Antares, tetapi tatapannya tetap tertuju pada Ken dan Xandara.

“Apa kau masih menjadi bawahanku? Seperti di dunia itu?” bisiknya.

Antares menyaksikan sesuatu yang tidak pernah ia duga akan terjadi. Namun, mengingat cara dunia ini memberi stimulus kepada lawan jenis, tindakan Luxya masih masuk akal.

Jelas ada penjelasan yang lebih masuk akal. Nafsu sedang menguasainya.

Kenangan buram dari Dunia Mimpi mulai memainkan perannya.

“Aku tidak pernah mempermasalahkannya,” jawab Antares mengenai sebutan bawahan.

Ia memiliki kendali atas perilaku dan persepsinya sendiri, sehingga kedudukan atau takhta dapat diabaikannya.

“Kita hanya perlu menghindari punishment. Aku akan mencoba alternatif lain.”

Selain merapikan bajunya, Antares tidak bergerak. Kemudian ia memandang Xandara.

“Semuanya terserah kepada kami, kan, Xandara?”

Antares tidak melupakan ucapan perempuan raksasa itu.

“Bagaimana kalau sekarang kau masuk ke tim ini—tim Luxya?”

Sekali lagi, ia hanya mengikuti alur yang tersedia. Pernyataan Xandara bahwa ia tidak peduli terhadap pemilihan tim dapat digunakan untuk menentukan pilihan atas namanya. Mereka hampir serupa: sama-sama dapat mengabaikan sesuatu. Hanya saja, Antares tidak terikat kepada apa pun.

Ken berbalik ketika mendengar tawaran tersebut. Ekspresinya tidak berubah. Sejak mengajak Xandara, ia sudah siap menghadapi kemungkinan semacam ini. Ia kembali duduk dan mencatat sesuatu tanpa memberi komentar, tidak menahan Xandara ataupun memintanya mengorbankan diri. Ia hanya ingin mengetahui keputusan apa yang akan diambil perempuan itu.

Keheningan sejenak melingkupi kelas. Semua orang memahami maksud pernyataan Antares. Ken telah memilih Xandara, sedangkan Antares menawarkan Xandara untuk memenuhi susunan tim bersama dirinya dan Luxya. Tim harus berisi tiga orang dengan dua jenis kelamin berbeda. Apa pun pilihannya, satu orang akan disisihkan.

Xandara menatap ketiga kepala di hadapannya tanpa menurunkan dagu. Ia telah menyaksikan cara makhluk hidup mengambil keputusan. Pada dasarnya, mereka—selain Luxya—hampir sama saja. Karena itu, ia tidak ingin bertele-tele. Tanpa empati ataupun keraguan yang menghambat, sebuah keputusan terbentuk.

“Jika itu pilihan kalian.”

Luxya melepaskan diri dari Antares. Jawaban Xandara terlalu tenang—jauh terlalu tenang.

“‘Pilihan kalian’?” tanyanya halus sambil kembali melayang, seakan berbaring di udara. “Siapa yang kau maksud?”

Ia mengamati Xandara lekat-lekat.

“Ken menawarimu. Antares juga menawarimu. Pernyataanmu sebelumnya terdengar bertentangan dengan keinginan untuk terus berpartisipasi.”

Luxya menapak kembali pada permukaan lantai yang dingin. Fasad tenangnya tidak berubah, tetapi pertanyaan berikutnya diberi tekanan.

“Katakan, Xandara. Apa yang sebenarnya ingin kau capai dalam ikatan kotor ini—ikatan yang akan membiarkan Ken tertinggal?”

Apa itu diperlukan?

Antares sekilas menimbangnya. Mungkin Luxya memang membutuhkan jawaban, sedangkan Xandara hanya meyakini jalan yang ditunjukkan kepadanya. Antares telah memahami garis besar keyakinan perempuan raksasa itu tentang kesucian dan pembentukan ikatan.

“Lakukan yang perlu,” katanya.

Ekspresi Ken tetap tidak berubah. Satu hal yang ia sayangkan adalah Xandara menentukan sikap berdasarkan pendapat orang lain, padahal ia telah memberinya kesempatan untuk memilih sendiri.

“Tawaranku masih sama,” ucap Ken. “Artinya, pilihanku tetap ingin berada dalam satu tim denganmu.”

Dengan demikian, kata kalian yang diucapkan Xandara tidak mencakup dirinya. Kalimat Luxya sedikit memengaruhi Ken—bukan secara emosional, melainkan memberi rangsangan untuk menyatakan hal yang selama ini ditahannya.

Prioritas Ken saat ini bukan menyelamatkan dirinya sendiri, melainkan membuat Xandara mengambil keputusan atas kehendaknya sendiri. Itu bukanlah kemunafikan.

“Aku harap, untuk pertama kalinya, kau bisa memutuskan berdasarkan pilihanmu sendiri, Xandara.”

Ken mendekati Luxya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berbicara sebanyak itu. Meskipun tubuh Xandara jauh lebih besar, perempuan tersebut tampak seperti anak kecil yang belum dapat menentukan pilihan.

“Luxya, dapat kusimpulkan bahwa kau bisa berada dalam tim mana pun selama hal itu menguntungkanmu?” tanyanya tanpa mengubah ekspresi.

Setelah itu, ia kembali menghadap Xandara. Ken tidak menanyakan Antares karena menduga lelaki tersebut lebih memprioritaskan pelaksanaan sistem daripada emosi.

“Aku tidak akan memprotes, marah, atau menumpahkan emosiku kepadamu. Aku hanya ingin kau memutuskan berdasarkan pilihanmu sendiri. Jika kau ingin satu tim dengan Luxya dan Antares, putuskan itu karena memang itulah keputusanmu.”

Xandara tidak menunjukkannya, tetapi emosi Luxya berada di luar dugaannya.

“Sebagaimana beradaptasi di dunia baru, terhubung dengan orang lain juga merupakan hal asing bagiku,” jelasnya kepada Ken. “Karena itu, aku mempercayakan keputusan tersebut kepada kalian dan melihat bagaimana kalian melakukannya.”

Ia mengingat kembali urutan yang baru saja terjadi. Ketika Ken menawarinya, lelaki itu berdiri sendiri. Luxya mendekati Antares, lalu Antares mengajaknya. Secara logika, ketiganya telah cukup untuk memenuhi syarat dibandingkan Ken yang seorang diri. Bahkan, selain Luxya, mereka bertiga tampak cenderung menerima apa pun yang telah digariskan.

Jadi, di mana letak kesalahannya?

“Aku tidak mengerti.”

Tatapan Xandara kini tertuju lurus kepada Luxya. Tidak ada ketersinggungan, hanya rasa penasaran.

“Seharusnya kau sudah menang jumlah. Bukankah itu yang terpenting? Jadi, mengapa kau masih memikirkan Ken? Apa berarti sesuatu jika aku meninggalkannya?”

Xandara merendahkan bahu dan menurunkan tubuhnya agar dapat melihat wajah Luxya dengan jelas.

“Kau... berbeda.”

Sorot matanya memperlihatkan ketertarikan pada cara berpikir Luxya.

“Ken dan Antares ‘menginginkanku’. Jika aku ‘memilihmu’ seorang—hanya dirimu—maka siapa yang akan kau tinggalkan?”

“Aku bisa menerima tim apa pun,” jawab Luxya sambil mengangguk pelan kepada Ken.

Kedua tangannya terulur dan terbuka sebagai pernyataan penerimaan. Ada perlawanan yang tumbuh dari jawaban Xandara. Luxya melihat percik emosi yang terpicu dan menikmatinya—percakapan yang digoyahkan oleh ego.

“Huft... apakah aku harus menjelaskan cara semua ini berjalan?”

Ia mempertahankan senyum sambil menggeleng pelan, merasa situasi tersebut lucu.

“Haha.” Luxya mendongak, membalas tatapan Xandara. “Pertama, ketentuan tidak akan terpenuhi hanya denganku. Kedua, aku tidak meninggalkan siapa pun, Xandara. Sejak awal aku tidak berpihak kepada apa pun.”

Tubuhnya kembali melayang, kali ini menyesuaikan posisi dengan perempuan raksasa di hadapannya.

“Aku hanya berada di antara kalian dan mempertanyakan pemikiran kalian dalam permainan takdir yang dilakukan penguasa tempat ini. Tiga orang dengan kepribadian tenang, asing, dan saling berempati. Bukankah kalian cocok?”

Ia tidak melewatkan kesempatan untuk menggoda ketika membaca emosi Xandara.

“Apakah kau peduli pada kesejahteraanku?”

Prinsip Antares tidak berubah. Prinsip itu terbentuk selama ia hidup di Bumi: bertindak sesuai kebutuhan. Ia hanya bergerak ketika mencari jawaban. Di ruangan ini, satu-satunya jawaban yang dibutuhkannya adalah apakah mereka mau atau tidak mau membentuk tim bersamanya.

Tugas hari itu sangat jelas: membentuk tim beranggotakan tiga orang. Masalahnya, orang-orang di ruangan tersebut memilih bersikap lentur, menghindari keputusan pasti dengan alasan yang terus berubah. Drama yang sama, hanya alasannya berbeda.

“Penawarannya sudah jelas,” ucap Antares.

Ia telah bertanya satu per satu dan menarik kesimpulan sendiri.

“Ken menolak. Xandara menolak dan memilih Luxya. Luxya juga menolak—meskipun pemikirannya akhirnya berubah. Aku tidak perlu menafsirkan lebih jauh lagi, kan?”

Bagi Antares, seluruh tanggapan mereka merupakan bentuk penolakan terhadap ajakannya. Ia telah melakukan apa yang semestinya dan memperoleh hasil yang diperlukan. Langkah berikutnya dapat dinilai oleh sistem.

“Kita akhiri ini.”

Ken tetap diam. Tujuannya telah tercapai ketika Xandara mengambil keputusan untuk memilih Luxya. Ia tidak mengomentari apa pun lagi. Ketika Antares meminta agar pembentukan tim diakhiri, Ken tidak memprotes ataupun memberi tanggapan.

Keheningan yang mengikuti ucapan Antares menjadi akhir dari perundingan mereka. Dari seluruh pilihan yang sempat dinyatakan, satu susunan akhirnya terbaca paling jelas: Ken tetap memilih Xandara, Xandara memilih Luxya, dan Luxya telah menyatakan bahwa ia dapat menerima tim apa pun.

Ketika batas waktu berakhir, layar menetapkan Ken, Luxya, dan Xandara sebagai tim yang lolos. Nama Antares tertinggal seorang diri. Dengan demikian, Antares menjadi pihak yang kalah dalam pembentukan tim tersebut, sementara bentuk punishment yang menantinya belum diperlihatkan.

 

Axel, Althea, Belladonna, dan Jeanny

Empat orang mendadak mendapati diri mereka berada di dalam sebuah ruang kelas. Meja dan kursi menghadap layar besar yang menampilkan visual sinyal; garis-garisnya bergerak mengikuti setiap suara statis yang keluar dari perangkat tersebut.

Layar menjelaskan bahwa dua pengalaman sebelumnya merupakan contoh dari Dunia Mimpi dan Dunia Simulasi. Dunia Mimpi dapat memenuhi hampir seluruh imajinasi, tetapi segala sesuatu di dalamnya cenderung kabur. Sebaliknya, Dunia Simulasi terasa lebih nyata, meski dibatasi oleh sumber daya dan data. Kedua pengalaman itu tidak lebih dari skenario untuk mengukur insting mereka.

Pelajaran yang sedang mereka ikuti disebut Cara Kerja Dunia. Dunia tersebut dipenuhi hormon ketertarikan, sehingga rasa tertarik kepada individu lain dianggap wajar. Setelah tanpa sadar membangun satu ikatan di Dunia Mimpi dan satu lagi di Dunia Simulasi, kini mereka harus memilih sendiri: membentuk tim yang hanya beranggotakan tiga orang dan terdiri atas dua jenis kelamin. Satu dari empat penghuni kelas harus tersisih. Layar menjanjikan reward bagi yang berhasil dan memperingatkan adanya punishment bagi yang gagal.

Apa ini serius?

Althea menghela napas. Penjelasan itu membuatnya memahami mengapa ia terus-menerus mendapati sosok asing di sisinya. Bahkan kali ini, tidak satu pun dari dua perempuan yang sebelumnya pernah berbagi ruangan dengannya berada di dalam kelas tersebut.

Ia sedikit lega karena belum melakukan apa pun pada dua pengalaman terdahulu—meskipun pada pengalaman kedua, ada sesuatu yang memaksa hasrat asing muncul dalam dirinya.

Althea mengangkat tangan kiri, sementara tangan satunya menekan topi untuk menyembunyikan sebagian wajah.

“Aku mundur.”

Seandainya semua anggota kelompok itu perempuan, mungkin ia dapat menerima tugas tersebut dengan senang hati. Namun, kemungkinan harus berkelompok dengan lelaki asing membuat perasaannya campur aduk.

Axel menatap Althea. Perasaan yang baru saja mereka alami memang nyata, tetapi sekaligus terasa bukan berasal dari diri mereka sendiri. Penjelasan layar menegaskan satu kenyataan: mereka telah dijadikan kelinci percobaan oleh seseorang.

“Bukan berarti aku ingin melarangmu,” ujar Axel, “tetapi hukuman yang akan kau terima bisa saja merupakan hal yang paling tidak kau inginkan.”

Ia tidak mengenal Althea secara pribadi. Pengunduran diri perempuan itu bahkan seharusnya menguntungkannya. Namun, ada rasa tidak nyaman di dadanya apabila persoalan ini berakhir semudah itu—terlebih jika hukuman bagi orang yang tersisa ternyata berat.

“Aku tidak ingin mengakuinya, tetapi tempat ini memiliki aturan sendiri. Seolah-olah siapa pun yang berada di balik semua ini memegang kendali penuh.”

Dugaan Axel bukan tanpa alasan. Di Dunia Mimpi, ia memperoleh berbagai hal yang didambakannya, seolah isi kepalanya dapat dibaca. Di Dunia Simulasi, tubuhnya dipengaruhi sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dunia ini tampaknya dapat berubah mengikuti kehendak sang dalang.

“Biarkan aku memastikan,” lanjutnya. “Kau tetap bersedia mundur, apa pun konsekuensinya?”

Belladonna menyandarkan tubuh ke dinding sambil menyimak percakapan mereka.

Realitas? Namun, apa benar sekarang kami berada di dunia nyata?

Setelah mengalami dua skenario berturut-turut, Bella mulai sulit memercayai apa pun. Ia memang tidak langsung menolak instruksi layar, tetapi keadaan ini tetap terasa janggal. Setelah sekian lama hidup sendiri, kini ia mendadak diatur oleh seseorang yang bahkan tidak diketahui wajahnya—atau mungkin oleh dunia yang sedang mereka tempati.

“Kurasa asumsi Tuan itu tidak salah, Nona,” katanya kepada Althea. “Hukuman yang dimaksud... bisa saja lebih buruk daripada hal yang diperintahkan. Sebaiknya pikirkan sekali lagi sebelum memutuskan.”

Setelah berkata demikian, Bella mengalihkan pandangan kepada seorang lelaki yang sedari tadi diam. Wajahnya terasa familier. Mungkin ia pernah melihatnya—atau mungkin lelaki itu salah satu sosok yang ditemuinya dalam pengalaman terdahulu.

“Apa kita pernah bertemu?” tanyanya kepada Jeanny.

Jeanny tidak memberi jawaban. Keberadaannya tetap tenang di tengah percakapan yang terus berlangsung.

“Aku rasa... tidak apa-apa,” jawab Althea kepada Axel.

Keraguan masih terdengar dalam suaranya. Namun, hanya ada empat orang di dalam kelas; seseorang pasti akan terasing. Jika hukuman itu benar-benar lebih buruk daripada tugas yang diperintahkan, Althea setidaknya tidak akan merasa bersalah apabila tetap pada keputusannya untuk mundur dan membiarkan tiga orang lain membentuk kelompok.

Sejujurnya, ia takut. Ini bukan rumahnya. Ia tidak mengetahui alasan dirinya dibawa ke tempat tersebut, dipasangkan dengan orang lain, lalu diatur sedemikian rupa. Ia juga tidak tahu apa yang akan terjadi jika menolak aturan.

“Ini pilihan yang sulit. Di antara kita berempat, harus ada seseorang yang tidak berpartisipasi. Mau ataupun tidak, seseorang harus berkorban atau dikorbankan. Bohong kalau aku bilang tidak takut terhadap hukuman yang akan menimpaku nanti, tetapi aku...”

Ucapan Althea terhenti. Ia meremas roknya sambil menunduk. Seluruh pengaturan ini membuat kepalanya pening dan semakin ragu mengambil keputusan.

Jika ia melakukan segala cara hanya agar dapat pulang, apa yang akan dikatakan Nona Thea ketika tujuan itu akhirnya tercapai?

Mencoba menghasut orang lain untuk memberontak di dunia yang sepenuhnya asing? Atas dasar apa?

Mereka memang diculik dan diperintah melakukan hal yang tidak senonoh, tetapi sejauh ini tidak ada yang benar-benar terluka. Melihat Bella yang tampak tenang, perempuan itu pun sepertinya tidak terlalu mempermasalahkannya. Seperti yang dikatakan Axel, siapa pun pelakunya memiliki akses penuh terhadap dunia ini.

Mereka semua hanya berusaha bertahan hidup di tengah ketidaktahuan.

“Aku tidak akan menyebutnya sebagai mengorbankan dan dikorbankan.”

Axel menyeret kursinya dan menempatkannya tepat di hadapan Althea. Ia menatap langsung mata perempuan itu dari jarak dekat.

“Sekali lagi kutanya, apakah ini benar-benar yang kau inginkan?”

Althea tidak segera menjawab.

“Kalau kau tidak ingin mengorbankan diri, kita dapat menentukan tim dengan aturan yang disepakati sebelumnya,” lanjut Axel. “Bisa melalui kompetisi kecil, pertaruhan keberuntungan, atau cara lain yang kita sepakati. Dengan kata lain, aku, kau, dia, dan dia memiliki kesempatan yang sama—baik untuk selamat maupun menerima hukuman.”

Axel menyampaikan gagasannya dengan jelas dan tegas. Ia seorang idealis. Jika semua orang di ruangan tersebut sama-sama ingin menghindari hukuman, mereka patut memperoleh kesempatan untuk memperebutkan tempat yang tersedia, bukan menerima pengorbanan setengah hati.

So, your choice?

“Ohh! Ide yang bagus!” Bella segera menyahut. “Setidaknya pembagian kelompok dapat dilakukan dengan adil kalau kita menentukannya seperti itu!”

Bella sendiri tidak akan sudi menjadi orang yang begitu saja ditinggalkan. Namun, jika keputusan dibuat melalui sebuah permainan, ia tidak akan terlalu berat hati meskipun kalah.

Ia bangkit dari kursi, lalu memeluk Althea dari belakang.

“Ayo, kita ikuti saja saran Tuan itu agar lebih adil. Eh, omong-omong, namaku Bella. Siapa nama kalian?”

Tak lama kemudian, ia kembali menoleh kepada lelaki yang sedari tadi diam.

“Dan... oh, sepertinya aku ingat! Jeanny, kita bertemu lagi!”

Althea mengembuskan napas. Menentukan semuanya melalui permainan memang terasa lebih masuk akal daripada tidak menggunakan aturan apa pun.

“Baiklah, kalau begitu,” katanya. “Namun, aku yakin kita berasal dari dunia yang cukup berbeda dengan apa yang kupelajari. Apa permainan dan aturannya bisa sama?”

“Hm, pilihan kita memang terbatas—kecuali kita dapat meminta alat permainan,” ujar Axel sambil menyentuh dagu, seolah berpikir. “Well, apa pun pilihannya, sebaiknya persoalan ini segera diselesaikan.”

Ia memandang ketiga orang lainnya.

“Yang terpikir olehku adalah permainan sederhana seperti gunting-batu-kertas atau permainan kejar-kejaran dalam batas waktu tertentu. Di dunia kalian ada permainan semacam itu juga, kan?”

“Oh, aku tahu!” jawab Bella. “Kalau aturannya tidak berbeda, gunting-batu-kertas adalah permainan tangan untuk menyelesaikan konflik kecil atau melakukan pemilihan acak melalui tiga isyarat tangan, bukan?”

Ia memperagakan penjelasannya.

“Yang pertama batu, dengan tangan mengepal. Kedua gunting, dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk gunting. Ketiga kertas, dengan tangan terbuka.”

Bella kemudian berpindah ke usulan berikutnya.

“Kalau kejar-kejaran, salah satu orang ditunjuk menjadi kucing, sementara yang lain menjadi tikus. Kucing harus mengejar salah seorang sampai orang yang tertangkap menggantikannya berjaga. Tetapi karena permainan itu mengandalkan fisik, bukankah siapa pun yang daya tahannya paling lemah akan kalah secara otomatis?”

Ia menyentuh dagu sambil berpikir. Daya tahan tubuh Bella cukup tinggi karena para Helden tidak jauh berbeda dari kesatria. Mereka harus mampu melindungi diri apabila bertemu naga yang agresif. Namun, ia tidak mengetahui keadaan tiga orang lainnya—terutama Jeanny, yang pada pertemuan pertama tampak seperti seseorang yang jarang melakukan aktivitas fisik dalam waktu lama.

Gunting-batu-kertas dan kejar-kejaran... bukankah itu terdengar seperti permainan anak-anak?

Althea baru menyadari bahwa sejak kecil ia tidak pernah benar-benar memiliki teman untuk bermain. Ia lebih memilih belajar dan membaca buku daripada bersosialisasi. Penjelasan Bella setidaknya membuatnya memahami aturan permainan itu sedikit demi sedikit.

“Kalau begitu, gunting-batu-kertas lebih cocok untuk keadaan ini, kan?” katanya. “Aturannya juga lebih sederhana.”

Jauh lebih sederhana daripada permainan kartu atau permainan lain yang sempat muncul dalam pikirannya.

“Baiklah. Kalau begitu, begini saja.” Axel menunjuk Jeanny. “Aku dan dia bermain lebih dahulu, lalu kalian berdua. Para pemenang langsung aman. Dua orang yang kalah akan bermain sekali lagi untuk memperebutkan tempat terakhir. Setuju?”

Tidak ada usulan lain yang diajukan. Axel mendekati Jeanny untuk memulai permainan.

“Ah, iya. Aku belum tahu nama kalian. Perkenalkan, namaku Axel Morfain.”

Permainan pertama berlangsung antara Axel dan Jeanny. Hasilnya menempatkan Axel sebagai pemenang.

“Sepertinya keberuntungan berada di pihakku.”

Berikutnya, Althea berhadapan dengan Bella. Bella memenangkan putaran tersebut.

“Aku... juga menang, ahaha~”

Bella memang tidak berniat kalah, tetapi entah mengapa ia tetap merasa bersalah.

“Ah, nama lengkapku Belladonna de Valois. Panggil saja Bella~”

Dengan demikian, tempat terakhir harus diperebutkan oleh Althea dan Jeanny. Althea menatap tangannya ketika isyarat terakhir mereka diperlihatkan. Secara kebetulan, ia menang meskipun baru pertama kali memainkan permainan tersebut.

Beginner’s luck? Mungkin.

Keadaan itu terasa agak menyedihkan. Althea yang sejak awal bersikeras mundur justru memperoleh tempat terakhir. Setelah menerima aturan permainan, ia tidak lagi dapat mengelak ataupun memprotes hasilnya.

“Namaku Althea Celestia,” ujarnya. “Kalian bisa memanggilku Tia atau Althea, mana yang terasa lebih nyaman.”

Hasil permainan akhirnya menyisakan Axel, Bella, dan Althea sebagai tim beranggotakan tiga orang. Jeanny menjadi satu-satunya penghuni kelas yang tidak memperoleh tempat.

 

Leah, Zhigalkovich, Cassius, dan Mikado

Empat orang mendadak tersadar di sebuah ruang kelas. Di depan deretan meja berdiri layar besar dengan visual sinyal yang bergerak setiap kali suara keluar darinya. Suara statis itu menjelaskan bahwa pengalaman terdahulu merupakan Dunia Mimpi dan Dunia Simulasi. Dunia Mimpi dapat memenuhi hampir seluruh imajinasi, tetapi hasilnya kabur; Dunia Simulasi terasa lebih nyata, meski dibatasi sumber daya dan data.

Kedua pengalaman tersebut hanyalah skenario untuk mengukur insting. Mereka kini mengikuti pelajaran tentang Cara Kerja Dunia—dunia yang dipenuhi hormon ketertarikan sehingga rasa tertarik antarsesama individu merupakan sesuatu yang wajar. Setelah membangun dua ikatan tanpa menyadarinya, masing-masing di Dunia Mimpi dan Dunia Simulasi, mereka harus membentuk tim beranggotakan tepat tiga orang yang terdiri atas dua jenis kelamin. Dari empat orang di kelas, satu harus tersisih. Layar menjanjikan reward bagi keberhasilan dan punishment bagi kegagalan.

Zhigalkovich bangun dengan keinginan sederhana: menggosok gigi. Sayangnya, tidak ada sikat gigi. Sebagai gantinya, di depan kelas sudah tertancap layar besar yang menurutnya lebih cocok dipakai untuk menonton bersama.

Dan benar saja, adegan-adegan ngawur dari dua pengalaman sebelumnya diputar di sana.

“Fu-ha, tahi kucing?! Aku pernah sekamar dengan seseorang? Bahkan secara tidak sengaja sampai dua kali?” serunya. “Dan apa-apaan karakter di sana? Berlagak seperti tokoh utama, sok keren begitu. Dia tidak tahu, lebih baik punya toko kelontong daripada jadi tokoh. Tokoh itu karakter, sedangkan toko kalau punya pelanggan bisa menghasilkan uang berlimpah.”

Penjelasan layar beralih kepada punishment.

“Hah, punishment? Itu gim baru lanjutan Gray Raven? Sepertinya kita berada di masa depan setelah bertahun-tahun berlalu. Dunia ini unik. Seharusnya ada banyak orang ngawur di mana-mana. Aku jadi ingin memaki mereka.”

Zhigalkovich tetap santai menonton sampai layar memerintahkan mereka membuat tim beranggotakan tiga orang.

“Membentuk tim tiga orang? Apa nanti ada guru pembimbing? Aku jadi kepikiran komik Naver yang tokoh utamanya bernama Naver Uzusalto. Dia satu tim sama Sayuri Hatano dan si Sasule Prikitiew!”

Mulailah ia melantur.

Intinya, Zhigalkovich jelas kebingungan setelah bangun. Ia tidak tahu harus berbuat apa, tidak tahu harus mencari tim ke mana, dan mungkin terlalu malu untuk bertanya. Dalam kebingungan, hatinya merana. Oh, bagaimana jalan cerita ini akan berjalan?

“Hah? Apaan sih ini?” Mikado mendecih kesal. “Seriusan kita disuruh belajar lagi? Malas banget.”

Ia merebahkan kepala di atas meja. Kalau tempat itu memang kelas, seharusnya ia boleh tidur sesukanya.

Setelah mendengar penjelasan tentang kejadian sebelumnya, Mikado menyimpulkan bahwa ia berada dalam sebuah simulasi—simulasi yang terlalu nyata.

“Heh. Kalau begitu, cewek-cewek itu masih ada di sini, dong?”

Ia ingin bertemu mereka lagi. Sejak awal Mikado sudah menduga bahwa dunia tersebut dipenuhi sesuatu yang memengaruhi hasrat. Namun, ia tidak terlalu peduli. Dalam pandangannya, pengaruh itu justru memberinya kebebasan untuk bertindak sesuka hati tanpa konsekuensi.

Masih ada konsekuensi, Mikado. Namun, sekali lagi, kau tidak peduli.

“Hm? Tiga orang?”

Mikado melirik sekeliling. Ada empat orang di dalam kelas.

“Eeeh, jadi kita harus mengeliminasi satu orang? Boleh juga, nih.”

Ia tertawa. Entah jenis eliminasi apa yang sedang dibayangkannya.

Semua ini terasa tidak masuk akal bagi Leah. Kali ini ia berada di sebuah kelas bersama tiga orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Perlahan, ingatan tentang Dunia Mimpi dan Dunia Simulasi bermunculan secara samar di kepalanya.

Raut wajahnya memperlihatkan sedikit kegelisahan. Ia merasa sedang dipermainkan. Tatapan birunya tertuju pada layar yang memerintahkan mereka membentuk tim tiga orang, menyisihkan satu anggota, lalu menjatuhkan hukuman kepada yang tersisih.

Leah melirik tajam perempuan yang paling dahulu berbicara. Zhigalkovich terdengar seperti baru saja mengonsumsi obat yang tidak semestinya.

“Bahasamu kasar sekali,” ketus Leah singkat dan malas.

Kemudian Mikado ikut angkat suara. Menurut Leah, lelaki itu tampaknya sama tidak warasnya dengan perempuan pertama. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, mencoba memberi dirinya sedikit tambahan kesabaran.

“Ini permainan yang aneh dan tidak masuk akal,” katanya. “Namun, mungkin kita bisa membuat suasana di sini tidak terlalu membingungkan dengan saling memperkenalkan diri terlebih dahulu.”

Sang puan meletakkan tangan di dada.

“Perkenalkan, namaku Leah Pereshati. Kalian bisa memanggilku Leah.”

Leah jelas tidak menyukai Zhigalkovich ataupun Mikado. Meski demikian, ia harus tetap berinteraksi dengan keduanya demi kepentingannya sendiri—demi membangun keadaan yang lebih mudah dipahami.

Cassius memandang layar di hadapannya. Ternyata segala sesuatu yang telah dilalui bukanlah kenyataan. Penjelasan itu membuat keanehan perempuan-perempuan yang pernah ditemuinya sedikit lebih masuk akal, mulai dari perempuan setengah binatang sampai perempuan sebesar Titan.

“Mimpi dan simulasiku enggak pernah mempertemukanku dengan orang normal,” gumamnya.

Ia kemudian menanggapi gagasan Mikado.

“Secara tidak langsung, kita harus mencari seseorang yang bersedia menjadi tumbal atau memaksanya menjadi tumbal.”

Mereka seakan dipermainkan secara mental untuk menentukan siapa yang akan tereliminasi. Keadaan menjadi lebih sulit karena bentuk reward dan punishment sengaja tidak dijelaskan.

“Cassius, dari suku Pygmy,” ujarnya sebagai balasan atas perkenalan Leah.

Setelah itu ia diam lagi. Cassius sama sekali tidak memahami tokoh-tokoh yang disebut Zhigalkovich.

Siapa Naver, Sayuri, dan Sasule? Apa mereka orang terkenal?

Zhigalkovich mendengar protes Leah terhadap pilihan kata-katanya. Makian dan bahasa kasar memang tersusun rapi dari mulutnya yang manis, tetapi ia sama sekali tidak merasa mulutnya kotor.

Sopan santun hanyalah kemunafikan. Manusia perlu bersikap kurang ajar agar bisa memaki sesama dengan leluasa.

“Fu-ha? Hah? Kau memprotes kata-kataku?” tanyanya dengan nada kesal. “Bagiku semua ini tidak aneh. Kau yang baru keluar dari kehidupan mungkin merasa ini enggak bagus, tetapi sebenarnya bagus-bagus saja. Sepertinya pembuat gim ini sudah memikirkan naskahnya dengan baik.”

Ia belum selesai.

“Kau seharusnya senang, Leah Pereshati. Dengan serpihan hati penulis naskah, dia mencoba membuat kita berdiskusi dengan bijak. Namun, itu bikin pusing. Kata-kata kasarku akan sulit terlaksana karena kalian sepertinya orang-orang baperan.”

Panjang sekali ucapannya. Beruntung, Zhigalkovich belum benar-benar memaki Leah. Pereshati masih cukup aman untuk saat itu.

Leah yang memperkenalkan diri tampak seperti sedang mencari teman. Seolah-olah ia berkata, Hei, Teman, apakah kamu ingin berteman dengan Leah?

“Apalah arti sebuah nama, Pereshati. Namaku Zhigalkovich. Kau harus mengingatnya. Kalau tidak, akan kumaki bola matamu yang menyebalkan itu.”

Bagaimanapun anehnya cara bicara Zhigalkovich, ia tetap memperkenalkan diri.

Kemudian perhatiannya tertuju pada lelaki berbekas luka dengan rambut tidak simetris. Menurutnya, Mikado tampak seperti ingin bergaya, tetapi hasilnya justru kelihatan norak.

Pfft, konsep rambut orang itu enggak jelas. Aku ingin menghina, tetapi masih kutahan.

Lelaki lainnya memperlihatkan wajah yang menurut Zhigalkovich tampak bodoh, lalu berbicara sok keren sebelum kembali diam seperti seorang pemalu yang menunggu diajak bicara. Mungkin Cassius sedang menggumam dalam hati, tetapi Zhigalkovich tidak ambil pusing.

Ia menoleh dan mengacungkan jari tengah kepada Cassius. Gestur itu seolah berkata, You’re culun. Fuck you, geek.

“Eh? Aku enggak masalah dengan cara dia bicara, kok,” ujar Mikado sambil mengangkat bahu dan tertawa.

Semua orang di kelas ini tampak menarik baginya.

“Waah, sudah tiga kali diajak cewek berkenalan. Jadi senang, nih. Ya sudah, aku Mikado. Boleh panggil Mika atau Mikado, bebas. Mau panggil ‘sayang’ juga boleh~”

Tawanya terdengar renyah.

“Hmmm... buat apa memaksa seseorang berkorban kalau kita bisa membuat satu orang mati?”

Mikado memiringkan kepala. Belum apa-apa, ia sudah mengucapkan sesuatu yang tidak pantas lagi.

Dari ketiga orang itu, Cassius terlihat paling normal bagi Leah—setidaknya berdasarkan kesan pertama. Ocehan Zhigalkovich ia perlakukan seperti angin lalu. Leah tidak memiliki tenaga untuk membalas setiap provokasi perempuan tersebut.

“Cowok berambut putih itu ada benarnya,” ujar Leah dengan wajah tertunduk. “Pertama, kita minta seseorang untuk berkorban. Kedua, kalau dia menolak, kita bunuh saja.”

Leah adalah anak ningrat, tetapi entah mengapa ia tidak pernah takut mengancam nyawa orang lain. Ia memang jarang melakukannya karena lebih mengutamakan pencitraan di depan media sosial. Leah mungkin merupakan perempuan paling fake yang pernah dikenal seseorang. Ia mampu menyatakan cinta ketika hatinya tidak merasakan apa-apa.

“Jadi, Mikado, tolong berkorbanlah dan terima punishment itu,” perintahnya.

Tatapan Leah tidak bergeser sedikit pun.

“Jasamu akan kami ingat.”

Ia memberi jeda sebelum menjelaskan pilihannya.

“Kalau kau bertanya kenapa aku memilihmu: pertama, Cassius terlihat seperti pria baik-baik yang masih memiliki tanggung jawab untuk diselesaikan. Kedua, Zhigalkovich memang bermulut pedas, tetapi dia seorang perempuan yang seharusnya dilindungi. Kau, Mikado, adalah satu-satunya pria gila yang tampaknya sanggup mengemban hukuman itu.”

“Eeeh? Kenapa begitu? Curang bangeeet!”

Mikado terlihat tersinggung, tetapi pada akhirnya tertawa juga. Dengan santai, ia mengacak-acak rambut Leah.

“Aaaww, lihat anak polos satu ini~~ Kau tahu enggak? Orang yang kelihatannya baik-baik saja bisa jadi orang paling buruk yang pernah kau kenal~”

Ia menatap Leah dengan seringai lebar.

“Tuh, buktinya. Kau kelihatan seperti anak pendiam dan pintar, tetapi dengan santai menyuruh orang berkorban. Melihat sikapmu begitu, kalau aku jadi mereka, kau justru orang pertama yang akan kusingkirkan~”

Ucapan Mikado menjadi ironi terakhir bagi Leah. Sebelum perdebatan itu berkembang lebih jauh, batas waktu pemilihan berakhir.

Layar kemudian menetapkan Cassius, Zhigalkovich, dan Mikado sebagai tim yang lolos. Leah menjadi satu-satunya penghuni kelas yang tidak memperoleh tempat. Perempuan yang semula menunjuk orang lain untuk menerima hukuman itu justru menjadi pihak yang kalah, tanpa mengetahui bentuk punishment yang menantinya.

 

Soraya, Zion, Leon, Priscilla, dan Caroline

Lima orang mendadak berada di sebuah ruang kelas. Deretan meja menghadap layar besar yang menampilkan visual sinyal; bentuknya bergerak mengikuti suara statis dari perangkat tersebut.

Suara itu menjelaskan bahwa dua pengalaman yang baru saja mereka lalui merupakan contoh dari Dunia Mimpi dan Dunia Simulasi. Dunia Mimpi sanggup memenuhi hampir seluruh imajinasi, tetapi segala sesuatu di dalamnya cenderung kabur. Dunia Simulasi jauh lebih realistis, meski dibatasi oleh sumber daya dan data. Keduanya hanya skenario untuk mengukur insting mereka.

Mereka kini mengikuti pelajaran tentang Cara Kerja Dunia. Dunia tersebut dipenuhi hormon ketertarikan, sehingga ketertarikan antarsesama individu dianggap wajar. Setelah membangun satu ikatan di Dunia Mimpi dan satu lagi di Dunia Simulasi tanpa menyadarinya, mereka diperintahkan membentuk tim beranggotakan tepat tiga orang yang terdiri atas dua jenis kelamin. Dua dari lima penghuni kelas akan tersisih. Layar menjanjikan reward bagi yang berhasil dan punishment bagi yang gagal.

“???”

“?????”

“?????????”

Ingatan tentang Dunia Mimpi dan Dunia Simulasi membuat tubuh Leon membeku. Semburat merah terpancar jelas di pipinya.

Sial, sial, sial, sial. Bagaimana aku bisa melakukan itu dengan orang yang sepenuhnya asing?!

Leon ingin mengubur dirinya sendiri.

Zion mengulum bibir dan terdiam seribu bahasa ketika suara statis menjelaskan alasan mereka terus terbangun di tempat berbeda bersama perempuan yang berbeda pula. Kedua tangannya menutupi wajah. Ia malu setelah mengetahui dirinya dipermainkan. Pihak asing tersebut pasti mengetahui semua perbuatannya terhadap perempuan-perempuan yang bahkan tidak sempat ia kenali.

“Brengsek—!”

Zion mengangkat sebuah bangku dan hampir melemparkannya ke layar. Ia baru mengurungkan niat ketika layar kembali berkedip dan mengumumkan tantangan pembentukan tim. Tiga orang yang berhasil akan memperoleh hadiah—setidaknya kesempatan untuk terbebas dari situasi mencekam itu.

Perlahan, Zion menurunkan bangku dan kembali duduk termenung. Sebelumnya ia sempat bersemangat karena merasa menemukan dunia yang menyambut kehadirannya. Kini ia tahu bahwa dirinya tidak lebih dari bagian permainan menjijikkan seseorang.

Tidak akan ada yang memilihku.

Ia sudah terbiasa menjadi pilihan terakhir dalam setiap keadaan. Itulah salah satu alasan ia tidak memiliki keluarga, teman, ataupun kekasih yang sekadar ingin mengetahui keberadaannya sekarang.

Zion memejamkan mata sejenak, lalu beralih kepada Leon yang tampak sama gelagapnya.

Dia lanang beneran, kan?

Aneh rasanya melihat sesama laki-laki setelah dua dunia berturut-turut selalu menjebaknya bersama perempuan. Setidaknya Zion tidak sendirian menanggung malu.

Ia menggeser bangkunya mendekati Leon.

“Hei, Bung. Kau mengalaminya juga, kan? Saat kau kehilangan kendali dan...”

Zion menurunkan suara menjadi bisikan sambil memberi isyarat dengan kedua tangan tentang hubungan badan. Ia sedang mencari persamaan di tengah ketidakpastian. Ancaman punishment tidak disukainya, dan ia tidak dapat membayangkan keadaan yang lebih buruk daripada ini. Seperti biasa, Zion mengandalkan bakatnya untuk lari dari tanggung jawab.

“Dengar, bagaimana kalau kita satu tim? Kau bisa pilih salah satu gadis di sana. Aku enggak peduli yang mana.”

Ia menaikkan kedua alis, berusaha terdengar meyakinkan.

“Toh, nanti kita bakal bertemu banyak cewek yang lebih cantik dan, kau tahu... lebih besar. Maksudku benar-benar besar. Bisa kau bayangkan ada perempuan yang tingginya setara tiang listrik? Aku pernah bertemu salah satunya di alam mimpi. Dia lebih cantik daripada semua yang ada di sini, sumpah. Masa kau enggak penasaran? Aku tidak keberatan berbagi.”

Zion benar-benar mengira seluruh lelaki berpikiran cabul seperti dirinya.

Soraya menatap layar sambil berkedip-kedip, lalu mencubit pipinya sendiri.

Mimpi, tetapi bukan mimpi. Sebuah program?

Ia tidak cukup memahami teknologi untuk mencerna seluruh penjelasan tersebut. Namun, ada tiga kesimpulan yang dapat ditangkapnya. Pertama, kejadian dalam mimpinya bukanlah mimpi biasa. Kedua, kejadian itu juga bukan kenyataan—lebih seperti dunia pura-pura. Ketiga, ia sudah tidur bersama dua lelaki berbeda dalam satu malam.

Secara harfiah.

Tetap saja, rasanya tidak pantas.

“Ah, aku tidak bisa menikah setelah ini.”

Bukan berarti Soraya memang berniat menikah.

Keributan di belakang membuatnya berbalik. Ia segera mengenali salah satu dari dua pemuda yang sedang berbicara. Ingatannya menjadi lebih jelas: kamar asing dan permen aneh yang mereka temukan.

“Leon, kan?” tanyanya, antara malu dan ingin memastikan.

Kemudian ia memandang pemuda yang satu lagi.

“Dan kamu?”

Leon terlalu terpaku pada pengumuman sampai tidak menyadari ada lelaki lain di kelas. Akhirnya ia memperoleh kawan senasib—tunggu dulu.

Ia hampir tersedak ludah sendiri ketika Zion terang-terangan menyinggung kejadian dalam simulasi. Bisa-bisanya lelaki itu membicarakannya begitu saja. Lalu, apa maksudnya dengan perempuan sebesar tiang? Benarkah ada orang setinggi itu? Leon sulit percaya.

Ia masih malu, tetapi menyembunyikannya di balik senyum.

“Setidaknya perkenalkan dirimu dahulu,” ujarnya sambil menyentil dahi Zion. “Dan jangan perlakukan para gadis itu seperti barang. Bukankah kita harus menanyakan persetujuan mereka?”

Tak lama kemudian, Leon mendengar suara yang familier—suara perempuan yang ditemuinya di Dunia Mimpi. Ketika menoleh, ia menyadari bahwa dirinya tidak sedang berimajinasi. Wajahnya langsung berubah cerah.

“Soraya!”

Leon bangkit dari kursi dan melesat ke sisi gadis tersebut.

“Bagaimana pendapatmu tentang pembentukan kelompok tadi? Mau satu kelompok denganku? Oh, tetapi mungkin kita juga akan bersama orang yang di sana.”

Ia menunjuk Zion dengan ibu jari.

Omong-omong, sebenarnya kelompok ini dibentuk untuk apa?

Zion tersentak mundur ketika dahinya disentil. Ia meringis sambil mengusap bagian yang terkena.

“Halah, kau mau sok jadi orang paling suci sekarang, hah? Kau salah tempat!” sergahnya sambil memelototi Leon. “Coba kalau kau yang ditanya mau sukarela dihukum atau enggak. Jelas enggak mau, kan?!”

Ia membuang muka dan menyilangkan kedua tangan seolah kesal. Ucapan Leon menyudutkannya agar terlihat seperti penjahat. Padahal, keputusannya menghasut Leon untuk membentuk tim memang sudah membuatnya tampak buruk. Secara tidak langsung, Zion tidak segan membiarkan dua perempuan lain dijatuhi hukuman—hukuman yang ia yakini akan lebih gila daripada pengalaman sebelumnya.

Mendengar Soraya berbicara dan melihat reaksi Leon, Zion segera menyimpulkan bahwa keduanya pernah dipasangkan di salah satu dunia terdahulu. Ia melirik mereka dengan tatapan kritis.

Model cewek seperti ini enggak mungkin dianggurkan di ranjang. Rugi banyak.

Antusiasme palsunya luntur setelah Leon menunjuknya sebagai calon anggota tim. Bagus. Namun, melihat keduanya masih bersikap seolah ini sekadar pembagian kelompok belajar membuat Zion kehabisan pikiran.

“Zion,” katanya dengan nada acuh tak acuh.

Tanpa berpindah dari tempat duduk, ia menaikkan kedua kaki ke atas meja. Sudah tiga kali ia memperkenalkan diri sejak tiba di dunia tersebut.

Zion merogoh saku sambil mengumpat karena tidak menemukan rokoknya. Ia sengaja menekankan gelagat berandalannya di hadapan orang-orang asing tersebut.

“Kenapa kau enggak bilang kalau kalian saling kenal? Aku enggak mau bertanggung jawab kalau sampai terjadi sesuatu. Masih yakin tetap mau mengajakku?”

Nada bicaranya ketus, meskipun ia sendiri yang lebih dahulu menyimpulkan keadaan.

“Kau dan kau, setidaknya protes, dong,” lanjutnya kepada dua perempuan lain yang berada di kelas. “Kalau enggak, ya sudah. Nikmati saja hukuman kalian.”

Zion mendenguskan tawa mengejek kepada gadis-gadis bertubuh mungil yang tampak tidak berdaya di sana. Namun, pikirannya sempat beralih kepada Xandara dan Sonata. Apakah perempuan raksasa yang kolot dan perempuan dengan kantong mata memprihatinkan itu sedang menghadapi keadaan serupa? Bagaimana jika mereka menerima hukuman?

Sial. Kenapa rasa protektif ini tiba-tiba muncul?

“Aku tidak keberatan.”

Soraya mengangguk dan tersenyum kepada Leon. Ia cukup lega karena setidaknya mengenali seseorang di kelas itu. Ketika Zion memperkenalkan diri, Soraya berdiri di sisi Leon dan mengulurkan tangan kepadanya.

“Soraya.”

Namun, ia segera menarik kembali tangannya setelah melihat ekspresi Zion. Pemuda itu tampaknya bukan orang yang menyukai basa-basi.

“Tetapi tolong jelaskan, sebenarnya kelompok ini dibentuk untuk apa?”

Leon tidak mengerti mengapa Zion menyebutnya sok suci. Bukankah menanyakan persetujuan orang lain merupakan hal wajar sebelum memutuskan sesuatu yang menyangkut mereka? Orang aneh.

“Memangnya bakal terjadi apa?”

Leon sedikit memiringkan kepala. Sejak tadi Zion terus mengucapkan hal-hal yang tidak dipahaminya. Kemudian ia kembali memusatkan perhatian kepada Soraya.

“Bukankah kita disuruh membagi kelompok untuk bekerja sama dalam belajar? Lagi pula ini ruang kelas. Memangnya untuk apa lagi?”

Ctas!

Putus sudah urat kesabaran Zion. Ia langsung berdiri dan menuding wajah keduanya. Mukanya merah padam, sedangkan matanya melotot penuh emosi.

“Kalian pura-pura bego atau memang benar-benar bego, hah?!” bentaknya.

Zion menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, lalu menepukkan kedua tangan ke wajah sambil komat-kamit mengutuk sekaligus merapalkan doa. Seandainya Tuhan benar-benar berada di tempat ini, ia sungguh tidak sudi berbagi sel otak dengan dua orang di hadapannya. Zion bukan pribadi yang dirancang cukup sabar atau bijaksana untuk menghadapi kebodohan alami.

“Mikir, dong, mikir! Sejak tiba di sini, apa kalian langsung disuruh menulis huruf abjad, menghafal rumus matematika, atau memahami sejarah? Enggak, kan?!”

Ia menggebrak meja Leon untuk melampiaskan frustrasi.

“Kita sedang diculik, bukan dikirim untuk study tour. Dalang di balik semua ini ingin kalian berhubungan seks!”

Zion menutup pernyataan frontal itu dengan helaan napas panjang. Tangannya terangkat untuk memijat kening yang berdenyut. Di balik sifatnya yang mudah meledak, ia sebenarnya cukup teliti dan tanggap dalam membaca informasi minim yang diberikan layar.

“Apa aku masih harus memberitahumu skenario terburuk yang bakal kita hadapi setelah ini?”

Ia mencondongkan tubuh dengan kedua tangan bertumpu pada meja, memastikan Leon tidak dapat berpura-pura tuli. Entah Leon akan mencium kepalan tangannya atau Zion harus menghancurkan seluruh harapan untuk berteman dengan Soraya.

“Wha—?!”

Semburat merah seketika memenuhi wajah Leon setelah mendengar penjelasan gamblang tersebut. Kalau dipikir-pikir, jalan pikiran Zion memang tidak sepenuhnya salah. Leon sebenarnya cepat tanggap, tetapi percakapan semacam itu membuat pikirannya lambat. Ia bahkan belum pernah serius memikirkan pacaran, terlebih berhubungan badan dengan perempuan.

Keterkejutan itu segera berubah menjadi pikiran yang berlebihan. Berdasarkan apa yang pernah dipelajarinya, hubungan seks biasanya dilakukan oleh dua orang.

“Tunggu dulu... melakukan seks bertiga? Memangnya bisa? Bagaimana caranya?”

Dengan polos, Leon menoleh kepada Soraya.

“Lalu, apa kau tidak keberatan melakukannya dengan dua lelaki yang baru dikenal?”

Soraya mengedipkan mata beberapa kali. Mulutnya tertutup rapat. Ia berada di antara keterkejutan karena penjelasan Zion, ingatan bahwa dirinya tidak melakukan hal aneh dengan kedua lelaki dalam pengalaman sebelumnya, dan tatapan Zion yang memperlakukan mereka seperti dua orang paling bodoh di dunia.

Seks.

Kata itu sangat tabu baginya. Dahulu, orang-orang di desa hanya mengucapkannya dengan bisikan ketika mengira Soraya tidak dapat mendengar. Yang ia tahu, hal tersebut dilakukan untuk melahirkan anak dan hanya oleh orang yang sudah menikah.

“Aku, erm...”

Kepalanya seakan mengeluarkan asap.

“Seks itu apa...?”

Kalimat tersebut menggantikan seluruh kekacauan dalam pikirannya.

“Eh, kau tidak tahu?”

Leon merasa pendidikan seksual semacam itu seharusnya sudah diajarkan sejak masuk SMA. Pergaulan bebas remaja tetap menimbulkan persoalan kesehatan dan penyakit, terutama ketika populasi di dunianya telah turun drastis akibat perang. Namun, ia tidak mengetahui keadaan dunia tempat Soraya berasal. Negara yang disebut perempuan itu pun belum pernah didengarnya. Mungkin dunia-dunia lain memang benar-benar ada.

“Sini, akan kucoba jelaskan. Seks itu...”

Leon mencondongkan tubuh dan berbisik di dekat Soraya.

“...aktivitas fisik yang melibatkan alat kelamin untuk tujuan reproduksi.”

Ia menjauh lagi, lalu melanjutkan dengan suara biasa.

“Kau tahu? Aktivitas untuk membuat anak. Pada zaman modern, hal itu sudah cukup umum. Sekolahku mengajarkan bahwa ketika berhubungan badan, setidaknya harus menggunakan kondom... sebentar, kondom itu apa, ya...”

Leon bergumam sambil berusaha mengingat. Kondom merupakan pelindung kelamin lelaki yang terbuat dari karet dan dapat mengembang setelah dibuka.

“Oh! Kondom!”

Ia menepukkan kedua tangan sekali setelah ingat.

“Benda yang kita temukan di Dunia Mimpi—yang terbuat dari karet dan berbentuk seperti balon—namanya kondom!”

Leon tersenyum lebar dan polos, seperti seorang anak yang bangga baru memecahkan teka-teki.

“Uh-oh, katanya perempuan juga memiliki siklus kesuburan. Jadi, pasangan yang ingin memperoleh anak biasanya mencari tanggal ketika peluang kehamilan tinggi. Sebaliknya, para remaja memilih waktu dengan peluang rendah karena biasanya melakukan seks demi kesenangan dan memenuhi hasrat seksual, bukan untuk memiliki anak.”

Sambil berbicara, Leon mengeluarkan catatan mini yang selalu disimpan di saku seragamnya. Ia rajin menumpuk pengetahuan acak karena takut melupakannya.

“Dari sisi psikologis, seks juga dapat meningkatkan ikatan emosional dan keintiman, mengurangi stres dan kecemasan, meningkatkan harga diri serta kepercayaan diri, dan memperbaiki kualitas tidur?”

Nada suaranya berubah seperti sedang membaca ulang pelajaran.

“Sebagai catatan, seks harus dilakukan secara konsensual. Kedua pihak harus menyetujuinya dan berada pada usia yang tepat. Kalau dilakukan di bawah umur atau hanya satu pihak yang setuju, dampaknya justru bisa negatif...”

Leon terus menggumam sampai hampir lupa tujuan awal penjelasannya.

Seandainya ada orang yang membawa termometer, alat itu mungkin akan menjerit ketika ditempelkan ke wajah Soraya. Rona merah hampir sepenuhnya menutupi kedua pipinya.

Ia memahami arti reproduksi.

Kemudian Soraya teringat benda aneh yang dahulu dimasukkannya ke mulut.

Itu bukan permen.

Itu bukan permen.

Ia menatap dinding di belakang Leon dan Zion. Dinding itu tampak cukup kokoh untuk membenturkan kepala sampai seluruh penjelasan barusan terlupakan.

Serpihan es muncul di sekitar kakinya. Tidak berbahaya, hanya sedikit, seolah merespons gejolak emosinya.

“Ah—maaf. Aku tidak bermaksud.”

Soraya menarik napas dan berusaha menenangkan jantung yang berdebar. Setelah ekspresinya kembali mendekati netral, ia memandang Zion dan Leon.

“Jadi... tujuan kelompok ini agar kita berkembang biak?”

Walaupun berusaha tenang, ia tetap malu mengucapkan pertanyaan tersebut.

“Jadi, erm, kita menikah di sini? Babushka bilang kalau belum menikah, kita tidak boleh... melakukan hubungan begitu...”

Tanpa mereka sadari, percakapan itu telah membentuk susunan yang diminta Sistem. Zion sejak awal mengajak Leon dan menyerahkan pilihan anggota ketiga kepadanya; Leon memilih Soraya; Soraya menyatakan tidak keberatan.

Ketika batas waktu berakhir, layar menetapkan Zion, Leon, dan Soraya sebagai tim yang lolos. Priscilla dan Caroline tidak memperoleh tempat dalam susunan akhir tersebut. Keduanya menjadi pihak yang kalah, sedangkan bentuk punishment yang akan mereka terima belum diungkapkan.

 

Vespera, Lucerix, Cynthia, Sonata, dan Belze

Lima orang mendadak tersadar di sebuah ruang kelas. Meja-meja tertata menghadap layar besar yang menampilkan visual sinyal. Setiap kali suara statis keluar dari perangkat itu, garis pada layar bergerak mengikuti iramanya.

Suara tersebut menjelaskan bahwa dua pengalaman sebelumnya merupakan contoh dari Dunia Mimpi dan Dunia Simulasi. Dunia Mimpi mampu memenuhi hampir seluruh imajinasi, tetapi hasilnya kabur. Dunia Simulasi terasa lebih nyata, meski dibatasi sumber daya dan data. Kedua pengalaman itu hanyalah skenario untuk mengukur insting mereka.

Mereka kini mengikuti pelajaran tentang Cara Kerja Dunia. Dunia tersebut dipenuhi hormon ketertarikan, sehingga rasa tertarik antarsesama individu dianggap wajar. Setelah masing-masing membentuk satu ikatan di Dunia Mimpi dan satu lagi di Dunia Simulasi tanpa menyadarinya, mereka diberi tantangan untuk membentuk tim beranggotakan tepat tiga orang yang memuat dua jenis kelamin. Dari lima penghuni kelas, dua akan tersisih. Layar menjanjikan reward bagi yang berhasil dan punishment bagi yang gagal.

Setidaknya kecurigaan Sonata terbukti. Memang ada sesuatu yang membuat orang-orang bersikap aneh ketika dikurung dalam satu ruangan—sesuatu yang bahkan membuatnya bertindak seperti kemarin.

Tetapi kalau diingat lagi... sial. Untung saja itu hanya simulasi.

Ia menggeleng dan kembali memusatkan perhatian pada layar.

“Jadi, untuk apa kita berada di sini?” tanyanya. “Untuk apa kita dibawa kemari? Dipaksa memiliki hubungan dengan orang asing, lalu sekarang harus berkelompok juga?”

Sonata mendecih.

“Ditambah lagi, hanya tiga orang? Di sini ada lima. Kalau memang harus membentuk kelompok, setidaknya tambahkan satu orang lagi atau jangan lakukan sama sekali.”

Lucerix kini dapat mengingat dengan jelas wajah perempuan yang telah disakitinya ketika pertama kali memasuki Dunia Mimpi. Kehadiran Vespera di ruangan itu juga mengingatkannya pada kegagalan mereka menemukan cangkir kopi yang sama seperti dalam mimpinya—kegagalan yang berakhir dengan kelaparan karena prinsip egoisnya sendiri.

Bagi Lucerix, kedua pengalaman itu bukan kenangan menyenangkan ataupun sesuatu yang membekas. Orang-orang di dalamnya hanya kehadiran yang singgah sementara. Ia tidak menyesal.

Namun, ia cukup terkesan karena seseorang sanggup menjebaknya sejauh ini, memasangkannya dengan dua perempuan dalam satu ranjang seolah-olah dirinya cukup sinting untuk berkomitmen. Padahal, Lucerix merasa telah menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak memiliki hasrat seksual terhadap perempuan.

Sang penjodoh misterius mampu menekan emosi dan mengacaukan pikiran mereka. Kekuatan semacam itu tidak dapat diremehkan. Pelakunya pasti mempunyai tujuan terstruktur untuk menculik berbagai entitas dari dunia berbeda.

Lucerix tidak berniat meladeni permainan konyol itu lebih lama—sampai perhatiannya tertuju pada makhluk yang sama sekali tidak manusiawi.

Kepalanya berbentuk tulang kerbau. Tubuhnya menjulang dengan otot perkasa yang dipenuhi duri, sementara ekor panjang melintang hampir memenuhi kelas. Lucerix terdorong untuk mendekat dan mengamatinya dengan penuh minat.

Enam tangan mekanik bergerak serempak, membawa tubuh Lucerix melayang rendah. Ia menatap pijar di dalam rongga mata makhluk tersebut. Cahaya itu tampak serasi dengan sinar redup dari lensa optik artifisial miliknya.

Tanpa ragu, Lucerix menyentuh tangan monster yang kasar. Senyum muncul di wajahnya, berada di antara kelembutan dan ketakjuban. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar berhadapan dengan bentuk yang dianggapnya sempurna—kesempurnaan yang lahir dari kerusakan, kecacatan, dan kebengisan yang tidak disembunyikan.

“Kau akan aman bersamaku,” bisiknya dengan gestur menenangkan.

Janji sepihak itu terdengar seperti doa.

“Kurasa pemberi tugas tidak akan mendengar permintaanmu,” ujar Cynthia kepada Sonata.

Menurutnya, kejadian-kejadian aneh itu merupakan eksperimen mental atau sesuatu yang serupa. Ia cukup bersyukur karena kedekatan dengan seorang priestess hanya terjadi dalam simulasi; bagi seseorang dengan fisiologi vampir seperti dirinya, pengalaman tersebut merupakan mimpi buruk.

Namun, tugas baru ini tidak kalah tidak masuk akal. Cynthia tidak berharap dirinya akan terpilih menjadi anggota tim. Ia justru merasa akan menjadi salah satu dari dua orang yang menerima punishment.

Vespera memandang sekeliling kelas dengan terkejut. Di antara orang-orang asing, ia mengenali Lucerix.

“A.”

Telinga kudanya bergerak pelan ketika perhatian beralih ke layar.

“Nampaknya tadi bukan mimpi.”

Penjelasan tersebut membuat Vespera menyimpulkan bahwa mereka telah diculik untuk dijadikan bahan uji coba dan semuanya berkaitan dengan hormon ketertarikan.

“Ini menjelaskan semuanya...”

Ia kembali memandang para penghuni kelas.

“Nampaknya kita berasal dari dunia yang berbeda.”

Layar menyebut pelajaran tentang cara kerja dunia ini. Bagi Vespera, itu berarti ia memang tidak lagi berada di dunianya. Sayangnya, cangkir kopi besar yang diidamkannya juga hanya bagian dari mimpi.

“Kita adalah uji coba.”

Itulah fakta yang ditangkap Vespera dari penjelasan layar: mereka diculik karena seseorang ingin menjadikan mereka objek percobaan.

“Benar, tiga orang,” tambahnya ketika Sonata mempertanyakan jumlah anggota.

Kabar buruknya, terdapat lima orang di kelas tersebut. Vespera tidak tahu apa yang harus dilakukan berikutnya.

“Kalau hanya soal itu, aku sudah tahu.” Sonata mengembuskan napas.

Ia menyilangkan tangan di depan dada. Satu jari mengetuk lengan atas sementara pikirannya bekerja. Ada tiga perempuan dan dua lelaki di kelompok tersebut. Pilihannya hanyalah dua perempuan bersama satu lelaki atau dua lelaki bersama satu perempuan. Tidak ada susunan yang terasa adil.

“Atau ini memang bagian dari rencana orang itu?” bisiknya.

Sonata kembali mengamati isi kelas. Ada monster, ada orang dengan enam tangan, ada seekor kuda, dan ada seseorang yang dari luar tampak normal—meskipun ia tidak yakin apa pun di tempat itu benar-benar normal.

Sial. Ketika aku bilang ingin hidup tenang, bukan berarti aku mau dibawa ke dunia lain dan dikurung bersama makhluk aneh atau psikopat.

“Oke. Kesampingkan dahulu orang dengan fetish monster di sana.”

Ia merujuk kepada Lucerix.

“Kuanggap semua orang di sini bisa berdiskusi dengan kepala dingin?”

Makhluk bertulang kerbau itu tidak menjawab.

Terlalu banyak orang.

Dua pengalaman sebelumnya cukup memengaruhi Belze sampai ia tidak sadar belum memasang wujud yang lebih mudah diterima. Dalam bentuk seperti ini, penjelasan layar pun sulit dipikirkannya dengan tenang.

Pemuda dengan enam tangan mendekat dan menatapnya secara tidak wajar. Belze memang berharap orang lain tidak langsung takut pada penampilannya, tetapi ia juga tidak menyangka ada seseorang yang berani mendekat tanpa mempertimbangkan bahaya.

Ia tidak mempermasalahkan niat berteman. Sayangnya, tubuhnya merasa tidak nyaman—dan saat itu Belze tidak memiliki kuasa penuh atas kendalinya.

Ekor panjangnya mengayun di udara, lalu menyapu Lucerix sekuat tenaga sampai tubuh pemuda itu terhempas dan menghantam dinding terdekat.

Mulut Belze yang hanya berupa tulang belulang terbuka. Lidah panjangnya terjulur, disusul raungan yang menggema ke seluruh kelas.

Mau bagaimana lagi? Dalam wujud tersebut, ia tidak dapat memberi peringatan dengan kata-kata.

Tubuh Lucerix menghantam dinding tanpa sempat melakukan perlawanan. Enam tangan logamnya kehilangan sinkronisasi dengan perintah otak akibat benturan. Ia jatuh terjerembap dan tidak berdaya.

Lucerix berusaha bangkit, tetapi kedua kakinya yang lumpuh tidak membantu. Ia merangkak dengan satu tangan yang masih berfungsi di tengah kepulan debu dan puing. Tatapannya tetap tertuju pada makhluk bertulang kerbau tersebut—tatapan yang masih menyimpan kekaguman, hampir seperti obsesi baru.

Senyum tipis tergores di wajahnya meskipun terasa getir.

“...Apa aku mengejutkanmu?”

Suaranya serak menahan sakit.

“Maaf... aku tidak bermaksud membuatmu takut.”

Satu demi satu sendi logam kembali menyesuaikan. Bunyi klik dan dengung servo memenuhi ruangan. Dua tangan menopang tubuh Lucerix dari samping, dua lainnya mengangkatnya perlahan, sedangkan sepasang sisanya menjuntai sebagai tumpuan seperti sebuah kursi.

Senyumnya semakin lebar dan terasa ganjil di balik sorot mata yang teduh.

“Tidak apa-apa. Teruslah begitu...”

Ia justru berusaha memancing Belze.

“Luapkan semuanya kepadaku. Aku bisa menanggungnya—semua ini tidak akan cukup untuk membunuhku!”

Mata Lucerix bersinar. Bukan sekadar pantulan lensa optik, melainkan seolah ada kegilaan yang membakar jiwanya. Rasa sakit barusan terasa seperti candu yang dinantikannya.

Vespera melihat Lucerix dan Belze yang tampak... bersemangat. Ia lalu menoleh kepada Sonata.

“Itu masuk akal.”

Sonata benar; mereka perlu kembali memusatkan perhatian pada masalah yang sedang dihadapi.

“Nampaknya mereka ingin menjodohkan orang-orang dari dunia lain,” simpul Vespera. “Tetapi mengapa?”

Ia bertanya-tanya mengapa orang dari dunia berbeda dikumpulkan dan dijodohkan. Apakah populasi dunia tersebut telah berkurang? Pertanyaan itu semakin mengganggunya karena mereka semua dibawa ke sana tanpa kehendak sendiri.

Sonata sudah berpindah dengan gerakan yang terlihat santai tetapi cepat, menghindari sapuan ekor Belze. Monster tersebut jelas sedang tidak mampu berbicara.

Sial. Aku bahkan tidak tahu apakah monster itu bisa berbicara atau berpikir.

Ia mengangkat alis kepada Vespera yang tidak terlalu terpengaruh oleh interaksi kedua lelaki di sana. Untuk sementara, hanya Vespera dan Cynthia yang tampak mungkin diajak berdiskusi. Lucerix? Entahlah. Bagaimanapun, tim mereka tetap harus memiliki lelaki.

Kenapa lelaki yang kukenal tidak pernah kompeten? Dan kenapa sejak masuk Dunia Simulasi aku selalu bertemu lelaki aneh dan mesum?

Sonata memijat kepalanya.

“...Bibit unggul?” gumamnya. “Ada banyak kemungkinan dari perjodohan. Menjaga kemurnian keturunan, memperoleh anak dengan hasil terbaik, atau hal-hal semacam itu.”

Ia sendiri tidak yakin, lalu melirik Lucerix dan Belze.

“Mungkin saja begitu.”

Suara berat tetapi lembut tiba-tiba terdengar, menanggapi pembicaraan kedua perempuan tersebut.

Duri-duri dan ekor panjang Belze mulai terserap ke dalam kulit. Tubuhnya perlahan menyusut dan berubah menjadi bentuk yang lebih manusiawi: badan bidang, wajah tegas, kulit pucat, rambut pendek keperakan, serta alis tajam yang begitu tipis hingga hampir transparan. Hanya sepasang tanduk dan taring yang tersisa dari wujud aslinya.

Bentuk itu memudahkannya berinteraksi.

Belze merapikan pakaian, lalu memandang seluruh kelas yang kini setengah hancur akibat ulahnya. Ia bahkan telah menyerang seseorang. Dengan sopan, ia membungkukkan tubuh kepada Lucerix sebagai permintaan maaf atas kesan pertama mereka. Walaupun kehilangan kendali, Belze tetap merasa bersalah atas sesuatu yang berada di luar kehendaknya.

Ia memandang kedua tangannya dengan kening berkerut. Ingatan tentang dua dunia sebelumnya masih samar. Di Dunia Mimpi, ia mampu menyembunyikan wujud tersebut. Di Dunia Simulasi, ia hampir melewati batas. Sekarang ia benar-benar kehilangan kendali lagi.

Sebelum orang lain ikut terluka dan menjauhinya—sebelum dirinya kembali tidak stabil—Belze membuat keputusan.

“Aku akan menerima hukumannya,” ucapnya tegas.

Ia tidak mengetahui bentuk hukuman yang dimaksud layar. Namun, jika menerima hukuman membuatnya dapat menjaga jarak dan mencegah orang lain terluka, Belze bersedia melakukannya.

Lucerix terdiam ketika menyaksikan monster bertulang kerbau itu berubah menjadi lelaki berwujud manusia. Hanya tanduk dan taring yang menyisakan jejak ketidaknormalannya.

Bahu Lucerix gemetar. Kemudian ia tertawa, jauh lebih keras daripada yang pantas terdengar di ruang kelas, sambil menggelengkan kepala.

“Kau tidak akan menyelamatkan siapa pun di sini dengan cara seperti itu,” katanya penuh sarkasme.

Tatapan Lucerix menusuk lelaki berambut putih yang memilih mundur dan menerima hukuman, seolah pengorbanan tersebut memiliki arti bagi seseorang seperti dirinya. Ia memejamkan mata dan menarik napas panjang. Tubuh yang dipenuhi mesin justru membuatnya terlihat rapuh dan ringkih; setiap tarikan napas tampak membebani dirinya. Ia jauh dari kesan bibit unggul yang baru saja dibicarakan.

“Bagaimanapun, hadiah itu terdengar seperti umpan yang tidak menjanjikan—setidaknya di tempat seperti ini.”

Lucerix membuka mata dan menoleh kepada para perempuan yang masih mengamati serta menimbang siapa di antara kedua lelaki itu yang akan dipilih.

“Benar begitu, Nona-nona?”

Tatapannya kembali kepada Belze.

“Kalau kau berpikir dirimu tidak layak, justru karena itulah kau harus menggila—bertahan demi mengkhianati sistem yang mereka bangun,” ujarnya dengan nada yang nyaris mengandung simpati. “Melarikan diri tidak akan membawamu ke mana-mana. Kau tidak akan pernah memahami alasan keberadaanmu di dunia.”

Seluruh dunia pernah mendikte Lucerix agar bersikap sombong: berkorban demi ambisi keluarga dan tujuan mulia masyarakat untuk menghapus kecacatan. Namun, ia tidak dapat menyingkirkan rasa hina serta amarah setiap kali melihat pantulan dirinya. Ia pernah merasakan bagaimana menjadi pribadi tanpa kekurangan. Kini ia tidak akan pernah benar-benar sempurna seperti yang lain; jiwanya telanjur terluka.

Lucerix terjebak di antara konsep sempurna dan cacat. Ia hanya setengah, tidak cocok dimasukkan ke salah satu kategori. Ketidakpuasan dan dendam terus mengombang-ambingkannya, mendorong keinginan untuk menyalurkan penderitaan yang sama.

“Jadi, satu-satunya pengorbanan yang bisa kau lakukan adalah bersatu denganku.”

Lucerix mengulurkan tangan kepada Belze. Untuk kedua kalinya, ia menawarkan jaminan keselamatan.

“Jika sesuatu terjadi di luar kendalimu, kau tidak harus menanggungnya seorang diri.”

Lirikannya kemudian tertuju pada perempuan bertelinga kuda, mengabaikan yang lain.

“Vespera, apa kau masih berada di pihakku? Atau kau sudah berubah pikiran?”

Setelah itu, pandangannya jatuh sepenuhnya kepada Sonata. Perang dingin untuk mengendalikan keadaan mulai terbentuk di antara mereka.

Sonata mengerjap dan mundur selangkah. Ia lebih terkejut melihat monster yang tadi mengamuk telah berubah menjadi lelaki yang... normal.

Setidaknya, hampir normal. Tanduk dan taring tajam masih ada di tubuhnya.

Namun, keputusan Belze untuk mengorbankan diri membuat Sonata mengerutkan kening.

“Walaupun kau mengorbankan diri, masih ada satu orang lain yang harus tersisih,” katanya. “Dan orang gila ini benar. Pengorbananmu tidak menyelesaikan apa pun.”

Sonata menyilangkan tangan dan melirik tajam kepada Lucerix.

“Lagi pula, kalau nasib dari kedua pilihan sama-sama tidak dijamin, kenapa tidak memilih pilihan yang tampak lebih baik?”

Orang gila. Akan merepotkan kalau akhirnya aku satu kelompok dengannya.

Tatapan tajam Lucerix tanpa sadar menyalakan konflik yang sebelumnya belum terbentuk.

Belze memandang tangan yang diulurkan Lucerix. Ia kebingungan. Orang itu baru saja terluka karena serangannya, tetapi alih-alih menunjukkan rasa jijik, Lucerix justru mengajaknya membentuk tim.

Walaupun menerima wujud asli Belze, Lucerix memintanya untuk menggila—sesuatu yang tidak ingin dilakukan Belze. Ia tidak nyaman menjadi makhluk yang berada di luar kendali. Namun, ada bagian dari dirinya yang tergerak ketika Lucerix mengatakan bahwa ia tidak perlu menanggung semuanya seorang diri.

Mungkin aku bisa bekerja sama dengannya. Entah tim seperti apa yang akan terbentuk.

Belze akhirnya menjabat tangan Lucerix.

“Belze,” ucapnya, memperkenalkan diri.

Terlalu lama berada dalam wujud asli membuatnya hampir melupakan tata krama sederhana.

Vespera yang sedari tadi mengamati akhirnya mendapat pertanyaan langsung dari Lucerix. Selama ini posisinya memang belum jelas. Ia memandang lelaki itu sejenak.

“Baiklah, jika itu pilihan terbaik.”

Jawaban tersebut menyatakan kesediaannya berada di pihak Lucerix. Mereka semua sama-sama diculik dan, bagi Vespera, susunan itu merupakan satu-satunya pilihan yang tampak paling baik.

About Roleplayverse

This website tells the universes (up to omniverse) of each story that have been developed together since 2014, collected solely as part of a hobby.

© Roleplayverse. All rights reserved.